
Masih dengan saling lempar perkataan, saling adu argumen. Membuat dr.Adam lelah lahir batin. Walaupun sudah dijelaskan lewat bahasa yang paling mudah dipahami pun ternyata masih belum cukup untuk orang tua para pelaku.
"Tante mohon maaf aja, anak tante terbilang masing kecil dibawah saya dua tahun tapi berani melakukan hal bur.uk pada saya." ucap Abel.
"Ya situ bermasalah sama anak saya kali."
"Sekarang jelaskan dimana letak kesalahan saya pada anak ibu." ucap Abel lantang.
"Katakan, tolong jangan lupa ini direkam biar ibu ini tidak membolak-balik ucapan lagi." lanjut Abel.
"Silahkan, kamu Stevi, dan Rena apa salah saya sama kamuuu. Kalau kamu berdalih disuruh Kayla kenapa kamu mauuu. Berapa kamu dibayar Kayla." ucap Abel tegas tanpa ada nada emosi sedikitpun.
Ayah bersindekap dadah menyaksikan keberanian putrinya mengungkapkan perasaannya.
"Saya hanya disuruh kak."
"Kakak gak salah sama saya." jawab Rena.
"Kenapa kamu mau disuruh-suruh." ucap ibu Rena sambil menoyornya membuat para guru yang menyaksikan pun ikut mengelus dadah.
"Astagaaa."
"Kamu Stevi kenapa kamu dorong kakak kelas kamu." tanya salah satu guru.
"Dia, ya tadinya Kayla ngajak ngelabrak karena pacarnya direbut. Trus aku lihat emang kayaknya kakak ini kecentilan." jawab Stevi.
"Tuhh kan anak saya gak mungkin kalau enggak dianya yang salah."
Braakkkk...
"Astagaa."
"Ya amploppp."
"Kaget gue anjirr."
"Dilihat dari segi mana loe bilang Abel kecentilan, dari tadi gue udah nahan-nahan buat gak sarkas ke elo yahh." teriak Fransiska sambil mengebrak meja kasar.
"Ehh kok situ nyolot sih." ucap Stevi.
"Gue kenal Abel dari kelas sepuluh enggak ada itu kata -kata dia centil. Dari dulu dia mainnya sama satu orang cowok, dan tiga temannya. Loe kalau ngomong ati-ati loe." sahut Fransiska, saat dia mencoba mendekat kearah Stevi Alvin segera menghalanginya.
"Hey kamu jangan kurang ajar sama anak saya."
"Kagak emak kagak anak sama. Sekarang anda sebagai ibu mikir, cuma gara-gara dia mikir Abel centil trus pantas gitu dia dorong Abel."
"Ya pantas lah."
"Pantas darimana, dilihat dari monas juga kagak ada pantes -pantesnya. Emang ibu anak pada kagak punya otak." ucap Fransiska.
"Hehh syuutt, Siskaa." peringat guru-guru.
"Minggir loe Sis, tambah runyam aja jadinya."
"Jadi gimana ibu, masih ada yang tidak berkenan." potong ayah, karena semakin membuat runyam permasalahan.
"Tentu saja saya gak mau kalau anak saya di DO." ucap Ibu Stevi.
"Hemmmb.. Padahal anak ibu sudah mencelakakan putri saya, bagaimana jika ditukar." ucap Ayah.
"Kenapa ibu ngeyel sekali, sih nggak malu apa." kelakar bu Silvi.
"Ya saya tidak terima anak saya dikeluarkan, sedangkan yang nyuruh saja cuma skorsing 2 minggu."
"Ibu coba tanya anaknya apa Kayla menyuruhnya mendorong Arabella."
"Arabella siapa sihh, tadi bukannya Abel-Abel gitu yah." ucap Ibu Stevi polos.
"Adoohhh otaknya gak penuh guys."
__ADS_1
"Makanya nyolot, kagak punya otak ternyata."
"Pantesan urat malu kagak ada, gak punya otak ternyata."
Sahutan dari para murid membuat para dewan guru geleng-geleng, dari sekian banyak ucapan ibu Stevi nyatanya tong kosong nyaring bunyinya.
"Hehhh, sudah-sudah anak-anak."
"Arabella ini panggilannya Abel."
"Owww, yahh ngomong dong saya kan nggak tau."
"Hahhhh, jadi tante maunya gimana." tanya Abel santai.
"Ya kalau bisa si Stevi diskorsing saja, jangan DO."
"Kenapa tante minta begitu, padahal anak tante 100% berbahaya." jawab Abel, tak ada yang sanggup menyahuti emak-emak satu ini kecuali Abel dengan gaya santainya.
"Kamu kira anak saya virus."
"Bahkan lebih dari virus, dia lebih kuat. Lihat saya jadi bahan percobaannya." jawab Abel santai.
"Ya itu mungkin kamunya lemah."
"Siapa yang bilang anak saya lemah." ucap lantang seseorang yang baru saja tiba diaula.
"Ibuu."
"Waduuhh ada nyonya."
"Bundaaaa." teriak para sahabat Abel.
Ayah pun segera mendekat lalu mengambil Arkana dari gendongan bunda. Walaupun masih terkejut dengan kehadiran sang bunda Ayah setidaknya bersyukur mendapat bantuan. Mungkin saja bunda bisa mengalahkan adu argumen yang tidak ada stasiunnya.
"Ibu bilang anak saya lemah. Tunggu ibu punya anak gadis." tanya Bunda santai.
"Ini anak saya."
"Masih 15 tahun."
"Lohh masih kecil sudah berani nyelakain yang lebih berumur darinya, BELAJAR darimana."
"Ehhhh." ibu Stevi tak mampu menjawab, membuat ayah seketika tersenyum simpul.
"Nahh loohh mampus."
"Habiss dahh loehh sama bunda doang."
"Bapak ibu guru, permisi apa ada pelajaran mendorong kawan yang lebih lemah." tanya Bunda santai.
"Nahh, disekolah tidak ada pelajaran tentang itu,. Ehhhmmm apa ibu yang ngajarin." telisik bunda.
"Goshh i lope you bunda."
"Kasih keras bun." teriak Devan.
Sementara itu para ajudan menahan tawanya melihat ibu komandannya yang piawai dalam beradu argumentasi melawan emak-emak tahan banting.
"Nin loe jangan ngetawain bu Ndan Begok." ucap Dimas.
"Tauuuk berabe entar."
Mendengar kasak-kusuk dari para ajudan membuat ayah terhibur sendiri sekaligus bangga, tak beda jauh darinya bunda mampu melemahkan lawan dengan gaya intimidasi bunda sendiri.
"Sekarang saya tanya ibu mau, anaknya tidak di DO kan, saya kasih penawaran." ucap Bunda.
"Bun, Abel gak mau yahh." sahut Abel seolah tau maksud sang bunda.
"Kasihan Bell, entar si Stepi."
__ADS_1
"Stevi." sela ibu Stevi.
"Ahiyaaa Stevi yaa ampun salah dikit juga."
"Ya gak bisa aqiqahnya pake V bukan P."
"Looh ibu enggak terima anaknya cuma salah nama doang."
"Ya enggak lah, enak aja."
"Iyaa dehh, kalau gitu saya juga gak terima anak saya dibikin cedera. Bagaimana kalau saya bikin anak ibu cedera balik."
"Lahh sini lawan saya."
"Waduuuhhh guiss berabe emak-emak ribut."
"Cukup, ayah ajukan kasus Abel ke meja hukum, stop proses drop out nya." titah sang bunda, ayah pun mengangguk.
"Loohh, jangan dong mbak aduhh gimana sihh."
"Minggir, sudah terlambat silahkan ibu cari pengacara untuk proses hukum." ucap Bunda.
"Tante jangan dong saya tidak mau dipenjara." ucap Stevi sambil memegang tangan bunda.
"10 menit waktu saya terbuang hanya beradu argumen dengan ibu kamu, seharusnya kamu sadar diri perbuatan kamu salah, tapi kamu merasa benar. Ketika kamu sudah terjatuh pun belum tentu kamu sadar akan kesalahanmu." ucap Bunda bahkan tanpa ada nada meninggi.
"Anak saya diam tidak menanggapi kamu, itu tandanya dia tidak mau mempunyai masalah tapi dianggapmu Abel sok, itu namanya kamu gak cerdas, kurang pandai mengolah pikiran. Sekarang waktunya kamu introspeksi diri." putus bunda.
"Padahal saya maunya jangan sampai ke meja hukum, agar kalian bisa tetap sekolah, tapi ternyata keputusanku dianggap salah. Jika masuk penjara pun tak mau, saya menuntut untuk kembalikan kaki saya seperti semula. BISAA." ucap Abel.
Semua orang terdiam, ucapan Abel telak. Seharusnya mereka cukup menerima hukuman tadi setidaknya masa depan mereka masih terjamin.
Melihat sang kakak menangis membuat Arkana merengek.
"Ka-kakkk." ucap Arkana terbata lalu meraih sang kakak, menciumi wajahnya.
"Al kamu urus proses pengajuan hukum." perintah ayah.
"Jangan pak, jangan. Saya setuju biar anak saya di DO saja." potong ibu Stevi, bunda tak menanggapinya lagi.
"Sudah bikin anak orang celaka ngeyel, nyolot mintak dicabein." gumam lirih bunda namun masih bisa didengar ayah.
"pffftt."
"Dari tadi tanpa debat kan cepat selesai bu." potong bu Silvi.
"Baiklah mohon kerjasamanya bapak ibu sekalian, mohon bagi putrinya yang menjalani skorsing dua minggu, setidaknya jadikan pembelajaran. Sekembalinya kesekolah nanti tidak mengulanginya lagi." ucap kepala sekolah.
"Dan tolong diperhatikan tidak akan ada toleransi lagi jika hal ini sampai terulang kembali." lanjut kepala sekolah.
Kemana suara sumbang Kayla yang suka menyela omongan orang, tidak disangka karena dia menjadi orang yang paling bersalah disaat ini dia tersudutkan karena perbuatannya sendiri.
"Gara-gara elo ini Kay."
"Sumpahh yah, kek gini loe cuci tangan."
"Gue sumpahin loe kenak karma."
"Heyy brisik loe pada bocah." teriak Fransiska menanggapi adik kelasnya yang saling menghujat.
"Udah telat loe saling nyalahin, makanya pake otak jangan pake dempul." celetuk Nia.
Tak ada yang berani menyela ratu Barbara sekalipun.
"Pawangnya Abel udah barbara banget lohh ya ampun masihh juga banyak yang julid." sahut Airin.
"Adek Arkana."
"Adek kangen kakak." tanya Abel pada adiknya.
__ADS_1
Setelah semua proses pengadilan usai Abel pun harus kembali ke rumah sakit bersama dengan yang lainnya.