Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~ Insiden di kantor


__ADS_3

Sudah hampir seminggu ini Abel terus mengintili sang suami, namun tidak dengan hari ini mendapati sang istri yang masih nyenyak dalam tidurnya BG tak ingin mengganggu tidurnya.


BG terus tersenyum memandang lelah wajah Abel, akibat ulahnya semalam yang tak membiarkan istrinya tertidur nyenyak dengan terus menjahilinya bahkan berakhir dengan kegiatan panas mereka.


Tentu saja BG sangat berhati-hati saat menyergap sang istri, dia masih punya akal karena kini Abel tengah hamil muda.


"Bobok yang nyenyak yah, baby jaga mamimu." ucap BG diatas perut Abel, tak lupa meninggalkan jejak di dahi dan bibir istrinya namun Abel tak juga bergerak.


"Hahhh, capek banget nih kayaknya." monolog BG lalu berjalan pelan agar tak mengusik tidur Abel.


"Mam, titip Abel yah masih tidur dia."


"Iyaa, biarin aja nanti mama bangunin sejam lagi kasihan kalau kesiangan sarapannya." jawab mama Mia, BG pun mengangguk yakin jika sang mama mampu menjaga Abel.


Singkat cerita siangnya Abel mengajak mama Mia untuk mengirimkan makan siang pada BG, namun karena sedang meeting bulanan sehingga BG tak mengetahui jika sang istri telah mengirim pesan padanya.


"Mama, Abel pengen es krim yang di cafe depan kantor."


"Boleh nanti mama turun dulu beliin, Abel langsung ke atas yah."


Abel mengangguk patuh atas perintah sang mama mertua. Sembari menenteng rantang makanan untuk ketiganya. Sesampainya di meja sekertaris dapat Abel lihat Dinda sedang bersama seorang perempuan muda yang juga menenteng paper bag.


"Mbak Din, titip buat pak Bagas yah. Salam dari saya juga."


"Loe ngapain pake bawa ginian Nad."


Deg..


"Jadi itu yang namanya Nadia."


Kata terakhir dari Dinda mendadak membuat hati Abel nyeri, segera dia berbalik arah mencari keberadaan OB atau OG di pantry.


"Mas, permisi boleh minta tolong."


"Lohh non Ara." ucap sang OB yang ternyata mengenali Abel sebagai istri sang CEO.


"Minta tolong bawakan keruangan bapak yah, saya buru-buru. Makasih yah mas." ucap Abel tanpa jeda bahkan tak memberikan waktu untuk sang OB mengucap sepata kata pun.


"Lah piye toh mbak e." ucap OB itu lalu gegas berjalan menuju ke meja Dinda.


"Bu Din."


"Mas Agus, ada apa." jawab Dinda dan disana masih ada Nadia.


"Makan siang bapak."


"Lohh dari siapa."


"Dari non Ara."


"Lahh mana orangnya."

__ADS_1


"Tadi nyamperin aku di pantry."


Jawaban dari Agus OB seketika membuat Dinda terperanjat.


"Lohhh." Dinda berlari menuju ruangan sang boss.


"Boss."


"Ada apa."


"I-ini boss. Makan siang dari mbak Abel." jelas Dinda, takut kala sang bos murka.


"Lohh, lahh istri saya kemana."


"Kata Agus OB tadi nitipin ke pantry. Ehmm belum lama kok." jawab Dinda, BG beranjak lalu meninggalkan ruangannya tanpa menoleh kearah manapun.


"Mereka berantem." tanya Dinda pada Angga sang asisten boss.


"Kagak mbak."


"Lohh kok bisa maksi pak bos dititipin ke O-B." ucap Dinda namun dia tiba-tiba teringat sesuatu.


"Kenapa mbak Din." tanya Angga, yang melihat Dinda melamun.


"Ehh apa nona bos lihat si Nadia yah." gumam Dinda namun masih bisa didengar Angga.


"Mang sapa Nadia."


"Anak bawah, tadi kasih rantangan buat boss, gue juga bingung ngapain si Nadia pake ngasih segala."


"Gatau gue."


Akhirnya sampai dibawah pun BG sudah tak menemukan keberadaan Abel, dia pun segera menghubungi sang mama.


"Hallo mam."


"ada apa Gas."


"Mama sama Abel kan."


"Ada kok, mama masih belikan istrimu es krim dia naik duluan, lohhh itu dia.. Ehhh.."


Tut.. Tut..


Panggilan ke mama Mia terputus, dalam artian mama Mia lah yang memutuskan sepihak telp nya.


"Hahh, di cafe depan berarti." gumam BG lalu berlari sekuat tenaga.


Sementara itu di ruang sekretariat, Nadia mendatangi Dinda lagi hanya untuk memastikan apakah makanannya yang dia bawakan untuk sang boss telah diterima.


"Mbak Din, gimana apa bos suka makanan ku." ucap Nadia, namun Dinda yang tahu maksud Nadia hanya melirik sebal.

__ADS_1


"Ohh nihh."


"Lohh kok belum mbak kasih."


"Emangnya kenapa, tugas gue banyak nggak hanya ngurusin barang titipan. Lagian si boss keluar sama istrinya."


"Apa... Ohh yaudah makasih ya mbak, nanti kalau datang kasih kan."


"Cihh Jang ngarep Loe, bibit pelakor bertebaran huhhh." gumam Dinda, sekertaris yang sudah bertahun-tahun bersama sang Bagaskara.


Bukan maksud Dinda menjadi orang yang jahat sehingga tak menggubris Nadia, namun Dinda juga bukan orang bodoh jika ada niatan Nadia pada sang bos.


Kembali lagi ke tempat dimana Abel dan mama Mia berada.


"Lohh sayang kok udah disini kenapa gak tunggu di kantor Bagas aja." tanya mama Mia yang melihat Abel sedang duduk termenung.


Abel menggeleng lalu tersenyum pahit pada sang mertua, lalu Abel pun segera menceritakan apa yang ada didalam hatinya.


"Mama boleh kasih saran." tanya mama Mia Abel pun mengangguk.


"Kenapa Abel malah mengalah, kan Abel berhak atas Bagas. Kalau Abel begitu tandanya Abel memberi kesempatan pada wanita lain untuk merebut Bagas dari kamu." jelas mama Mia, mata Abel membola segitu tidak terpikirkan dia sampai bertindak seperti tadi.


"Tapi Abel cuma kecewa ma, ehmm Bagas bahkan ditanya jawab gatau siapa itu Nadia."


"Emang gak tau honey." sela seseorang yang baru saja datang, siapa lagi kalau bukan Bagaskara Hermawan sang suami.


"Nahh itu dia langsung jawab."


"Kenapa heumm, ngantar makan siang kok gak datang sendiri." tanya BG sembari merangkum wajah sang istri.


"Nggak apa."


"Yaudah yuk sekarang balik, es krim nya udah mama belikan." ucap mama Mia, mengalihkan arah pembicaraan.


BG, Abel dan mama Mia pun segera kembali ke ruangan BG. Bahkan kedatangan nyonya Hermawan bersama istri dari sang bos muda seketika membuat suasana kantor BG menjadi ramai karena sedang dalam masa istirahat makan siang.


"Siang nyonya besar."


"Wahh ada istri bos muda."


"Romantis banget ternyata si bos."


"Bucin juga si bos."


Dinda pun terperanjat kala melihat sang nyonya besar datang menggandeng sang menantu serta bos muda nya.


"Lohh ibuu."


"Hai Din, gimana sehat."


"Sehat Bu, ada yang perlu Dinda bantu."

__ADS_1


"Nggak usah kamu istirahat aja."


Sedang Abel hanya tersenyum pada Dinda, meskipun sedikit bad mood namun Abel cukup pandai menyembunyikan rasanya.


__ADS_2