
"Gimana seru." tanya Abel setelah Nia dan Fransiska bergabung padanya.
"Seruu banget Bell."
"Seru plus deg degan."
Abel tersenyum menyahuti kedua temannya itu.
"Gak ada yang luka kan."
"Aman Bell."
"Gue kira pala loe kepentok gitu Nya." celetuk Angel.
"Kenapa emangnya Ngel."
"Loe tiba-tiba galak."
"Hahhh."
Fransiska menoyor temannya itu karena terlalu lola (loading lambat) atas ucapan Angel.
"Loe lupa si Devan loe ajak debat."
"Yah kagak usah noyor- noyor juga."
"Nahh kan."
"Nyaa PMS." tanya Abel.
"gak tau."
"Gihh cek sana."
"Nihh bawa roti sekalian." ucap Angel memberikan benda kramat wanita pada Nia.
Sembari menunggu Fransiska dan Nia berganti pakaian, Abel dan yang lainnya memanfaatkan dengan berfoto bersama.
Setelahnya melanjutkan menuju rute akhir.
Perjalanan rafting mereka selesai, semua peserta berkumpul lalu bergegas mengganti pakaian karena tak ingin terjadi hipotermia.
BG yang sudah mengganti pakaiannya dan sedang mengeringkan rambutnya segera menghampiri Abel. Meskipun kegiatan rafting usai namun mereka akan makan siang bersama dilokasi sebelum meninggalkan tempat.
"Yok ngasoh dulu sekalian nunggu maksi." ucap BG.
"Maksi disini."
"Hahh ini kan masih tengah hutan."
"Bukan hutan juga, ini kebon."
"Aman guys, emang udah gue setting gitu." jawab BG.
"Manut ajalah sama big boss."
"Biasa makan diwarteg sihh."
"Ganti nuansa sekali-kali, yahh nggak."
"Capek." tanya Abel pada BG.
"Enggak ko, seru banget." jawab BG.
"Tadi yang perahunya kebalik punya Devan sama Gama yahh." tanya Kevin.
"Yoii."
"Napaaa."
"Kagak, takut kelelep anak perawan." jawab Kevin.
"Kagak tau aja loe, hampir karam mereka." sahut Devan.
"Jang mancing loe Van." potong Fransiska.
"Kenapa."
"Nia PMS bisa digarong loe." sahut Angel.
__ADS_1
"Lahhh anjir, lo lagi dapet malah terjun."
"Coba cek sungainya ganti warna kagak." celetuk Kevin.
Buggghh.. buggh..
"Haduuhh kok digebuk."
"Loe begok, lagian mana bisa darah setetes bisa ngerubah air." jawab Nia.
"Jorok loe Nyaa."
"Ihhh, gue baru kerasa bukan yang udah keluar banyak."
"Tetap aja bagi balajaer di sungai ini itu sianida jadi tercemar dehh." ceplos Devan.
Pletakk.. Nia melemparkan pouch berisi uang koin ke badan Devan.
"Lahh buset kekerasan loe Nya."
"Habisnya tuh mulut minta dicabein."
"Nooh loe liat balajaer ada yang semaput, coba cek." sahut Kevin menggoda Nia.
"Masak sihh."
"Coba cek sana."
"Sabodohhh lahh." sahut Nia.
"Buakakakkak."
"Pfffftttt."
"Kalian yah ngerjain mulu, ntar ngambek ini masih dihutan lohh." potong Abel sontak membuat semuanya melongo, tumbenan Abel garing.
"Baby kamu sehat kan." ucap BG sambil mengecheck dahi Abel.
"Sehat sentosa. Nia kan lagi dapet kalo entar ngambek, marah kita juga yang repot." jelas Abel, akhirnya mereka paham dengan maksud Abel.
"Lahiyaaa jauh dari emaknya."
"Dimana ada seblak ditengah kebon gini curut." sahut Fransiska.
"Nohh ada krupuk tinggal seduh pake air mineral kasih saos dikit jadi." jawab Devan santai.
"Otak loe emang encer, tapi ini encernya kebangetan sampai gak bisa bedain tololnya." sela Nia.
"Niaaa." peringat Abel ketika berbicara kasar.
"Ahhh iyaa mamaap yahh tuan putri. Hehheh."
"Dihh kicepp dah."
Sembari menunggu maksi siap mereka mengobrol, menyanyi, menjulidi, bahkan tingkah kekonyolan semakin menjadi-jadi.
"Hoaammm jadi ngantuk."
"Permisii." sapa beberapa orang yang membawa beberapa nampan makanan.
"Huaaaa."
"Surgaa dunia."
"Rejeki anak soleh dan soleha."
"Nikmat mana yang hendak engkau dustakan."
Semua takjub dan sumringah dengan hidangan yang disajikan.
"Yok doa dulu yok."
"Tuhan, terima kasih telah memberikan kenikmatanmu hingga detik ini, kebahagiaan, kesenangan hari ini semoga akan selalu terngiang dan teringat. Semoga pertemanan ini terjalin baik selamanya." pimpin Abel.
"gak mau Baby." potong BG, Abel menoleh mendengar selaan dari BG.
"Hahh."
"Yahh aku gak mau berteman selamanya sama kamu, aku maunya menikah." jawab sang Bagaskara.
__ADS_1
"Saa aee loo gentong mineral."
"Ahhhh ****** marmut."
"Raja buciners."
"Apalagi sebutannya,. hehhehe gih lanjut doanya sayang." ucap BG saat sang tunangan terdiam sambil memandangnya tajam.
"Mampus dah kalau biniknya ngambek."
Buggghh, BG menggeplak bahu Kevin saat menyahutinya.
"Semoga kedepannya, engkau selalu memberikan rizky yang lancar, kesehatan dan selalu dalam lindungan dan pertolonganmu. Amienn." lanjut Abel menyelesaikan doa bersamanya.
"Bell kurang satu doanya." potong Devan.
"Apaa."
"Didekatkan jodohnya belum." jawab Devan.
"Jodoh gue depan mata." jawab BG tegas.
"GUE juga udah punya."
"Gue ada dirumah." sahut Adit.
"Sapa loe yang dirumah."
"My mother. My first love." jawab Adit.
"Gak boleh nikahin ibu sendiri." potong Nayla.
"Yang mau nikahin emak gue sapa."
"Loe begok gak ada obat, disini lagi bahas jodoh."
"Dahh lah, lagian ini bukan doa ultah yang mintak jodoh." potong Airin menengahi pergulatan kata tiada akhir.
"Ya Alloh turunkan lah jodoh hambah yang seperti Arabella atau bahkan Arabellanya aja juga tak apa." ucap Devan.
"Sebelum doa loe dikabulkan udah gue sleding duluan tengah jalan." potong BG.
"Yuuk maem yukk." sela Abel sambil menyuapkan nasi ke mulut sang Bagaskara agar tak berbicara terus.
Makan siang bersama duduk melingkar berhadapan, sepertinya membuat suasananya semakin menghangat.
Inilah kebersamaan mereka, susah senang bersama, bukti suatu hubungan pertemanan yang positif.
Tak butuh tempat mewah, cukup dengan kebersamaan ini tercetak senyum disemua wajah yang berada ditempat ini.
"Kemesraan ini jangan lah cepat berlalu, kemesraan iniiii ingin ku kenang selalu."
"Inget yahh guys entar kalau udah lulus, tempat ini dulunya kita pernah jatuh tercebur." ucap BG ngobrol santai setelah maksi.
"Tercelup."
"Kelelep."
"Terombang-ambing."
"Teroboh -roboh."
"Yaah itu semua kelak harus kita ingat buat cerita anak-anak kita nanti. Agar bisa memotivasi mereka untuk melanjutkan cerita masa depan." lanjut BG.
"Besanan dong Gas." sahut Riki.
"Biar garis hidup yang menentukan." jawab BG, Abel tersenyum mendengar jawabannya karena BG nyata bukan pimpinan yang diktator.
"Hahhh jadi cepet-cepet pengen lepas kejombloan hakiki dah." ceplos Kevin.
"Gihh cari."
"On my way."
Setelah bersantai menikmati alam, rombongan pun memasuki bus untuk segera kembali pulang. Meskipun tak lama namun kata cukup berkesan telah dapat mereka ungkap. Mengingat esok ujian menanti BG pun memperkirakan agar liburan ini tak menggangu mereka belajar untuk menghadapi ujian nanti.
"Sini kalau ngantuk." Abel menepuk pundaknya agar BG merebahkan kepalanya.
"Nanti kamu capek sayang, mending gini aja." jawab BG lalu menurunkan sudut kursi menjadi setengah duduk agar bisa berselonjoran. Tak lupa BG menautkan jemarinya pada Abel seolah tak ingin terpisah.
__ADS_1
Hampir semuanya terpejam selama perjalanan pulang, hanya beberapa yang terjaga termasuk Abel yang mencoba memejamkan matanya namun kantuk tak kunjung datang. Abel memilih melihat movie di layar bus yang diputar oleh teman-temannya.