Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~ Kesedihan Bunda


__ADS_3

Hai Guys Jang lupa likeπŸ‘ love ❀️ gift 🎁 vote 🎫 dan komentnya ⌨️ yahhh... Caranya gimana tinggal dipencet aja logo trus tinggal pilih mau gift apa aja boleh.. ditunggu yah guys Mamaciii.. luvvvv 😘😘😘.


Hampir Tiga jam lamanya Abel belum juga terbangun, BG dan semua sahabat nya setia menunggu di kamar menanti pergerakan kecil dari sang Arabella. Bahkan BG pun enggan melepaskan genggaman tangan nya dijemari lentik Abel. Sudah tak ada lagi tangan Abel yang terikat karena setelah diobservasi tak ada lagi pemberontakan dari Abel.


"Loe udah kabari Airin Ngga." tanya Dekka pada Angga, musibah yang dialami Abel sungguh membuat semuanya sakit.


"Udah gue telp, tapi Airin masih ada jadwal bimbingan skripsi." jawab Angga, hanya tersisa Dekka dan para pemuda yang masih membuka matanya, sedangkan Cindy sudah terlelap.


"Ohh yasudah."


"Dia minta VC nanti kalau Abel sadar."


"Dokter Kirana bilang Abel bakalan bangun normalnya 6-8 jam efek obat penenang nya." jelas Dekka.


"Apa rencana Loe Gas." tanya Riki pada sahabatnya yang bahkan enggan melepaskan pandangan nya barang sedetik dari wajah ayu Abel.


"Entahlah nunggu ayah." jawab BG singkat bahkan sahabatnya tak ada yang bisa memberikan solusi padanya, ralat tak ada yang berani.


"Hahhh, Loe udah ngabarin mama Mia." tanya Riki, BG pun mengangguk karena apapun yang terjadi pada menantu nya sudah pasti mama Mia tak akan tinggal diam.


Tiba-tiba BG merasakan gerakan ditangan Abel, dan kelopak matanya pun mulai bergetar menandakan Abel sedang melawan rasa kantuknya.


Gerakan tangan Abel semakin menguat, BG refleks menggenggam erat dengan kedua tangan nya. Dia ingat pesan dokter Kirana jika Abel mengalami hal seperti ini maka yang harus dilakukan adalah tetap tenang sebisanya menggenggam tangannya dan membisikkan kalimat yang menenangkan.


"Baby, tenanglah sayang aku ada disini." bisik BG, sembari menggenggam erat tangan Abel dan tangan satunya digunakan untuk mengusap rambutnya.


Dekka menggenggam tangan Abel yang sebelah ikut merasakan betapa tersiksanya Abel saat ini. Tak lama buliran air mata menetes dipipi mulus Abel dengan mata yang masih terpejam.


"Boboklah sayang, aku jagain." ucap BG lagi, menciumi telapak tangan yang digenggam nya, berangsur tangan Abel yang tadinya bergetar sedikit demi sedikit memudar.


Benar dokter Kirana bilang, bantuan menenangkan darinya dan yang lain adalah obat Abel saat ini.

__ADS_1


Ceklekk


Pintu rawat Abel terbuka, muncul sosok pria berwibawa yang sedang mereka nanti kedatangannya, dibelakangnya wanita yang telah melahirkan gadis cantik itu.


"Ayah, bunda."


"Bunnnn."


Ayah dan bunda Abel mengangguk, sejenak BG ingin melepas jemari ditangan Abel begitu pula Dekka yang beranjak menyalimi kedua orang tua Abel.


"Gimana keadaannya nak." tanya ayah, sedangkan bunda diam, sambil mengusap lembut kepala anak gadisnya.


"Masih sering mengigau yah, tapi masih kena efek obat penenang.... Maaf ayah Bagas gagal jagain Abel." ucap BG, ayah tak merespon namun matanya tetap lekat memandang anak gadisnya.


"Tak ada yang tau musibah akan terjadi nak." sahut bunda, menenangkan. Semua orang pasti akan merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Abel.


"Gas Loe makan dulu nih, selagi ada ayah dan bunda." sela Angga sambil menyodorkan makanan pada BG, ayah pun memintanya mengambil makanan itu.


BG beranjak dan berpindah ketempat tunggu ruangan yang masih berada dalam ruangan rawat Abel. Tak sia-sia BG menempatkan Abel diruangan VVIP dengan fasilitas kamar penunggu dan ruangan tersendiri untuk tamu. Bahkan dengan berkumpul nya para sahabat Abel dan BG pun raungan tak begitu sesak.


Satu jam lamanya BG membiarkan Abel bersama kedua orang tua disampingnya, BG pun nampak sedang mengerjakan pekerjaan bersama Angga disofa. Sedang para sahabat sudah meninggalkan RS karena mereka juga punya kegiatan lainnya.


"mama Mia perjalanan dari bandara." ucap Angga yang mendapatkan laporan dari sopir keluarga BG. BG hanya mengangguk dan jemarinya tetap asik menari di keyboard laptopnya.


"Jangaaann." teriak Abel memekak tiba-tiba bahkan tubuhnya bereaksi, ayah dan bunda sudah berdiri mencoba menenangkan namun Abel semakin berontak dalam mata yang memejam.


"Pergiiiii, jangannn dekati akuuuu, hu hu hu.... Ayahhhh bundaaaa tolooong." Abel semakin meracau bahkan tangan dan kakinya sudah menghentak-hentak diatas bed nya.


"Ya Alloh nak, ini bunda Abel buka matamu kak."


"Kakk ayah disini."

__ADS_1


Ucapan kedua orang tua Abel tak mampu membangun kan Abel, BG beranjak memanggil petugas dengan menekan tombol bantuan.


"Jaaangaaaan sakiti akuuuuuu, Huaaaaa bundaaa, huaaaaaa." Teriakan Abel semakin kencang, ayah panik bahkan melihat Abel berontak tanpa lelah membuat tangan dan kakinya terbentur beberapa kali.


"Sadar nak, ayah bunda disini."


"Jangaaann."


Ayah dan BG memegangi kaki dan tangan Abel, sang bunda mendekap disisi atasnya.


"Buka matanya naaaak, hu hu hu bunda disini sayang, maafin bunda yahh ninggalin kakak disini, hu hu hu." tangis bunda pecah melihat anak gadisnya yang meraung-raung.


"Hiksss, bu-uuundaaa." bibir Abel bergetar mengucap kata itu.


"iyaaa nak, bunda disini."


"Bu-uuundaaa."


"Buka matanya nak, yaaa Alloh anak kuuuu." ucap bunda juga ikut larut dalam kesedihan Abel.


"Permisiii." ucap petugas masuk dibelakangnya ada beberapa petugas lainya membawa beberapa alat.


Setelah semua dicek dan dilaporkan pada dokter psikiatri, bahkan BG menjelaskan sebelumnya Abel bisa tenang jika kedua tangannya digenggam akhirnya petugas pun urung mengikat Abel. Beberapa lebam baru muncul ditubuh Abel semakin membuat hati sang bunda teriris.


"Lalu kapan sadarnya sus." tanya Bunda.


"Mungkin sebentar lagi Bu, karena kalau efek obat maka pasien tidak bisa bersuara. Dilihat dari tandanya mbak Abel sudah mulai sadar. Tolong tetap ditunggu jangan sampai sendiri lagi saat memberontak tadi." jelas perawat bunda mengangguk, bahkan memilih menaiki bed Abel dan mendekap erat seperti menimang Arkana.


Ayah memandang lekat kedua perempuan nya, tak ada banyak kata yang keluar dari mulutnya dari apa yang dijelaskan perawat ayah sangat mengerti dukungan keluarga dan orang terkasih dibutuhkan Abel saat ini.


"Kaaak, dengarin Bunda. Ayah, bunda, Bagas semuanya ada disini kakak jangan takut lagi yahhhh. Hiksss." ucap bunda menenangkan sambil mengusap punggung Abel.

__ADS_1


Tak pernah bunda Riya rasakan seperti saat ini. Hatinya hancur dengan keterpurukan Abel anak gadisnya yang ia jaga denga sangat hati-hati. Bahkan menempatkan seorang ajudan disisinya pun tak membuat musibah buruk terhindar darinya.


__ADS_2