
Bugghhhh bughhh
"Kenapa gue dikacanginnnnn."
Teriakan itu menggema saat mereka hendak keluar dari kafe. Sedetik, dua detik Abel masih terkejut bahkan hampir tak percaya keberadaannya.
"Kenapa susah sekali hubungin kamu." ucap Airin yang tidak ada yang menyangka gadis itu datang tiba-tiba.
"Sehat Loe Ai."
"udah disini ajah nihh mantan ketos."
"Ai, ini elo." celetuk Dekka.
"bukan anak sapi."
"Ohh pantesan bau susu."
Bughhhh..
"Ya ampun pulang-pulang galak." ramai celetukan dari yang lain tidak membuat Angga bergeming, dia masih betah memandang sosok yang sudah dirindukan.
"Syuuutt udah Jang brisik jadi tontonan lohh kita." sergah Abel menghentikan aksi perngambekan, karena dia juga merasa bersalah sampai tak tahu jika Airin pulang.
Tak ada rasa canggung Airin saat ini, sepertinya dia belum sadar ada Angga disana.
"Ini udahan ngumpulnya." tanya Airin karena Abel dkk sudah terlihat akan meninggalkan kafe.
"Kita mau ke rumah sakit Devan udah sadar." jawab Dekka, seketika Airin manyun.
"Kenapa ai."
"Aku laper." ucap Airin dan detik itu juga dia bertemu pandang dengan Angga, sedari tadi ia memandang sekeliling hanya bertujuan untuk mencari keberadaannya.
"Kalian berangkat aja dulu, biar gue temenin Airin makan." ucap Angga paham, melihat Airin seperti butuh asupan makan.
Abel dan yang lain saling pandang namun Dekka menyadarkan padanya agar memberi ruang untuk mereka berdua saat ini. Bukannya Abel tak tau namun Abel hanya tak ingin membuat Airin merasa tak nyaman bersama Angga karena ini pertemuan pertama mereka sejak saat itu.
"Ayook, ibu Devan udah nunggu."
"Ehhhm gue."
"Udah makan aja dulu habis itu nyusul kita." ucap BG lalu menggenggam tangan Abel dan membawanya menuju kendaraan.
"Apa nggak apa kita ninggalin Ai sama Angga." ucap Abel pada BG karena merasa tak enak pada Airin.
__ADS_1
"Biar mereka selesaikan masalah mereka dulu baby, kasihan juga dah lama gak ketemu kan."
Abel memang tau rasanya memendam kerinduan, tapi juga takut jika Airin masih belum menerima Angga.
Sementara itu di kafe Airin dan Angga masih betah diam-diam an. Airin yang masih enggan bicara dengan Angga, Angga yang memang sosok kulkas dua pintu masih mau melepas rasa rindunya selama ini.
Memandang wajah ayu Airin dalam diam, membuat Airin akhirnya kalah dalam lomba membisunya.
"Apa kabar Loe."
"Hemm, baik."
"Syukurlah." jawab Airin singkat membuat Angga menaikan satu alisnya.
"Sampai kapan pulang."
"Heumm, mungkin cuma dua hari ajah."
Angga mengangguk setidaknya obrolan mereka sudah tak kaku lagi walau masih ada rasa canggung. Inginnya Angga memeluk gadis itu namun apalah dayanya yang harus menahan keinginan nya.
"Kenapa sih dilihatin Mulu."
"Gapapa kan udah lama gak bisa mandangin kamu." jawaban Angga sungguh membuat Airin terharu, lelaki didepannya ini sudah melalui banyak cobaan, sayangnya dia sudah terlalu banyak berfikiran buruk sebelumnya.
"Enggak ada yang harus minta maaf dan dimaafin."
"Kenapa."
"Ya karena gak ada yang salah dan gak ada yang harus merasa bersalah. Hanya moment aja yang tak berpihak." jelas Angga walaupun seharusnya tanpa adanya permasalahan dihidupnya mungkin Airin akan selalu bersama dengannya.
"Kamu mau kita melanjutkan hubungan kita." lanjut Angga.
"Hubungan apa."
"Yah memperjelas hubungan kita Ai, meskipun aku masih memperbaiki perekonomian, aku harap kamu jangan lagi hindarin aku." jelas Angga.
"Kamu fokus ke mama kamu dulu aja, aku nggak papa kok, lagian kita masih tinggal berjauhan, kita ikuti arus yang mengalir aja." jawab Airin, karena sementara waktu mereka masih terpisah karena Airin masih menjalani pendidikan si negara sebelah.
Angga pasrah walaupun saat ini mereka masih belum memiliki kejelasan hubungan, tapi Angga tetap berkomitmen untuk menunggu Airin. Setidaknya kini ada cara untuk memperbaiki hubungan mereka setelah lama berpisah.
Dirumah sakit
Sementara itu ditempat dimana Devan dirawat dan dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. BG menyiapkan kamar VIP yang hanya berisi Pasien dan tempat tidur untuk penunggu, setidaknya BG memberikan kenyamanan disaat keluarga ataupun sahabatnya menunggu Devan.
"Van Loe ingat gue." tanya Dekka, karena sedari dia dipindahkan dari ruang ICU Devan sangat tak kooperatif.
__ADS_1
"Van you okey."
"Nak bilang ibu mana yang sakit."
"Bagaimana dokter apa ada benturan yang menyebabkan Devan tak bisa bicara." tanya BG, karena segala usaha sudah mereka lakukan agar Devan mau mengeluarkan satu kata.
"Dari hasil CT scan dan MRI semua aman mas Bagas, tapi dengan kondisi dilapangan seperti saat ini kita harus cek ulang." jelas dokter.
Diruangan itu sudah ada Riki, Kevin, BG, Abel, Dekka dan Wira. Sedangkan Cindy menemani Dania.
"Dev, kamu ingat Abel kan. Kalau ingat kedipkan mata kamu." ucap Arabella merayu Devan, tak lama Devan berkedip tanda dia mau merespon Abel.
"Syukurlah saya rasa tidak ada cedera kerusakan di otak seperti mengalami amnesia dan sebagainya. Saya kira tugas mas Bagas dan teman-temannya untuk mencoba agar dia mau bicara." jelas dokter yang merawat Devan, BG dan yang lain mengangguk.
Ibu Devan tak henti menangisi putra sulungnya membuat Abel dan yang lain tak tega. Tak lama kedatangan Airin dan Angga masuk keruang rawat Devan.
"Ada apa." tanya Angga melihat suasana sendu diruangan ini, akhirnya BG menjelaskan perihal Devan yang masih enggan bicara.
"Mungkin saja pita suaranya masih bengkak."
Sreett bughhh dugghh.
"Sial banget jauh-jauh dari Aussie gak disambut." sembur Airin bertujuan menyindir Devan.
"Heeeh, dayang ku bangun nggak Loe.. Jang makan gaji buta Loe tiduran mulu." lanjutnya Devan tetap bungkam namun ada setitik bulir air mata disudut matanya.
Abel mendekat kearah mereka berdua sama dengan Airin dia menggeser kursi ke bed sebelah Devan.
"Aku juga bingung Ai, besok-besok kalok berantem sama Bagas aku kaburnya kemana kalau gak ada Devan." ucap Abel, sedang BG hanya menghela nafas bisa-bisanya gadis itu mengatakan hal tak seharusnya. Tapi memang Devan lah tempat Abel berhenti disaat ia berjalan tak ada arah saat ada masalah dengannya.
"Bbelll." desis Devan bergetar, bahkan air matanya sudah menganak sungai. Airin pun langsung berhambur mendekap Devan setelah Devan tak lagi menahan beban dipikirannya.
"Dev, hiks." Abel pun ikut bergabung Airin mendekap Devan, mereka menyalurkan rasa kalutnya bersama.
Untuk saat ini BG dan Angga harus rela membiarkan gadisnya dipelukan Devan si raja jail nan aleman.
"Kamu gak mau ikut Abel sama Airin juga." sindir Riki pada Dekka yang diam-diam ikut terharu dengan ketiga orang yang saling berpelukan.
"Udah gak muat. Hu hu huhhh."
Sembari nunggu AGC update yukk mampir di Judul meenthor yang lain.. Thanks for reading..🤗
__ADS_1