
Abel, BG dkk terdiam sibuk dengan pemikirannya masing-masing, Abel meremat kuat jemarinya yang masih menggenggam tangan BG. Abel sudah tahu jawabannya namun Abel tak mau ambil langkah, dalam hati BG sungguh kacau.
"Fix ni bocah ngambek dah." dalam hati Riki.
"Alo loo looo, perang dunia inihh." celetuk Kevin yang melirik sahabat tak komentar sedikitpun.
"Kalian sepemikiran Sama gue kan." lanjut Kevin lirih memandang sahabatnya tanpa menoleh kearah Abel dan BG.
Tap.. Tak blupp..
Angga datang sambil membawa pesanan makanan untuk nya dan ketiga gadis itu.
"Ngga Nih anak bukan anak Loe kan." celetuk Cindy.
"Hahhh." Angga yang tak tau awalnya pun bingung.
"Loe ngomong apa Cin."
"Loe bego dah Cin."
"Nihh bocah nyariin papinya, lahh katanya tuh di hape nya ada foto Abbbb....El." lanjut Cindy tanpa sadar dia mengingat sesuatu.
"Ehh apa ini anak nyaaa..."
"Diem mulut Loe Cin, makan Jang tambah bikin runyam dunia persilatan." sela Dekka tak ingin menunggu Cindy berceloteh tak karuan.
"Astaggaaa.."
"Hahhhh."
Sementara itu Abel diam saja dia lebih ingin menghabiskan segera makanannya tak mau merespon bocah itu.
"Yuk Kakak aja yang anter ke papa adek." sela Kevin mengurai kondisi yang mencekam.
"Dak mau ayu mau cama kakak tantik."
"Kakak cantik nya masih maem dek, yasalammmm." gumam Dekka, namun masih bisa didengar yang lainnya.
"Ayoo kakak tantik." desak Calista, karena Abel cukup pusing bagaimana dia harus berbuat akhirnya dia berfikir untuk mengulur waktu supaya anak itu bosan menunggu nya.
"Ayoo dong kakak."
"Yaa sabar kan Kakak masih makan, kalau gak sabar dianterin kakak ini yahh." ucap Abel sambil menunjuk Kevin, dan Calista pun menggeleng.
Terdengar helaan nafas panjang Bagaskara, entah apa yang dia pikirkan.
"Gue gak masuk makul siang." putus BG, sontak membuat Riki, Kevin dan Angga menoleh padanya, mereka yakin BG sedang tak baik.
__ADS_1
Abel akhirnya punya ide untuk menolak anak kecil itu, Abel tak akan memberi celah sedikitpun untuk merusak hubungan nya.
"Adek dianterin kakak ini yah soalnya kakak mau dipanggil dosen." ucap Abel, para sahabatnya yakin Abel memilih menghindari anak ini.
"Lista tungguin."
"Lohh kok bandel, kakak kan masih ada urusan gak boleh maksa yahh." sela Dekka, yang cukup gemash karena ini bocil keras kepala sekali.
"Tapi suami kakak gak ngebolehin anter adek gimana dong." ucap Abel semakin absurb, namun membuat senyum BG terbit.
Sruppppp....
BG menyeruput minuman nya dan menghabiskan nya dengan cepat lalu menyingkir dari tempat itu dengan menggeret Abel. Semuanya tercengang bahkan termasuk si bocil juga melongo dibuatnya.
"Ada aja dah, tadi Sisil sekarang bocil." ucap Kevin jengah.
"Aku kok tinggalin cama kakak. Huaaaa."
"Yaudah diantar kakak aja yah, tuh kakaknya jadi dimarahin sama suaminya."
"Astaggaaa... nangis nih bocah."
"Buru anterin ke bapak nya Sono Vin."
"Huaaa.. huahhh."
"Aduhhhhh." gumam Dekka sambil menutup telinganya karena tangisan Calista melengking.
"Sa sayang mau kemana kita." tanya Abel, namun BG tak mau menjawab meneruskan langkahnya menuju parkiran.
"Hahhh, sudah pasti bolos kuliah ini mah." monolog Abel dalam hati pasti dia sudah tau kemana BG akan membawanya. Ketempat yang tak akan ada yang mengganggu mereka berdua.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di apartemen unit Bagaskara, selama di jalan menuju unitnya BG menelpon Angga, mengatakan jika dia bolos kuliah namun jam makan siang mereka berdua tetap datang meeting di restoran yang sudah ditetapkan sesuai perjanjian.
Angga paham dengan sahabat yang pencemburu berat itu dia perlu menenangkan diri dengan berdua bersama Abel tanpa ada pihak ketiga.
Setibanya di apartemen BG pun segera memeluk erat tunangannya, yang sudah ia tahan sedari tadi. Abel membalas pelukan hangat yang cukup menyesakkan itu, karena BG cukup erat memeluknya.
"Ehhmmmp a aku su susah nafashh." ucap Abel terengah, BG pun melonggarkan namun tak membiarkan Abel lepas dari pelukannya.
"Begini dulu baby."
"Iyaa aku gak ngelarang kok."
BG menciumi puncak kepala Abel, meredakan hatinya yang terbakar hanya ada pada Abel seorang air yang bisa memadamkannya.
Abel membiarkan itu, karena dilarang pun sang tunangan tak akan cukup untuk ditolak.
__ADS_1
Tak puas menciumi kepala dan pipi BG pun turun mencium bibir Abel lembut, Abel yang takut tunangannya melakukan hal yang lebih karena sedang terbawa hawa cemburu mengusap lembut kedua pipi BG.
"Masih belum nyaman kah hatinya." ucap Abel ketika BG menyatukan keningnya pada Abel.
"Bohong kalau udah."
"I know."
Cupp..
Abel mencium bibir sang Bagaskara cepat, BG bahkan terkejut Abel bisa seperti ini.
"Aku cintanya cuma sama kamu, even disogok sama anak kecil pun aku masih punya hati untuk tidak melukai perasaan kamu." ucap Abel, lalu mendudukkan BG di sofa membuatkan segelas teh hangat untuk menjernihkan segala lara di hatinya.
"Nikah aja yukk." ucap BG memelas.
"Iyaa bentar lagi, tinggal beberapa semester juga udah lulus."
"Keburu muncul Prof- Prof lain nya." gumam BG lirih.
"Meskipun Prof Zayn dimana- mana jiwa dan raga ku selalu ada disini." sahut Abel sambil menunjuk tepat di jantung hati BG, BG tersenyum memang Abel ibarat es batu yang bisa meleleh kah bongkahan api yang membara.
"Hari ini kamu harus menemani aku kemana pun." titah sang Bagaskara.
"Kamu kan ada meeting my lovely."
"Meeting nya direstoran kamu bisa nemanin disebelah meja ku." jawab BG ucapannya seolah mutlak perintah untuk Abel, Abel tak menjawabnya dia membiarkan sang tunangan ijin pada ajudan pribadinya.
Disinilah akhirnya Abel, menemani BG meeting dengan kliennya Angga pun sudah bergabung. Jarak mejanya dengan BG hanya beda 1 meja di dalam VIP room restauran.
Penanda tanganan kontrak hari berjalan lancar karena mereka sudah meeting lebih dari tiga kali dalam proses pembahasan.
"Ternyata pak Sandi ada disini." ucap seseorang yang baru saja masuk ke ruangan, kebetulan BG menghadap langsung dari pintu masuk tahu ada orang yang datang.
Deg..
Ketika Angga menoleh jantungnya seolah ditikam belati, sakit yang datang tiba-tiba.
"Siapa pak Sandi." tanya BG lirih, karena dia memang kurang mengenalnya.
"Apakah anda tidak melihat kemiripan dengan wajah asisten anda mas Bagas." jawaban dari pak Sandi membuat BG melihat Angga yang tak tahu sejak kapan dia menunduk.
"Angkat kepala mu Angga, tak ada yang perlu kau takuti." ucap BG tegas.
"Lebih baik gue gak lihat dia dari pada gue nekat hancurin wajah keparat itu." gumam Angga, pak Sandi menatap lekat kedua pemuda di depannya.
"Urusan kita sudah selesai mas Bagas, anda bisa melanjutkan pekerjaan anda, kita berjumpa lagi di lokasi proyek." Ucap pak Sandi yang memahami pembicaraan kedua pemuda itu, skandal papa Angga sudah santer didengar para pengusaha yang mengenalnya.
__ADS_1
BG beranjak menjabat tangan pak Sandi lalu menghampiri Abel dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh kearah papa Angga. Bagi BG dan Abel kesakitan Angga, pun jadi luka mereka sebagai sahabat. Bahkan sayup terdengar papa Angga memanggil- manggil Angga putra semata wayangnya. BG mengantarkan Abel pada ajudannya yang sudah menjemputnya diparkiran restoran.
Bagaimana dengan papa Angga, melihat putranya yang menjadi seorang pegawai kantoran ada raut terkejut tak menyangka anaknya berada didepan nya setelah lama tak bertemu. Angga berada dilingkup keluarga Hermawan, bersamanya pengusaha muda yang hampir tak bisa dijangkau karena sifat pemilihnya dalam berurusan kerja sama.