Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Agc~ Problem


__ADS_3

Beberapa Minggu berlalu.


Abel bersemangat menyelesaikan skripsinya tanpa menunggu waktu lagi. Entah kenapa dia merasakan ingin segera terbebas dari jerat skripsi yang entah kenapa tak juga kunjung usai.


Beberapa hari yang lalu bahkan Abel merasakan lelah lahir batin, revisi-revisi kesekian kalinya tak juga Ter ACC agar segera menamatkan diri untuk maju ujian, padahal bab menurutnya tak ada yang harus diperbaiki lagi.


"Kenapa heumm." tanya BG pada istrinya yang terlihat kelelahan, padahal semalam ia tak lagi merevisi karena hari ini adalah hari nya sidang skripsi didepan tiga dosen tertinggi.


"Aku capek."


"Semangat yah semoga hari ini sukses, gak ada halangan."


"Amieen." Abel mengaminkan doa dari sang suami, surga keduanya setelah sang bunda. BG ingin memberikannya surprise pada Abel nanti setelah dia selesai sidang akan menemuinya, karena hari ini dia beralasan ada meeting.


"Sementara berangkat sama mas Al yah, nanti biar ditungguin mas Al disana." ucap BG Abel pun mengangguk pasrah, karena dia pun merasa dirinya butuh sang suami dan entah mengapa hari ini dia benar-benar ingin BG menemaninya.


Sesampainya Abel dikampus sudah banyak teman seangkatan nya yang sedang berjejer menunggu didepan ruangan tempat sidang skripsi dilaksanakan.


Kedua sahabatnya Dekka dan Cindy dijadwalkan akhir bulan untuk sidang skripsinya. Namun meskipun demikian Dekka dan Cindy hari ini setia menemani Abel sesuai perintah sang Bagaskara yang tetap memantaunya hingga akhir.


"Bell Loe kok pucet banget." celetuk Dekka.


"Hahh, apa iyaa."


"Iyaa Bel, Loe pake lipbalm gue nihh." sahut Cindy.


"Ehh enggak aku lagi..." belum juga menyelesaikan ucapannya Abel terjeda.


"Hueek.."


"Bell."


"Lohh Bel."


"Loe gak apa-apa." teriak Dekka panik, bahkan karena kini banyak mahasiswa yang sedang menunggu disana pun ikut tertarik dengan teriakan Dekka.


"Kenapa." tanya Riki.


"Perutku gak nyam-man." ucap Abel.


"Loe belum sarapan." tanya Dekka, Abel pun mengangguk, sahabat nya itu memang suka lalai dengan kondisinya yang bahkan langganan pasien tipus dan Gerd.


"Ehh masak si Abel hamil."


"Hahh Loe Gilak, gimana bisa hamil.


"Lahh kan dia katanya jadi korban pelecehan Leon."


"Hahh bisa jadi sihh."


"main gila si Abel. God."


"Sihh, gilaa kasian si Bagas dah lama tunangan sama dia ehh diembat duluan sama Leon."


"Kasihaann."


Deg..


Bisikan terdengar jelas ditelinga Abel, mata Abel berkaca-kaca mendengar kicauan dari mereka yang bahkan tak tahu kebenarannya.

__ADS_1


Dekka, Cindy dan Riki tau Abel baper dengan ucapan para netizen pun segera menjauhkan Abel dari kawasan para penjahat itu.


"Sssuuhhh, gue percaya sama Loe Bell, ini kalau laki Loe tau masa depan mereka bisa tamat." ucap Dekka menenangkan, kini Abel dibawa ke kantin agar bisa sarapan sejenak karena masih ada waktu 1 jam menunggu.


"Iyaa Bell, gue udah gatel tuh laporin ke BG, apa kita bilang pak Saga aja yah." celetuk Cindy.


"Jang macem-macem Loe Cin, bisa ngamuk pak Saga, masalah BG entar urusan gue yang bilang." sela Riki.


"Jangan gak usah aku gak apa kok, guys."


"Yaudahh makan dulu yahh."


"Heummm."


"Mau makan apa, emang Loe tadi gak masak yah Sampek gak sarapan." tanya Dekka, Abel hanya menggeleng.


"A-aku lagi gak pengen ma-makan gimana dong." ucap Abel bahkan matanya sudah berair.


"Lahh Napa nangis sih."


"Ehh yasudah gue belikan roti aja kali buat ganjel."


"Eng-enggak a-aku mau Bagas se-bener-nya."


"Hoalaaah Loe lagi males makan karena BG gak bisa nemenin yahh." tanya Dekka, Abel pun mengangguk.


"Kok Loe kayak bocah sih Bel." kelakar Cindy, karena Abel berlagak seperti Arkana sang adik.


"Hahhh." Dekka membela dengan ucapan Cindy.


Sebenarnya Riki pun menyadari jika Abel hari ini sedikit melow, apa karena ucapan dari para lambe turah tadi. Iseng Riki mengirimkan rekaman suara dari Abel yang mengatakan jika dia menginginkan keberadaan BG.


"Trus ini gimana jadinya Bell."


Belum lama berjalan, Abel merasa kepalanya berat, matanya buram lalu ambruk.


Brukkk..


"Astaggaaa Bell."


"Bell, ehh ehh."


"Hehh si Abel pingsan tuh."


"Ehh lahh, iyaa."


"Tuhh kan bener tuh dia, hamil anak perkosaan."


Riuhh sahutan terdengar termasuk dengan kepanikan dari Dekka, Cindy dan Riki. Sigap Riki mencoba membangunkan Abel, nihil karena mata Abel terpejam erat.


"Cin Loe kabarin BG. Yank bantu gue angkat Abel." ucap Riki spontan, saat ini fokusnya hanya menolong sahabatnya.


Mereka membopong Abel menuju ruang kesehatan kampus, namun karena sedang tak ada petugas akhirnya Riki memutuskan untuk membawa Abel ke klinik terdekat.


"Trus sidang Abel gimana yank." tanya Dekka, disela mereka menuju klinik.


"Ada lakik nya inih, tinggal contact om Saga."


"Loe udah telp si BG."

__ADS_1


"Ehh belom, gue lupa."


"Dasar pikun."


Tuuutt..


"Hallo."


"Ehh Gas, Loe dimana."


"Otewe kampus."


"Yasalaaam."


"Ehh sorry Gas baru kabarin, Abel pingsan ini gue bawa ke klinik."


"hahh, kok bisa, tadi ada apa."


"Gue juga gak tau, Loe kesini aja."


Setelah mengabari BG, kini mereka berfokus pada Abel yang tengah diperiksa.


"Bagaimana dokter."


"Tensinya sangat rendah, dan sepertinya dia dehidrasi sedang apa pasien sedang diet."


"Tidak dokter gimana bisa diet udah ramping begini." celetuk Cindy.


"Mungkin tadi lupa sarapan."


"Tidak mungkin jika hanya lupa sarapan hingga menyebabkan dis intake nutrisi."


"Apa itu dokter."


"Yah, mbak nya ini kurang asupan makan dan minum seperti orang diet."


"Wahh itu tak mungkin banget dokter, suaminya bisa ngamuk kalau Abel sampai tak menjaga pola makan." jawab Dekka, sontak sang dokter terkejut.


"Mbak nya sudah menikah, maaf saya salah duga, jadi karena jika sudah menikah kemungkinan diagnosa saya mbak Ara tengah mengandung."


Penjelasan dari sang dokter membuat mereka bertiga cengo, ternyata ucapan dari para lambe turah tadi sama seperti yang diduga sang dokter.


"Ta, tapi dokter apa Abel bisa hamil jika mereka belum berhubungan." celetuk Cindy.


"Hussshhh, sembarang Loe, mana kita tau mereka udah apa belum." sela Dekka tak terima dengan ucapan Cindy.


"Yahh kan Abel masih proses penyembuhan.


"Kita jangan menduga dulu lebih baik saya periksa lebih lanjut saja, perawat sudah melakukan tes urine." jelas sang dokter.


"Lalu dimana suaminya, apa mas nya ini." lanjut sang dokter.


"Ehh bukan dokter, suaminya masih otewe."


"ohh baik lah."


"Dokter ini hasilnya."


Seorang perawat datang membawa hasil laboratorium yang dilakukan pada Abel, karena Abel masih belum bisa bergerak lebih.

__ADS_1


"Nahh benar Nona Arabella positif hamil."


"Apaaa Hamil." teriakan terdengar nyaring.


__ADS_2