
Kesal memandang hasil rekaman CCTV akhirnya membuat BG memutar otak agak bisa menjebak dalang dari itu semua.
Dengan matang BG dan Para sahabatnya mempersiapkan jebakan untuk Kayla agar mengakhiri drama kolosalnya.
"Van yakin loe gak mau periksa." tanya BG, setidaknya dia juga harus bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Devan.
"Aman boss, udah habis fullcream 5 mendingan kok." jawab Devan.
"Emang jahat banget si Kayla, gak habis pikir gue."
"Untung gak kenak Abel."
"Kena Abel udah pasti masuk UGD dia." jawab BG, mengingat Abel memiliki riwayat Typus berulang.
"Keknya bener yang Fransiska dll bilang kalau dia saiko."
"Hemm."
"Trus dimulai dari mana ini."
"Sementara biar Abel dll gak tau dulu rencana kita. Takut entar malah bikin ribet." ucap BG.
Hanya Airin yang tahu cerita kejadian ini dan rencana penjebakan, namun dia tak tahu detail.
"gue coba cari ke kelas Kayla." ucap Kevin.
"Kayaknya dia masih keliaran ngincer Abel." sahut BG, dan yang lainnya pun membenarkan.
Akhirnya mereka berbagi tugas, Devan mengecheck CCTV sekolah memantau keberadaan Kayla. Kevin dan Wira mencari dikelasnya.
"Permisi." ucap Kevin bahkan membuat adik kelas yang berada di dalam terkejut dengan keberadaan senior yang masuk daftar most wanted itu.
"Kaylanya ada." sela Wira.
"Dari tadi pagi gak masuk kelas kak."
"Maksudnya dia gak masuk gitu." tanya Kevin.
"Ehhhm, anu. Masuk kak tapi dia pergi gak ikut pelajaran sama sekali." jawab salah satu teman Kayla.
"Ehhm okay thanks yah infonya." ucap Wira, lalu meninggalkan kelas Kayla bersama Kevin.
"Bener kalau dia lagi gentayangan nih." ucap Kevin.
"Waspada ini mah, Abel jang sampai keluar kelas tanpa penjagaan." sahut Wira.
"Gue feeling dia gak bakal berhenti sebelum Abel celaka hari ini." gumam Kevin.
Mereka berdua kembali ke basecamp yang mereka pilih yaitu dirooftop. Sebelum naik ke rooftop, Kevin dan Wira mencari-cari sosok Kayla disekitar sambil berjalan.
Hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang, karena sedang jam pelajaran. Beda dengan kelas Dua belas karena sedang free class.
Abel berada didalam kelas sudah perintah BG agar dia tak meninggalkan kelas terlebih tanpa ada yang menemani.
"Si Kayla udah gak masuk dari jam pertama pelajaran." ucap Kevin setibanya di rooftop.
"Dia gak masuk gitu, tapi di cctv dia ada disekolah." tanya Devan.
"Masuk tapi gak ikut pelajaran." jawab Wira.
"Trus selanjutnya gimana, udah kedetect dia dimana." tanya Kevin.
"Belum masih dicari."
"Mana aja yang belum loe check."
"Perpus, UKS."
"keknya UKS deh tempat aman buat yang lagi bolos." celetuk Riki.
Devan pun segera mengarahkan cek lokasi UKS dan, benar saja dia tengah berbaring tanpa ada beban dosa.
"Lihat nihh curut sembunyi disini."
"Kenakk loe."
"Lock posisi, pantau terus Van." ucap BG, dia pun membuka ponselnya berniat menghubungi Abel.
"Hallo."
"baby.."
"Iyaaaa."
__ADS_1
"Hemm, kesini dong."
"Kemana..??"
"Aku lagi di rooftop sama anak-anak."
"ngapain, untung jamkos kalo enggak awas aja yah."
"hahahahh, aku tunggu yah. bawa yang lainnya. Kita meeting darurat."
"Hahhh, seriously."
"Iyaa sayang, buruan yahh."
"iYaaahh."
Abel memutuskan sambungan lalu mengajak teman-teman wanitanya naik ke atas.
"Enak banget bikin perut gue hampir meledak, dianya tiduran sekarang kayak gak punya dosa nih Anjing.." ucap Sarkas Devan, membuat yang lain terkekeh.
"Sumpah gue juga gedek sama nih bocah." sahut Wira.
Terdengar derap langkah kaki menuju tempat BG berada, BG yang melihat Abel berada diantara para cewek itupun mendekat dan memeluk tubuh mungil Abel.
"Ihhh, main peluk-peluk sihh." ucap Abel.
"Bentaran baby, aku lagi kesel banget." sahut BG, sontak Abel pun tak lagi berontak malah membalas pelukan sang tunangan.
Airin dan yang lainnya memperhatikan ada yang tidak beres ketika mereka sedang berkumpul ditempat yang khusus.
"Ada apa ini." tanya Airin.
"Bau-bau kebusukan sihh."
"Hemmm, ada tragedi apa."
"Kenapa pada ngumpul."
"Jang diem aja kelean."
Cecar para cewek itu kepada para lelaki yang masih bungkam. Sementara BG masih tetap mendekap erat Abel.
"Kalau begini terus aku gak akan pernah tau kamu kenapa." ucap lirih Abel, BG meregangkan pelukannya menangkupkan kedua tangannya pada wajah Abel.
"Hemmm, Aku bersyukur karena kamu selalu selamat hari ini, but.. aku juga sedih karena kamu terus dalam bahaya." jelas BG.
"About what."
"Kayla... dia dua kali hampir mencelakai kamu." jawab BG singkat.
"Tunggu dua kali." tanya Airin curiga.
BG membawa Abel duduk dan mendekat kearah yang lainnya.
"Sini." ucap Angga agar Airin mendekat, diikuti oleh tim bar-bar.
"Aku seneng banget ada Devan yang udah dua kali nyelametin kamu, kalau enggak mungkin kamu udah di UGD sekarang bahkan membuat mas Alvin mengobrak- abrik sekolah kita." jelas BG mendudukan Abel di pangkuannya tak lupa meletakkan jaketnya menutupi rok Abel agar tak tersingkap. Diantara mereka masih sedikit terkejut dengan penjelasan BG.
"Dua kali. Jadi termasuk insiden di kantin." tanya Fransiska.
"Is that Kayla's." tanya Abel, BG pun mengangguk.
"Mas Al belum tau kan." lanjut Abel, karena dia sekarang lebih diperketat akan ada penjagaan padanya jika terjadi sesuatu.
"Nope, ini masih kita selidiki." jawab BG.
"Trus sekarang si kutu kuprett dimana." ucap Fransiska.
"Masih dipantau nihh." jawab Devan sambil menunjukkan ponsel BG.
"Trus mau kita apain ini bocah." tanya Nia.
"Loe tau Nyaa, diotak gue cuma pengen nyubit otaknya si Kayla biar sadar kelakuannya." jawab Fransiska.
"Gak akan sadar dia, otaknya aja separuh." sela Wira.
"Bahaya banget dia."
"Loe bayangin gimana kalau Abel yang kenak sambel udah pasti langsung tepar." potong Devan.
"Devan aja yang doyan sambel nyerah." ucap Airin.
Abel yang membayangkannya bergidik ngeri bahkan langsung berhambur ke pelukan BG.
__ADS_1
"Ssshhh baby, aku jamin anak- anak gak bakal biarin Kayla jahatin kamu." ucap BG, merespon tindakan Abel.
"makanya kita mau rencanain jebak dia biar sekalian dikeluarin dari sekolah dipenjara kalau perlu." lanjut BG.
"Bukan hanya berbahaya buat loe aja Bell, bahkan seisi sekolah ini juga." potong Riki.
"I know but, is she have mental illness, she's can't be punished. Dia aman dari jerat hukum." jawab Abel yang masih dalam dekapan sang Bagaskara.
"Bener sihh."
"Lahiyaaa juga."
"Jadi gak ada jaminan dia keluar dari sini enggak dendam." ucap Abel.
"Wajelas dia harus dideportasi dari Indonesia ini mah." celetuk Fransiska.
BG berfikir keras ucapan Abel ada benarnya, lalu bagaimana cara menghentikan kegilaannya.
"Gue ada ide, ini permulaan." ucap Airin.
"Apaan."
"Kita libatkan dewan kesiswaan."
"Ya truss."
"Dev loe print hasil kejahatan Kayla."
"Hemmm, okayy masukk."
"Nihh dia kan pura - pura sakit nihh."
"Yesss, trus."
Semua masih fokus mendengarkan Airin, Bahkan Abel langsung menegakkan badannya.
"Biar digrebek sama bagian kesiswaan, bukan enak -enakan bolos jampel." jelas Airin.
Semua mengangguk paham Devan pun segera melanjutkan perintah Airin. Beruntungnya mereka mempunyai kontak guru kesiswaan, Devan mengirim japri namun sudah menyiapkan bukti fisik.
Dewan kesiswaan merespon laporan Devan, dan Airin pun bergerak menuju ruang BK bersama Devan. Yang lainnya masih berada di rooftop enggan kembali ke kelas.
"Jangan khawatir lagi, setelah ini aku kabarin mama." ucap BG.
"Kenapa mama."
"Biar dia laporan ke ortu Kayla disini dia bikin masalah." jawab BG.
"Truss."
"Seperti kata Fransiska biar dideportasi balik ke ortunya." jelasnya.
Sementara itu di UKS pak Heri dari kesiswaan mendatangi ruangan itu bersama Airin dan Devan tak lupa dengan print out rekaman CCTV.
"Ada siswi yang bernama Kayla disini."
"Ada pak sedang tidur katanya pusing."
"Panggil suruh kesini mau saya bawa ke rumah sakit." ucap pak Heri lantang, petugas UKS pun mengangguk, tak lama Kayla muncul khas dengan wajah bantalnya.
"Cihhh muka kek sarung tinju aja pake mau nyaingin Abel." gumam Devan yang melihat buruk rupanya Kayla.
Sementara Airin tergelak mendengar ucapan Devan.
"Kamu Kayla."
"Iyaa pak. A-ada apa ya pak."
"Ikut saya keruang BP." jawab Pak Heri, sontak membuat Kayla panik.
"Salah saya apa sampai harus ke BP."
"Nanti dijelaskan disana."
Pak Heri menggeret Kayla bahkan tak sedikitpun Kayla mencoba berontak, Airin dan Devan mengekor dibelakang.
Setelah menjelaskan kesalahannya berikut buktinya, Kayla sempat mengelak namun dengan saksi dari ibu kantin akhirnya memperberat. Dari hasil persidangan Kayla diminta mendatangkan kedua orang tuanya dalam waktu dekat.
Kayla hanya tertunduk malu, bagaimana bisa dia menghubungi ortunya. Karena jika sampai kedua orang tuanya tau dia membuat onar sudah pasti ortunya akan membawanya kembali ke Australia.
__ADS_1