
Seperti yang sudah direncanakan Abel dan BG, hari ini mereka berencana mengadakan reuni kecil-kecilan. Salah, tepat nya perayaan suksesnya tender pertama yang dipegang oleh Angga. Setelah beberapa bulan berjibaku turun langsung ke lapangan, Angga berhasil menuntaskan proyek dalam dua bulan.
Acara ini di adakan tepat jam makan siang di kafe yang dipegang Angga juga. Namun karena nona Arabella dan Dekka ada jam kuliah hingga siang mau tidak mau membuat yang lainnya menunggu sang queen.
Sembari menunggu jam kuliah Abel selesai mereka menunggu di kantin, mereka yang menunggu para ladies selesai adalah tentu nya BG, Riki dan Kevin. Sedangkan Angga masih ada jam mata kuliah susulan semester 1. Cindy sudah nampak bergabung dengan BG dan yang lainnya, tak lama nampak Angga berjalan santai di lorong kelas semester 1.
Tiga puluh menit berlalu Abel muncul bersama Dania, Abel mengajak Dania untuk bergabung dengannya namun tak biasanya ia menolak.
"Dan, nggak ngantin dulu kah. Ada temen aku ngumpul nih."
"Nggak deh Bel, lain kali aja. Ehmm gu gue langsung balik pulang ajah." jawab Dania, menolak halus ajakan Abel.
"Tumben, biasanya nongkrong dulu. Ehh kalau enggak ikut aja entar ke kafe soalnya ada party kecil- kecilan gitu." ucap Abel masih belum menyerah untuk mengajak Dania.
"Enggak deh, gue agak gak enak body nihh Bel." jawab Dania, membuat Abel memeriksa badan Dania.
"Enggak hangat kok, ehh tapi kamu pucet sihh."
"Iyaa itu makanya."
"Yaa udah hati-hati yah dijalan." ucap Abel, Dania hanya tersenyum dan mengangguk.
Lalu mereka berpisah karena Abel harus belok menuju kantin dan Dania terus menuju gerbang keluar.
Abel mencari keberadaan BG dan lainnya karena kondisi kantin cukup ramai. Setelah matanya bisa menangkap lokasi keberadaan BG, Abel melangkah kan kaki jenjangnya menuju meja yang dihuni BG dan teman-temannya.
"Nungguin lama yahh, maaf." ucap Abel lalu duduk disebelah sang tunangan.
"Nungguin ga papa lah demi juga." celetuk Kevin, Abel hanya tersenyum.
"Tinggal nunggu Dekka yah." sela Cindy, Abel mengangguk.
"Nihh." ucap BG sambil mengarahkan gelas minumnya yang kebetulan baru diminum sedikit. Tanpa penolakan Abel langsung menyeruput nya hingga tandas.
"Loe aus Bel."
"Gilaaakk habis maraton nih bocah."
"Kurang nggak baby." sahutan- sahutan dari BG dan yang lain tak dijawab oleh Abel, dia hanya mengangguk dan menggeleng saja.
"Ceilahh bikin gemesssh deh." celetuk Kevin asal.
Tak lama ponsel Abel berdering, nama Nia terpampang di layar ponselnya.
"Lohh kok Nia." ucap Abel lalu menerima panggilan.
"Hallo Bel."
__ADS_1
"Hai Nyaaa."
"Gue otewe kampus Loe yahh."
"Hahhh mau ngapain langsung kafe aja bentar lagi kita juga otewe." jawab Abel, karena tak ingin mereka bergerombol di kampus.
"Yang pake helm nya." terdengar selaan suara Devan.
"Iyaa yank bentar telf abel. . ehh Gue kan pengen liat suasana kampus Loe elaaahh."
"Ohh gitu."
"Apaan Bel." tanya Cindy penasaran dengan obrolan Abel dan Nia.
"Yaahh gue kan peng rasanya jadi anak kampus." lanjut Nia.
"Iyaa deh, udah Sampek mana." tanya Abel pada Nia.
"Ini udah Deket kok sama gerbang kampus Loe,...Ehh Devaaannn Awaaasss." ucap nia namun tak lama terdengar suara teriakan Nia disusul dentuman keras dan tak terdengar lagi suara Nia melainkan hanya suara teriakan orang bergemuruh.
Bragggghhh
Bruugghhhhh
Dashhhh
Abel beranjak dan terus memanggil Nia diponsel nya.
"Bell, kenapa."
"Ada apa baby." Sahutan dari BG dan lainnya tak dijawab Abel, bahkan membuat mereka jadi panik.
"Bell." BG meraih ponsel Abel, nihil karena tak ada sahutan dari Nia, walaupun panggilan masih tersambung.
"Nia please." gumam Abel, BG pun sudah kalang kabut bingung apa yang terjadi pada Nia disana.
"Nia ada di dep depan... dannn." ucap Abel terbata namun ia kemudian berlari meninggalkan kantin, diikuti oleh BG dan yang lainnya.
Setahu nya Abel sebelum suara Nia terputus dia mengatakan jika mereka sudah sampai dekat gerbang masuk. Artinya kini Devan dan Nia ada disana, dengan sekuat tenaga Abel berlari dan nampak BG disampingnya begitu pula yang lain dibelakangnya.
Sesampainya di dekat gerbang nampak banyak orang disana berkerumun, hati Abel sungguh cemas tak ingin berfikir yang tidak-tidak.
"Nia, Devan... Hiksss." gumam Abel yang sudah mulai terisak bahkan dia belum melihat apa yang terjadi.
Mereka membelah kerumunan, keluar dari pintu gerbang langsung bertemu dengan jalan raya utama. Namun apa yang mereka temukan disana justru membuat nya syok sekaligus speechless.
"Astaga."
__ADS_1
"Innalilahi."
"Ya Alloh."
Ucapan yang keluar dari mereka karena begitu banyak kendaraan yang berceceran karena seperti tabrak beruntun.
"Ni... Ni.. Niaaaa." gumam lirih Abel begitu melihat sosok yang dikenali tergeletak dipinggir jalan tak bergerak sedikit pun.
Lalu jauh diseberang sana tak beda jauh dengan kondisi Nia, Devan dengan penuh luka yang membuat berceceran darah.
BG, Riki, Kevin, Angga tercengang melihat kondisi kedua temannya dan beberapa korban kecelakaan. Bahkan jarak Devan dan Nia cukup jauh, menandakan Nia terpental jauh dari Devan, atau tidak Devan yang terseret jauh entah bagaimana ceritanya.
Melihat Abel dan Cindy yang sudah menjangkau Nia, membuat kesadaran BG dan yang lain kembali.
"Kev, Rik Loe ambil mobil kita bawa mereka ke rumah sakit, Angga Loe lihat si Devan." ucap BG tanpa banyak bicara mereka bergegas sesuai dengan arahan BG. BG menghampiri Abel dimana dia sudah merengkuh tubuh Nia.
"Nyaaa.."
"Huaaa, Nya bangun Nya." teriak Cindy histeris.
"Nyaa, bertahan please hiks.. hiks." ucap Abel lalu dia menoleh mencari keberadaan BG, dan ternyata sang Bagaskara sudah menuju kearahnya.
"Bbbbelll, mmmmmaaaff." ucap lirih Nia sambil meletakkan tangan kananya dipipi Abel, lalu tak lama tangan itu lemas terjatuh.
"Niaaaaa, Hiksss." teriak Cindy.
"Nyaaaa, bertahan please, Niaaaa huhuhuhuuu." pecah tangis Abel tergugu.
"Niaaaaa Huaaaaa."
"Baby." panggil BG yang dari kejauhan melihat kedua gadis itu menangis histeris, Abel mendongak lalu menggelengkan kepalanya pelan, diiringi semakin deras air mata nya mengalir.
"Ni... Ni.. Niaa hikkss... Hiksss di.. diaaa.. Hu hu huhhhh." gumam Abel terbata, namun sudah jelas Dimata BG kondisi dari Nia.
"Hahhh, kita bawa ke rumah sakit yahhh Nia nya, biar dapat pertolongan." ucapnya menenangkan Abel, melihat tunangannya itu bersimbah darah karena merengkuh tubuh Nia yang penuh dengan luka dikepalanya.
"Tappp.. ta.. tapiiii. Hikksss .. Hikkss ..Ni.. Niaaa.. hikss." Abel tak mampu berkata-kata lagi, karena dia menangis hingga sesenggukan.
Bersambung....
Bagaskara
Arabella
__ADS_1