
Thanks yang udah mampir jangan lupa pencet lope, Gift dan komenannya, trus tonton iklannya juga.
Happy reading guys..
Hari kedelapan Abel bisa tersenyum lebar karena akhirnya dia bisa merasakan nyamannya tidur dikasur empuknya. Bersama Alvian dan juga Nina tepat pukul 10 pagi dia meninggalkan rumah sakit. Sementara waktu Abel akan tidur di kamar Arkana dilantai satu.
Setelah meninggalkan halaman rumah sakit, Abel mengirimkan pesan pada BG dan juga grup kelasnya jika dia telah keluar rumah sakit.
@MyLast❤️
Nanti pulang sekolah langsung kerumah.
Mau dibawain apa..?
To: MyLast❤️
Sup buah keknya seger..
@MyLast❤️
Ok segera meluncur.
Sementara itu dikelas Abel pun tengah heboh saat mereka mendapat pesan jika Abel telah keluar dari RS.
"Gua mau jenguk kerumah Abel Fix."
"Barengan aja."
"Kenapa."
"Loe emang bisa masuk lewatin paspam ayah Abel." jawab Devan.
"Ahiyaaa."
"Loe kabarin si BG aja Van biar bisa jadi pembuka jalan." sahut Airin.
"Sendiko dawuh kanjeng mamih." jawab Devan, lalu dia pun bertukar pesan pada BG.
Sepulang sekolah pun teman sekelas Abel yang hendak kerumah Abel pun berhamburan. Saat berada didepan kelasnya mereka melihat sosok ratu ular tengah menuju kelas BG.
"Dev buru loe culik si BG sebelum dia diculik mak lampir duluan." celetuk Nia.
Devan pun berlari setelah BG keluar dari kelasnya, dia langsung mengamit lengan BG sebelum keduluan ratu dedemit.
Greppp..
"Ehh buset kaget gue."
"Udah diem ada mak lampir nohh." bisik Devan, BG pun tak terkejut dengan keberadaan Kayla.
"Lohh kak, kak Bagas kok aku ditinggal." teriak Kayla melihat BG diseret oleh Devan.
"Kak, aku pulang gimana." lanjut Kayla.
"Bisa berangkat gak bisa pulang."
"Tauukk jelangkung loe."
"Emang dasar cewek aneh bin laknat."
Seruan dari teman sekelas BG pun menggema disepanjang koridor.
"Loe bisa-bisanya deh boss baikin itu di Kantil." ucap Devan.
"Gak tegaan gue."
"Lahh, kalau Abel tau runyam dahh." celetuk Devan.
"Udah tau dia."
"Trus."
"Ngambekk, susah payah gue balikin moodnya." jawab BG.
"Lagian dikasih angin banget itu si Kantil."
"Gue gak kasih, dia yang nyelonong." jawab santai BG.
"Ade ape lu Van, ampe ngamit si boss besar." ucap Nayla.
"Mau diculik kembang Kantil." ceplos Devan, membuat para gadis terkekeh. Seketika rombongan para pasukan katak pun segera memenuhi kediaman bapak Raharjo.
"Kali-kali ketemu ajudan ganteng." celetuk Fransiska.
"Sapa dah yang bakal mau sama modelan kayak elo." potong Nia.
"Sembarangan gini-gini montok gue."
"Seterah elo dah Munaroh."
Perjalanan menuju rumah Abel tak memerlukan waktu lama, nampaknya rumah Abel pun tengah menerima tamu, seperti dari kantor sang ayah.
"Wahh rame guiss."
"Gimana nihh masuk aja kah."
"Tunggu rombongan lakiknya aja." sahut Devan. Namun saat BG tiba segera mengklakson kendaraan yang berisi rombongan Devan agar melajukan kedalam halaman rumah Abel.
"Makan-makan nih."
"Loe makan mulu Nya."
"Ishh, gue mau hidup butuh makan."
"Ya kalo mau metong juga kalau makan loe gak aturan."
"Hussh jang berisik, banyak pak tentara kagak malu loe." sela Devan.
BG sudah menginjakan kakinya di teras rumah disambut oleh tamu dari sang ayah mertua.
"Ini anak mantu bapak."
"Gantengnya, pas sama Abel."
"Lahh ini teman-teman Abel juga datang."
"Mana cantik-cantik."
__ADS_1
"Makasih tante."
"Yuk sana masuk kedalam."
"Assalamualaikum bunda."
"Adek Arkana kakak cantik welcome."
Nia dkk menggeloyor masuk membuat suasana rumah Abel semakin ramai.
"Aduhh anak-anak bunda pada datang." ucap Bunda Abel menyambut kedatangan teman Abel.
"Baby Arkana mana bun."
"Lagi main sama ibu-ibu."
"Wahh jadi ramai." ucap seorang perempuan paruh baya yang nampak cantik dan elegant.
"Iyaa tant, tau Abel pulang pada berisik minta jenguk." sahut Airin.
"Yang ini sapa Ai loe tau." bisik Nia.
"Mamanya BG." jawab Airin pelan.
"Hayukk masuk sana tapi masih ada tamu ayah, santai dulu yah." ucap bunda.
"Lohh mama kok udah disini aja." celetuk BG yang menyadari keberadaan sang mama.
"Iyaa dari bandara langsung kesini tadi." jawab sang mama.
"Bawa apa." tanya bunda.
"pesenan sup buah bun."
"hemmb, itu anak heran deh." gumam bunda.
"Namanya lagi sakit pengen seger-seger mbak." sahut mama BG.
"Iyaa mbak, Gas bawa temenmu ke taman belakang biar leluasa mereka." titah bunda.
Setelah tamu dari kantor ayah meninggalkan kediaman Abel, kini giliran teman-temannya yang merapat.
"Nih sup buahnya." ucap BG sambil menyodorkan Es yang sudah disiapkan nya.
"Pada laper nggak sini maem dulu." potong mama BG, sedangkan bunda sedang mengantarkan tamu dari kantor ayah. Jadilah mama BG yang menjamu teman Abel.
"Ka.. kakkk." panggil Arkana yang berjalan tertatih menuju kearah Abel.
Karena memang masih kecil dengan spontan Arkana dengan badan gembulnya berlari kencang menabrak kaki Abel.
Greepp...
"Bundaaaaaa." teriak Abel spontan.
"Aduhhh ya ampun."
"Ahhh astaghfirullah."
"Astagaaa, dedek ganteng."
"Aduhh ngiluu gue."
"Sakit hiks.. hikss." refleks Abel menangis.
"Adek sama Kakak Gas yahh." ucap BG
"Ka... kak napa tangis." ucap Arkana terbata.
"Aduhh bocahh gemoooy."
"Sini yuk sama kak Ai."
"Tak ma-u." jawab Arkana semakin merangsek memeluk Abel.
Sedangkan Abel masih meneteskan air matanya dalam diam.
"Gimana nih Gas."
"Aduuhh gak tau gue."
Sementara Airin dkk masih mencoba merayu Arkana agar mau turun dari badan Abel.
"Tup-tup ka-kak ngan tangis."
"Wkwkwkkw."
"Bocah kok lucu mat sihh."
"Gue karungan dahh."
"Sini yuk sama kakak."
"Enoooo." jawab Arkana sambil menggoyangkan telunjuknya, membuat Abel terkekeh.
"Panggil bunda gihh Van." ucap Airin.
Devan mengangguk lalu berlari kencang.
"Bun, anu bun ituu."
"Apaa nak."
"Aduuhh Kaki Abel ditabrak Arkana." jawab Devan sontak membuat bunda dan ayah berlari.
"Dedek, cah ngganteng." rayu Ayah, melihat Abel menangis semakin membuatnya tak tega.
"Ya Alloh anak bubun, kaki kakak diapain."
"Ini ka-kak tangis."
"Diapain sama dedek." tanya Ayah.
__ADS_1
"Dek belat." jawab Arkana polos.
"Nahh kakak tangis karena lagi sakit, dedek gak boleh minta gendong dulu yah." jelas ayah pelan.
"Huaaaaa.. dek belat, kak tangis."
Tangisan Arkana justru membuat seisi ruangan terbahak merasa terhibur dengan tingkah lucunya. Dengan sigap Ayah mengambilnya dari badan Abel.
"Masih sakit." tanya BG, Abel pun mengangguk.
"Coba telp dokter Adam Gas." ucap Bunda, mama BG yang baru dari dapur tak tau ceritanya pun bertanya-tanya kenapa bisa Abel menangis. Setelah mengetahui ceritanya pun membuat mama BG khawatir.
"Hallo bang."
"*Ada apa dek, Abel aman*."
"Lahh itu yang bikin gue telp bang."
"*Kenapa*."
"Habis ditabrak Arkana, loe tau bang segede apa Arkana."
"*Hahahhaahh, yaa trus*."
"Abel kesakitan ini."
"*Coba tanya Abel ngerasa basah dikakinya nggak, takut jebol bekas jahitan*."
"Baby kerasa basah nggak." tanya BG pada Abel.
"Gak tau, kerasa sakit aja." jawab Abel.
"Dia gak tau rasa basah apa enggak, cuma sakitnya yang gak nahan bang."
"*Coba rubah posisinya, trus minum obat nyerinya*."
"Okey thanks bang."
Setelah memutus sambungan BG pun mencoba saran dr.Adam dengan merubah posisi Abel senyaman mungkin.
"Astaga kek ditabrak bajaj aje."
"Mana si baby Arka gemoy banget dahh."
"Semok overload dia mah."
"Gemess pen gue uyel-uyel dah."
Memang bocah sekecil itu tidak bisa disalahkan, tak lama dr.Adam mengabarkan jika dia telah mengirimkan perawat untuk memeriksa Abel.
"Kenapa enggak loe aja bang."
"*Dihh abang bukan pengangguran*."
"Terserah asal enggak perawat cowok."
"*Bocahh bucin bett dahh, ngapa loe insecure, kagak ada yang ngelewatin tampang loe juga takut amat*."
"Brisik loe bang, bye."
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya perawat kiriman dr.Adam pun tiba.
"Enggak rembes darah kok, serumen aja." ucap suster.
"Serumen apaan mbak." tanya Nia.
"Cairan bening warnanya kekuningan kalau biasanya kalian luka." jelas perawat, dan semua teman Abel mengangguk.
Setelah memastikan luka Abel aman, suster pun meninggalkan rumah Abel.
"Mbak ini gimana kalau Abel aku bawa pulang." ucap Mama BG.
"memang kenapa mbak."
"Yaa biar proses penyembuhannya cepet, selagi ada Arkana tidak mungkin Abel aman. Menghindari hal-hal kayak gini mbak." jelas mama BG, dalam hatinya merasa senang jika Abel berada dirumahnya.
Ayah dan bunda pun paham, kejadian barusan harusnya menjadi pelajaran. Jika tak dipisah Arkana pasti akan merengek pada sang kakak.
"Tapi nggak ngerepotin kan mbak." ucap bunda.
"Abel anak aku juga lohh, direpotin juga gak seberapa. Aku pengen rasanya punya anak cewek mbak." jawab mama BG, ayah dan bunda pun lega. Memang benar selama ini mama BG mendambakan sosok anak perempuan.
"Ayoo anak-anak maem dulu yahh." ucap bunda pada teman sekelasnya Abel.
"Siapp bun."
"Ngerepotin bunda jadinya."
"Sudah gih maem dulu." sahut mama BG.
"Emang yahh Abel orang baik, dapet mertua kek bunda banget." bisik Nia.
"Iyaa, kagak ada yang namanya lidah mertua jadinya."
"Syuut kelean kalo bisik-bisik mulu kapan makannya."
"Taukk ni bocah gibah mulu."
"Sledding Arkana tau rasa loe."
"Gilaa, gue yang gak sakit aja kerasa ngilu bro."
"Iyaaa, untung gemoy kalok kagak udah gue pitess."
"Dihh, main pites anak orang loe."
"Kerjaan Fransiska kan bully anak tetangga."
"Loe pada ngobrol terus sampek monyet beranak ayam dahh." potong Angga.
"Tumbenan loe sewot Ngga."
"Uang jajan kurang paling."
__ADS_1
"Ahhhh capek denger kalian brisikk."