Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Pemaksa


__ADS_3

Yuuhuuuuu... My readers..


Yukkk mari ditap tap lopee nya trus dikomenin..


jangan lupa mampir juga di ErenKa Studio Yt.


Author usahain rutin dahh update nya..


Doain dari jauh yahh..


Enjoy for reading you guys..


Masih Di Putih Abu-abu




**Setia Mu itu wajib bukan Sunah, juga bukan gak merasa atau bahkan gak sengaja, Titik gak pake koma**.


**Arabella**



~


~



"Ingat saya kasih waktu 20 menit gak lebih." Ucap Alvin tegas.



Akhirnya Abel mengikuti kemana ia dibawa, tak lupa mengaktifkan GPS di jam tangannya sesuai perintah Alvin.


Bukan maksud curiga, namun Abel sudah merasa jika dia tak memiliki kenyamanan lagi pada sosok ini.



Selama perjalanan di dalam mobil yang entah mau dibawa kemana itu anak pak jendral Raharjo, terjadi mode silent.


Tak ada percakapan diantara keduanya.


Setelah sampai dipelataran warung yang dulunya menjadi tempat favorit alias tongkrongan saat masih bersama para sahabatnya dan juga BG.



"Aku bingung harus mulai darimana."



"Yaudah balikin aku ke mas Alvin." sahut Abel tanpa menoleh kearah BG.



Tentu saja sang Bagaskara lah yang mencegatnya tadi, memang siapa lagi yang bakalan bawa Abel ke warung mbok Kar.



"Ck, kenapa kamu jadi dingin sama aku, please lihat kearah ku." ucap BG.



"Aku gini juga karena kamu apalagi."



"Hemm, Bell lihat sini dulu." kata BG sedikit merendahkan suaranya, lalu mengarahkan bahu Abel agar menghadap padanya.



"Aku gak tau harus jelasin gimana kalau kamu gak mau kasih tau apa salah ku, kenapa harus kamu mendiamkan ku."



"Sudah lama kamu bahkan asyik sendiri dengan orang baru, gak kasih kabar pun aku diam, kenapa baru sekarang protes." jawab Abel tak gentar.



"Apa ada hubungannya dengan Melisa."



"Perlu aku konfirmasi satu sekolah, aku memang gak lihat dengan mataku sendiri tapi mendengar langsung dari mulut perempuan mu itu." ujar Abel, kali ini tak ada kata manis keluar dari mulut Abel.



"Please, jangan ambil kesimpulan dulu. Aku sama dia gak ada hubungan apa-apa." jelas BG, yang bahkan belum selesai dipotong lagi oleh Abel.



"Gak ada tapi tiap hari anter pulang, ke kantin bareng kemana-mana ngintil, lagian aku apamu sihh mau aku gak respect sama kamu itu gak ada artinya."



Hemmmmmm...

__ADS_1



"Aku anter dia itu paling cuma dua tiga kali, yang katanya dia gak ada yang jemput trus aku kasihan karena udah malem juga, tapi serius aku gak ada perasaan apa-apa dengannya, Bell denger dong jangan dipotong dulu."



"Dilihat darimana biar aku harus percaya kalau kamu gak ada perasaan sama dia, kamu lebih perduli dia daripada aku, dan ingat aku berubah karena itu semua berawal dari kamu." sahut Abel.



"Buat apa..!! aku sudah punya kamu yang lebih diatas rata-rata dari dia." jawab BG, Abel yang mendengarnya sontak menoleh kearah luar karena merasa pipinya menjalar panas secara tiba-tiba.



BG yang merasa Abel tetap diam tak bergeming bingung, padahal tak tahu saja dia kalau Abel mengalihkan pandangannya untuk menghilangkan blushing di pipinya.



Grepppppp...



"Aku harus apa Bell supaya kamu percaya sama aku, aku gak mau hubungan kita berantakan seperti ini, jika perlu aku akan datang ke ayah untuk memintamu." ucap BG sambil memeluk erat Abel.



Abel diam mematung terus mencerna apa yang keluar dari mulut BG, datang meminta ke ayahnya apa maksudnya.



"Mmm, ma-maksud kamu meminta ap-pa." jawab Abel terbata.



BG melepaskan pelukannya lalu memandang teduh wajah yang sudah lama tak ia pandang dari jarak dekat.



"Tentu saja melamarmu kalau kamu mau."



"Jangan bercanda." jawab Abel.



"Kamu mau pembuktian. Listen to me. Jika aku gak kasih kamu kabar saat itu, mungkin aku emang lagi gak ada waktu karena aku menyesuaikan diri menjadi pemimpin team basket, lalu yang masalah Melisa, Hemmm emang dari awal Riki bilang dia ada niatan dekat dengan aku, tapi aku santai karena emang aku gak ada perasaan sama dia." jelas BG



"Lahh tapi dia ngintil mulu, trus dia udah klaim kamu pacarnya." jawab Abel.




"Iyaaa lahh, ada bukti kamu boncengan duaan sama dia apalagi kita emang gak ada hubungan." jawab Abel sambil menatap lekat pada BG.



"Kamu mau kita ada status kan, Hemmmm.. Okay aku bilang mama dulu buat lamarin kamu."



"Ehhh enggak ada lamar-lamaran yah, masih sekolah juga."



"Yaa udah Tunangan aja dulu."



"Dihh ogahhh, kayak kebelet nikah aja sihh." jawab Abel semakin panik.



"Yaa kan Tunangan fungsinya bukan untuk langsung nikah juga Bell."



"Apaaa."



"Yahh buat ngiket kamu biar kamu gak kabur sama orang lain, secara disekolah kamu dah jadi inceran." balas BG.



"Ihhh, enggak lagian kamu berani ngadep ayah."



"Dihhh, remehin. Kamu lupa aku ini udah kerja dikantor papa, jadi seenggaknya aku sudah berpenghasilan. Mau nikahin sekarang juga hayuk."



"Nggak mau, fokus sekolah aja dulu."

__ADS_1



"Yaudah kalau gitu, tunangan aja dulu yang penting kamu udah dilabelin milik Bagaskara aja." Ujar BG terus memojokkan Abel.



"Nggak ada yahh..." ucap Abel terpotong dia merasakan BG mendekap erat dirinya.



"Please, aku sayang kamu Bell jangan siksa aku untuk jauh dari kamu, dari awal aku udah yakin kalau kita gak sekelas bisa jadi apa aku. Setidaknya kalau kamu jadi tunangan ku, ada pengikat diantara kita." ucap BG tulus, Abel yang merasakannya membalas dengan mempererat pelukan Bagaskara.



"Baiklahh, kalau kamu maksa. Temuin ayah, cari solusi yang terbaik dengannya yang jelas semua keputusanku ada pada ayah, jika ayah mengijinkan. Hemm aku juga menerima, karena Akuuu." jawab Abel terpotong ketika BG melepas pelukannya hanya untuk menatap lekat mataku.



"Kamu apa." tanya BG.



"Karena aku juga sayang sama kamu." lanjut Abel.



BG tersenyum mendengarnya lalu.



Cuppp...



Sebuah kecupan mendarat di pipi mulus Abel, sontak membuat Abel terkejut.



"Bagas ihhhh." kata Abel sebal sambil memukul pelan lengan BG.



"Kenapa kan calon tunangan aku ini."



"Dihhh, kan belom, kamu aja belum hadap ayah, belum hadap mas Alvin."



"Lhaaa kenapa bawa-bawa ajudan."



"Laahh iya kan mas Alvin yang akan terus bawa aku." jawab Abel.



"Hemmm, biar nanti ku ajak sparing basket aja kan lama-lama akrab." sahut BG.



Belum selesai obrolan mereka berakhir, ponsel Abel berdering.



Bippp...



"Iyaaa mas."



"*Masih lama Bell*."



"Ini udah mau balik kok."



"*Yaudah hati2, mas tunggu depan sekolah*."



"Hemmm, okay."



Tuttttt..



"Balik yuk." ajak Abel setelah telp dari sang ajudan terputus.


__ADS_1


"Udah gak marah lagi kan, kalau ada apa-apa langsung tanya aku jangan ke orang dulu." balas BG, Abel pun mengiyakannya jika tak direspon akan berlanjut dan mereka pun kembali ke tempat dimana Alvin berada.


__ADS_2