Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Darurat Metta


__ADS_3

Semalam sungguh luar biasa terbaik bagi Abel bagaimana tidak, tiba-tiba cafe tempatnya mengisi untuk bernyanyi full. Membuat Abel menyanyi hingga lima lagu.


Flashback On


Saat tengah makan malam Abel dan Dekka tengah dikejutkan kedatang Riki. Riki pun membawa berita jika cafe sedang full karena ada yang membooking tempat untuk acara syukuran. Sungguh Riki pun segera memberitahukan Abel jika dia harus menyanyikan lagu untuk pelanggan yang telah membooking cafe.


"Selamat malam semuanya, saya selaku band cafe Baruna mengucapkan selamat ulang tahun untuk mbak Marina semoga panjang umur, sehat selalu dan dimurahkan rejekinya Amieenn. Yukk karena hari ini spesial ada yang mau request lagu."


"Cendol Dawet."


"Stasiun balapan"


"Here Merasa Indah. Enjoy


Cinta ini takkan berbalas


Sayang kupastikan melayang


Pedih ku saat merasa indah


Semua hilang dan usai


Bila cinta ini tak nyata


Jangan engkau beri harapan


Sudah cukup kini kusadari


Terlalu cepat jatuhkan hati


Sempat kau bersikap seolah sandaran jiwaku


Namun apa artinya memilih hati yang salah."


"Yukk Next.." ucap Abel semangat.


Kowe mbelok ngiwo nengen tanpo nguwasne mburi


Tak tabrak kowe loro iki salahe sopo


Yen kowe wes ra tresno ngomong ojo trus lungo


Awas nemoni apes lemah teles gusti sing bakal mbales


Jujur ati iki loro


Durung biso nompo kenyataan


Tanduran sing wes tak sirami


Malih dadi awu ireng diobong karo kahanan


Biyen janji bareng-bareng


Ngrasakne susah lan seneng


Saiki kowe medotke angen-angen


Tak kuatne ati yen kudu kelangan, hoo-oo."


Dan akhirnya pecah sudah Abel keluar dari zona nyaman dengan menyanyikan lagu diluar genrenya, sontak membuat Riki dan Dekka mengabadikan moment ini.


Flashback off


Dan dari hasilnya semalam jika dikumpulkan dengan perolehan BG dan Devan sudah 18 jt didapat. Setidaknya mereka harus mencari 17 juta sisanya dalam waktu dua hari ini.


Meskipun bagi BG seharusnya Abel tak perlu mencari uang dengan menyanyi, namun jika dia memaksa Abel bisa jadi salah paham lagi. Mau tak mau sang Bagaskara mengikuti alur yang diciptakan oleh sang tunangan.


"Mau maem apa." tanya BG karena mereka kini tengah berada di Kantin.


"Apa aja dehh." jawab Abel BG mengangguk dan memberikan uang pada Kevin untuk memesan makanan.


"Loe udah nonton perform Abel Gas, Abel top banget semalam." celetuk Riki, Abel mengernyit tak paham.


Lalu Riki mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada BG. Ternyata video Abel saat menyanyikan lagu koplo.


"Bisa juga yahh." sahut BG sambil senyum-senyum.


"Tapi kok gak goyang." ucap Dekka.


Tuuukk..


"Ishhh Abel. Sakit tau." sahut Dekka ketika sebuah lemparan kacang mendarat di pipinya.


"Kamu kira aku apaan pake goyang-goyang."


"Hahahahh.."


Ponsel Abel bergetar, ternyata ada sebuah panggilan Video call.


Dokter Abang calling....


"Hallo."


"Hallo dok."


"Hallo adek abang yang cantik."


"Gue denger bang." sahut BG sebelah Abel.


"Hahahhahaha ada pawangnya."


"Hemm ada apa dok."

__ADS_1


"To the point amat sihh, wkwkwk."


"Buruann abaaang."


"Iyaaaa, jadi abang mau ngabarin harusnya temen kamu hari ini kemo terakhir, tapi dia nolak prosedur pengobatan." jelas Dr.Adam, Abel masih setia menunggu penjelasan detailnya.


"Orang tuanya sudah merayu bahkan ibunya sampai nangis-nangis.."


"Kenapa begitu bang." potong BG, sedangkan Abel masih bungkam.


"Alasannya dia gak mau ayahnya donorin darahnya lagi untuk persyaratan kemo, entahlah abang juga gak tau."


"Lalu dampaknya apa bang." tanya Abel.


"Dia harus mengulang prosedur kemo lagi dari awal, atau.."


"Apaa..??"


"Dia harus segera operasi paling lambat besok."


"Kenapa begitu."


"Karena Metta sudah penurunan fungsi pencernaan dan pernafasannya."


Deggg..


Abel sudah tak bisa berkata-kata.


"Haaahhh, biar Abel ngomong ke dia yah bang."


"Okeyy cantiknya Abang, bye."


Setelah mendapat telpon dari dokter Adam nyatanya membuat Abel gusar. BG dan para sahabat yang melihat perubahan mood Abel pun saling pandang. Jelas semua mendengarkan penuturan dari dokter Adam.


BG merengkuh Abel memberikan kekuatan padanya, bahkan Dekka pun tak mampu berkata-kata sekedar mengurai suasana.


"Makanan tibaa." ceplos Kevin.


"Yukk maem dulu baru telp Metta." ucap BG sambil mengurai pelukannya.


"Kenapa mau telpon Metta." tanya Kevin.


"Syuuutt." Dekka mengkode Kevin untuk tak menanyakan lebih.


Melihat makanannya hanya diaduk oleh Abel, membuat BG gemas, akhirnya menyuapkan makanan Abel pada sang tunangan.


Tak lama rombongan Airin datang bergabung, bahkan Dekka mengkode Airin agar memperhatikan Abel. Airin pun melihat Abel seperti sedang berfikir.


"Kenapa Bell, gimana Metta." tanya Airin.


"Buruuk Ai." jawab Abel lirih, melihat BG tengah telaten menyuapi Abel, Airin tahu jika sahabatnya ini sedang enggan makan.


"Akan selesai kalau langsung dituntaskan." ucap Airin tegas pada BG, dan BG pun paham maksud Airin. Tipikal Abel sekali, Abel tak akan pernah mengulur-ulur segala sesuatu meskipun masalah sepele.


"Gih buruan telp Metta, sambil aku suapin." ucap BG, Abel pun segera mengambil Pad untuk menghubungi Metta lewat VC.


"........."


"Kenapa loe kusut banget dahh."


"........."


Abel masih tak bergeming dengan ucapan Metta.


"Hai Mett, apa kabar loe." potong Airin.


"Baik Ai, lagi di kantin nihh."


Airin mengangguk, bahkan mengarahkan kearah teman-temannya.


"Si Abel kenapa dah Ai."


"Seharusnya gue yang tanya loe berbuat apa yang bikin Abel ngambek."


"Mampuus dah loe Mett, Abel marah." sela Kevin.


"Iyeee- iyee Kev bentar lagi gue mampus."


Candaan Metta membuat Abel bereaksi.


"Enough...." teriak Abel.


"Kamu kenapa gampang sekali ngomong begitu,. kamu gak tau perjuangan ku dan yang lain untuk kamu tetap hidup."


"Gue gak minta Bell."


Brakkkkk....


"Apaaaaa.. ngomong sekali lagi. Tega kamu Mett, hikkss, Metta kamu jahat sekali."


Abel mulai menangis tersedu-sedu, iPad nya pun sudah berpindah ke Airin.


"Loe gak seharusnya ngomong gitu Mett."


"Gue gak bermaksud Ai, Bell maafin gue yahh."


"Huaaaaaa." tangis Abel semakin pecah kala sang tunangan memeluknya.


"Loe gak tau Mett, kita disini berjuang buat loe, seharusnya loe hargai." cecar Airin.


"Loe kira kita disini bakal diem aja saat loe nyakitin Abel Mett, hikss.. gue sama sakitnya tau nggak." balas Dekka.


"Gue harus gimana Ai, Dekk gue juga capek, rasanya udah gak tahan lihat ayah gue tiap hari diambil darahnya."

__ADS_1


"Baby,." bisik BG pada sang tunangan bahkan mereka lupa sedang berada diruang publik.


"Tahan emosinya dulu yah." lanjut BG menenangkan Abel, melihat mata dan hidungnya sudah memerah, bisa bahaya bakalan pusing jika Abel berlarut-larut dalam sedihnya.


BG menghapus sisa air mata dan menenangkan Abel.


"Bell, ada yang mau loe katakan sama Metta." tanya Airin, dan Abel pun mengangguk.


"Mett, seberapa besar perjuangan kita disini emang gak sebanding sama apa yang kamu rasakan, Ta....pi." ucap Abel terbata.


"Bertahanlah se-bentar, hiks.. aehmm, berjuanglah buat orang tua kamu yang berharap kamu bisa sehat lagi. memang gak mudah melobi Tuhan dalam urusan kehidupan, Hiks.. setidaknya aku, kamu dan kita semua yang disini berjuang untuk menghindari malaikat pencabut nyawa datang. Dengan kamu mau serius berobat aku yakin malaikat pasti merasaaaa,. hiks kasihan sama kamu.. huaaaaa." tangis Abel pecah saat kalimat terakhir dia ucapkan. Airin pun segera mengakhiri panggilannya melihat Abel yang sangat emosional.


Sebagian merasa haru karena Abel menangis, namun ucapan kata Abel justru membuat Kevin dan Wira sedikit terkekeh.


"Bagaimana bisa si Abel bilang ngelobi malaikat, astogeeee."


"Syuuut udah lahh gak sadar dia ngomong gitu."


"Lahhh si Abel bisa gak rasional anjirr..."


Sementara BG yang mendengar celotehan Kevin dan Wira pun sedikit merasa lucu dengan perkataan Abel, tapi dia tak ingin membuat Abelnya ngambek jika sampai dia tahu BG tak peka dengan perasaannya.


"Jadinya gimana ini Bell."


"Kita datangin aja Metta." sahut Dekka, karena Abel masih tengah menormalkan perasaannya.


Abel memandang BG, seolah dia tahu apa yang ada dipikiran Abel.


"Kamu pakai atm yang kamu pegang, disitu masih aku isi terus. Jangan diulur lagi kasihan Metta." ucap BG sambil memainkan rambut Abel yang tergerai.


"Kita bagi tugas ajah, karena gak mungkin kita bisa keluar sekolah sekarang." potong Airin.


"Abel dan BG berangkat sekarang, gue bantu ijinin." lanjut Airin.


"Nanti yang lainnya nyusul pulang sekolah." sela Dekka.


Setelah mendapat ijin dari walikelas masing-masing, Abel dan BG kini tengah menuju kerumah sakit tempat Metta berada.


"Baby."


"Iyaa."


"Kenapa tadi bisa bilang pake melobi Malaikat sihh, kan jadinya aku pengen ketawa." ucap BG.


"hahhhh, emang iyaa aku bilang gitu." tanya Abel tak paham.


"Hemmb, hahhahahahh, apaan pake lobi Tuhan trus Malaikat kasihan segala.. ya ampunn." lanjut BG.


"Nggak tau, gak sadar kayaknya." jawab Abel santai.


"Si Kevin heran kamu bicara ajaib kayak gitu."


"Masak sihh.",


"Iyaa, sayang." jawab BG sambil mengusap kepala Abel.


Setibanya mereka dirumah sakit, Abel segera mendatangi kamar rawat Metta. Betapa kagetnya Abel dan BG saat ruangan Metta tengah banyak petugas yang datang. Dan semua pengunjung pun tidak diperbolehkan masuk.


"Sus ada apa ini." tanya BG saat melihat seorang suster tengah berlarian menuju ruangan Metta.


"Salah satu pasien sedang penanganan mas."


"Yang mana sus." tanya Abel gelisah.


"Sdri Metta, tadi tiba-tiba pingsan."


Degg..


Tentu saja Abel merasa syok, lalu apa yang harus Abel lakukan jika sudah seperti ini.


"Syuttt baby, kita berdoa aja semoga Metta cuma pingsan saja." ucap BG menenangkan.


Abel dan BG mendekat keruangan, didapati kedua orang tua Metta sedang terduduk dan sama halnya dengan Abel mereka pun gelisah.


"Ibu.." ucap Abel lirih.


"Nak, Metta nak.. Hikss."


"Sudahh, ibu kita tunggu dokternya menyelesaikan dulu." jawab Abel, dan Ibu Metta pun mengangguk sambil berurai air mata.


Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan.


"Keluarga saudari Metta Naura."


"Saya dok." jawab Ayah Metta.


"Bapak untuk menyelamatkan putri bapak, hari ini harus segera diambil tindakan."


"Maksud Dokter operasi." tanya ayah Metta dokternya pun mengangguk.


"Tapi belum ada biayanya dok."


"Lakukan tindakannya dokter. Ayah Abel dan teman-teman sudah ada biayanya, Metta harus segera Operasi biar dia nggak sakit lagi." potong Abel.


"Baiklah nak."


"Segera urus administrasi ya bapak, dua jam lagi akan kita lakukan operasinya." jelas sang dokter lalu para petugas pun berlalu.


Abel dan BG mengikuti perawat, sedangkan kedua orang tua Metta tak henti-hentinya menangis sambil menguatkan satu sama lainnya.


Setelah menyelesaikan biaya operasi, BG pergi ke kantin untuk membelikan makanan untuk orang tua Metta. Takut kalau mereka tak sempat makan karena kondisi Metta, tentu saja termasuk untuk Abel karena Abel pun sedang tak berselera makan.


Saat memasuki ruang operasi, untuk persiapan tubuh Metta didorong menggunakan bed pasien. Matanya terpejam dengan selang oksigen menempel dihidungnya. Abel dan kedua orang tua Metta mengikuti kemana langkah perawat membawa Metta yaitu menuju ruang operasi.

__ADS_1


"Ini bapak dan ibu makan dulu yah, saya tau bapak ibu belum makan kan." ucap BG sambil menyodorkan plastik berisi makanan.


"Ibu, ayoo kalian harus tetap sehat untuk menjaga Metta. Selagi masih operasi sambil menunggu, yahh ibu." ucap Abel, ayah dan ibu Metta pun menerimanya.


__ADS_2