
Operasi Metta berjalan lancar, meskipun membutuhkan waktu cukup lama mengingat sebelum tindakan Metta mengalami penurunan fungsi.
Hingga keluar dari kamar operasi Abel dan BG setia menunggui didepat ruang operasi bersama ortu Metta. Teman-teman yang lainnya akan datang sepulang jam sekolah.
Setelah memastikan kondisi Metta membaik pasca operasi, Abel pun merasa lega.
Setelah lampu ruang operasi padam tanda operasi berakhir, petugas mengatakan jika pasien masih akan berada diruang pemulihan. Namun bisa dipastikan kondisinya sudah membaik.
"Kayaknya anak-anak kasih tau gak usah kesini aja." ucap BG, Abel pun segera menelphon Dekka dan Airin agar mereka tak datang kerumah sakit.
"Ibu dan ayah jaga kesehatan yahh, besok Abel dan teman-teman kesini lagi." ucap Abel berpamitan.
Tak lupa BG sudah membelikan Roti dan Susu untuk kedua ortu Metta, selepas itu mereka meninggalkan rumah sakit.
Keesokan harinya...
Terhitung hari ini Abel berangkat bersama Alvin sang ajudan, Abel pun sudah menginfokan pada Alvin mengenai kejadian saat dia cuti.
Setibanya di halaman sekolah, sudah banyak lalu lalang para siswa. Abel segera menuju kelasnya dilantai dua tepatnya diatas kelas XI IPA1.
"Bell, gimana Metta."
"Kapan jenguk gue mau dong ikut."
"Kemarin baru operasi belum pindah ke ruangan, nanti aku telp dokternya dulu." jawab Abel.
"Ikut yahh Bell."
"Ehh jangan asal ikut aja loe bawa bekel."
"Iyaaa iyaa, astogee."
"Bell bagi PR dong."
"Hemmmb."
"Cihh, otak pada pinter tapi urusan PR Abel juga kelean." celetuk Devan baru sampai.
"Diihh, tukang rampok buku siapa biasanya."
Keributan yang sebenarnya menunjukkan keakraban diantara mereka. Namun bagi yang tak tahu pasti mengira mereka beradu mulut. Dua jam pelajaran usai Abel bergeser menuju kantin, bersama teman-temannya.
"Patungan aja."
"Iyess, trus dapetnya dibelikan buah sama apa gitu yang buat jenguk."
"Roti sama susu kaleng."
"Buah sepaket."
"Yaampunn kalian ini gitu doang ribet amat yahhh." celetuk Devan.
"Nihh iuran gue, loe tarikin deh Sis." potong Airin.
Sambil jalan menuju kantin Abel menelphon dr.Adam.
"Hallo adik abang."
"Gimana Metta dok."
"Iyaa lupa abang ngabarin."
"Ada apa bang."
"Jadi Metta sekarang di ICU."
"Apaaaa."
Teriakan Abel mengundang reaksi para teman dan murid yang sedang berjalan menuju kantin.
"Bagaimana bisa bang, trus gimana."
"Sabar dong girl, jadi post op kemarin dia mengalamai penurunan kesadaran, tensinya anjlok, abang langsung kirim ke ICU acc dokter bedahnya. Kita pantau hari ini masih belum ada perubahan."
"Abanggh, tolong jagain teman Abel yahh, titip rawat sampai sembuh yahh bang." ucap Abel sambil berurai air mata.
"Inshallah yah dek, semoga abang amanah."
Abel menutup sambungan dengan mata yang sudah berlinang, temannya menatap dalam diam.
"Aiiiii, hu hu hu hu."
Airin mendekap Abel, tanpa berkomentar lebih baik menunggu penjelasan Abel timbang dia menanyakan yang terjadi.
"cari BG Dev." bisik Angga.
Devan mengangguk lalu menelpon BG, setelah mengetahui keberadaan sang Bagaskara, Devan memberitahukan Airin dengan sambil mendekap Abel membawanya ketempat BG.
Ditempat lain BG yang sedang ngasoh setelah jam olah raga kini bersama Riki dan Cindy di kantin.
"Kenapa Devan" tanya Riki.
"Gak bilang."
"Pasti ada sangkutannya sama Abel." potong Cindy.
"Permisi kak kursinya kosong kan." ucap seseorang yang langsung duduk disebelah BG, Riki dan Cindy saling pandang melihat tiga orang asing yang mendekati BG.
__ADS_1
"Hehh, loe kagak ada tempat lain apa, disana juga kosong ngapain disini." sungut Cindy.
"Kenapa sihh ini kan juga kosong."
"Ehh berani jawab loe yah." sahut Cindy.
Dekka yang baru datang pun telinganya menangkap sahabatnya itu tengah ribut.
"Cin." panggil Dekka.
"Nihh, cecurut pada resek bikin gedek gue." sarkas Cindy, menunjuk pada tiga orang yang berada dimeja sejajar dengan BG. Dekka masih ingat dengan salah satu diantaranya, Kayla.
"Gas Abel." ucap Riki, menyadari kehadiran Abel. BG pun beranjak.
"Ehhh kak kemana." sergah Kayla.
"Jaga batasan kamu yahh." ucap BG sambil membuang tangan Kayla yang memegang lengannya.
"Gak tau malu." gumam Dekka namun masih bisa didengar Kayla.
"Baby." panggil BG melihat Abel tengah menangis dalam diam.
"Kalian pada nyari roti dulu sana." ucap Devan pada Nia dan Fransiska, Airin mendudukkan Abel. Meskipun sudah tenang Abel masih bungkam.
BG menggenggam kedua tangannya sambil berjongkok didepan Abel.
"Kenapa Hemmm."
"Hikss.."
"Cerita dong kita gak ada yang tau kamu kenapa." ucap BG lembut.
"Metta, masuk ICU." jawab Abel singkat, Airin dan yang lainnya pun sama terkejutnya.
"Semua tanda vitalnya menurun." lanjut Abel.
"Cihh drama." ucap Kayla lirih namun Dekka dan Cindy masih bisa mendengar.
"Apaa loe bilang Abel drama."
"Ternyata Loe gak lebih dari tikus kecil yang bermulut sampah." sarkas Cindy.
"Gue sumpahin Metta bisa sehat biar bisa gebukin loe pada." ucap Dekka.
"Sana pergi loe, enek banget gue."
"Gue sumpahin temen loe mampus." balas Kayla.
"Siapa yang bikin onar disini." sahut Fransiska.
"Loe nyolot yahh." ucap Fransiska.
"Loe tau Sis, dia nyumpahin Metta mampus tau nggak." ucap Dekka.
"Denger loe curut, enggak temen gue yang mati, tapi Hati loe yang mati. Dasar psiko loe." sungut Fransiska bahkan dia sudah mencengkram kerah baju Kayla.
Tak ada raut ketakutan pada Kayla, namun karena Fransiska sudah tersulut emosi membuat para lelaki bergerak.
"Sis udah Sis."
"Sadar loe Sis, dia emang agak sakit kayaknya."
"Lepasin Sis."
Dari banyaknya orang yang melerai tak mampu membuat Siska tersadar.
"Siskaa." panggil Abel lembut, Abel mendekat menyentuh tangan Siska melepaskan dari baju Kayla.
"You know what, dia Kayla bahkan sudah masuk daftar hitam ku. Biar kan dia menggonggong seperti hewan atau apapun asalkan kita jangan ikut berubah seperti dia." Ucap Abel lalu beralih pada Kayla.
"Kayla, sudah ku katakan kamu adalah manusia berotak dan berhati jahat, jangan-jangan kamu kerasukan yah. Kamu gak lebih dari seekor rubah cantik berhati kerdil. . Jangan pernah menyela aku sebelum aku berhenti bicara." Ucap Abel saat Kayla akan menyanggahnya.
"Dia itu cocoknya dikatain anak iblis tau nggak." gumam Fransiska.
"Lebih baik hati kamu cuci dan rendam pake rinso biar gak buruk sangka dan jahat sama orang. Terserah mau kamu doain temen aku meninggal atau apa. But you must listen to me, i never looked at you as being human forever." lanjut Abel.
"Jadi dia hewan dong Bell."
"aahhh tepatnya iblis."
"Loe kira loe siapa, hahhh." bentak Kayla, namun tak membuat Abel down.
"Loe gak lebih dari manusia hina, perebut pacar orang." lanjut Kayla.
"Siapa yang kamu maksud."
Sementara yang lain terperangah mendengar ucapan Kayla.
"Tentu saja Bagas, dia adalah milikku dan selamanya milikku." jelas Kayla.
"Dasar tukang ngayal." ucap Dekka.
"Kamu pacaran sama Dia." tanya Abel pada BG, dan sang tunangan pun menggeleng.
"Gak diakuin juga."
"agak-agak emang."
__ADS_1
"Kak Bagas kamu lupa sama aku." ucap Kayla melandai.
"Gue bahkan baru ketemu loe, jangan gilak dehh." jawab BG.
"Aku Fahrisa kak, Kayla Fahrisa temen masa kecil kakak, yang kakak janjiin jadi istri kakak dimasa depan." jelas Kayla.
Blammmm.. Seketika otak Abel blank dengan pernyataan Kayla, walaupun belum tentu benar adanya.
"Apaa."
"Cihhh, kecil-kecil ngayal."
"Kak, kakak pasti ingat kan janji kakak." rengek Kayla sambil menggerakkan tangan BG.
Abel tak bergeming begitu pula dengan lainnya.
"Lepasiin, gue gak begok juga ngadepin bocah kayak loe. Kalaupun gue ingat itu dulu waktu masih kecil jangan loe samain dengan sekarang." jawab BG membuang kasar tangan Kayla.
"Gak bisa gitu sampai kapanpun kamu akan jadi masa depan aku."
"Jangan mimpi, gue udah punya kehidupan sendiri." sahut BG tegas.
"Liat aja gue pastikan akan merebut loe kembali."
"Lagian ngarepin janji waktu kecil, itu cinta monyet sai. Hahhahah." celoteh Fransiska.
"Gak tau diri banget loe anak kecil udah ditolak BG juga." sahut Nia, Abel masih diam, dia masih menyelami perasaannya sendiri.
"Baby please percaya aku." ucap BG yang melihat keterdiaman Abel.
"Iyaa Bell lagian si Bagas udah milih elo."
"Dengar kata hatimu Bell." bisik Airin.
Abel mengerjapkan matanya, melihat Kayla sepertinya memang dia tidak sedang berbohong. Namun melepas BG yang sudah bersamanya selama ini pun ia tak rela.
Ponsel Abel bergetar berisikan panggilan dokter Adam.
"Bell, Metta drop bantu doa."
"..."
"Bell you okay, cuma itu yang bisa abang kabari."
"Ma.. ka..sihh bang."
Tubuh Abel melorot beruntung ditangkap BG.
"Bell.. Bell."
"Baby."
"Ehh astaga."
"Kenapa loe Bell."
"Cihh, caper."
"Hehh, pergi loe dari sini sebelum gue murka." ucap Fransiska.
"Loee dayang- dayang ni curut bawa temen loe ini sebelum gue mampusin loe bertiga." ucap Fransiska.
"Husss.. huss sana ." sahut Nia sambil mendorong-dorong badan Kayla.
"Ingat aja kak Bagas milikku, akan aku pastikan kembali padaku." ucap Kayla sebelum dia pergi.
Semuanya menghela nafas, sungguh mereka masih tak bisa mencerna situasi seperti ini.
"Bell..."
"Huaaa, Metta membu.. ruk." ucap Abel tangisnya pun pecah.
"Haahhh."
"Kita kirim doa yahh." sahut Airin sambil mengelus tangan Abel.
"baby kamu harus kuat, bantu doa. Kalau kamu nangis terus kapan doanya." ucap BG lembut.
"Trus gimana ini."
"Gue ke kantor dulu mau sampein ke guru-guru."
Diantara mereka mengangguk, bahkan Dekka dan Cindy mendadak lemas menangis dalam diam.
Dewan guru memutuskan untuk mengosongkan satu jam pelajaran dan memimpin doa bersama dikelas masing-masing. Abel dan yang lain akan datang kerumah sakit sepulang sekolah.
Abel masih belum berhenti menangis, walaupun tak seemosional kemarin-kemarin, dalam berdoanya air matanya terus mengalir.
"Bell, udah jang nangis terus kamu."
"Iyaa Bell, loe juga udah berbuat banyak buat Metta."
"Kita hanya bisa berusaha dan berdoa."
"Pasrahkan hasilnya pada Tuhan yah Bell."
"Aku harap Tuhan mendengar doa-doa kita."
__ADS_1