
Hai dolorr, waktunya mee meen minta vote,, pencet tombol 🎫 Votenya ❤️ sama 🌷☕ jangan lupa 👍 juga yahh luvv mamacii.. Yuuukkk dipencet- pencet lahhh, minthor tunggu yah bestieee..
*
*
Flashback On
BG dan Abel benar-benar menikmati liburan mereka hari dengan baik, waktunya mereka bermesraan. BG memanfaatkan kado dari dokter Davio, sedari ia masuk kamar BG sudah mulai menghidupkan aroma terapi khusus itu.
Setelah memastikan istrinya begitu relaks dengan situasi saat ini, BG mulai beraktivitas menjelajahi sang istri yang membuat beberapa lelaki tak berdaya akan kecantikannya.
"Baby, bolehkan kita coba malam ini."
"Hahh."
"Malam pertama kita yang tertunda." jelas BG sepelan mungkin agar Abelnya tak takut.
"Eumm." gumam Abel mengangguk pelan bagaimana pun kini ia berhadapan dengan sang suami bukan lagi pria yang tidak berhak atas dirinya.
Mendapat lampu hijau sari Abel, BG segera mendekatkan dirinya menciumi perlahan sang istri. Bibir mungil yang selalu ingin dia rasakan, hingga kedua terbuai dan melakukannya sesuai insting mereka.
BG benar-benar melakukan perlahan tak ingin menyakiti Abel sedikitpun, terbantu dengan aroma terapi khusus yang membuat mereka sangat menikmati suasana malam pertama mereka.
"Sshhhh, sakit." ucap Abel lirih, BG menghentikan aktivitas diatas tubuh sang istri.
"Maaf." ucap BG Abel pun mengangguk, setelah memastikan Abel merasa nyaman sang BG pun memulai hingga mereka berdua sampai bersama dan tidur dalam damai dengan saling memeluk.
Akhirnya berkat bantuan dokter Davio, BG bisa merasakan membuka segel anak gadis ayah Raharjo yang bisa membuat orang terpikat hanya dengan melihat nya.
Flashback Off
*
*
__ADS_1
"Dasar anak kurang ajar."
Bughhh..
Teriakan mama Mia menggema seketika saat memasuki ruang rawat menantu kesayangan.
"Ihhh, mam sakit dong." ucap BG ketika mendapatkan gebukan dari sang mama karena telat mengabarinya jika sang menantu harus dirawat karena drop di masa hamil mudanya.
"Rasain, berani-beraninya kamu lupain mama, huhh." sungut mama Mia, bahkan aksi itu menjadikan hiburan diantara para sahabat Abel dan BG.
"Hajar terus ma."
"Iyaa Jang kasih kendor."
"Bisa-bisanya kalian komporin emak gue." sahut BG, merasa jengah karena ulah Riki dan Kevin yang memanasi sang mama.
"Segitu aja ma, mana keren." sela Devan yang tak mau kalah dalam hal mengompori.
"Diam kalian semua, bukan nya belain malah tambah manasin.. Honey kamu juga gak mau belain aku nih." ucap BG meminta bantuan dari Abel.
"Nahh tuh Abel ngidam tuh."
"Sana cariin Gas."
"Udah kamu tinggal dulu boy." sela papa yang sedari diam karena sibuk menikmati hiburan dari anak istrinya.
"Iyaa, bentar yah sayang." ucap BG semangat.
"Ohiya mam, Bagas tuh lupa ngabarin soalnya masih ngurusin masalah Abel dikampus." jelas BG sebelum meninggalkan ruang perawatan Abel, membuat sang mama dan papa mengernyit bingung.
"Masalah apa."
"Nanti biar Riki jelasin, sekarang biar Bagas nya tugas negara dulu ma." sela Riki, akhirnya turun tangan membantu sang sahabat.
"Okeey lah." jawab mama Mia setuju dengan usulan Riki, sedang BG sudah enyah mencari yang diminta Abel.
__ADS_1
Riki menjelaskan semua akar masalah dari awal hingga Abel sampai dibawa kerumah sakit tanpa dikurangi sedikitpun. Riki pun menjelaskan jika BG sudah bergerak dibantu oleh sang rektor.
Papa Hermawan mengangguk bahkan merasa puas dengan sikap putra semata wayang nya yang langsung bergerak cepat.
"Ayah bunda masih belum bisa kesini yah, sabar yah ada mama nggak apa kan nak." ucap mama Mia pada Abel, Abel pun hanya mengangguk. Agaknya selama hamil Abel jadi jarang bicara mungkin memang bawaan bayi dan itu pun tak luput dari rasa sang mertua.
"Jang pikirin skripsinya dulu, biar papa bilang om Saga sementara kamu butuh bedrest." titah papa Hermawan, jika sudah turun tangan seperti ini mau tak mau Abel hanya pasrah terlebih itu juga demi dirinya dan si jabang bayi.
Hampir 30 menit lamanya menunggu, Abel mulai gelisah.
"Mammma." gumam Abel lirih, membuat semua yang berada diruang menoleh bahkan menunggunya menyelesaikan apa yang akan dikatakan nya.
"Apa nduk, Abel mau apa heum." jawab sang mertua, tapi entah mengapa Abel justru berkaca-kaca.
Riki dan Dekka saling pandang dia tau betul Abel yang seperti ini, sama persis ketika dimana Abel sebelum jatuh pingsan.
"Bentar yah, paling bentar lagi kok." sahut Dekka, benar Abel mengangguk tanda dugaan Dekka benar adanya.
"Kenapa." sela mama Mia.
"Abel gak bisa jauh sama Bagas ma." sahut Riki, mama Mia tersenyum karena saat mengandung BG dahulu pun merasa demikian tak ingin berjauhan dari papa Hermawan.
"Loahalahh, nurun ke cucu pa." ucap mama Mia, Abel mengerjap matanya mendengar ucapan sang mertua saat hamil sang suami dahulu ternyata kini ia rasakan.
"Bentar lagi kok, tunggu yah, apa Abel pengen sesuatu lagi." lanjut mama Mia, dan Abel menggeleng pelan saat ini yang dia butuhkan hanya sang suami.
Benar saja sepuluh menit berlalu, melihat kedatangan BG mata Abel berbinar. Ia justru melupakan apa yang ia minta saat lalu. Akhirnya para sahabat memilih memberikan ruang pada Abel dan BG saat ini. Papa Hermawan pun membantu Angga di perusahaan selama BG tak masuk ke kantor.
"Honey, ini rujaknya apa nggak jadi." ucap BG yang saat ini berada diatas bed pasien mendekap erat sang istri. Tak ada jawaban dari Arabella nya, hanya terdengar dengkuran halus darinya.
"Hemmm, bobok lah sayang, baby sehat-sehat yah." ucap BG sembari mengusap perut rata sang istri. Dapat ia rasakan ada rasa hangat menjalar di dirinya ketika kini ada calon buah hatinya yang datang begitu cepat tanpa ia dan Abel sadari.
BG mengingat saat itu, saat dimana ia dan Abel bersatu pertama kali setelah menikah. Lalu ketika sang mama memberi wejangan, jika Tuhan sudah menentukan kehadiran buah hati itu tandanya tuhan telah percaya pada pasangan suami istri itu untuk menjaga titipan itu.
BG pun mendapatkan ceramah dari sang mama, ketika tahu saat itu ia sempat kaget mendapati sang istri tengah hamil.
__ADS_1
Kejadian dimana Abel diculik dan hampir dilecehkan oleh Leon Abel sedang haid. Jika dirunut hingga detik mereka malam pertama Abel justru sedang dalam siklus masa terbaiknya. Yang artinya juga mereka berdua sudah siap bahkan telah digariskan menjadi calon orang tua saat ini.