
Setelah Abel tenang dalam tidurnya tak lama BG membangunkan nya, mereka penasaran dengan mimpi Abel.
"Baby bangun." ucap BG pelan sambil menggosok pelan lengan Abel, tak lama Abel mengerjap menyesuaikan jiwanya kembali dari dunia mimpi.
"Bel." sapa Dekka, Abel mengangguk.
"Aku nangis yah kok basah, mataku lengket." ucap Abel lirih.
"Sampek sembab tuh."
"Gimana udah dengarin cerita Nia." tanya BG, Abel mengangguk pelan. BG bergeser merengkuh tubuh Abel, agar dia siap mendengar cerita nya.
Satu per satu cerita akan mereka kupas perlahan, lalu mereka akan mencari solusi memecahkan nya.
"Hahhh.." Hela nafas panjang Abel terdengar, BG mempererat dekapannya agar Abel tak ragu.
"Kata Nia, sebelum kecelakaan tiba-tiba ada yang menyebrang..." Abel diam sejenak. "Karena kaget sepertinya Devan mengerem secara mendadak dan karena tak siap membuat motor Devan selip lalu oleng dan mereka terjatuh, sepertinya Devan terpental jauh dari motor." jelas Abel lalu menceritakan semua yang Nia katakan.
Flashback On
"Niaaaa, kamu mau ngomong apa."
"Bel, waktu itu kita ngehindarin orang yang sepertinya mau nyebrang. . . Karena gak siap motor Devan selip, oleng kita jatuh, Devan terpental jauh biar dia gak keseret motor nya... Hahhh dan aku jatuh kebentur trotoar... Orang itu Kayaknya dia habis kuliah ditempat mu."
"Siapaaa."
"Cewek Bel... awalnya ku kira dia nyebrang gak liat-liat tapi ternyata pas jiwa ku terpisah dari badan ku, aku bisa liat kamu dan Cindy... Dan pas itu aku tau ternyata dia mau bunuh diri... Bener nggak sih Bel." jelas Nia seperti sedang curhat pada Abel.
"Aku gak tau Nia."
"Iyaa Bell... Dia tuh kayak ada masalah berat dan berujung mau BunDir Bell... Kamu cari tau kayaknya dia sebaya sama kita."
"Yah aku harus gimana."
"Bantu dia aja, katakan jangan berbuat bodoh lagi dengan cara kayak kemarin... Bukannya dia yang meninggal malah dia nyebabin orang lain kena musibah kan."
__ADS_1
"Aku Usain cari tau, kamu yang tenang yah kita jagain Devan buat kamu."
"Iyaa makasih yah Bell, ingat pesan ku yah.. Salam buat keluarga ku... gue ikhlas, emang sudah takdir gue... Bentar lagi Devan juga bakal bangun, bilang ke dia ikhlas in gue."
"Iyaa aku tau Devan akan baik-baik saja."
"Bantu Devan buat ikhlas in gue yah Bell, makasih Hikss.. Hikss.. Doain gue selalu yah Bel."
"Pergilah Nia, aku akan sering datang berdoa ke makam mu."
"Makasih yah, salam buat anak-anak Hiksss.. Gue sayank kalian semua... Hu hu huhhhh."
"Hikkss, we are still love you forever."
Tak lama Bayangan Nia pun semakin lama semakin memudar dan menjauh hingga nampak seperti sebuah kilatan cahaya putih.
Flashback off
"Kita harus gimana, aku harus apa sayank... Hikss." ucap Abel lalu mendongakkan wajahnya melihat mata sang Bagaskara. BG menghapus air mata Abel yang sudah menganak sungai, karena terus menangis membuat hidungnya memerah dan matanya yang sembab.
"Hiksss... Hiksss." rintihan tangis Dekka pun menghiasi malam yang semakin larut. Ketiga cowok itu tengah memikirkan sesuatu terutama BG. Setelah mendengar cerita Abel, ada banyak pesan yang disampaikan Nia.
"Aku akan check cctv sekitar kampus, kita kumpulkan bukti-bukti dan cari tau penyebab kecelakaan beruntun kemarin yah." jawab BG menenangkan Abel, Abel mengangguk dia sudah tak sanggup lagi mengatakan sesuatu.
Kelelahan menangis ditambah dekapan nyaman dari seorang Bagaskara membuatnya tertidur.
"Kita butuh hacker Gas." ucap Angga lirih tak ingin membuat Abel dan Dekka yang tengah tidur terganggu. Ketiga lelaki itu masih mencari solusi, BG menghubungi Alvin agar mencari bantuan untuk meretas cctv.
"Mas Alvin sedang usahain ambil beberapa cctv sekitaran kampus, dibantu mas Dimas." jawab BG, Riki dan Angga mengangguk. PR mereka masih banyak termasuk menjelaskan pada Devan nanti saat terbangun.
"Yaaa Alloh cobaan kita ada aja." gumam Riki, selama mereka berteman hampir 5 tahun ini tahun terburuk mereka. Kehilangan dan berduka.
"Airin apa sudah dihubungi." tanya Angga pelan.
"Belum, Loe tau sendiri kondisi Abel kayak gini." jawab BG.
__ADS_1
"Ada baiknya segera dikabari, besok gue suruh Dekka yang telpon Airin." sahut Riki, BG dan Angga mengangguk setuju.
Keesokan harinya setelah mereka sarapan, kebetulan Kevin sudah bergabung setelah bergantian jaga dengan ibu Devan. Semua biaya pengobatan Devan saat ini masih ditanggung oleh BG. Tak ingin membuat ibu Devan terbebani biaya ICU yang cukup tinggi.
"Gimana cctv guys." tanya Kevin, sebelumnya dia sudah mendengar cerita tentang Nia di dalam mimpi Abel.
"Gue baru dapat dari gerbang masuk kampus sudut lainnya terlalu jauh."
"Mas Al gimana."
"Belum ngabarin tapi terakhir dia lagi hubungin dishub dan beberapa sudut kayak toko Alfa sama Indo market, kita tunggu aja." jawab BG, Dekka dan Abel mendengarkan obrolan mereka tanpa menyahuti.
"Yang Loe telpon Airin, kabarin dia." ucap Riki, Abel seketika menoleh dia baru teringat jika tak disebut oleh Riki.
"Gimana Bell." tanya Dekka, dia mengangguk setuju.
Ceklinggg.. Klingg..
Terdengar notif di ponsel BG, sang Bagaskara pun melihat jika pesan dari Alvin masuk.
Bodyguard Ayang
~> Udah gue kirim email cctv nya, cek dan kabari hasilnya nanti
Segera BG dkk menghabiskan sarapan guna ingin segera menuntaskan tugas dari Nia. Semua mendadak penasaran segera mengungkap gadis yang menyebabkan kedua sahabat mereka celaka hingga menyebabkan Nia tiada.
BG, Abel dan yang lain duduk melingkar sembari memandang proyektor yang tersambung laptop BG. Duduk depan laptop ada Riki yang mengendalikan, BG dan Angga fokus memperhatikan layar.
Nampak di lima menit terakhir sebelum Nia dan Devan terlibat tabrakan nampak ada perempuan yang akan menyebrang, kini mereka sedang melihat cctv kampus.
Samar, cewek yang menyebrang itu tak terlihat wajahnya karena wajahnya membelakangi dan soalnya rambut panjang cewek itu tergerai menutupi kamera. Riki membuka file cctv kiriman Alvin menggabungkan dengan cctv kampus. Memutar secara slow mereka perhatikan seksama, dan disudut kamera cctv toko Alfa market yang berhadapan langsung dengan gerbang kampus.
"Yang itu Rik Loe coba zoom dikit." ucap BG sambil menunjuk ke monitor. Nampak seorang gadis terlihat ragu-ragu lalu berlari pelan kearah jalan raya.
Semakin jelas nampak wajah cewek yang tengah menyebrang disusul dengan motor Devan yang berjarak cukup dekat.
__ADS_1
Deg...
"Daniaaa.." ucap mereka ber enam bersamaan, Abel pun sampai menutup mulut tak percaya teman sekelasnya menjadi penyebab kejadian itu.