
"Ada apa ini." Potong salah satu panitia yang melihat keributan membuat antrian mengular, BG yang hanya bisa memandang sang Arabella sedari tadi ingin mencoba membantunya namun Abel melarang dengan mengkode tangannya.
"Udah gue bilangin ngeyel Loe."
"Njirrr Reyhan datang."
"Loe sih Nes, ckkkk ada aja."
"Apaaa sichhh."
Seruan dari teman Agnes tak membuatnya takut setidaknya dia hanya mencoba membuat salah satu Maba yang mendapat privilege dari rektor ketakukan.
Reyhan yang menjabat wakil ketua BEM melirik kearah papan biodata Maba, Stempel merah jelas terlihat tapi Agnes justru membuat keributan dengan Maba didepannya.
"Apa maksud Loe." gumam lirih Reyhan menatap tajam Agnes, Abel tetap menunduk namun tak ada sedikitpun rasa takut pada senior didepannya. Justru yang ia takutkan adalah sang tunangan yang bakalan tambah membuat kegaduhan.
"Loe udah tahu PerBEM darurat apa Loe lupa." desis Reyhan, seolah tahu tabiat seorang Agnes.
"Gue cuma menyama ratakan dia dengan yang lain Rey." jawab Agnes santai dia tak Reyhan dan yang lain tahu niat awalnya.
"Masa bodoh sama tujuan Loe yang jelas Loe HARUS INGAT PERBEM DARURAT mengerti." jawab Rei sedikit meninggi, namun seketika dia sadar dan ingat masih banyak Maba yang memperhatikan perdebatan dia dan Agnes.
Panitia lainnya memilih menarik tangan Abel dan membawa ke Maba lainnya yang sudah diperiksa kelengkapan atributnya.
"Emang sinting si Agnes."
"Heuuuhhh, buat masalah aja dari dulu."
"Taukkk kita yang deg-degan." Celetuk para senior Abel, dia tak merespon cukup dia menjadi diam saja agar tak membuat para seniornya berada dalam masalah. BG mendekati sang tunangan yang sudah dibawa oleh panitia lainnya bergabung ke Maba yang aman dari razia seniornya.
"Baby." gumam BG, Abel tersenyum hangat agar membuat kepanikan BG berkurang.
"aman."
"Sampek dia macem-macem aku bakalan telp om Sagara." Jawab BG mendengar jawaban singkat dari Abel.
"Aku terhubung sama mas Al kok jadi jangan khawatir." jawab Abel lirih tak ingin didengar Maba lainnya, BG pun baru tersadar Abel masih punya bodyguard setia.
"Heumm." mereka pun bergabung dengan Maba lainnya.
"tadi gue juga kenak pitanya kepanjangan, trus langsung gue keluarin gunting, nahh gue ukur pake penggaris dan potong sesuai kelebihan panjangnya." cerita Cindy.
"Tumben banget otak Loe encer cin." sahut Kevin.
"Gue dari dulu pinter tauuk."
__ADS_1
"Iyeee tapi kebanyakan oon nya." celetuk Riki membuat yang lain terkekeh.
"Kalian dulu satu sekolah yah kok akrab." celetuk salah satu anggota kelompok BG dkk.
"Iyess."
"He,Ehhh."
"pantesan kayak udah kenal banget dari tadi."
"Loe diapain aja Bell tadi." tanya salah satu cewek sekelompok Abel.
"Masalah eyeshadow." jawab Abel singkat yang lainnya hanya menyimak.
"padahal gue juga pake biru gelap kayak Loe tapi aman." sahut Dekka seolah tak ingin membuat banyak pertanyaan dari Maba yang lainnya.
"Itu si embaknya kayaknya sadar kalau elo cakep Bell." sahut Dania teman sekelompok nya.
"Lahiyaaa."
"Btw kalian pake apa kok bisa hitam gitu." potong Dekka.
"Gue pake snowman dong." jawab salah satu Maba sontak membuat Maba cowok yang mendengarnya tertawa.
"Lahh gilakk Loe."
"Sarap Loe yahh masak permanen dikira begok apa gue."
"Yaahh kali Loe white board."
"Kalian pake eyeliner aja." sahut Meisya salah satu kelompok BG singkat, membuat Abel Dekka dan Maba cewek lain menoleh.
"Wahhh iyaa gue baru ngehh."
"Lagian besok atribut beda lagi juga."
Keributan membahas kurangnya atribut selesai setelah panitia memulai kegiatan mereka hingga ospek hari pertama berakhir.
~•~
Day two Ospek
Masalah peringatan kelengkapan atribut ospek kemarin membuat Abel belajar berbenah hari ini. Dengan menggunakan atribut rompi dari bambu pernak pernik serba hijau Abel tak membuat kesalahan lagi sehingga membuatnya jadi perhatian senior.
Bahkan tanpa Abel membuat kesalahan pun tak disadarinya dia sudah menjadi pusat perhatian dari para senior atau Maba lainnya khususnya para kaum Adam. Senior perempuan menandainya karena Abel salah satu dari anak emas rektor, sedang kaum Adam menandai Abel karena parasnya yang cantik tanpa polesan berlebih.
__ADS_1
Hari ini Abel berangkat bersama sang tunangan karena ajudannya ijin mengantar Nina periksa kandungan. Setibanya dikampus mereka langsung menuju lapangan tempat berkumpul sebelum memulai kegiatan hari ini.
"Semoga gak ada yang bikin masalah hari ini." ucap BG sembari berjalan menuju lapangan.
"Amien."
Nampak seluruh Maba sudah menggunakan dan memeriksa kelengkapan atribut agar para seniornya tak mencari-cari kesalahan. Abel, BG dkk menggunakan atribut sama persis karena mereka memang BG lah membuatkan sama agar tak akan ada celah bagi para seniornya untuk merundung mereka.
"Astaggaaa Loe lagi bikin kesalahan." celetuk Agnes pada Abel saat memeriksa kelengkapan atribut, bahkan membuat BG yang tengah di cek oleh senior lainnya menoleh.
"Apalagi kak."
"Ini eyeshadow Loe kurang tebel. Perintah nya kan harus MENOR." bentak Agnes, Abel mengelus dadanya agar bisa bersabar dengan mahkluk Tuhan paling cetar didepannya lalu mengeluarkan sesuatu.
"Padahal gak ada kata-kata perintah menor deh kemarin." ucap Abel dalam hati lalu menambahkan polesan eyeshadow berwarna hijau terang agar tampil menor sesuai tema hari ini.
"Punya nyali juga nih anak." gumam Agnes dalam hati, karena dia merasa di skak mat oleh sikap Abel yang tanpa debat. Para senior dan Maba lainnya memperhatikan semua yang terjadi didepan mereka.
"Astagaa jadi pusat perhatian cewek gue." batin BG.
"Meskipun menor, dasarnya udah cantik yah cantik ajah." celetuk Ihsan kelompok BG membuat sang empunya menoleh seketika.
"Ada ajah emang tuh senior."
"Gimana kak, mohon koreksi." ucap Abel tetap lemah lembut menyikapi senior galaknya itu.
"Siniiiihh." teriak Agnes sambil menarik kotak eyeshadow ditangan Abel dan menambahkan riasan diluar peraturan yang dibuat untuk atribut ospek hari ini.
Puas melukis wajah Abel, dengan menambahkan blash on hijau dipipi abel membuat hati Agnes bersorak gembira.
"Biar aja deh yang penting lolos." ucap Abel dalam hati.
"Cari mati ini senior."
"Emang sinting ni cewek." celetuk Riki dan Kevin bersamaan, sementara Dekka dan Cindy cemas mereka pun diperlakukan sama layaknya Abel, namun ternyata benar dugaan mereka. Hanya Abel yang mendapat perlakuan buruk dari seniornya.
"Yaa ampun tuh embaknya kayak nya sirik banget sama elo Bell." ucap Cindy.
"Ditandaiin banget yang cakep-cakep sama dia, tapi cuma Abel yang paling parah." bisik Dekka yang takut terdengar senior mereka, BG diam dia memikirkan cara agar bisa mengatakan kejadian hari ini pada om nya, karena mereka tidak bisa membawa ponsel saat Ospek.
"Kayak ada dendam kesumat gak sih."
"Emang Gilak senior Agnes." celetukan dari Maba cewek disekitar Abel.
__ADS_1