
Hai Guys Jang lupa tinggalin jejak kalian dengan pencet likeπ love β€οΈ gift π vote π« dan komentnya β¨οΈ yahhh... Mamaciii.. luvvvv πππ
Setelah keluar dari bandara Abel dan BG mengantarkan Alvin kerumah sebelum akhirnya meluncur menuju rumah Metta dikampung. Sebenarnya BG mengajak sang ajudan untuk ikut bersama namun, pekerjaan sang ajudan sudah menanti sehingga Alvin menitipkan Abel pada BG.
"Memang kenapa jadi maju akadnya, trus kenapa apa Metta sudah Nerima lamaran dari pak ustadz." tanya Abel pada BG saat dalam perjalanan menuju Desa Arjosari.
"Aku gak tau jelasnya baby, si Cindy hanya ngabari gitu tadi. Ada berita apa nanti disana kita pasti tau kejelasan nya." jelas BG.
"Memang siapa yang kesana."
"Angga sama Devan sudah meluncur tadi pagi, Riki sama Dekka mungkin masih dijalan soalnya Riki tadi masih ada kerjaan." papar sang Bagaskara sambil fokus menatap kedepan karena kini dia sedang menyetir.
Setelah melalui perjalanan sekitar sembilan puluh menit, dan masuk ke pelataran rumah Metta sudah nampak mobil Angga dan Riki disana. Cindy menyambut kedatangan Abel, lengkap dengan temannya yang lain minus Kevin dan Airin tentunya.
"Bell."
"Kangennnn."
Kata Dekka dan Cindy sembari memeluk Abel erat, kedatangan Abel yang baru saja dari Jakarta disambut dengan peristiwa mengejutkan dari Metta.
"Ada apa ini." tanya Abel penasaran, kedua temannya itu menggeleng pelan.
"Hahhh, aku kan jadi bingung kenapa tiba-tiba Metta menikah."
"Ayah metta yang ndesak, beliau sedang sakit keras." sahut Riki yang sebenarnya sudah mengorek dari beberapa kerabat Metta. Dan pada akhirnya mereka tahu alasan menikah dadakan nya Metta.
"Yuukk masuk temui Metta." ajak Dekka karena hanya Abel yang belum melihat Metta saat ini.
Sementara itu para kaum Adam tengah berkumpul didepan dengan berbagai macam obrolan, tanpa mengikuti arah Abel dan yang lainnya.
Saat hendak masuk kerumah Metta ternyata acara akad akan segera berlangsung, sehingga mau tak mau mereka urung bertemu dengan Metta. Nyatanya saat prosesi akad akan dilaksanakan Metta dituntun kearah meja yang akan dijadikan untuk pelaksanaan akad nikah.
Mata Abel terus awas pada sosok Metta yang sudah berbalut pakaian syar'i terlebih dia akan menjadi istri seorang ustadz. Metta bertemu pandang dengan mata Abel, Abel pun mengangguk pelan dan tersenyum hangat mendukung segala yang terjadi pada sahabatnya sudah menjadi garis Tuhan untuk Metta.
Proses ijab kabul Metta dengan ustadz Ahmad berjalan lancar kini Metta sudah menyandang gelar seorang istri. Kini Abel pun menghampiri Metta setelah acara selesai, Abel ingin mengobrol banyak namun mengingat kini Metta sudah bersuami ada kala nya Abel mengikhlaskan Metta untuk melayani sang suami.
"Makasih yah Bell sudah Sudi mampir kesini." ucap Metta ketika sang Arabella mendekati nya.
__ADS_1
"It's okey, semua temanku juga keluarga ku. Jaga Marwah, udah punya buntut juga satu Alhamdulillah." titah Abel, karena Metta yang paling bebal diantara sahabat lainnya.
"Loe gak liat penampilan gue udah kek Bu nyai banget." jawab Metta.
"Uhhhh tuh mulut udah jadi istri pak ustadz masih Loe gue, diceramahi baru tau rasa Loe." sahut Dekka ngegas, si Metta pun hanya cengengesan.
"Tauuuk Loe, btw gue lebih suka Loe kek gini lebih bernyawa setelah Loe berhijrah." sela Cindy pun tak mau kalah menyerang Metta.
"Iyee makasih udah ingetin gue... Ehh akuu. Hehehehh." koreksi Metta ketika mata Abel yang sipit langsung melotot padanya ketika masih sebut Loe gue.
"Baby." panggil BG pada Abel karena keempat gadis itu yang bakal tidak ada habisnya ngobrol jika tak dihentikan.
"Heumm." sahut Abel, BG pun mendekat dan mengatakan jika semuanya akan kembali sore hari agar tak kemalaman dijalan.
Bughhh.
BG meletakkan sebuah amplop coklat dimeja Metta sebagai kado pernikahan, mengingat Metta sudah menjadi istri orang kini mereka tak boleh lagi ada yang menyinggung suami Metta.
"Woaahhh."
"Gilakk tebel men."
"Makasih Lohh bos." ucap Metta terharu dengan perhatian mantan bos nya.
"Cuma dikit Mett. Sekalian buat berobat ayah Loe." sahut BG.
"Ahsiaaapp bosskuhh. Makasih buat semua nya udah mampir di pondok gu., ku." ucap Metta sedikit terpeleset namun bisa meralat sebelum kena sembur Abel.
"Jadi pengen panggil penghulu biar dapet segepok juga gue." celetuk Cindy.
"Nohh bilang si Wira."
"Buru selagi Wira belom nyerong." potong Metta mengerjai Cindy yang suka cemburu jika Wira ada perempuan yang mendekati.
"Wahhh minta dihajar tuh monyong."
"Weittsss santuy Cin.. Wira nyerong yah Loe jangan mau kalah." bela Dekka, membuat para lelaki menggelengkan kepala tak percaya dengan kepedean tingkat tinggi mereka.
__ADS_1
"Husshh, sudah kalau bisa setia kenapa harus mendua sihh. Dosaaa." sahut Abel, membuat BG diam-diam tersenyum.
"Iyeee dahh tu cinta mati sama bang Bagas."
"Bucinn dahh."
Mereka bersenda gurau menikmati jamuan dari Metta, tanpa ada perayaan karena kondisi ayah Metta yang setelah menikahkan Metta beliau langsung beristirahat di kamar.
Ustadz Ahmad sebagai suami Metta pun mampu membaur dengan BG dan lainnya, sedangkan Abel dkk lebih mendekatkan dengan putri dari Gus Ahmad. Perbedaan usia 6 tahun tak membuat mereka membedakan status sosial hanya saja mengingat Gus Ahmad seorang pemuka agama, membuat mereka sedikit menjaga bicara.
"Inshaalloh nanti kalau saya sama Abel merit bakalan ngerepotin Gus Ahmad nihh. Buat ceramah walimah gitu Gus." kelakar BG, setelah banyak bertukar pandang dengan ahli agama.
"Washiap masyaalloh ditunggu mas Bagas, dan teman-temannya nanti." Jawab Gus Ahmad nampak bersahaja dan bisa mengakrabkan diri dengan para pemuda.
"Amieen Gus mohon doanya."
"Wahh kalau saya belum ada jodoh nya Gus." sahut Devan.
"Amieenn saya doakan selepas dari sini Devan didekatkan jodohnya."
"Amieen." jawab mereka kompak.
Obrolan para lelaki terhenti kala mendengar teriakan dari suara Metta.
"Ayaaaahhhh."
BG dan yang lainnya pun berlarian masuk kedalam rumah Metta berikut dengan Gus Ahmad yang sudah berlari mendahului mereka. Sesampainya dari sumber suara Metta sudah memeluk erat tubuh sang ayah, sedangkan Abel, Cindy dan Dekka disana pun tak kalah syok nya.
Ibu Metta memanggil Metta saat bersama ketiga sahabat nya dan juga putri ustadz Ahmad setelah sang ayah tak sadarkan diri dikamar nya.
"Ayah mas." ucap Metta pada Gus Ahmad, dan Gus Ahmad pun mengerti dengan kondisi sang istri.
"Dibawa ke rumah sakit yah." jawab Gus Ahmad, lalu Devan dan Angga mengajukan diri untuk ikut mengantarkan ke rumah sakit.
"Kita tunggu disini ajah yah, biar ayah diobati dulu." ucap Abel pada Metta, mengingat ada Humairah putri Gus ahmad yang harus dijaga.
"Tapi ayah Bell."
__ADS_1
"Suuushhh Loe percaya sama suami Loe Mett. Ada Devan sama Angga, disini Loe juga ada Humairah dan ibu." sahut Dekka.