Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Feeling Better


__ADS_3

Berdamai dengan Masalah dan Berdamai dengan semua.


Kini semua masalah satu persatu mulai berakhir, tapi tidak dengan para sahabatnya.


Abel memutar otak harus bagaimana, sebentar lagi ujian Semester ganjil, mau tak mau dia akan disibukan dengan buku-buku untuk santapan sehari-hari.


"Bener-bener gak punya ide nihh." gumam Abel dikamarnya.


"Bell, maem dulu yukk." panggil sang bunda.


"iyaaa."


Setelah turun kebawah begitu terkejutnya Abel dengan adanya tamu. Satu sosok dikenalinya tidak dengan 2 orang dewasa didepannya.


Abel memberi isyarat ada sang bunda, karena dia bingung ada apa sebenarnya.


"Sana ganti baju." Ucap bunda lirih, bagaimana tidak Abel kini menggunakan piyama kuning dengan rambut yang dikuncir dua.


Isyarat sang bunda pun dilaksanakan, Abel berlari terbirit-birit untuk mengganti bajunya dengan gaun berwarna salem selutut.


"Apaan kesini gak bilang-bilang untung sayang." monolog Abel.


Setelah memperbaiki penampilannya Abel pun turun, mendekat pada tamu yang sedang mengobrol dengan sang ayah.


Abel menyapa dengan salim pada para tamu lalu duduk disamping sosok yang dikenalinya sangat, sang Bagaskara.


"Aduhhh, ouchh. Kok dicubit sihh." ucap BG.


"Kenapa gak bilang-bilang." bisik Abel.


"Hemmm, kan surprise." jawab lirih BG, nampak Abel masih sebal.


"Aduhh-aduhh ini kenapa pada diskusi sendiri sihhh." celetuk bunda, lalu terdengar derai tawa dari para orang tua.


Tamu malam ini adalah Bagas dan kedua orang tuanya.


"Bell, ini papa Bagas sama mamanya kesini silahturahmi." jelas sang ayah.


"Iyaa, sayang sekaligus bahas rencana tunangan kalian, nihh kalau enggak Bagasnya khawatir kamu keburu diambil orang katanya." jawab mama Bagas.


Abel tampak mengerjap, bingung hendak menjawab apa tapi dimata BG Abel nampak lucu, dalam diam BG terus memandang calon tunangannya itu.


"Sini, duduk sebelah mama." ajak mama BG, Abel menoleh ke sang bunda mendapat persetujuan Abel pun menghampiri mama Bagas.


"Cantiknya calon mantu pa, pantesan aja bikin uring-uringan." celetuk mama BG, sontak membuat pak Hermawan papa BG tertawa.


"Jadi kami berniat untuk silaturahmi sekaligus ingin berkenalan juga dengan gadis yang bikin galau anak saya, dengan pak Raharjo sekeluarga.


Saya kaget lohh, tadi pas masuk banyak penjaga ternyata calon besan saya seorang yang luar biasa." ucap papa BG.


"Ahh pak Hermawan ini berlebihan, terima kasih sekali pak Hermawan sudah mampir ke gubuk kami ini." jawab ayah Abel.


Kedua keluarga itu berlanjut bercengkrama tentunya membahas tentang Abel dan BG.


Tidak ada kata pacaran, sebisa mungkin mereka merajut hubungan baik dengan persetujuan dari kedua orang tua masing-masing dan tentunya dengan tetap dijalur sesuai dengan agama.


Meskipun bertunangan mereka akan terus menempuh pendidikan dan BG pun merasa tenang jika Abel sudah menjadi tunangannya.


Setelah makan malam kedua orang tua BG berpamitan, acara pertunangan akan dilaknasakan saat liburan semester.


Mengingat kegiatan BG juga akan semakin sibuk karena dibagi dengan belajar dikantor sang papa.


"Kamu kenapa kok murung, gak senang nihh." tanya BG saat mereka akan keluar dari rumah Abel.


"Seneng lahh, lagi mikir sesuatu." jawab Abel.


"Apa, bilang yahh jangan main rahasia." sahut lirih BG karena tak ingin didengar orang tua mereka.


"Iyaa nanti aku chat ajahh."


"Hemm, Ok."


Setelah mengantar BG dan Keluarga Abel bergegas membantu sang bunda membereskan sisa jamuan.

__ADS_1


"Kamu kok kayak ada yang disimpen Bell, gak seneng nih ada Camer tadi." tanya Bunda karena merasa Abel yang sedikit muram.


Akhirnya Abel menceritakan pada sang bunda apa yang mengganjal dihatinya.


"Selesaikan nak, biar kamu tenang dan sama- sama lagi." jawab sang bunda, bunda Riya pun memberikan beberapa ide untuk Abel, sedikit berkurang kecemasan yang dirasa pada dirinya akhir-akhir ini.


Malam harinya Abel bercerita pada BG beserta rencana-rencana yang ia susun bersama sang bunda.


"Nanti aku bantuin, aku kerahin anak- anak juga."


"Beneran yah, hemmm lega dehh."


"Segitunya tadi aku dicuekin."


"Iyaaa, maaf yah."


Abel mengakhiri panggilannya dengan BG, karena besok dia harus bangun pagi untuk sekolah.


Pagi harinya.


Abel datang bersamaan dengan Airin dan Angga, mereka berpapasan saat diparkir halaman sekolah.


Angga sudah tak memakai Kruk untuk berjalan karena kondisi lututnya sudah membaik.


"Bantuin yah Ai."


"Tentu saja, kamu juga udah banyak bantu Ai." sahut Airin.


Setelah menceritakan skenarionya Airin dan Angga paham, bahkan Airin menambahkan sedikit ide agar lebih mendramatisir.


"Enggak berlebihan kan Ai."


"Enggak kok Bell, aman kita bikin dia nangis dulu, nanti aku libatin Devan deh biar dia gak curiga banget." jawab Airin.


"Kenapa Devan Ai."


Tanya Abel karena ia tak mau banyak orang terlibat.


"Loe tau sendiri si Devan tukang Drama, cucok dehh."


Tak lama Airin memanggil Devan dan mereka berdiskusi rapat internal dengan Abel dan Angga.


"Dibayar berapa gue." tanya Devan.


"Hemm kalau sukses Abel traktir di Kafe Limo Pitu dehh semua." jawab Abel.


"Huaaa setuju banget nih makan-makan." celetuk Devan.


"Dasar otak rangsum emang." sahut Airin.


"Kan mending daripada mata duitan keleess."


"Iyaaa dehh gerobak siomay."


"Situu, rujak cingur."


"Teruss aja Dev gue tampol lama-lama." potong Angga.


"Dihh belain nyonya, ampon dehh entar tujuh turunan gue disabda sama nyonya bahayaa." ceplos Devan.


"Loe kayaknya cocok deh sama si Kevin temennya Bagas." celetuk Airin sambil menjambak Devan.


"Awww sakit nyonyaaa, gue masih doyan perawan tauu, ihhh rusak dehh rambut gue." jawab Devan sambil merapikan rambutnya yang ditarik Airin.


"Ahahhahaahh, astaga sakit perutku ketawa mulu liyat kalian." ucap Abel sambil tertawa terbahak.


"Nona Arabella silahkah dipuas-puasin ketawanya sebelum ketawa itu dilarang."


Setelah briefing mereka pun mengikuti pelajaran, sampailah tiba jam istirahat Abel dan Airin berjalan menuju kantin.


Disana BG sudah menantinya.


Dari kejauhan Abel sudah bertemu tatap dengan calon tunangannya itu bersama dengan ketiga sahabatnya.

__ADS_1


Abel terus menyorot pada sosok yang menjadi target utamanya, dari posisinya dia sudah melihat Devan sedang menjalankan perannya.


"Wait for minutes ladies." kode Devan yang berjalan menuju arah target dannnnn..


Byuuuursss


"Awwwww, aduhhh yaa ampunn gue tersandung." teriak Devan.


"Bangshatt, loe buta apa." sahut Riki teman BG.


"Astaagaa maaf yah teman gak sengaja. Aduhh ini minuman nyonya Airin sama baby Abelnya tumplek, Ehhhh Tumpahh." ucap Devan sambil berusaha mengelap baju orang yang dia tumpahi minumnya.


"Ehhh gak usah biar aku sendiri yang bersihin, kamu belikan saja minuman baru buat Abel."


"Sampek loe nyentuh cewek gue, gue cincang."


"Astagaaa Riki loe kejam amat sihh kan gue udah minta maaf, belum juga minta no hapenya."


"Buaahahhhhhah. Abel, Airin dan Angga kompak tertawa melihat keributan yang dibuat oleh Devan.


Sebenarnya Abel tak tega mengerjai targetnya itu yang notabene pacar Riki yaitu sahabat Abel Dekka.


"Sudah-sudah sana kamu belikan minum Abel, gue gak papa kok." lerai Dekka mencegah keributan berlanjut antara Riki dan teman Abel.


"Duileeehh makasih lohh mbaknya, kalau gak salah dulu kamu teman Abel kan, kok sekarang jarang ketemu yahh, kalian fine kan." Celetuk Devan, sedangkan diseberang BG dan Kevin menahan tawa agar tak merusak rencananya.


Dekka yang mendengar penuturan Devan pun mendadak sendu, karena memang dia sadari kini mereka tengah merenggang.


"Siapalohh tanya-tanya, sana empet gue liat elo disini." potong Riki.


"Yaampunn galak amat kayak emak-emak PMS, iyee-iyee gue cabut bye." Devan melenggang meninggalkan tempat.


"Ganti baju yuk entar masuk angin." ajak Riki yang melihat Dekka melamun.


"Udahh Dek, sana entar loe sakit." sahut Kevin, BG memperhatikan sahabat gadisnya itu dalam diam.


"Gue yakin Abel sudah gak marah kok sama kamu Dekk, sana gih ganti baju." sahut BG, yang melihat Dekka sudah berkaca-kaca.


"Beneran dia sudah gak marah sama gue kan Gas." tanya Dekka dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Tentu saja, siapa yang bilang aku marah." sahut Abel, Dekka menoleh setelah mendengar suara yang teramat dia takuti sekaligus dia rindukan.


"Hemmm, Bbb-Bell." ucap Dekka terbata, lalu dia berlari berhambur ke pelukan Abel.


Karena terlalu kencang Dekka berlari, Abel yang tak siap pun sempat terhuyung ke belakang beruntung ada Angga di dekatnya mencegah mereka berdua terjatuh.


"Ehh ya ampun cewek loe Rik, untung aja gak jatuh tuh berdua." ceplos Kevin.


"Abel huhuhhhhh, maafin gue yahh, gue gak maksud nyembunyiin itu, gu-e cuma." ucap Dekka terpotong karena disela Abel sambil menangis tersedu-sedu.


"Cuma apa." tanya Abel, Dekka melepaskan pelukannya.


"Cuma gak mau nyakitin elo, kalau gue kasih tau."


"Hemmmm." Abel dan Airin kompak menghela nafas.


"Dihh kompak." cibir Angga.


"Sudah dulu yahh lepas kangennya, Dekka ganti baju dulu sana." potong BG.


"Ahhiyaaa maaf yah sudah dibikin basah kuyup gini." ucap Abel.


"Hahhhh." gumam Dekka tak paham.


Lalu Riki bergerak menarik Dekka membawanya ke toilet, butuh waktu untuk menjelaskan pada Dekka.


Semua orang terlibat dalam drama ini termasuk Metta dan Cindy didalamnya, kedua sahabat Abel itu satu-satunya orang yang tak terkena ambekan Abel karena mereka masih sering bertemu di kegiatan OSIS.


*


*


*

__ADS_1


MASIH DI PUTIH ABU-ABU


__ADS_2