Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Terjebak


__ADS_3

Hari-hari berlalu setelah acara makan-makan syukuran ulang tahun Abel beberapa saat yang lalu kini Abel memulai aktivitas seharinya. Metta pun kabarnya sudah keluar dan hanya tinggal rawat jalan. Menjadi senior bagi Abel tak ada beda dengan masa-masa sebelumnya. Hanya saja dia akan disibukkan dengan persiapan Ujian Negara.


Hari ini ada praktikum kimia dan diadakan di Aula besar karena kegiatan ini akan menyatukan seluruh kelas IPA khususnya kelas dua belas. Masing-masing kelas akan mengeluarkan perwakilan untuk presentasi. Dikelas Abel sudah membuat modul dan siap ditampilkan saat presentasi nanti.


"Baiklah anak-anak karena sudah seminggu persiapan, sekarang waktunya persentasi yahh, dimulai dari IPA1 okey. Silahkan perwakilannya siapa." ucap pak Atma guru Kimia kelas tiga.


Nampak Abel dan Airin tengah berjalan menuju meja persentasi.


"Tolong jangan Arabella, lainnya bisa." ucap pak Atma.


"Lahh kenapa pak."


"Ckkk si bapak mah."


"Yeee kagak bisa pak, si Abel yang paling fasih urusan ginian."


Mendengar ucapan dari gurunya Abel tersenyum, karena nampaknya sang guru hanya menggoda teman-temannya.


Reaksi Pengendapan Golongan Alkali Tanah, dan Reaksi Nyala Golongan Alkali adalah tema kelas Abel. Airin tengah menyiapkan alat-alat berupa tabung glass dan reagen sehingga saat presentasi mereka dapat lancar tanpa kendala.


"Garam-garam logam alkali tanah kebanyakan sukar larut dalam air. Garam klorida dan garam nitratnya larut dalam air namun senyawanya dengan ion yang bermuatan negatif lebih dari satu seperti sulfat, karbonat, kromat, oksalat dan lainnya sukar larut dalam air." papar Abel singkat.


"Pertama siapkan kedalam 4 tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan 5 ml larutan MgSO4, CaCl2, SrCl2 dan BaCl2.


Lalu tambahkan 5 ml larutan NaOH kedalam tiap tabung reaksi tersebut. Amati yang terjadi dan catat dalam tabel pengamatan." lanjut Abel, nampak Airin pun melakukan yang Abel perintahkan.


Didalam proyektor Abel sudah menampilkan bebera hasil kerja mereka yang sudah dibuat sebelumnya lalu dicocokkan dengan hasil praktikum sekarang.


"Dari hasil kerja ini diharapkan Siswa mampu menentukan sifat kelarutan dan mengidentifikasi unsur dalam garam alkali dan alkali tanah melalui reaksi nyala." Jelas Abel sambil menunjukkan hasil praktikum yang dibuat Airin.


"Jadi jelas yahh anak-anak untuk tema Alkali tanah kali ini, untuk larutannya sebagian dari kelas IPA1 yang mendapatkan, karena dilaboratorium kita hanya tersedia terbatas. Selanjutnya dari kelas IPA 2." ucap pak Atma dan bergiliran untuk kelas selanjutnya.


Kelas selanjutnya mereka mempraktekan indentifikasi kadar HCL pada produk rumah tangga. Termasuk H2SO4 atau air keras, dipraktikum ini tergolong berbahaya.


Abel nampak jeli mengamati presentasi dari temannya. Tiba giliran kelas IPA3 dari kelas Dekka, dia maju bersama teman laki-laki.


Tanpa sadar Abel mengamati setiap pergerakan Dekka. Abel mengernyit bekas meja praktikum kelas sebelumnya terdapat tumpahan yang menggenang. Dekka sebagai siswa perempuan sigap membersihkan dengan beberapa lembar tissue. Tak sadar ternyata justru tumpahan itu merupakan jenis air keras dengan persentase mendekati 80%.


Abel berlari kearah Dekka yang nampak kebingungan.


"Stopp." teriakan Abel menggema, dia sudah menarik tangan Dekka yang tanpa sengaja menyentuh cairan ditissue tadi.


Dekka menjatuhkan Tissue seolah sadar dengan teriakan Abel, bahkan membuat BG bereaksi melihat Abel berlarian.


"Tolong cari pengganti Dekka." ucap Abel pada teman Dekka, dan segera diisi dengan teman lainya.


"Dekka kenapa."


"Ehh ada apaan sihh."


"Ada apa Arabella." potong pak Atma lalu menunjukkan telapak tangan Dekka memerah.


"ada tumpahan H2SO4 pak, minta tolong dibersihkan dulu takut kena lainnya." jawab Abel, pak guru pun mendatangi meja praktikum. Benar saja meja itu nampak masih belum dibersihkan oleh kelas sebelumnya.


Melihat Abel menggeret Dekka yang masih belum sadar apa yang terjadi, Riki mendekatinya. Abel membawa ketempat yang ada keran air diaula agar luka Dekka segera tertangani.


"Bell." panggil Riki, Abel hanya menoleh karena dia tengah menggobati Dekka.


Tak lama Abel bersuara.


"Tolong belikan kasa steril dan salep yah Rik, jika perlu 2box." ucap Abel, tanpa banyak tanya Riki pun pergi.


"Kenapa ini baby." tanya BG, sadar sang tunangan pun menghampirinya Abel tersenyum.


"Insiden kecil, kena HCL." jawab Abel, HCL adalah senyawa basa yang memiliki kadar rendah.


"Cuma HCL kok sampek kek gini Bell." celetuk salah satu teman sekelas Dekka.


"Syuuut udah yahh jangan diributin liat Dekka masih syok, entar kalau aku bilang dia malah tambah syok." jelas Abel, menunjukkan Dekka yang masih merenung.


"Loe kenapa dah Dekk." ceplos BG.


"Sayang." ucap lirih Abel karena mereka pun kini banyak yang memperhatikan.


"Baik terima kasih IPA3 sudah persentasi, walau sebelumnya ada insiden untungnya tidak mempengaruhi kalian." ucap pak Atma.


"Memangnya insiden apa pak." tanya seseorang dari kelas IPA2.


"Ohhh teman kalian Dekka terkena H2SO4 sisa kerjaan temenmu." jawab pak Atma santai.


"Hahhhhh."


"Gilakkk."


"Untung si Abel gercep."


"Hayooo lohh IPA2."


"Air keras baby." tanya BG lirih, Abel mengangguk.


"Huaaaaaaa.." teriak Dekka, yang tiba-tiba meraung-raung.


"Aduhhh nihh anak kesambet." celetuk BG.


"Heyyy.. heyy kenapa." ucap Riki yang baru saja sampai dan memberikan pesanan Abel.


"Tanganku Ru-rusaakk." jawab Dekka terisak, Abel mengoleskan salep lalu menutupnya dengan Kasa steril.


"Syuut enggak, rusak pun aku masih sayang kok." ucap Riki sambil mengusap punggung Dekka, dia pun berangsur menghentikan tangisannya.


"Gue kira kesambet nihh bocah." ucap BG.


"Ada aja loe." jawab Riki.


"Coba aja kalau ada Kevin, abis nihh anak digodain." celoteh BG, tak henti-hentinya menggoda Dekka.


"Kalau aku yang nangis apa kamu masih bisa godain, hahhh." ucap Abel, seketika sang Bagaskara kicep.


"Kelas kita persentasi loe nya ngoceh disini." ucap Riki pada BG.


"Baby aku tampil dulu yahh." pamit BG, karena tiba gilirannya maju dengan tema Elektrokimia.


Abel masih sibuk membebat kedua telapak tangan Dekka. Sudah bisa dipastikan aktivitas Dekka pun mau tak mau harus dibantu.


Seperti sekarang mereka berada dikantin, karena tak cukup tempat membuat mereka duduk berdempetan. Bahkan BG pun duduk tepat dibelakang Abel, sama halnya Riki sembari menyuapi Dekka yang tidak bisa makan sendiri.


"Masih terasa panas Bell, padahal tadi gak kerasa." ucap lirih Dekka.


"Aku konsul bang Adam dehh." jawab Abel, lalu menyambungkan panggilan pada dokter tersayangnya.


"Hallo bang."


"Hallo sayank." jawab dokter Adam.


"Hemmb." Abel bergumam mendengar sang dokter yang kelewat genit.


"Ada apa adek abang tersayang."

__ADS_1


"mau tanya kalau kena air keras biar gak sakit apa perlu pereda nyeri."


"Kamu kena air keras dek."


"Bukan Abel bang."


"Cobak nanti fotokan sudah dikasih obat apa saja, baru abang bisa jawab."


"Okeyy wait for minute, bye."


Abel memutuskan sepihak lalu mengirimkan foto dengan segera. Tak lama sang dokter membalasnya.


"Dekk kamu ada pereda nyeri."


"Ada mungkin parasetamol." jawab Dekka.


"It's not enough." balas Abel.


"Kamu ada persediaan baby." sahut BG.


"Nanti mampir kelasku, ehh jangan ding kalau bisa sekarang kata dr.Adam kalau bisa pas terasa nyeri biar gak berkepanjangan. Takut kamu radang jadi demam." jelas Abel.


"Ambil gihh Rik ditas Abel ada pouch pink." ucap BG, Riki mengangguk segera berlalu.


Sementara itu setiba dikelas Abel Riki langsung menuju meja Abel, sebelumnya dia menyapa teman Abel yang berada dikelas.


"Guyss mo ambil obat Abel, permisi yakk." ucap Riki.


"Yooooi."


"Wokeey."


Setelah mendapati pouch yang dimaksud, Riki membawanya kepada pemilik barangnya dan memberikan pada Abel.


"Gihh buru minum." ucap Abel memberikan beberapa tablet pereda nyeri.


"Ini kalau pas nyeri aja yah Dekk." lanjut Abel.


"Astogeee kenapa loe Dekk." ceplos Kevin yang baru sampai di kantin.


"Jadi begini, jigong Riki beracun yahh." timpal Wira.


"Kenapa sampai jigong sihh." tanya Abel polos, sementara yang lainnya cengo mendengar ucapan Abel.


"Gas, binik loe kagak bisa diajak becanda sumpah."


"Hee,embb polosnya kebangetan."


Tuuukk.. BG menjitak pelan Wira.


"Lahhh kok dijitak gue."


"Awas aja sampek loe ngomong sarkas didepan Abel." jawab BG membuat kedua sahabatnya itu garuk-garuk kepala, benar saja bahkan jika BG ketahuan pun tak segan Abel memperingati.


"Ehehehhh."


"Trus loe kenapa nihh Dekk." tanya Kevin lagi.


"Kenak larutan kimia dia." jawab Riki.


"Larutan apa sampek dibungkus kek gini." celetuk Wira.


"Loe mau si Abel yang jawab nihh." sahut Riki.


"Taukkk, udah dibilang larutan kimia situ IPS, takut kagak tau." jawab Cindy santai.


"Ahhhhkk, emang loe berdua."


"Ehh seriusan nihh, senapsaran gue. Kalau bisa gue tebak kenak air keras yahh." cecar Kevin, Dekka pun mengangguk.


"Wahhh alamat jelek tangan loe Dekk."


Buggghhh.. sebuah geprakan mendarat di pundak Wira.


"Aduhh ya ampunn, dapet lagi gue Vin. Sakit yang." ucap Wira pada Cindy yang sudah memukulnya.


"Habisnya tuhh mulut jahat banget, jadi kalau aku yang kena kamu bakalan ninggalin aku gitu hahh." sungut Cindy, pada Wira yang nyatanya mereka sudah officially.


"Yaahh enggak dong, mana berani ninggalin aku." jawab Wira.


"Hahhhahh rasain loe."


"Mampus loe Wir, mamam tuhh."


"Hahahhahaha."


BG hanya tertawa melihat Wira menjadi samsak Cindy, para sahabatnya itu tengah terperangkap oleh cintanya menyusul jejaknya bersama Abel.


"Gue mikir si Wira gak bisa lepas game online, si Cindy Novel sama belanja Online trus kalau pas ngedate mereka kek gimana." celoteh Kevin.


"Yahh kalau kencan gak mungkin pada sibuk hapean begok."


"Jangan dibayangin." ucap BG melihat Abel tengah memikirkan ucapan Kevin.


Abel menoleh merasa tertangkap basah tengah menanggapi serius apa yang dikatakan Kevin. Abel tersenyum pada BG.


"Udah gue bilang juga, si Abel gak bisa diajak becanda." sahut Kevin, diamini oleh yang lainnya. BG pun mengusap kepala Abel dengan lembut.


"Otaknya sering diajak traveling dehh Gas, biar gak serius mulu kasihan."


"Baby mau liburan." tanya BG.


"Yaa jangan sekarang dong." potong Dekka, membuat semuanya menoleh kearahnya.


"Kenapa."


"Laahh napa."


"Kan jadinya gue gak bisa ikut." jawab Dekka sambil mengacungkan kedua tangannya yang dibungkus kasa.


"Ahahhahah."


"Itu derita loe Dekk."


"Yang diajak Abel napa loe nyaut Maimunah." ceplos Wira.


Menyebut Maimunah, mereka pun berubah sendu mengingat juru slogan Maimunah si Mettana yang masih belum bisa bersama-sama dengan mereka.


"Ehh gimana kabar Metta yahh."


"Jadi kangen kan."


"Iyaa gak ada yang loe usilin."


"Habis ini ingat yahh, dia punya kelemahan."


"Iyaa, kita harus ingetin soalnya rada batu."

__ADS_1


"Enggak batu doang dia, udah bebal banget."


"Nahh kan jadi keinget." sahut Abel lemah, BG pun segera mengalihkan pembicaraan agar tak lanjut ke ranah drama kolosal.


Saat berjalan menuju kelas masing-masing sekembalinya dari kantin, BG menggenggam tangan Abel. Seolah menunjukkan hubungan mereka, Abel pun hanya mengikuti langkah sang tunangan.


*


Keesokan harinya Mading digemparkan dengan beberapa foto yang ditempel dengan niat menjatuhkan nama seorang Arabella.




Foto Abel tengah bersama seorang lelaki, dari spot diambil nampak seperti orang tak dikenal.




Abel duduk bersama dengan Riki, dari angel pengambilan gambar seolah dia bermesraan, nyatanya disitu ada BG dan yang lainnya.




Foto Abel tengah bersama Steven dan banyak, padahal foto itu sengaja dicrop untuk menampilkan Abel tengah bersama pria lain.




Abel bersama dengan pria dalam satu mobil, yang tak lain adalah sang ajudan dengan pakaian kasual.




Abel diduga menghancurkan hubungan BG dengan seseorang.




Abel diduga memiliki anak karena tengah menggendong bayi, yang tidak lain adalah Arkana.




Dan sebuah Artikel menyebutkan jika seorang putri pejabat, memiliki kelakuan yang mengarah ke kenakalan remaja. Bagaimana bisa anak jendral memiliki seorang anak diluar nikah.


BG sudah mendapat informasi, bahkan dari foto-foto yang sudah disebar itu BG mengenali semua sosoknya. Airin cukup emosi mendapati berita ini, dia menjadikan Steven bulan-bulanan. Steven bergerak mencari tahu siapa yang menerbitkan mading tanpa mengklarifikasi.


"Yang jelas ini bukan anak mading, Steve."


"Kita bahkan belum terbitin edisi minggu ini loe tau juga media kita."


"Lagian nihh gak mungkin juga kita terbitin berita gak penting gini."


"Okeyy, gue percaya sekarang gimana caranya kita clearin masalah ini sebelum pihak kak Abel nerjunin Ajudannya bisa mampus kita." ucap Reymon teman Steven.


"Gue percaya kinerja kalian segera klarifikasi, keluarkan memo." sahut Steven.


Disaat Airin dan seluruh anggota OSIS dan Mading dibuat kalang kabut dengan pemberitaan Abel, tidak dengan Abel dia tetap santai. Dilihat dari cara posting dan editannya bisa dipastikan ini fitnah besar dan 100% berita bohong.


Tanpa mereka ketahui Abel sudah memberitahukan kepada sang ajudan untuk menyelidiki pelakunya. Bahkan dari CCTV sudah BG periksa dari angel manapun tidak bisa mengidentifikasi pelakunya.


"Baby, kenapa kamu santai sekali." tanya BG.


"Kan sudah ada kamu yang selidiki, lagian asal kamu percaya kalau aku gak gitu. ehmmm it's just enough."


"Aku usahain."


"Kamu enggak curiga dengan seseorang gitu." tanya Abel, nampak BG pun sedikit berfikir.


"Just 1 name. Tapi kita harus punya buktinya."


"I'm Done." ucap Abel santai.


"Dev, minta tolong kasih tau Steve suruh kesini dong, kalau aku nyamperin dia nanti jadi berita lagi." ucap Abel.


"Gue hermann deh kenape loe senyantai ini." sahut Devan.


"Buruan Dev."


"Iyeee.. iyee." jawab Devan lalu dia pergi.


Tak lama Devan kembali bersama Steven dan Reymon.


"Kak." ucap Steven pada Abel dan BG.


"Hai kak Abel, kakak yang lainnya." sapa Reymon, Abel menghindari kontak fisik dengan lawan jenis.


"Silahkan." sahut Abel sambil tersenyum.


Dalam forum ini Abel hanya melibatkan Steve dan temannya dari pihak luar, teman sekelas Abel pun seluruhnya sanggup membantu.


"Tolong Amankan barang bukti. Bila perlu sekarang bawa kesini. Ingat pake sapu tangan atau kain untuk membawanya. Jika sudah tersentuh tolong jujur siapa saja yang telah menyentuhnya."


Glekkkk..


Deg.. Deg.. deg


"Ini serius Bell." tanya Devan.


"Serius Dev. Jadi Steve sudah bisa bergerak." ucap Abel.


"Loe telp anak mading aja Steve." ucap Reymon.


"Ingat jangan langsung sentuh, dan data siapa saja yang sudah menyentuhnya." jelas Abel kembali.


"Identifikasi sidik jari Bell."


"Kamu melibatkan Timsus Baby."


Dan dari semua pertanyaan sudah bisa tertebak.


"Berapa Team loe libatkan Bell."


"1 kompi bila perlu." jawab Abel santai, namun mereka yang disana sudah membayangkannya.


"Gak main-main ini mah."


"Abel udah peringati sedari lama juga kagak ada kapoknya." sahut Fransiska menanggapi celetukan teman-temannya.


"This my justice team for Arabella." ucap Abel, dan setelah BB aman beserta data yang telah menyentuhnya agar menjadi mereka aman jika data sidik jari masuk nanti.

__ADS_1


__ADS_2