Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Kelas XII


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, tak terasa Abel dkk telah menyandang status sebagai senior. Naik kekelas dua belas. Ketua OSIS dan Kapten basket angkatan 33 dirangkap oleh Steven yang merupakan pemuja Arabella.


Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah liburan semester. Liburan semester Abel disibukan dengan acara pernikahan Alvin sang ajudan. Meskipun sudah menikah Alvin akan tetap menjadi Ajudan Abel hingga Abel lulus SMA.


Karena masih dalam masa orientasi seluruh kelas XI dan XII free class, dan disini lah Abel dan yang lainnya berada, Kantin.


"Wuasiiikkk, adek kelas bening-bening bet dah."


"Gebet lah atu."


"Wuanjirr, kalo bisa dua kenapa harus satu sih."


Mendengar ocehan temannya Abel tak bergeming, kebiasaan buruk para lelaki adalah menggunjingkan cewek.


"Kamu enggak mau nimpali temen kamu.", tanya Dekka pada Riki, sementara Riki hanya menyengir kuda.


"Kan sudah ada kamu ngapain cari lagi."


"Sampek loe ngepet lagi si Dekka bisa keluarin jurusnya tau rasa loe." celetuk Kevin.


"Jurus apa." tanya Dekka tak paham.


"Rasenggann, jurus seribu bayangan buat gebukin si Riki." jawab Kevin.


"Brrrrrr."


"Hahahhahahh."


"Dasar tukang ngayal loe." sahut Riki.


"Bentar aku mau ambil snack dulu." ucap Abel pada yang lainnya.


Karena tengah sibuk dengan ponsel masing-masing, bahkan BG tak sadar jika Abel belum juga kembali dari booth snack.


"Permisi kak." ucap seorang gadis dengan atribut MOS menghampiri meja Abel dkk.


"Iyaaa." jawab Dekka sedangkan yang lainnya memperhatikan dalam diam.


"Ehmm mau tanya kapten basketnya yang mana yah kak."


"Adaa apa emangnya." tanya Dekka, sementara itu Abel yang akan kembali menuju mejanya mengernyit mendapati kursinya telah diisi oleh seorang gadis.


"Kapten basketnya yahh ketua OSIS juga Steven." jawab Riki ketus.


"Ehhm itu yang tahun kemarin kak." ucap gadis itu, membuat BG menoleh.


"Ada perlu apa." sahut BG singkat.


"Lhoo baby kenapa kamu disitu, sini". panggil BG yang menyadari kursi Abel ditempati oleh siswa MOS itu.


"Kakak kapten basket sekolah."


"Iyaa ada apa." jawab BG singkat.


"Ehhm boleh minta tanda tangan kak, buat tugas MOS."


Tanpa menjawab BG meraih bukunya dan membubuhkan tanda tangannya.


"Sudah yahh." ucap BG lalu mengembalikan bukunya.


"Kita belum kenalan kak." ucap siswi itu membuat para sahabat Abel dan BG mendengkus dan berdecak. Sedangkan Abel santai dan fokus menikmati makannya.


"Ganjen juga nih cewek." gumam Riki.


"Sudah selesai kan sana, kembali ke tempatmu." sarkas Dekka.


"Ehhm aku Kayla kak, senang berkenalan dengan kak Bagas." ucap gadis itu lalu beranjak pergi.


"Ckkk, cewek jaman sekarang yahh."


"Btw nona Abel diem bae."


"Heummmb, enggak apa-apa kan lagi makan." jawab Abel.


"Menurut loe Bell, yang kayak gitu tadi niatnya apa." tanya Dekka.


"Gak tau lahh, mungkin cuma mau kenalan aja."


"Kalau dia ngefans laki loe gimana." lanjut Dekka.


"Yaa sudah namanya juga ngefans, suka-sukanya, yang penting kan gak ganggu hubungan orang aja." jelas Abel.


"Gue jadi penasaran apa iya ada tugas minta ttd kapten basket." gumam Dekka.


"Ini ciwi-ciwi pada bahas apa sih." tanya Kevin.

__ADS_1


Sementara itu BG yang tengah dibicarakan memilih diam dan tak berkomentar, ada sedikit tanya dalam pikirannya tentang anak baru tadi.


Hingga mereka kembali ke kelas masing-masing BG pun bungkam, Abel merasa keterdiaman BG hanya membathin saja.


"Nanti gak usah antar aku pulang, aku mau jalan sama Dekka." ucap Abel tanpa menunggu jawaban BG dia masuk kedalam kelasnya.


"Ckkk, kenapa gue harus ngediamin dia sihh, kan jadi ngambek. Hahhhh." gumam BG.


Flashback On


"Bell loe harus lihat ini." ucap Dekka pada Abel, mereka berdua diam-diam tengah membicarakan sesuatu tanpa sepengetahuan dari para cowok disampingnya.


"apa ini Dekk."


Abel tengah menskrol ke bawah ponsel Dekka yang berisi tentang chating an dengan seseorang, membaca dengan terperinci.


Setelah mendapat kepastian tanpa bertanya pada Dekka dan Abel pun mengerti semua tentang chatting an Dekka, Abel menoleh dan diangguki olehnya.


"Nanti kita kesana yah."


"Tentu."


"Tapi aku mau cuma kita berdua." ucap Abel.


"Kenapa."


"Aku gak mau merepotkan para lelaki. Dan aku baru sadar ada yang beda dengan Bagas setelah adik kelas minta ttd tadi. Entahlah semoga cuma perasaan ku saja." bisik Abel pada Dekka.


"Ehhh kenapa pada bisik-bisik, hayooo ngomongin Gue yahhh." celetuk Kevin.


"Dihh pede gilak."


Flashback off


Karena memang kondisi masih jamkos, para siswa memang tengah bersantai dikelas masing-masing. Namun tidak dengan Abel, dia yang sedang banyak pikiran lebih memilih healing dan menyendiri di perpustakaan.


Setelah menemukan buku-buku yang dicari Abel membawanya ke meja kosong. Suasana perpustakaan sedang kosong bahkan hanya ada Abel dan penjaga perpus didalamnya.


Sebelumnya Abel memberikan pesan pada Dekka jika sudah pulang dia wajib menghubungi Abel terlebih dahulu karena Abel beralasan sedang ada urusan.


Setelah beberapa jam di perpustakaan dan tak menyadari jika bel pulang telah berbunyi. Abel berjengit kala ponselnya bergetar menandakan Dekka menelponnya.


"Bell loe dimana."


"Okeyy."


Abel memutuskan sepihak sambungan telponnya, lalu membereskan buku-buku yang dia baca.


Mendapati Dekka masuk kedalam perpustakaan seorang diri, Abel merasa lega.


"Enggak ada yang ngikutin kan."


"Ahhh enggak gue kabur juga dari pawang." jawab Dekka.


"Syukurlah."


"Loe masih marahan sama Bagas."


"Hemm, enggak marah cuma ngehindar aja." sahut Abel.


"Yaudahh yuk Aku udah pesan ojol." ucap Dekka.


"Yakin, ini Riki pun gak tau kita mau kemana." tanya Abel.


"Hemmm, gue ijin nemenin loe trus dia gak tanya lebih, yaudahh." jawab Dekka.


Mereka berdua bergegas keluar dari sekolah dan mencari ojol yang sudah dipesannya, sesekali Abel mencari-cari BG takut dia akan mengikutinya.


"Sebenarnya loe ada apa sama si BG." tanya Dekka.


"Enggak ada, cuma sikapnya berubah sejak kedatangan Kayla. Kamu ngerasa nggak sihh." ucap Abel.


"Jujur sih enggak gue nggak ngehh kesitu sumpah." jawab Dekka.


"Entahlah Dekk Feelingkuh bilang gitu."


"Yasudah kalau ada masalah jangan dibiarkan berlarut-larut, selesaikan baik-baik." tutur Dekka, Abel hanya memandang sahabatnya itu.


"Benar mungkin aku cuma sensian aja kali yahh."


"Mau dapet loe."


"May be." jawab Abel singkat.


Selama diperjalanan menuju tempat yang akan mereka datangin Abel dan Dekka terus membicarakan rencana-rencana kedepan mereka.

__ADS_1


"Loe mau kuliah dimana Bell."


"Entahlah liat aja nanti, aku juga belum dapat gambaran." jawab Abel.


"Masih tetap ambil HI, apa PR."


"Antara itu sama nanti coba Sastra Inggris. Ehmm lebih tepatnya ngembangin lagi aja ilmunya." jawab Abel.


Setelah sekitar 20 menit perjalanan kini Abel dan Dekka telah sampai dilokasi tujuan.


Kedua remaja itu berjalan melewati lorong panjang, Alvin masih dalam masa cuti sehingga Abel tak dikawalnya.


Tok..Tok..


"Masuk, lohh ini temannya Metta yah." tanya seorang paruh baya pada Abel dan Dekka.


"Iyaa tante, saya Abel dan ini Dekka." jawab Abel.


"Ayuuk masuk nak. Kenapa repot-repot jenguk." ucap Ibu Metta.


"Bell, Dekk.. kenapa kalian kesini." tanya Metta setelah mendapati kedua sahabatnya tengah mengunjunginya.


Brukkk, srettt..


Abel berlari berhambur ke arah Metta sampai membuat brankar Metta berderit.


"Kenapa kamu gak bilang sihh kalau sakit. Hikss.. kamu gak anggap aku ada yah." ucap Abel yang sudah mulai terisak.


Melihat Abel yang menangis pun membuat Dekka merasa sedih.


"Sakit gini doang Bell." sahut Metta.


Tukkk...


"Auuuhhh ko digetok sihh Bell."


"Biar aja, hikss.. kamu itu sakit kayak gini gak bisa disepelekan. Hikss.. sruuut." ucap Abel.


"Astagggaa, iyaa deh iya, sana lap dulu tuh ingus, jelek tau nggak." celetuk Metta.


"Loe yahh Mett suka banget isengin Abel." sela Dekka.


"Hahahahhah, hiburan Dekk."


"Hikkss.. jadi kamu sakit apa." tanya Abel.


"Hemmmmm." Metta menghela nafas.


"Sakit apa cepet jawab gak ada rahasia-rahasiaan yah." potong Abel.


"Gak ada Bell, gue gak papa kok."


"Gitu yahh, okey kamu mau bilang langsung apa aku yang cari tau sendiri ini." ancam Abel.


"Iyeee dah anak bapak Raharjo. Gue gagal ginjal Bell, Hemm jadi kalau enggak segera diambil ginjal kiri gue bisa jadi keganasan alias mengarah ke kanker." jawab Metta, Abel dan Dekka pun menunggu penjelasan lengkap Metta tanpa menyela sedikitpun.


"Gue udah kemo juga kok Bell biar gak ada penyebaran, ayah masih cari dana untuk gue operasi pengangkatan ginjal kiri gue." lanjut Metta.


"Truss kenapa gak bilang, aku dan yang lainnya bisa bantu, jadi operasinya enggak molor." sungut Abel.


"Gue enggak mau ngerepotin kamu dan anak-anak."


"Cukuppp.." teriak Abel bahkan membuat semuanya terkejut.


"Ya ampunn kaget gue."


"Ishh untung gue gak kenak serangan jantung Bell, bisaaa..." sahut Metta.


Buggghhh..


"Kalau ngomong jangan sembarangan, kalau dikabulin gimana." potong Dekka seolah tahu apa yang akan dikatakan Metta.


"Yaa ampun punya temen gini amat, habis digetok, digebuk."


"Nanti kita patungan jadi jangan anggap kamu ngerepotin okeyy."


"Taukk loe Mett, lagian kapan lagi bisa nemuin "Sumbangan untuk Metta" kayak sumbangan di jalan raya gitu pake kardus, hahahahhah." ucap Dekka.


"Loe kira gue bencana apa."


"Sudahh kamu diam aja jangan banyak protes." sahut Abel.


"Iyaa deh iyaa, Btw thanks yahh." ucap Metta.


"Kamu dan keluarga fokus ke pengobatan aja, masalah Dana nanti urusan aku sama Dekka yang cari sumbangan." ucap Abel penuh semangat, dan mereka bertiga berpelukan menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2