Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Perjuangan Abel


__ADS_3

Setelah bertemu Metta diruang perawatan kini Abel dan Dekka bergulir menuju meja perawat untuk meminta informasi tentang biaya operasi.


Karena bagi Abel tak etis jika dia bertanya langsung pada ibu Metta.


"Untuk biaya operasi sebesar 55 juta ditanggung asuransi kerja 20, tinggal 35 juta." jelas petugas administrasi rumah sakit.


"Untuk kemo dan biaya perawatan bagaimana sus." tanya Abel.


"Kalau kemo dll sudah dijamin asuransi, tinggal biaya operasinya karena terbatas dari asuransi."


"Baiklah, terima kasih infonya."


Abel dan Dekka meninggalkan ruang administrasi, mereka berdua memilih pergi ke taman rumah sakit.


"Gimana rencana selanjutnya Bell."


"Ini lagi mikir Dekk. Uang segitu gak kecil, tabunganku juga udah gak banyak soalnya buat kado mas Al kemarin." jawab Abel lalu dia melihat keatas hamparan Awan putih dilangit.


"Kalau nyanyi dikafe berapa sawerannya." gumam Abel namun masih bisa didengar Dekka.


"Coba telpon Riki."


"Ogahh, aku gak mau berhubungan sama yang terlibat dengan Bagas." jawab Abel.


"Kenapa dia kan tunangan elo. Masih ngambek."


"Dia aja gak hubungin aku." jawab Abel sambil menunjukkan ponselnya.


Tak lama Abel seperti tengah menghubungi seseorang.


"Hallo Dev, kamu dimana."


"Di cafe Baruna."


"Kenapa di Baruna bukannya kamu jaga di Ujung."


"Iyaa, si Riki lagi report di Sebelas Duabelas."


"Aku kesana yah sekarang urgent banget."


"Okay take care yah."


Abel memberitahukan Dekka jika mereka akan bertemu Devan, satu-satunya orang yang bisa diandalkan Abel.


Setelah keluar dari Rumah sakit menuju cafe tempat Devan berada, Devan pun tengah menunggu mereka di diruang tunggu.


"Ada apa nihh Bell, ngayap kemana dulu kelean mana masih pake seragam." sambut Devan curiga.


"Bisa nggak didalem aja gue haus." ucap Dekka.


Devan pun membawa mereka masuk, dan menuntaskan masalah kedua gadis ini. Abel menceritakan semua tanpa celah, dan termasuk rencana- rencananya.


"Gue gak tau harus koment gimana Bell."


"Enggak usah komen loe Dev, cukup bantu aja." potong Dekka.


"Okeyy, gue pegang dua cafe saat ini loe bisa isi. Nanti kalau di cafe lain gue usahain buat Kevin dan Riki percayain ke gue biar loe bisa isi." ujar Devan.


"Jadi kita mo ngisi berapa tempat Bell." tanya Dekka.


"Kalau bisa 5-6 tempat sejam Sehari. Kalau sawerannya 700-800 dalam 10 hari baru ngumpul." jelas Abel.


"Itu rate yahh Bell kadang bisa lebih tergantung jumlah pengunjung cafe." potong Devan.


"Iyaa i Know makannya aku pake rata- rata."


"Loe udah bilang BG sama ortu loe kan Bell." celetuk Devan dan Abel pun menggeleng.


"Dia lagi marahan." sahut Dekka.


"Pantesan ngehindar, lets tell me whats wrong."


"Hemmmm." Abel menghela sejenak lalu dia pun menceritakan unek-unek.


"Pantesan anak gue didiemin, ngambek bisa bertahun-tahun." ceplos Devan, membuat Dekka gemas dan mencoel pipinya.


"Gue bantuin loe pas lagi main kalau pas enggak repot." ucap Devan.


"Okey Dev mamaci yahh."


"Trus loe kerjaan loe apa Dekk."


"Ngerampok bank bisa nggak biar si Abel gak keluar keringet." jawab Dekka.


"Gue getok pala loe yahh Dekk. Hemm, jadi ini mau langsung main tuhh pas banyak pengunjung." ucap Devan.


"Boleh yukkk, Dev pinjem kaos yang bersih lahh." ucap Abel.


"Loe pake baju laki loe aja Bell, di kantor ada keknya." sahut Devan, dan abel pun mengangguk.


Setelah bersiap sekitar 15 menit Abel segera naik mini panggung yang sudah disiapkan.


"Haii selamat sore semuanya, Selamat menikmati hidangan, Abel akan temanin kakak semua, semoga suka."


Abel mulai memainkan tuts pianonya, mendendangkan lagu dengan suara merdunya. Membuat pengunjung menikmati permainan musik Abel. Sore hari Abel menyanyikan lagu romantis, cukup dengan tiga lagu Abel pun mengakhiri karena dia harus bersiap untuk berpindah tempat.


"Ini loe pada udah ijin kan."


"Belommm..ini mau ijin." sahut Dekka, sedangkan Abel sedang sibuk menghitung sawerannya.


"Bell loe cobak lagu koploan dehh." celetuk Devan.


"insha'Allah, lumayan dapat 475." ucap Abel, lalu memberikan uangnya pada Dekka.


Pada akhirnya, Abel dan Devan berbagi tempat dengan dua kali penampilan sore dan malam, dengan begitu Abel tidak akan pindah tempat.


Sudah dua hari ini Abel, Dekka dan Devan saling bahu membahu mencari uang.


Hari rabu ini merupakan hari ketiga disekolah Abel masa Orientasi, sore harinya akan ada masa inagurasi atau closing kegiatan.


"Bell nihh gue dapet kemarin, lumayan tiga sesi gue."


"Kok bisa Dev." tanya Abel bingung.


"Siangnya gue isi juga, coba kalau ada team lagi gitu Bell bisa isi di tempat Kevin."

__ADS_1


"Siapa Dev, aku juga bingung, ke kelas Dekka yuk."


"Hemmb."


Sementara itu, dikelas Abel beberapa temannya merasa curiga dengan Abel dan Devan, tapi mereka takut bertanya.


Abel dan Devan tengah menuju kelas Dekka, 1 blok sebelum kelas BG. Abel pun sudah 2 hari ini tak membuka ponselnya.


"Bell loe pucet banget." ucap Dekka setibanya Abel.


"Semalem, gak bisa tidur."


"Kenapa." tanya Dekka.


"Besok mas Al udah kerja aku bingung mau bilangnya."


"Goshh, tinggal loe jujur aja napa sih Bell." celetuk Devan.


"Dia banyak tekanan Dev." sahut Dekka.


"you should be clearly your problems with BG now." ucap Devan serius.


"Kalau kamu gini terus bisa sakit malah gak bisa nyanyi gimana." ucap Dekka, melihat Abel yang sudah meletakkan kepalanya di mejanya membuat dia merasa simpati.


"Gue panggil lakinya dehh." ucap Devan.


Tanpa persetujuan dari Dekka, Devan pun menuju jelas BG tepat sebelah kelas Dekka.


Ditempat lain, dikelas BG nampak BG tengah bersama para sahabatnya, ketiganya sedang sibuk dengan gawainya namun tidak dengan sang Bagaskara. Dia tengah tiduran layak orang sedang galau.


"Hello anybody room." teriak Devan menggema.


"Teriak-teriak loe kira hutan."


"Brisik loe jigongg."


Devan menggeloyor masuk menuju meja para gamers itu.


"Boss, loe gak nyariin Abel." ucap Devan to the point.


"Gue udah telp hapenya gak aktif, dikelas juga gak ada." jawab BG.


"Loe tau Dev, mereka kek lagi kucing -kucingan."


"Pusing gue liat mereka pada." sahut Riki.


"Emang loe tau dimana Abel." tanya Kevin.


"Dia pingsan nohh dimeja Dekka." jawab Devan, BG yang mendengar pun bergegas menuju kelas Dekka.


Benar saja mendapati Abel tengah berada dimeja Dekka diapun menghampirinya. Tanpa bersuara Dekka hanya memperhatikan BG.


"Kenapa bisa disini." ucap lirih BG.


"Masih pentingkah gue jawab."


"Ckk, udah gue telponin dari kemaren Dekk."


"Emang sengaja dia matiin hapenya, loe gak tau aja kalau Abel udah ngerasa beda dia tau yang mesti dia lakukan." jawab Dekka sedikit nge gas, Abel yang merasa terusik membuka matanya. Menegakkan badannya setelah mendapati keberadaan sang tunangan dia memilih untuk memejamkan matanya lagi tanpa berbicara.


"Baby." ucap lirih BG, merasa tak ada jawaban dari Abel membuat BG menggeram.


BG menyoroti meja Dekka yang penuh dengan lipatan uang.


"Uang apaan Dekk, banyak banget." tanya BG, tak ingin BG curiga Abel segera mendongak.


"Uang kas lahh."


"Kenapa kesini." tanya Abel.


"nyariin kamu lah, ngilang dua hari ini." jawab BG, namun melihat Abel seolah enggan melihatnya bisa dipastikan dia sedang sebal dengannya.


"Kamu marah sama aku kan. Maaf yahh." lanjut BG, Abel pun menggeleng pelan.


"Sakit yahh, bibirnya pucet."


"Enggak kok cuma kurang tidur aja semalem." jawab Abel, Dekka terus memperhatikan kedua sahabatnya itu, keduanya memang hanya kurang komunikasi, BG yang tak peka dengan perubahan sikap Abel, dan Abel yang tak ingin menyelesaikan dengan cara menghindarinya.


"Sayang kantin yook." teriak Riki diambang pintu kelas Dekka, Dekka mengangguk. Akhirnya mereka pergi ke kantin bersama-sama.


Ditengah Abel dkk sedang menikmati makannya, nampak kedatangan Devan bersama ketua OSIS baru.


"Bell, dicariin Steve nihh." ucap Devan, Abel menoleh kearah Steven.


"Mohon waktunya sebentar." ucap Steven sopan.


"Ada apa Steve." tanya Abel.


"Nanti closing MOS kak, saya pribadi minta waktu kak Abel sebentar untuk guest kita nanti." jelas Steven, Abel menoleh sebentar pada Devan karena sore jadwalnya di cafe jadi berkurang 1.


"Jam berapa saya hanya ada waktu 30 menit." jawab Abel.


"Kita mulai jam 2 siang kak, 30 menit sangat cukup kok."


"Baiklah, saya usahakan."


"Makasih kak, kalau gitu saya balik dulu permisi." pamit Steven.


Devan, Abel dan Dekka saling tukar pandangan, semuanya tak luput dari perhatian BG.


"Nanti aku tungguin baby, jangan anggap aku nggak ada." potong BG, akhirnya Abel pun pasrah dan memilih mengangguk.


"Entar siang biar gue isi, loe sorenya aja." bisik Devan.


"Gue balik dulu yahh, mau nyariin Airin." sela Devan.


"Baby any problems." desak BG.


"Nope." jawab Abel, lalu membuka ponselnya untuk mengabari sang bunda.


Sore harinya, seperti janjinya pada Steven, setelah memperbaiki penampilannya dengan menambahkan bedak dan liptin kini tiba Abel muncul didepan adik kelasnya.


"Guest kita kali ini adalah salah satu best student sekolah kita, tahun lalu beliau menjadi penyambut mahasiswa dari Stanford, Siswi yang multitalent dan ahli bahasa Asing, please give applause for my sister Arabella." sambut Steven sambil memutar video lama dokumentasi milik OSIS.


"Cihh grammar sama speeling ngawur gitu katanya ahli bahasa."

__ADS_1


Suara sumbang itu terdengar ke telinga Abel, tapi Abel tak menggubrisnya.


"Hai, Steve hai semua." sapa Abel.


Ditempat lain, BG dan sahabatnya tengah ikut menyaksikan dan menunggu Abel.


"Sehat kak. Lagi sibuk apa ini."


"Sehat banget, ehmm kebetulan lagi sibuk cari uang receh sihh. Hahhahah. enggak kok, lagi nggak ada kesibukan yang berarti."


"Okey, Steve seneng banget bisa duduk bersama dengan kakak, ini moment yang penting bagi Steve juga tentunya. Ehh jadi curhat. Btw guys gue kasih tau kalian kak Abel ini Siswa dengan IQ tertinggi disekolah kita, walaupun banyak yang sayang sama kak Abel, tak luput juga dari para haters." ucap Steven.


"Betull sekali." sahut Abel.


"Jadi gimana respon kakak menyikapinya."


"Well, aku merasa dunia ini ada positif dan ada negatif, ada baik ada juga buruk dan ada yang sayang juga pasti juga ada yang membenci, semua itu aku anggap balance, meskipun maunya aku sih semua saling sayang dan jangan ada pertikaian. That's impossible because any people is multiverse, kita enggak bisa memaksakan kemauan, atau tujuan kita pada satu orang." jelas Abel.


"Setuju banget itulah kenapa Steve sampai sekarang ngefans banget sama kak Abel ini, Next mungkin kita tanya jawab aja. Mungkin dari adik-adik ada yang mau bertanya untuk guest kita, silahkan." ucap Steven.


"Ehhm kak Abel, kan pandai bahasa asing kan yah kakak bisa bahasa apa saja dan apa semua itu kakak bisa dengan otodidak atau bagaimana."


"Silahkan kak Abel."


"I getting lesson since Junior High school, jadi enggak otodidak. Saya bisa jepang, germany, sedikit bahasa belanda." jawab Abel, lalu tiba pertanyaan selanjutnya.


"Jadi kak Abel ini selain tukang ngibul seharinya penyanyi kafe juga yah."


"Apa maksudmu." sungut Steven ketika ada pertanyaan sarkas untuk Abel.


"Gini ya kak, ngomongnya aja ahli bahasa, tapi speeling buruk banget, kenapa saya bisa bilang gitu, saya sebelumnya sekolah di Australia. Dan kemarin saya liat video kakak ini sedang nyanyi di kafe." jawab Kayla.


Deg.. sementara itu dibelakang panggung BG dan Airin tak terima jika Abel disebut tukang khayal, bahkan begitu terkejut dengan penyanyi kafe.


"Biar saya jawab, Speeling dan grammar English UK, USA and Ausie is different, if you can judge me like that you must be know that remember."


"Mampusss loe."


"Sok-sok an dari Ausie."


"Dan masalah untuk saya penyanyi kafe, apa saya merugikan kamu." ucap Abel santai.


"Udah kak, nggak perlu direspon." potong Steven.


Sementara Airin tak terima Abel diblunder di acara Steven pun segera meminta Steven segera mengakhirinya.


"Jadi pelajar juga, bisa yah cari uang lalu kemana ortu kakak sampai kamu jadi penyanyi kafe segala, apa ortu kakak tidak mampu."


Blaaaaammmm..


Hati Abel tercabik saat ayah bundanya disangkut pautkan.


"Girl, listen. Dengan bekerja tidak membuat kamu rugi, walaupun kedua orang tuaku mampu membiayai sekolah. Enggak perlu saya koar-koar, 1 hal lagi mampu atau tidak orang tua membiayai pendidikan seseorang bukan berarti kamu menjugde buruk seperti itu. Ingat kalaupun saya tidak mampu bukan berarti kamu bisa menghina saya atau orang lain, jika kamu mampu sisihkan untuk orang yang gak mampu, bukannya kamu merasa jijhik dengan keberadaan orang tidak mampu." ujar Abel.


Sejenak Abel menarik nafas, merasa dipermalukan didepan banyaknya siswa, bahkan sudut matanya sudah menggenang.


"Kak sudah yah." potong Steven.


"Saya mau bercerita, saya punya sahabat. Tiga hari yang lalu saya baru tahu dia sedang sakit keras, dia harus segera menjalani operasi besar, jika tidak nyawa taruhannya. Bahkan sambil menunggu biaya dia harus menjalani kemoterapi. Hikss.. aku enggak punya cukup uang untuk cover biaya sebesar itu. Hiks.. hiks. ja. . di." ucap Abel terbata, BG mendengar jika sang tunangan menangis dan mendatanginya kepanggung begitu pula dengan Airin.


"Jadi aku bersama dua sahabat aku mencari tambahan untuk biaya operasi,. Hiks.. hiks. kamu jahat sekali menuduhku dengan sebutan itu bahkan kamu dan aku enggak pernah kenal sekalipun."


"Baby." panggil BG.


"Wait."


"Udah Bell, Steve kendalikan semua ini, seharusnya kamu saring dulu." potong Airin.


"Akan aku jelaskan disini, disana sahabatku sedang berjuang hidup dan mati, dan disinilah aku tetap berdiri untuk mempertahankan kehidupannya. Kenapa harus dengan cara berkerja, memangnya apa buruknya penyanyi kafe, saya masih punya harga diri untuk tidak menjajakan diri seperti apa yang kamu maksud. Dengar Kayla, mulai saat ini saya tandai nama kamu." ucap Abel.


"Mampuss loe."


"Kagak tau aja loe siapa Abel."


"Setelah ini semua yang kamu lakukan akan aku tindak tegas jika itu menjelekkan reputasiku. Maaf Steven sepertinya Acaramu sedikit kacau, lanjutkan acara bakatnya." ucap Abel lalu beranjak turun dari panggung bersama BG dan Airin.


"Baby, sudah yahh." ucap BG sambil memeluknya, menenangkan Abel yang masih terisak.


"Hikkss.. siapa dia berani sekali menjelekkan namaku. hu hu hu."


"Sudah yahh, yuk pulang." sahut BG, sedangkan Airin sedang menatar Steven, agar menghindari kejadian seperti ini lagi, karena bisa jadi kedepannya Abel akan susah dimintai bantuan.


Sementara itu dimobil, BG sedang menunggu sang tunangan tenang, bagaimanapun juga dia masih terkejut dengan apa yang dikatakan Abel dipanggung. Namun BG tak bisa meminta penjelasan bisa-bisa mood Abel juga akan jelek, efeknya apalagi kalau tidak NGAMBEK.


"Mau kemana dulu ini sayang." tanya BG, akhirnya Abel merespon.


"Dekka mana."


"Udah balik kayaknya, kenapa."


"Kita ke cafe ujung yahh." ucap Abel sambil menghubungi Dekka, karena sebelumnya dia sudah janjian dengan sahabatnya itu agenda hari ini.


"Gue udah dilokasi Bell."


Satu kalimat dari Dekka membuat hati Abel tenang.


"Enggak ada yang mau diceritakan." tanya BG pelan.


"Kamu udah dengar semuanya."


"Kenapa enggak melibatkan aku baby." tanya BG, sedang Abel hanya berdiam tanpa sepatah katapun.


"Jangan bilang karena efek kamu ngambek." lanjut BG.


"Of course that's one of the reason, karena aku bingung nyari uang sebanyak itu, jadilah Aku Dekka dan Dev cari uang bergantian.


"Masih kurang banyak."


"Hemmb, 26 juta. Masih jalan 3hari kita kerja."


"Aku bantuin, jangan pernah kamu ingkari keberadaan aku lagi yah."


"Jangan pernah coba kamu diemin aku lagi."


"Never, Honey.. aku enggak akan sebodoh itu ngulangin lagi." jawab BG.

__ADS_1


Dan Abel pun tampil 2 sesi, sedangkan BG memilih mengisi di kafe miliknya yang lain, setidaknya Abel ada Dekka yang menemaninya.


Bahkan semenjak kejadian dipanggung tadi semua sahabat Abel dan BG bersatu untuk menggalang dana, meskipun mereka belum tahu siapa yang tengah sakit. Namun diantaranya sudah tahu jika Metta lah yang tengah berada dalam masa pengobatan.


__ADS_2