Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~ Dania...???


__ADS_3

Hai Guys Jang lupa likeπŸ‘ love ❀️ gift 🎁 vote 🎫 dan komentnya ⌨️ yahhh... Caranya gimana tinggal dipencet aja logo trus tinggal pilih mau gift apa aja boleh.. ditunggu yah guys Mamaciii.. luvvvv 😘😘😘.


Dua hari ini Abel, BG dkk memikirkan bagaimana caranya mengorek Dania, seperti kata Nia saat itu Gadis itu seperti sedang ditimpa masalah berat sehingga memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.


Nampak lubang menganga di dalam hatinya, kondisi Dania yang tak begitu baik akhir-akhir ini Abel yakini ada sesuatu yang terjadi padanya.


Semenjak dua hari yang lalu Abel sudah mulai masuk kuliah lagi, waktu dua hari sudah banyak ketertinggalan di kelas.


Setelah menyiapkan rencana yang matang untuk mengorek masalah pribadi Dania mereka putuskan harus segera agar Dania tak mengulang kejadian seperti kemarin lagi.


Nia telah tiada dan Devan pun hingga kini masih betah tertidur di bed ICU rumah sakit.


"Fiks yah, nanti Riki sama Dekka yang nemuin Dania." ucap Kevin, meskipun nantinya Dekka dan Riki yang bertugas namun Abel dan yang lain tetap memantau dari belakang kamera.


"Sorry yah gue nanti masih ada kelas semester 1 guys." sela Angga.


"It's okey buddy Loe tenang aja gue sama Dekka bakal tuntasin hari ini." jawab Riki, bagaimana pun Angga masih ada ulangan semester 1.


"ada gue sama BG, ada apa-apa kita langsung cus beresin." sahut Kevin, Angga mengangguk.


"Kita mulai beraksi kapan." tanya Riki.


"Mereka masih ada kelas, istirahat setengah jam lagi." jawab BG karena dia yang paling tahu tentang jadwal Abel. Dan Abel pun sudah mencari tahu, kebiasaan baru Dania saat jam istirahat adalah di taman dekat parkiran.


"Vin anterin gue dong." potong Cindy yang Bru saja datang menyela pembicaraan para lelaki, fakultas ekonomi bisnis memiliki basecamp di kantin jika para dosen memberikan tugas untuk perkuliahan.


"Mau kemana." tanya Kevin.


"Duhh gue kayaknya mau dapet, anterin ke apartemen dong." jawab Cindy.


"Ngantar doang kan gak pake nungguin."


"Yahh tungguin lahh, kan gue masih ada jam kuliah siang." jawab Cindy, Kevin beranjak dan berpamitan pada mereka. Lima belas menit lagi mereka harus menemui Dania, tugas akhir dari Nia.


Sepuluh menit berlalu, lima menit lagi jam istirahat Abel namun dikelas Abel sudah ada beberapa anak yang keluar sedang Abel dan Dania masih dikelas, Abel berencana keluar kelas saat Dania sudah meninggalkan nya. Akhir-akhir ini mereka sedikit berjarak, lebih tepatnya Dania yang menghindari Abel. Hanya sedikit mengobrol, lalu dia akan pergi menjauh saat Abel mencoba mendekatinya.


Ponsel Riki berdering, karyawan di cafe menghubunginya.


"Gas cafe middle nih, mana angga masih ada kelas." ucap Riki sambil menunjukkan ponselnya.


"Angkat aja ada masalah apa, urgent enggak nya. Kalau urgent Loe tinggal aja biar masalah disini gue, Abel ma Dekka yang urus." jawab BG, Riki pun mengangguk.


Benar saja Riki harus meninggalkan kampus, karena cafe kedatangan calon customer yang akan membooking tempat untuk acara. Demi income cafe mau tak mau BG dan Riki harus mengesampingkan masalah Dania.


"Gas, Riki mana." tanya Dekka.


"Middle ada yang mau reservasi, dia cabut bentar."


"Lohh terus Dania gimana."


"Ayok gue temenin elo." jawab BG, karena tidak mungkin jika Abel yang mendatangi Dania, karena dengan berbagai cara apapun Abel tak bisa mengorek Dania. Terlebih Abel memiliki perasaan yang iba alias tak tegaan.

__ADS_1


"Ayokk dah, pengen cepet kelar biar selesai masalah kita." jawab Dekka, BG pun sudah menyiapkan bekal untuk mengganjal perut Abel karena tak sempat istirahat.


Sebelumnya mereka menghampiri dulu Abel dikelas, dan mengatakan rencana selanjutnya karena BG akan menggantikan Riki seperti rencana awal mereka.


Mendapati kedatangan Dekka dan juga BG, membuat Abel bertanya.


"Baby."


"Lohh, kok cuma berdua."


"Riki, ke Middle." jawab Dekka, sedangkan BG memberikan makanan pada Abel.


"Dania udah keluar duluan tadi, kayaknya kita langsung datengin aja." ucap Abel mereka bertiga beranjak, bergegas mencari Dania.


"Tolong yah pelan-pelan kayaknya masalahnya yang berat banget." ucap Abel disela mereka mencari Dania.


"Kagak percayaan banget sih sama gue ma laki Loe."


"Yahh bukan gitu, dari sorot matanya aja emang kelihatan banget kalau dia udah gak ada semangat hidup." jelas Abel, Dekka paham.


Benar sosok gadis yang mereka cari sedang duduk tenang di taman, tak banyak yang dia lakukan.


"Lohh Dan, kok Loe sendirian, Loe ada liat Abel nggak." tanya Dekka, disebelahnya ada BG sedang kan Abel berada cukup jauh namun dia masih bisa mendengar percakapan mereka dari tempatnya.


"Engg, Abel yah, gue tadi keluar duluan. Iyaa Abel dikelas mungkin." jawab Dania, singkat tak seperti Dania biasanya yang cerewet.


"Ehh trus Loe ngapain disini, gak biasanya Loe menyendiri." tanya Dekka, Dania tak bergeming.


"Kalau Loe ada masalah bilang ke gue, mungkin gue bisa bantu."


"Memang apa yang bisa Loe bantuin."


"Yahh Loe ada masalah apa dulu."


"Beneran kalian mau bantuin gue."


"Loe butuh bantuan apa memangnya." jawab BG yang sedari tadi hanya diam.


"Gue yakin kalian gak akan sanggup." gumam Dania lirih, membuat Dekka dan BG semakin penasaran.


"Kalau gue bilang sanggup, Loe minta apa." sahut BG santai, Abel masih memantau percakapan mereka kebetulan Kevin dan Cindy pun sudah bergabung dengan Abel.


"Yakin Loe... Cihh." ucap Dania berdecih, disini Dekka dan BG takut terjebak jika mereka salah bicara.


"Kalau Loe mau bantu gue, Loe harus nikahin gue." lanjut Dania yang ditujukan ke BG.


Degg..


"Maksud Loe."


"Loe gila." teriak Dekka, sedang Abel berdebar kenapa Dania meminta BG menikahi nya.

__ADS_1


"Loe pikir gue bercanda." sahut Dania.


"Permintaan Loe yang terlalu konyol." jawab Dekka.


"Bell."


"Sssuuutttttt."


"Kalian sendiri yang sanggup bantu gue, gue gak minta loe berdua datang."


"Loe tau sendiri bagas punya calon istri." ucap Dekka lantang.


"Iyaa gue tau."


"Ya trus kenapa Loe minta nikahin BG, gila Loe yah." teriak Dekka, Abel beranjak hendak mendekat namun langkah kakinya berhenti kala Dania mengucap kan kata horor baginya.


"Hidup gue udah sekacau ini, Asal Loe tau... Gue hamil."


"Hahhhh."


"Apaaa..."


"Gilaa."


"Lalu apa hubungannya dengan kamu minta nikah sama Bagas." sela Abel yang tak sanggup lagi berdiam diri.


"Bbbbeeelll."


"Aku tanya kenapa harus Bagas."


"Siapa ayah anak Loe Dan." potong Dekka gemas menghadapi masalah ini.


"Bukan anak Bagas kan." tanya lagi Abel membuat BG geram, Bertubi-tubi karena Dania tetap diam.


"Baby."


"Diam dulu." ucap Abel meninggi saat BG memprotesnya.


"Katakan Dania."


"Howalaaahh kok gue gemes yah." ucap Cindy tak tahan lagi.


"Ngomong dong Dan, jangan diam aja. Diam nya elo gak bikin masalah selesai."


"Buuu bukannn Bagas." jawab Dania terbata, tentu saja Abel tau tunangannya itu tak mungkin melakukan hal keji itu. Dengannya saja dia menjaga seperti barang yang mudah pecah.


"Lalu apa cowok Loe gak mau tanggung jawab." tanya Dekka, ingin mengorek lebih dalam, Abel memegang tangan Dekka pertanda ini sudah masuk ranah pribadi Dania, ada baiknya mereka pelan-pelan.


"Gak gak punya cowok dan gak ada yang tau gue hamil." ucap Dania pelan, lalu menundukkan wajahnya.


"Apaaaa, kamu hamil."

__ADS_1


__ADS_2