
Setidaknya sudah sekian kali Kayla membuat pertumpahan akibat saling adu mulut, adu jigong dan mengikis emosi Abel dkk. Abel yang semakin hari semakin tak menggubrisnya pun menganggap Kayla bak angin lalu.
Derama- derama yang dibuat Kayla bak ditelan bumi, bahkan mulai tak ada yang memperdulikan keberadaan nya. Teman sekelasnya pun tak ayal menjauhi gadis troublemaker itu.
"Nisa, bantuin gue dong. Masak loe tega liat kak Bagas gue direbut si Abel si."
"Ogaah loe sana sendiri. Gue gak mau di DO gara-gara loe."
"Tauuuk biang rusuh loe."
"Kalian temen gak tau terima kasih banget sihh." sungut Kayla.
"Hehh, loe manusia planet. Gue makan bukan dari loe."
"Gue juga, mau terima kasih atas apa. Berjasa apa loe buat gue."
"Emang gak ngotak loe Kay."
Seruan dari teman-temannya justru tak membuat Kayla lemah.
"Dasar orang miskin, gak berguna." ucap Kayla lalu meninggalkan kelasnya, karena merasa tak ada lagi yang berpihak padanya.
"Harus gue kasih pelajaran si Abel. Gue harus turun tangan sendiri." gumam Kayla.
Banyak sekali yang menyorot tajam jika melihat keberadaan Kayla, dari sini terlihat jika semua murid sudah menganggapnya sampah.
Konspirasi yang memuat berita palsu untuk menjatuhkan Abel sudah tak mempan.
"Jika Bagas memilihmu, maka harus ku lenyapkan kamu Abel." gumam Kayla sambil berdesis.
Kayla terus berjalan tak tentu arah dengan terus mengoceh tak jelas. Jika orang yang melihatnya sudah bisa dipastikan mereka menganggap Kayla tak waras.
Melihat Abel tengah dilapangan karena sedang pelajaran olah raga, Kayla tersenyum smirk. Bisa dipastikan dia akan berniat buruk padanya. Walaupun bahaya mengincar Abel, Abel hanya yakin jika Tuhan selalu dalam perlindungannya.
Saat melihat bola mendekat kearahnya langsung saja Kayla menyambar bola itu dan mengarahkan ke badan Abel.
Namun siapa sangka, meskipun dengan jelas Arah bola tepat sasaran mendadak datang Devan yang hendak mengambil bola itu.
Bughh..
"Anjirrr, siapa yang ngelempar woeey." teriak Devan ketika bola itu mengenainya.
Sontak membuat teman-teman nya menoleh kearahnya.
"Kenapa loe Dev."
"Ngapain sih teriak-teriak."
"Bangshat ada yang ngelempar bola ke gua." ucap Devan.
"Gak ada orang Dev." ucap Abel.
"Iyaa kagak ada."
Karena dia gagal mencelakai Abel dan sekarang dia sedang bersembunyi dibalik bunga rimbun dekat lapangan.
"Shitt, bisa ada si Dipan sihh." gumam lirih Kayla.
Akhirnya Kayla pun memutuskan untuk meninggalkan lapangan, dia akan mencari cara lain. Jampel masih berlangsung namun Kayla justru berkeliaran di sekolah. Entah apa yang ada di otak liciknya sekarang. Agaknya Abel harus mewaspadai.
Setelah berjam-jam berkeliaran tak tentu arah, jam bel istirahat berbunyi. Abel dkk sudah berada disana 10 menit yang lalu.
"Hai, baby. Udah pesan makan." ucap BG pada Abel.
"Sudah, maaf yah gak nunggu anak- anak udah pada demo cacingnya." sahut Abel.
"Gapapa sayang, aku pesan makan dulu. Mau titip."
"Enggak dehh ini masih belum datang pesanannya."
BG tersenyum menanggapi tunangannya itu. Tak lama Devan datang dan membawa pesanan masing-masing.
"Yang gak pake selada punya gue sama Abel yah Sis." ucap Devan, Siska pun mengacungkan jempol sambil menggeser makanan.
"Ssshhhh, hahhh gilak kenapa sambelnya banyak banget." desis Devan.
__ADS_1
"Hahhh."
"Lahhh."
"Segitu banyak sambel."
"Sapa yang kasih sambel segitu bisa moncorr loe." celetuk Kevin.
"jang dimakan Van, sakit perut entar." sahut Abel.
"Haahh, huaaahh. Anjirr pedes bett."
"Ini sambel semangkuk gilak." ceplos Wira.
"Gila, bu patmi jahara kalau kasih sambel segini banyak." potong Metta.
"Gue mau demo dahh. . Hahhhhhh." sungut Devan menuju booth gado-gado.
"Buuuk Pat, ini kenapa gado-gado punya saya sambel segentong ditaruh dimari." cecar Devan, bahkan BG yang tengah berada tak jauh dari sana pun mendengar protesan Devan.
"Lahh masak mas, tadi perasaan ibu gak kasih sambel." jawab ibu kantin.
"Liat nihh buk, perut saya sampek mules."
"Yaa Alloh, sumpah mas ibu enggak kasih."
"Tadi ada anak kelas satu kak yang numplekin sambelnya." ucap salah satu siswa.
"Hahhh, cewek apa cowok."
"Cewek, keknya sengaja deh."
Sementara itu Kayla yang sedang bersembunyi dibalik booth mengumpat lirih.
"Siyaal, kenapa gagal lagi sihh."
"Sampek ketemu orangnya gue cekik dah." sungut Devan.
"Nihh ibu ganti yang baru."
"Gapapa ibu yang teledor sampai kejadian gini." jawab ibu kantin.
"Dev, kenapa." tanya BG.
"Tsskk nihh tadi gue makan gado-gado lahh ternyata didalemnya ada sambel semangkok, untung aja Siska gak kasih ke Abel." jelas Devan.
"Hahhh kenapa bisa Abel." tanya BG panik.
"Kan yang gak pake selada cuma punya gue sama Abel." jelas Devan.
"Gilak sampek kena Abel bisa tamat gue." lanjut Devan, BG masih menelaah ucapan Devan.
"Gimana Van." tanya Airin.
"Tadi ada yang bilang, sengaja dikasih sama anak cewek kelas satu." jelas Devan.
"Loe ada musuh adik kelas."
"Kagakk gilak ajaa."
"Ya untung tadi gak gue kasih ke Abel." ucap Fransiska, diamini Devan.
"Lahh itu dia sumpah. Bisa nangis kejer gue digaplok lakiknya." sahut Devan, sementara Abel hanya terkekeh dengan ucapan konyol Devan.
Mereka melanjutkan makan dengan diselingi gurauan sesama.
"Boss, pinjam HP Oppa." ucap Devan pada BG.
"Mau cek CCTV aja pas Olah raga tadi kira-kira bukan sethan yang lempar bola ke gue." jawab Devan lalu BG mengulurkan ponsel yang dimaksud Devan.
Melihatnya semua yang dimeja dibuat penasaran dengan ucapan Devan.
"Segitunya penasaran loe Van."
"Kalik aja sethannya minta kenalan."
__ADS_1
"Tau aja sihh Devan masih Jomblo."
"Jang berisik Ihhh." ucap Devan yang masih mengotak-atik ponsel BG.
"Mang tadi olah raga apa." tanya BG pada Abel.
"Volly sama Basket."
"Trus kenapa Devan sampai kenak bola."
"Nggak tau kejadian-nyaa." ucap Abel terjeda karena terkejut akibat ulah Devan.
Brakkkk.. Devan menggebrak meja kantin, bahkan menarik atensi murid yang dikantin.
"Bangshaatt, gue kira Apes bett hari ini. Ternyataaa." ucap Devan ambigu.
"Kenapa." tanya BG penasaran bahkan Kevin dan Riki pun sampai berdiri mendekat hanya untuk melihat hasil rekaman CCTV.
Ketiganya saling berpandang menunggu respon dari sang Bagaskara atas apa yang mereka lihat. Nampak BG pun seperti mezoom hasil screenshot yang dibuatnya.
Raut mukanya mengeras bahkan membuat yang melihatnya sangat penasaran apa yang membuat BG terlihat mengerikan.
"Dua kali loe jadi sasaran. Thanks Van gue gak tau apa jadinya kalau gak ada elo." ucap lirih BG yang masih berfokus pada ponsel ditangannya.
"Kenapa sihh."
"Hehh kelean ada apa."
"Iyaaa jadi kepo gue."
"Bell Laki loe." ucap Airin pada Abel, sebenarnya Abel sudah pasti tahu jika kini sang Bagaskara seperti ada yang dipendam.
Abel menggenggam tangannya, BG pun menoleh lalu tersenyum mencoba untuk mengatakan tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Huaduuhh, perut gue panas nih." celetuk Devan sambil memegangi perutnya.
"Duhh gihh beli penawar."
"Kek disengat ular aja pake penawar."
"Emang ada penawarnya."
"Ada."
"Apa namanya."
"Ajiann belaian janda." sahut Kevin, sontak Riki pun menggeplak mulutnya.
"Ishh sakit Rik."
"Tuhh mulut yahh, licin bett kek iler sapi."
"Yaa habisnya si Metta begok hahahha." jawab Kevin sambil mengelus bibirnya.
"Rasainnn, mamam tuhh." olok Metta.
Devan semakin merasakan perutnya melilit, bibirnya pun nampak pucat.
"Dev, gihh ke UKS aja." ucap Abel yang melihat Devan tak baik-baik saja.
Kevin beranjak mencari minuman yang bisa melegakan pencernaan.
"Nihh coba ini Van." ucap Kevin menyodorkan sekotak fullcream vanilla.
Devan pun pasrah meminum pemberian dari Kevin. Susu bisa digunakan untuk meredam panas dalam tubuh, terlebih jika terkena sambal.
"Gimana Van." tanya Airin.
"Lumayan mendingan."
"Beneran gak perlu ke UKS." tanya Abel.
"Enggak."
BG masih terdiam sungguh dia merasa bersyukur sekaligus sedih karena berkat Devan Abel selamat namun juga sedih Devan jadi merasakan perbuatan yang salah sasaran.
__ADS_1
"Gak akan gue biarin dia keluyuran dan membahayakan lagi." gumam lirih BG, Abel tak mendengar jelas ucapan BG namun dia tak bertanya karena lebih fokus pada Devan.