
Hari ini sudah bisa dipastikan Devan bisa keluar dari rumah sakit setelah seminggu sadar dari koma. Seperti janji yang diucapkan kan BG akan mengantarkan Devan langsung ke makam Nia sebelum menuju rumahnya.
"Ibu sama Kevin aja nanti, kita mau ijin antar Devan ke makam." ucap BG pada ibu Devan, beliau pun mengangguk.
Perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhir Nia berjalan lancar tak ada lalu lintas kendaraan yang berarti karena kini masih jam kerja. Hanya ada Abel dan BG yang berada di mobil bersama Devan.
Abel ingin membuka percakapan kejadian apa saja selama Devan koma namun ia ragu. Hanya Abel yang bisa menjelaskan runut perkara itu tidak dengan yang lain.
"Dev, kamu marah nggak sama kejadian saat itu." ucap Abel ambigu, Devan menelaah arti ucapan Abel.
"Loe gak perlu jawab kalau belum siap, tapi gue yakin Loe tipikal orang yang logis." sela BG.
"Pelan-pelan Dev, Tuhan tidak memberikan cobaan kalau kamu tidak sanggup melewatinya. Bagas bukan punyaku, kita dan semua mahkluk hidup di semesta ini milik sang pencipta. Maka jika mereka diminta kembali kepangkuan sang pencipta kita gak bisa nyegah itu." pancing Abel dengan mengeluarkan senjata khotbah nya dengan mencontoh kan pada dirinya.
"Maka jika Tuhan meminta Nia kembali padanya, tanda Tuhan menyayangi Nia dengan membawanya kembali lebih cepat saat ini. Bukan berarti Tuhan tak cinta pada kita, namun semua manusia mempunyai catatan titik kapan mereka harus kembali pada Tuhannya." Lanjut Abel, Devan meresapinya, namun percakapan mereka harus terhenti karena mereka telah memasuki pekarangan TPU.
BG membantu memapah Devan karena kondisinya masih tertatih saat berjalan menapaki menuju blok pusara Nia. Semakin mendekat dada Devan semakin berdebar, matanya memanas kala menemukan papan nisan bertuliskan nama gadis yang menempati disudut hatinya.
"Niana"
__ADS_1
Abel sudah mensejajarkan tubuhnya dengan gundukan tanah sahabat nya, lalu menaburkan bunga dan tak lupa menyiramkan air mawar.
"Nia aku datang." ucap Abel sambil mengusap batu nisan, Devan sudah duduk diseberang, mereka bertiga mengalunkan doa bersama-sama.
"Beiibhh, elo terlalu cepat ninggalin gue.... Gue belum ngebahagiain Loe, tapi... Loe tenang aja gue bakal selalu inget kenangan kita saat sama Loe.... Gue janjiiiii beibh, gue bakal setia sama Loe." tanpa sadar Devan mengeluarkan kalimat mematikan, bahkan Abel pun memandang sang tunangan.
Apa yang ada dipikiran Devan hingga berkata akan setia pada Nia, apakah dia berniat untuk tak memiliki pasangan kelak. Apakah kehilangan Nia cukup telak untuk masa depan Devan, hingga ia tak memiliki gambaran untuk mencari pengganti Nia.
"Dev."
"Van Loe sadar ngomong kayak gitu."
"Gue sadar banget Gas."
"Gue tau Bell, tapi saat ini gue pikir belum sanggup jalanin sebuah hubungan dulu."
"Okeyy aku tau maksud kamu, tapi janji yah, apa pun yang akan terjadi kamu tetap fight melanjutkan jalan hidup mu. Kita gak tahu dikehidupan yang akan datang akan seperti apa, jika kamu ternyata ketemu jodoh bersyukurlah bukan berarti kamu gak setia sama Nia... Melainkan Tuhan menggantikan Nia Nia yang lain untuk kamu." jelas Abel bahkan ini saatnya Abel menceritakan tentang Dania yang menjadi penyebab mereka kecelakaan, dan ada tragedi dibalik itu semua pun tak luput dari penjelasan Abel.
Devan akan sedikit kecewa dengan Dania, namun dia juga tak bisa menyalahkan masalah yang rumit pada hidup Dania.
__ADS_1
"Kamu jangan dendam sama Dania yah." ucap Abel, Devan tak menjawabnya pula tak merespon. Sikap Devan tak tertebak, namun Abel dan BG cukup memahami mungkin mereka pun juga tak akan sanggup kehilangan satu sama lain.
"Hahhhhh Berjanjilah Dev... Meskipun Kevin menjadi suami Dania, apapun yang Kevin lakukan untuk melindungi Dania, itu semata-mata tugasnya sebagai seorang suami. Dan jika kamu tahu, aku seolah merasa gagal melindungi sahabat ku yang lain." papar Abel.
"Apa."
"Kamu tahu kan perasaan Metta pada Kevin, tapi dia simpan rapat perasaannya, dan disetiap Kevin melindungi Dania, Metta seolah merasa tersakiti dengan sikap Kevin."
"Lalu, gimana sekarang."
"Entahlah, gue coba jauhin dia sementara untuk tak sering bertemu Kevin, soalnya dimana ada Kevin pasti ada Dania." sela BG, karena dengan inisiatif nya memindahkan Metta ke kafe ujung, intensitas pertemuan Metta dengan Kevin berkurang.
"Dan kamu tau setiap Metta membuka percakapan tentang elo sama Nia, secara nggak langsung Kevin merasa tersindir, padahal nggak ada niatan Metta kesitu. Yaaaa karena Kevin berlaku sebagai suami, entah kenapa dia juga sedikit sensi banget, dan aku mohon kamu juga kurangin menyikapi apapun yang Kevin lakukan." jelas Abel, Devan pun tahu situasi saat ini bak bola panas yang menyerang siapa pun.
"Kapan Loe mau masuk kerja, Metta biar berkurang dikit bebannya."
"Iyaa kasihan dia banyak kerjaan kalau gantiin kamu."
"Kapan aja, cuma gue bakalan stay di mess biar gak PP."
__ADS_1
"Iyaa sementara gitu, sampai fisik kamu kuat."
Setelah cukup lama mereka berada di makam dan tidak BG mengantarkan Devan pulang kerumahnya. Meskipun berpisah raga, namun rasa yang tertinggal masih sama.