
Hatiku, Hatimu kubingkai Rapi dalam ingatan agar tak akan ada memori lain lagi yang mengisi.
Bagaskara
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari itu tiba, hari-hari mendebarkan. That's it, hari dimana para siswa akan bergelung manja dengan soal-soal.
Satu minggu ini berat, namun begitu berat bagi Abel dan Airin.
Karena mereka berdua kini tengah menyusun sebuah perencanaan kegiatan setelah ujian semester dibawah binaan OSIS.
"Nanti selesai ujian rapat lagi yah Bell, nge fiks in agenda kita and maju proposal." ucap Airin.
"Hemm, okay udah deal sama yang lain kan."
"Udah kok udah deadline juga nih." tambah Airin.
Mereka berdua bertemu depan gerbang menuju tempat ujian. Seperti biasa XI IPA 1 akan sebangku dengan X-1 khas SMA Tunas Kelapa.
"Baby." panggil seseorang, membuat Abel dan Airin menoleh.
"Hemm." sahut Abel, begitu menemukan lelaki yang dikenalinya.
"Seminggu ini aku full dikantor sepulang sekolah yah." jawab BG, Abel mengangguk tak lupa menebarkan senyum cantiknya.
"Dahh sana masuk, kelas ku didepan." kata Abel yang masih tak menghiraukan kedua insan yang hanya memandang cengo Abel dan BG.
"Ngusir nihh." sahut BG sambil mengelus puncak kepala Abel.
"Dahh lah kalian mau mesraan jangan disini kelees, mata gue ternoda." potong Airin yang melihat kemesraan didepan matanya.
Angga memperhatikan Airin dalam diam, entah apa yang ada di otak cowok pendiam itu. Sesampainya dikelas Abel melambai tangan pada BG, karena kelas BG masih beberapa blok.
"Kak Abel Steve." bisik teman Steven padanya. Bukan hal rahasia umum jikalau penggemar berat Abel satu ini cukup fanatik.
"Morning All." sapa Airin pada teman sekelas dan adik-adik kelasnya.
"Baby Abel bangkunya belakang Angga tuh." Celetuk Devan saat masih melihatku sedang mencari-cari posisi bangku.
"Mamaci Dep, ihhh baik banett." jawab Abel, lalu menuju tempat duduknya.
"Ya Tuhan surga dunia." ceplos Steven yang berada di bangku belakang begitu melihat Abel sedang bercanda dengan temannya.
Abel mengambil ponselnya berniat memberikan pesan pada BG.
~> Me
Q nanti ada rapat sama Ai pulang sekolah, lupa bilang.:)
~> MyHon
Iyaa hati2 baby, bilang mas Al.
~> Me
Duhhiyaa lupa.. tqs dah ingetin
~> MyHon
A pleasure baby
*
Abel tak membalas dia segera menghubungkan telp internal dengan sang ajudan.
"Mas, Abel nanti ada rapat sama Ai okehh."
"Kabari kalau sudah kelar rapatnya."
"Hemm, siapp 86."
Tak disadari Abel sedari tadi dia diperhatikan oleh beberapa orang yang memang awam dengan keberadaan seorang Arabella.
Guru pengawas datang sontak mereka yang masih nampak bergerombol segera berhambur ketempat duduk masing-masing.
Abel segera melepas semua alat komunikasinya dengan sang ajudan, agar tak menimbulkan kesenjangan dengan siswa lainnya, tidak dengan teman sekelas Abel.
Semua teman sekelasnya merupakan pribadi yang hangat, tidak ada satupun dari mereka yang mempunyai pemikiran kolot.
__ADS_1
"Ahhh bahasa Asing mapelnya, nampak para ahli bahasa disini. Jangan pada minta bantuan pada kakak kelasnya yah." celetuk guru pengawas, semua pun paham jika yang pandai bahasa asing tengah berada diantara mereka.
"Yaaah, sekali-kali boleh kan Pak." ceplos Devan.
"Jangan coba-coba Devan, kulempar ke planet Mars nanti." jawab pengawas.
"Ahahhaha santuy bapak kuhh, di Mars gak ada nasi liwet entar Devan kurus kalau tinggal disana." tambah Devan, semua pun terbahak-bahak termasuk Abel. Tak sengaja dia bertatap muka dengan sosok fans beratnya, Abel membalasnya dengan tersenyum ramah.
Ujian dimulai berlangsung sembilan puluh menit, namun di menit tujuh puluh Abel berdiri mengumpulkan kertas ujian.
"Kakak duluan yah." sapa Abel pada adik kelas sebangkunya.
Tak lama Airin pun berdiri menyusul Abel. Mereka berdua bergegas menuju kantin karena mapel ujian kedua dimulai setelah istirahat.
Abel dan Airin sudah duduk dengan pesanan masing-masing, mereka sengaja tak menunggu temannya karena mereka berdua paham kelebihan Abel dan Airin tidak sama dengan para temannya.
Bel terdengar pertanda ujian Mapel pertama berakhir disusul berhamburan para siswa.
BG bersama sahabat-sahabatnya pun sudah berjalan menuju kantin, nampak raut lelah dari para siswa.
"Udah dimari aja kesayangan gue." ceplos Kevin, sang BG mendelik tajam kearahnya. Abel tau calon tunangannya itu pecemburu berat, tak terkecuali pada sahabatnya sendiri.
Abel menepuk bangku disebelahnya mengurai ketegangan.
"Sana pesenin Vin." ucap BG lalu memberikan 2 lembar uang pada Kevin.
"Huaas, makan gratis lagi. tengkiyuu boss kuhh." sahut Kevin lalu dengan cepat dia berdiri memesan makan tak lupa menggeret Wira.
"Finally, kumpul lagi akhirnya." celetuk Dekka.
Dalam satu meja mereka sudah berkumpul formasi Abel BG dan para sahabatnya, belum nampak Angga entah kemana dia.
"Angga mana Ai." tanya Metta.
"Taukk, kita keluar dulu soalnya." jawab Airin.
Tak lama orang yang baru saja dibahas datang bersama Devan menarik kursi dan menaruh disebelah Airin.
Kreet, Bruuk.
"Hadeehhh." gumam Angga.
"Aduhh gue gak ada tempat nih." ucap Devan.
"Sana pesen dulu Aku udah kelar entar duduk sini." sahut Abel.
Devan mengangguk, namun saat hendak berdiri Kevin datang membawa pesanan.
"Kemana loe Dev, nie gue beli lebih tadi." sergah Kevin.
"Lahhh, rejeki anak soleh mahh, thanks bro."
"Nohh, dibeliin bos BG." jawab Kevin.
"Huaaa, baik benel yayang Abel mahh, sering-sering atuhh." lanjut Devan.
"Yee, alay loe. Gihh buru makan keburu Bel." sahut Airin.
"Sini Dev." ucap Abel yang sudah berdiri.
BG menariknya untuk duduk lagi dikursi.
"Ambil kursi Dev, sini." perintah BG, lalu menggeser kursinya dibelakang Abel. Abel pun berbalik badan menghadap BG.
"Thanks yah, Goshh, mana bentar lagi Fisika, otak gue leleh."
"Emang loe punya otak Dev." ceplos Metta.
"Sumpah Mett, gue kalau Fisika Nyerah, noh tanya Abel tiap PR gue pasti malak dia."
"Mapel paling serem itu mahh, makanya gue ogah masuk IPA." sahut Kevin.
"Taukk nihh dibilang salah jurusan tapi bersyukur ajah." jawab Devan.
"Tumben waras, Trus tadi kenapa kok lama." tanya Airin.
"ohhh ituu, ehmm." ucapan Devan tak berlanjut karena ia merasa ada yang melotot kearahnya.
Abel dan Airin kompak melihat kearah Angga yang menyiratkan untuk Devan tak menjawab pertanyaan Airin.
__ADS_1
Kedua gadis itu lalu saling berpandang, bingung ada apa dengan kedua temannya itu, apa yang mereka sembunyikan.
Terjadi keheningan sekarang, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring. Tak ada yang berani mengeluarkan suara, termasuk Devan yang terbiasa berkicau pun mendadak bisu.
"Balik yuk Bell, pengen baca- baca bentar." ajak Airin, sepertinya moodnya sedang buruk.
"Bentar baby." potong BG yang sedang menyelesaikan makannya, Abel segera mengambilkan minuman kepada BG.
Setelah selesai BG berdiri sepertinya hendak mengantarkannya ke tempat ujian Abel.
Mereka berpamitan pada para sahabatnya, belum benar-benar berdiri Angga menarik tangan Airin lalu membawanya, meninggalkan Abel dan BG.
"Ada apa sih Dev, keknya buruk nihh." tanya Abel, dia bahkan mengurungkan niat kembali ke kelas.
"Hemmm, Angga lagi kesel." jawab Devan sambil mengunyah makanannya.
Diseberang meja para sahabat Abel dan BG pun sama seperti menunggu Devan bercerita.
"Hahahahhh, nungguin yahh." lanjut Devan.
"Yeee, si kimprit." celetuk Kevin sambil melemparkan bola tisu kearah Devan.
Setelah menghabiskan makanannya Devan pun menceritakan perihal Angga sebelum ke kantin tadi. Sigh, semua kompak.
"Cobaan mereka." ucap Abel lirih.
"Hemmm, namanya juga ujian pasti gak kenal waktu. Mo loe lagi ujian semester gak peduli tuhh ujian cintanya adaa aja." sahut Devan.
"Sok bijak Loe jomblo." celetuk Kevin.
"Ehhh, bapak mohon maaf situ juga jomblo kelees." balas Devan, sementara itu Metta tertawa puas melihat keributan antara Devan dan Kevin.
"Dahh lah yuk balik kelas baby." potong BG yang sudah menggenggam tangan gadisnya hendak mengantarkannya, sesampainya didepan kelas Abel segera masuk berniat mencari Airin.
Nihil, Abel tak menjumpai Airin dan Angga, mungkin mereka masih butuh waktu bersama.
"Yang mana orangnya Dev." bisik Abel pada Devan, Devan pun menunjuk dengan dagunya.
Sekarang giliran Airin yang sedang mendapati ujian cintanya dengan Angga, gimana enggak. Alasan Angga telat ke kantin adalah karena ada yang tengah menyatakan cinta kepadanya.
Bahkan dari cerita Devan, gadis itu seolah memojokkan Airin yang tengah dekat dengan Angga. Dia mengingatkan pada Tuhannya, Angga dan Airin beda lalu kenapa Angga tetap memilih gadis yang berbeda keyakinan dengannya.
Angga tak mengatakan 1 kata pun pada gadis itu, dia memilih diam dan meninggalkan tempat menyusul Airin.
Lalu Abel bersenandung sambil menuju kursinya.
"Cinta menyatukan kita yang tak sama
Aku yang mengadah dan tangan yang kau genggam
Berjalan salah, berhenti pun tak mudah
Apakah kita salah." Ucap Abel sambil melirik tajam kearah gadis yang sudah membuat mood Ai buruk setiap katanya penuh penekanan.
"Ohhh goddd, my baby Arabella back your place please." sahut teman Abel yang merasa gadis itu tengah menyindir seseorang.
Tawa Devan tak henti-hentinya mendengar Abel bersikap.
"Buahahhaha, loee yee tumben- tumbenan nyinyir." ucap Devan sambil menoyor Abel.
"Dev, ihhh." sahut Abel tak suka ditoyor-toyor Devan.
"Awas loe Dev, main toyor-toyor gue bilangin BG mampusss loe." ujar Nayla teman Abel.
"Dihh jangan dong, entar uang jajan dikantin dipangkas."
Abel hanya geleng-geleng saja mendengar ucapan Devan, tak lama Airin dan Angga kembali ke kelas karena bel masuk telah berbunyi.
Abel melihat wajah Airin nampak suram namun dia masih memperlihatkan senyumnya. Abel tahu Ai gadis tegas dan kuat, hal remeh seperti ini ditelan mentah olehnya.
Get better feels, cuma itu yang Abel harap, Sama sepertinya Airin memang moody namun semuanya membaik kala dia sudah mendapatkan penjelasan.
*
*
*
to be continue
__ADS_1