
Babak Final Basket pastinya sudah dinanti banyak murid. Airin sebagai ketua OSIS sekaligus penanggung jawab semua kegiatan berkesempatan untuk menyaksikan langsung dilapangan.
Mengingat begitu sibuknya dia Seminggu kedepan. Dari hasil penyisihan hingga semifinal didapatkan hasil yang cukup memuaskan banyak kalangan.
Namun hingga siang hari pertandingan semifinal berakhir betapa menggemparkan dunianya, setelah kedatangan Devan membawa berita buruk padanya.
Devan memberitahu jika Abel dibawa BG karena dia terluka dan ada beberapa indikasi penyebabnya. Sudah ditangani BG namun hati Airin tak karuan, bagaimana tidak 2 hari lagi Abel menjadi ketua kegiatan acara Amal.
"Tapi lukanya gak serius kan Dev." tanya Airin.
"Lukanya kecil Ai, tapi agak dalam jadi berdarah terus, sampek baju dan rok Abel penuh darah."
"Astagaa."
"Ya awohh Abel."
"Loe telp BG aja gih, dia juga udah terjun langsung tangkap pelakunya." lanjut Devan.
"Emang bisa tahu." tanya anak OSIS.
"hemm, loe gak tau aja itu si BG langsung gercep nyelidikin. Ngelibatin mas Alvin pulak." jelas Devan.
Airin pening, dia mau tidak mau harus menggeser kegiatan. Posisi Abel sifatnya krusial jadi semua ada campur tangan hangat Abel.
"Sampek ketangkep trus masalahnya sepele, liat ajah udah gue siapin SP skorsing."
Sementara itu ditempat lain, Abel dan BG sudah berada di klinik terdekat sekolah. Karena lukanya cukup dalam mau tak mau harus dijahit agar tak membuat infeksi.
Luka 3 cm cukup dalam diindikasi goresan benda tajam, entah pisau atau cutter yang pasti Abel pun sudah disuntikkan anti tetanus jaga-jaga kalau pisaunya berkarat.
Alvin sang ajudan sudah mendatanginya di klinik guna melanjutkan prosedur penyelidikan. Dalam video recording jelas jika pelakunya perempuan, tak tau motifnya namun nampak jika dia sengaja menggores lengan Abel.
"Obat anti tetanus nya bisa menyebabkan kantuk, nanti kalau demam langsung minum obat dan antibiotiknya juga." jelas dokter yang menangani, terlihat Abel masih terjaga namun matanya sudah mengerjap tanda efek obat bekerja.
"Sudah ngantuk Hemm."
"Sedikit."
"Kamu pulang aja dulu, biar mas urus hasil medical check." ucap Alvin.
Abel dan BG pulang duluan, dengan baju seragam Abel yang penuh darah juga bisa dijadikan bukti.
Tak lupa BG memantau hasil kerja Kevin dkk menangkap pelaku guna kelanjutan penyelidikan. BG pun berpesan agar setiap kejadian direkam agar untuk menghindari jika pelaku berkelit.
*
Keesokan harinya..
Setibanya Abel dirumah kemarin membuat sang bunda panik, bagaimana tidak dengan penampilan penuh noda darah dan digendong BG karena Abel tertidur di mobil saat perjalanan dari klinik.
Dikira anak gadisnya kenapa-kenapa, membuat sang bunda jejeritan. Namun setelah dijelaskan oleh Bagas, membuat nafas bunda menjadi longgar rasanya.
"Sudah enakan." tanya ayah saat melihat Abel sudah memakai seragam hendak berangkat sekolah.
"Iyaa ayah, cuma luka dikit. Lagian kasihan Ai entar kerjanya terbengkalai." jawab Abel.
"Nanti kegiatan jangan jauh-jauh dari Bagas aja pokoknya." sahut sang bunda, Abel pun mengangguk.
Kemudian Abel berangkat bersama sang ajudan, saat turun dari mobil betapa terkejut Abel merasakan adanya menabraknya.
"Bell, loe gak papa kan astaga." tubruk Airin memeluk erat Abel.
"No I'm fine." jawab Abel lalu menunjukan lukanya yang sudah diperban.
"Berdaraa terus kan katanya."
"Hemm, masuk yuk gak enak dilihatin." ajak Abel karena dia juga melihat BG yang mendekat kearahnya.
"Baby, gak demam kan." tanya BG.
__ADS_1
"Enggak kok." jawab Abel sambil berjalan menuju kelas mereka.
"Trus hasilnya apa Gas." tanya Airin, BG menunjukkan sebuah map.
"Mau diapain."
"Serahin BK aja." sahut Airin.
"Hemmb, kata mas Alvin sihh intern dulu, kalau dilibatkan guru takutnya dia dendam ke Abel." jawab BG, kemudian dia ikut masuk ke kelas Abel karena sebentar lagi pertandingan Final Basket, dia agak malas kembali ke kelasnya.
"Abeeelll."
"My baby."
"Gak papa kan."
Hebohnya teman-teman Abel menanyakan kondisinya. Abel terluka semua teman sekelasnya pun tahu karena di grup kelas mereka mendapatkan informasi dari Devan.
"Gak papa kok, udah disuntik tetanus juga." jawab Abel.
"Gosh, sampek tau pelakunya gue tampol."
"Gue pites."
"Gue sambel mulutnya."
Mendengar umpatan dari para temannya membuat Abel bergidik ngeri, bahkan BG merasa lega ternyata banyak yang sayang dengan Abel.
"Gilaaak kalian nih, kejem banget." sahut Airin.
"Loe gak tau aja si Bagas udah merintah apa sama suruhannya." celetuk Devan yang barusan masuk kelas bersama Angga.
"Apa emangnya."
Mendengar ucapan Devan Abel sontak menyorot tajam pada cowok pujaan hatinya itu.
"Digiles sama gilingan baju kalii, yah gak tau lah gue, gue gak ikut evakuasi." jawab Devan.
"Emang Devan sok teu."
"Giliran diseriusin ternyata tetep usil."
"Buahahahhahahh." pecah tawa Devan puas, sementara BG yang terus ditatap Abel tak bergeming.
Dia hanya menyuruh interogasi selebihnya mereka tak bermain fisik, karena bukan tipikal BG menyerang perempuan.
"You know me so well honey." ucap BG.
"Emang mulut Dev yahh, jadi berantem kan mereka." bisik Airin namun masih bisa didengar yang lainnya.
Abel mengangguk, dia percaya jikalau BG tak melakukan kekerasan pada pelakunya.
Kini beralih kelapangan Indoor basket, persiapan untuk laga Final lomba basket antar kelas.
Airin merubah semua rundown kegiatan, berubah untuk melibatkan Abel dalam kegiatan ini. Airin menjadikan Abel pembuka acara dan mewantinya agar selalu berada di sekitar lapangan, tidak untuk berada diantara penonton.
Nampak gemuruh penonton di tribun melihat sosok Abel memasuki lapangan dengan menggunakan setelan kaos basket dipadu skirt batik sekolah.
"Mata gue gak salah kan, itu kak Abel apa bidadari yahh." ucap Steven.
"Elo mah segala tentang kak Abel pasti indah, tapi tangannya kok diperban yah." sahut teman Steven.
"Hahh iyaa lohh."
"Morning semuanya, akhirnyaaaa kita berada disini duduk bersama untuk menyaksikan pertandingan Final lomba Basket antar kelas. Kegiatan yang sudah menjadi kegiatan rutin tahunan sekolah kita.
Pasti sudah tahu kann siapa yang akan tampil dilaga final ini, coba Abel tanya SIAPAAAA yang mendukung XI IPA 1, SIAPAA pendukung XI IPA 4.."
"Kak Abel."
__ADS_1
"Aku kak Aku."
"Pasti kak Abel lahh."
Sahutan dari penonton terdengar gemuruh, dalam hati Abel meringis kenapa pada nyahutin namanya. Bahkan para sahabat Abel pun tertawa mendengar teriakan dari netizen.
"Hemmm, baiklahh kalian pasti sudah gak sabar buat nonton babak final ini kan, Langsung ajahh yahh here is the Team Final Players come out now." ucap Abel lantang memanggil para pemain.
Keluarlah BG team dan Tim kelas Abel dengan Gama sebagai kaptennya.
BG tersenyum melihat penampilan Abel, nampak beda karena memakai kaos basket miliknya dan tak lupa sepatu kets, jarang-jarang dia terlihat sporty seperti ini.
Kini Abel berada diantara para pemain yaitu tim dari Kelas XI IPA 1 yang notabene para teman sekelasnya, lalu tim kelas XI IPA 4 yang merupakan calon tunangannya sekaligus kapten utama basket.
"Hi guys, did you nervous or how about you feeling now." sapa Abel lalu menanyakan pada para pemain.
"Hemm, dikit." sahut BG.
"Ditanya tuh panjangan dikit jawabnya." sahut Gama, membuat banyak orang terkekeh, sedang Abel hanya geleng-geleng saja.
"Kalau gue mahh, enjoy kalah it's okey menang berarti hoki." lanjut Gama.
"Hemm, so you guys ready to play." kedua kapten team mengangguk semangat, lalu Abel melangkah minggir.
"Okeyyy you guys the audience in TribuneĀ let's enjoy the game." ucap Abel, suaranya menggema di dalam lapangan indoor basket.
Abel segera melipir kepinggir, mendekat ketempat para panitia dan anggota cheers, disana sudah ada Kevin dan Wira yang sudah diperintah BG menjaga Abel selama pertandingan.
"Baby Abel loe dukung siapa Kelas kita Apa tim yayang loe."
Teriak teman Abel, bahkan Abel yang sedang minum pun menyemburkan minumnya lalu menyorot ke arah Nayla teman sekelasnya yang berteriak barusan.
"Awas ajaa yaa sampek gak dukung kita, sepakat kita deportasi ente." lanjut Nikita teman Abel lainnya.
"Go, ElSainsOne Go..go.go."
"God, rasanya pengen ku perban itu mulut yahh." gumam Abel, bahkan teman-temannya tertawa kala menggoda Abel.
Pertandingan dimulai, cukup seimbang BG bahkan sudah pernah lawan Gama saat lomba kelas tahun lalu dan juga saat Perebutan Kapten Basket utama.
Banyak fault yang dilakukan tim gama, terutama saat mencegah BG mencetak point. Leg 1 tim BG unggul 5 point, leg 2 akan dilanjutkan 15 menit berikutnya.
"Loe enggak nimbrung gitu Bell. Biasanya elo yang kasih ide saat-saat gini." tanya Kevin.
"Enggak lah, Their can do it self." jawab Abel sambil terus memandang BG yang tengah berdiskusi dengan timnya.
Abel berdiri karena dia bertugas untuk menghangatkan dan mencairkan suasana pertandingan.
"Gimana seru kan Leg 1 nyaa, Nahh karena leg berikutnya akan dimulai 15 menit lagi, mari kita saksikan sejenak penampilan yang ditunggu Dance dari team Cheers kita." Ucap Abel, lalu keluar para anggota Cheer leaders.
Abel sedang menghampiri Airin, karena dalam Interkom wireless Airin memanggilnya.
"Baby, leg kedua 10 menit lagi yahh, kita udah konfirmasi kedua team. Karena akan ada pengumuman dari kepala sekolah setelah ini." jelas Airin.
"Hemm, Okehh"
Abel mengerti lalu dia berlari menuju anggota cheers, mengkode pada ketua cheers untuk mendekat dan memberitahukan agar dipercepat dance nya.
Setelah mengkondisikan anggota cheers, Abel merasakan tenggorokan kering hendak mengambil minum.
"Aauuhhh." gumam Abel lirih merasakan lengannya tiba-tiba nyeri.
"Bell, kenapa." tanya Kevin menyadari Abel meringis.
"Gak papa tetiba nyeri ajah."
Kevin mengangguk, setelah mendapat jawaban dari Abel.
*
__ADS_1
*
To be continue