
Dua hari berlalu setelah pertandingan semifinal melawan SMA Starlight, kini saatnya tim BG berhadapan dengan Juara bertahan di babak Final Basketball competition Bupati Cup. Didepan sekolah Airin menggelar spanduk besar untuk menyambut kedatangan tamu dari berbagai SMA untuk menyaksikan pertandingan laga Final ini.
Semuanya sudah dipersiapkan matang oleh Airin dan para anggota OSIS yang bekerja hanya dua hari persiapan. Sekolah sungguh sangat excited menyambut momentum ini, mendukung semua yang Airin dan OSIS rancang.
Sedangkan Abel bertugas untuk memantau BG dan Team saat latihan, hanya memantau dipinggir lapangan.
Abel sudah mengumpulkan beberapa teknik dan strategi permainan dari Labschool yang diupload di akun SMA Labschool namun itupun bukan menjadi patokan Abel.
"Guys All you ready today." ucap Airin kepada anggotanya.
"Readyyy."
"Semoga kita mendapatkan yang terbaik, sambut hari ini dengan ceria." lanjut Airin.
"Amiiinnn."
"Amieennn yaa Alloh."
"Minimal menang lahh."
"Trus maksimalnye ape."
"Maksimalnya juaraaa, hahahahh."
"Hahahha, maksa anjirrr."
"Sapaa yang maksa, nohh baby Abel aja targetnya menang."
"lahhiyaaa."
"Jadiii kita ngikut queen bae."
Percakapan para anggota OSIS, membuat Airin pun semakin bersemangat.
Dilapangan nampak tim BG sudah bersiap ada yang pemanasan ada yang masih santai, bahkan ada yang masih sibuk mengunyah."
Sedangkan Abel dan BG masih sibuk mempelajari pergerakan lawan dari beberapa pertandingan milik tim basket SMA Labschool.
"Inii baby, mereka sering kek gini." ucap BG sambil menunjuk i-pad Abel yang menampilkan video pertandingan tim lawan.
"Yess, i noted it. Sepertinya khas pelatih mereka." jawab Abel tanpa berpaling dari video.
"Nanti kalau aku juara baby mau minta apa." tanya BG, membuat Abel menoleh seketika.
"Fix you must give me holiday packages."
"Ho..hoo just it, its easy for me. Okay mau kemana tujuannya."
"Nanti my captain, belum kepikir." jawab Abel.
"Hemmm, okay." sahut BG lalu dia merapatkan badannya pada Abel, meletakkan kepalanya dipundak Abel sambil melihat video..
"Sayank berat ihhh."
"Bentar lagi."
"Kamu gak pemanasan dulu." tanya Abel.
"Bentar lagi okey."
"Hehh kok bentar-bentar mulu. Gabung yang lain sana."
"One minute."
"God, my captain you are sooooo."
"Hemmm." potong BG menggumam.
"Ahh elaahh kapten gue gini amat yahh." celetuk Devan menghampiri BG dan Abel.
BG yang mendapati para pemain teamnya mendekat pun segera mensejajarkan badannya.
"Ganggu." desis BG.
"Gue gebuk yahh." sahut Devan.
"Ohh berani."
"Ehh enggak, heheh gila aja bisa berkurang uang jajan." sahut Devan menyengir kuda.
"Mereka udah masuk." ucap Angga setelah bergabung.
"here we go, mari kita sambut tamu kita." celetuk Devan.
"Apa perintah bu kapten hari ini." tanya Riki.
Abel menoleh kearah BG begitu sebaliknya.
"Hehhh, malah saling pandang."
"Capt tahan dulu okeyy, kerja dulu."
"Yuhuuu, kita-kita masih disini nihh."
"Jomblowerss brisik." ucap lirih BG.
"Hemmm." gumam Abel sambil menatap tajam sang kapten basket.
"Gini guys aku sama kapten udah catat pergerakan lawan, namun ini gak jadi patokan okehh." Ucap Abel lalu memberikan catatan pada para pemain.
Para anggota pemain basket yang dikapteni oleh Bagaskara pun sibuk mempelajari noted yang sudah dibuat oleh asisten coach dadakan.
"Boys, jangan berpatokan dengan pertandingan sebelumnya okey, kita wajib mengembangkan skill kita lagi." ucap BG pada anggotanya.
"Siapp capt."
"Sesi satu siapa yang in." tanya BG pada Abel.
"Hahh kok aku, kapten lah yang nentuin masuk."
"Kamu asisten coach remember." balas BG.
"You my captain."
Sementara para pemain basket yang berada disana saling berpandang menyaksikan perdebatan dua insan itu.
"Ini begimana sihh."
"Hahhhhh."
"Hellloooow.."
"Hemmmb, baiklah Angga, Riki, Orlando, Gesta in. Ges, keluarkan semua bakatmu ini kesempatan banget. Tim lawan agak berat mengingat mereka juara bertahan. Gue pastikan mereka gak akan biarkan kita cetak point." ujar BG.
"Next kamu yang bertugas atur in out baby." lanjut sang kapten, Abel pun mengangguki.
"Semangat guys." ucap Abel pada para team basket saat mereka akan melakukan latihan.
Ada waktu 30 menit untuk persiapan, Abel memilih untuk menemui para suporter dan Airin.
"Bell, look at this." ucap Airin lalu menunjukkan letak kamera yang sudah dipasang oleh anggota OSIS.
Atas permintaan Abel, Airin meletakkan beberapa kamera guna untuk dokumentasi sekaligus sebagai alat pantau Abel. Semua rekaman akan terpampang dilayar proyeksi yang sudah disiapkan oleh OSIS.
"Hemmmb, nice."
__ADS_1
"Coba yahh Bell, loe kesitu." ucap David bagian dokumenter, Abel pun menuruti perintahnya.
Dari posisi Abel berdiri David menyorot dan menampilkan dilayar proyeksi yang berukuran besar. Tampilnya Abel dilayar menarik atensi dari penonton bahkan para pemain dari Labschool.
"Huaaaa."
"Gilakkk bening."
"Suit-suitttt."
"Ehh sapa tuh cantik mampus."
Mendengar gemuruhnya stadion sampai ke telinga sang Bagaskara, betapa terkejutnya dia ada wajah tunangannya segitu jelasnya. BG menoleh kearah tempat dimana keberadaan Abel.
"Bisa mampus tuh si David." ceplos Devan.
"Anjirrr, berani banget uji coba pake Abel." sahut Kevin.
"Shitttt." teriak BG tak terima Abel tampil dimuka umum.
"Nahhh..nah pawangnya ngamuk." ucap Orlando melihat BG sudah berlari menuju Abel.
"Okeyy yah Bell." tanya David.
"Nice, kamu coba kamera lain yahh. terutama yang di tribun shoot ke tengah lapang....an" ucap Abel terpotong karena terkejut ada yang menariknya.
"Ada apa ini." tanya BG bahkan Airin David dan anggota OSIS lainnya pun kaget dikala BG menghampirinya.
"Nyobain kamera, kenapa." jawab Abel, tak tahu saja BG sudah seperti kebakaran jenggot.
"Bisa tidak bukan wajahmu yang ditampilin."
"Haaaahhh." Ucap Airin dan Abel kompak, sedangkan David pun bingung dengan ucapan dari BG.
Sementara itu para anggota basket team BG tertawa melihat kelakuan sang kapten yang terlalu cemburu, Abel jadi bahan perbincangan kaum adam.
"Airin kamu kalau mau nyobain kamera figuran nya jangan Abel please." jelas BG.
"Ohhhh, ya.. ya. ya." jawab Abel paham dengan sikap BG, lalu menariknya meninggalkan Airin.
"Lanjutkan Ai." ucap Abel lalu berpamitan.
"Kameramen please kalau loe nyorot Abel enggak lebih dari 10 detik." pesan BG.
Gleeekk, David menelan ludah mendapat peringatan dari kapten basket sekolahnya itu.
"Gilakkk si Bagas serem ternyata." ucap David pada Airin.
"Yess, dia pecemburu akut. Buciners hahhahah." sahut Airin.
Abel menggiring BG kearah lapangan supaya tak membuat onar dengan sifat pecemburunya itu.
"Hahahhah, gimana Bell aman nggak tuhh jantung."
"Si Abel di laminating aja Gas biar gampang rusak."
"Karungin ajah buruu."
"Brisikkk." jawab BG
"Buahahahhahh."
"Ahhh elahh si Bucin." celetuk Riki.
"Tunggu Rik, kelar main, gue habisin loe." jawab BG.
"Weitsss santuyy."
Abel geleng-geleng kepala melihat perdebatan para lelaki itu menggoda sang tunangan.
"Udah debatnya." tanya Abel.
"Good boys, then continue warming up." titah Abel.
Seperti kucing yang menurut pada induknya, mereka pun melanjutkan pemanasan. Abel tak akan pernah mencoba meninggalkan station, takut kalau BG berulah lagi.
Ditempat lain para pemain dari SMA Labschool yang kini juga sedang melakukan pemanasan.
"Guys yang barusan dari TUNAS KELAPA."
"Yess itu berliannya SMA ini kalau gak salah."
"Boleh juga TUNAS KELAPA."
"Cantik doang." celetuk kapten team basket Labschool.
"Jangan salah, katanya di akun lambe Starlight tuh cewek pinter, ahli bahasa asing."
"Anak emasnya TUNAS KELAPA anjir."
"Hahhh minuuss." sahut kapten team mereka yang bernama Diego.
"Dia ceweknya kapten team basket Tunas kelapa."
Diego pun menoleh kearah temannya itu, menaikkan alisnya sedikit tertarik dengan ucapan temannya.
"Nihh, IG nya, Arabella namanya anaknya orang penting katanya."
"Gesturnya aja berkelas."
Disaat para temannya membicarakan gadis yang bernama Arabella itu, Diego memilih melanjutkan stalking IG milik Abel.
Bipppp..
Ponsel Abel berbunyi, panggilan dari sang ajudan masuk.
"Ada apa mas."
"Nanti pulang dijemput mamang yah Bell, mas ada tugas dari bapak."
"Baiklah, lihat nanti."
"Yaudahh."
Panggilan berhenti, tepat pemberitahuan akan segera dimulai pertandingan. BG dan team pun sudah menghentikan pemanasan, mereka sedang melipir dilapangan.
Kini Abel tengah berdiskusi dengan pak Sam, menyampaikan beberapa temuannya untuk selanjutnya coach yang mengarahkan.
Abel dan Pak Sam menghampiri BG dan Team, sebagai teamwork mereka saling mengingatkan satu sama lainnya.
"Bapak percaya kalian terbaik, bermain yang kompak jangan berfikir menang kalah fokus untuk menampilkan permainan terbaik kalian."
"Siapp coach."
"Baiklah semoga kita bisa membawa piala, keluarkan semua skill kalian, SMATUKA."
"Jaya."
Selanjutnya mereka pun berdoa bersama.
Round pertama meskipun sedikit alot, hingga menit kedua puluh tim BG unggul tipis. BG merasakan jika para pemain dari Labschool masih menerapkan apa yang ada dividio yang sudah mereka pelajari.
Hanya saja BG merasa mendapatkan lawan sepadan, Kapten team mereka memiliki skill yang bagus, sedangkan anggota team mereka cukup solid.
BG sebagai kapten memutuskan untuk sering mencetak 3 point, keputusan BG akhirnya membawa mereka diposisi unggul sementara.
__ADS_1
Abel memperingati BG saat dia merasakan sang kapten terbawa emosi saat pergerakannya berkurang.
Disesi ketiga round pertama Abel menarik BG saat dia terlibat pertengkaran kecil karena Riki mengalami cedera setelah dilanggar pemain lawan.
Abel mengetatkan penjagaan di akhir round pertama agar tak tertinggal point, Abel memasuk pemain Deff tiga orang.
"what are doing my captain."
"Apaa." ucap BG, nada suaranya sedikit meninggi, dia terlalu emosi. Abel tak tahu pasti kenapa BG sampai seemosi ini.
"Ka-kamu bentak akuuu." ucap Abel terkejut karena suara BG meninggi.
"Tskk, maaf aku gak bermaksud." ucap BG merendah.
"Hikss, ayah bahkan gak pernah begini."
"Shuuuutts sayank, maafin aku." rayu BG semakin tak tahan melihat Abel sudah berderai air mata.
"Bell, Riki." ucap Kevin mengurai ketegangan antara BG dan Abel, beberapa pemain cadangan lainnya pun memilih diam ditengah suasana tegang.
Abel berdiri menuju kearah dimana Riki mendapatkan pertolongan.
"Rik, gimana bisa lanjut."
"Gak bisa ini Bell, tangannya terkilir." jawab anak PMR.
"Loe nangis Bell." tanya Riki, yang melihat wajah Abel memerah.
Abel tak menjawab, dalam pikirannya dia tengah sakit hati dengan BG disisi lain dia tengah berfikir jika team akan kekurangan penembak jitu.
"BG." desak Riki.
Abel mengangguk, Riki sudah pasti paham kelakuan sahabatnya dikala emosi terkadang tak terkontrol.
"Jangan salahkan BG, dia hanya kecewa sekaligus gak terima."
"Maksudnya."
"Tadi dia protes ke wasit kalau ini masuk pelanggaran, tapi wasit menolak. Okey kita terima keputusan wasit, tapi yang bikin Bagas gak terima tuhh pas kapten mereka bilang."
Flashback On
"Ini pelanggaran pak." protes BG.
"Bukan, tidak ada unsur kesengajaan, silahkan dilanjutkan."
"Siyaalll." ucap lirih BG lalu mendekat kearah Riki.
"Ohh segini aja kemampuan kalian, BTW cewek loe buat gue boleh." potong Diego.
"Whatt.. Loe kira cewek gue apaan, bangshaat." jawab BG bahkan hampir meninju Diego jika tak dilerai Angga dan yang lainnya.
Flashback off
Abel yang mendengarkan cerita dari Riki pun terenyuh, ternyata yang membuat BG emosi seperti adalah dirinya.
"Mereka emang sengaja nyelakain gue, mungkin mereka ingin melenyapkan point shooter." jelas Riki.
"Enggak bisa dibiarkan." ucap Abel geram.
Riki melihat Abel tersungut pun tersenyum, setidaknya jika timnya tak mampu mempertahankan point dan kalah, Riki berharap jika Tim Labschool mendapatkan balasan setimpal.
"Gue yakin Abel bisa atasin ini." gumam Riki saat melihat Abel bergerak.
Pertandingan babak pertama usai, Akhirnya tim lawan mampu mengejar skor, SMA TUNAS KELAPA tertinggal 2 point.
"Ai, merapat kumpulkan the ladies di station player kita."
"Ada apa Bell."
"Now or never Ai."
"Hemmmbb, okay just a minute."
Abel mendekat kearah David, mengkodenya untuk menyorot Abel kelayar besar. David menerima kode Abel namun agak-agak takut juga mengingat peringatan dari BG.
Semua pergerakan Abel disorot hingga menuju ke station player dimana para pemain dari sekolah berada. Abel tahu jika dia harus bergerak mencari kebenaran.
"Bell ada apa." tanya Airin, bahkan mereka sudah berada di station player.
"Tolong sambungkan hasil rekaman dokumentasi yang kamera tribun ke Pad Ku." perintah Abel, ditempatnya BG menyaksikan pergerakan Abel dalam diam, dia tak mau membuat kesalahan lagi.
Sembari menunggu download rekaman, Abel tak membuang waktu itu hanya menunggu.
"Hallo mas Abel ganggu nggak."
"Ada apa Bell."
"Abel minta Link Lie detect dong."
"Hahhhh buat apa, Dim tolong bentar gue ada telp dari Abel."
"Urgent mas please, Abel janji enggak akan salah gunain."
2 detik, hingga 15 detik lamanya menunggu jawaban Alvin.
"I'm getting trouble, so do you want help me please."
"Okee, diam jangan bergerak apapun tunggu perintah mas."
"Hahhhh.. mas gi.."
Tuttt tuttt tuut.
"Awas aja main matiin, minta di sampluk tuh orang, susah ngerayu tentara kulkas dua pintu."
Mereka yang berada didekat Abel terkejut karena baru kali ini mendengar Abel mengomel enggak jelas.
"Loe lupa minum obat Bell." tanya Fransiska.
"Atau lupa dijatah pak Boss." celetuk Devan, membuat BG mendengkus.
Pletakk..
"Kalau ngomong disaring." ucap Airin sambil menjitak Devan.
"Auhhhhh sakit Ai, ya ampunn. Pak Angga ini istrinya tolong dikandangin bisa gegar otak gue deket sama ni bocah." ucap Devan.
"Hiliiih gini doang udah ngeluh. Jadi Bell ini kek gimana ceritanya." ucap Airin.
"Hemm, sebelumnya aku mau bilang kalau Riki gak bisa lanjut main dia ada cedera. Jadi gini aku udah ngobrol sama Riki, ada dugaan mereka sengaja menyingkirkan Riki, dan pastinya mereka sudah menyiasati ini." jawab Abel.
"Trus gunanya kita disini apa." Tanya Nia, Fransiska dan yang lainnya pun bertanya-tanya.
"Kenapa kalian merasa gak guna sihh." ujar Abel.
"Abell disini loe mulai ngeselin fix."
"Kalau gak ada BG udah gua kasih makan ke piranha." ceplos Devan.
Tak ada jawaban dari Abel karena dia sedang membuka hasil rekaman. Terlihat tangannya lincah mengoperasikan I-Pad nya.
"That's it. Dasar rubah licik." ucak lirih Abel yang masih sibuk dengan ponsel besarnya.
"Hellooo nona Arabella kalau loe sibuk sendiri kita tinggalin nih."
__ADS_1
"Bentar, emangnya kamu bisa mecahinnya, kalau bisa sini gantiin." jawab Abel.
"Nahh lohh Dev, makanya diem aja udahh."