Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~ Aira


__ADS_3

Tanpa terasa beberapa bulan pun berlalu, usia kehamilan Abel masuk dibulan ke empat dan akan dilaksanakan empat bulanan akhir pekan ini.


"Gak mau sekalian baby shower Bel." tanya Airin yang sedang membantu Abel menyiapkan bingkisan untuk tamu pengajian nanti.


"Enggak."


"OMG semenjak hamli Loe nyebelin yahh Bel." celetuk Cindy.


"Heumm." gumam Abel santai, tak begitu menggubris omongan sahabatnya.


"Bawaan orok ini mah." sahut Dekka, Airin pun mengangguk.


"Mertua Loe belum datang Bell." tanya Airin, Abel menggeleng karena acaranya sudah H-1 tapi sang mertua belum juga nampak batang hidungnya.


"Lahh tumben biasanya mama Mia paling excited kalau berhubungan sama Loe."


"Ma2 nunggu papa kelarin kerjaan." jawab Abel singkat.


Meskipun mama Mia dan papa BG belum hadir dikediaman BG namun sudah ada sang bunda yang juga ikut membantu meramaikan.


"Tante Miaaaaaa." terdengar teriakan dari luar, Abel dkk pun melongok melihat siapa yang berteriak namun Abel merasa asing dengan wajahnya.


"Siapa Bel."


"Gilakk maen teriak aja."


"Gatau siapa aku gak kenal." jawab Abel sekenanya.


"sodara nya BG kali Bel."


Karena merasa tak mengenal tamu yang datang seorang gadis yang berusia kisaran dibawah Abel 3-4 tahun.


"Siapa mbak." tanya Abel pada ART nya.


"Itu Non kalau nggak salah masih saudaranya mas Bagas."


Abel paham, kemudian Abel bangkit hendak memanggilkan suami nya yang sedang di ruang kerja karena hari ini BG memilih kerja dirumah.


Akhirnya BG dan Abel turun kembali menuju ke ruang tamu menemui tamu yang datang.


"Ohh Aira." kata BG dahi Abel mengernyit karena baru kali ini dia mendengar nama Aira sodara BG.


"Aira siapa." tanya Abel.


"Ohh, anak om Saga."


"Bukannya om Saga gak ada anak cewek yah." kilah Abel, karena merasa aneh dengan cerita BG.


"Hufft, iyaa om Saga adopsi Aira di panti." jawab BG lirih, akhirnya Abel berhenti penasaran karena mereka semakin dekat dengan sang tamu.

__ADS_1


"Mas Bagas." ucap Aira mendayu, bahkan ia segera berlari mendekat kearah BG bahkan nyaris bergelayut.


"Perasaan gak pernah lihat Bagas manja-manjaan sama sodaranya." gumam Abel dalam hati karena merasa janggal dengan ulah Aira.


"Ada apa Aira kenapa kesini sendiri." ucap BG datar bahkan terlihat tanpa ekspresi.


"Ihh, aku kan main kata mama besok ada acara kan, aku kira tante Mia ada dirumah." jawab Aira BG tetap merespon santai namun tidak dengan Abel yang sedikit gerah dengan ulah bocah itu.


"Mama masih nanti siang pulangnya."


"Aira boleh yah nginep disini." ucap Aira manja Abel mendengus, gadis ini seolah lupa jika BG sudah ada istri bahkan tak menganggap dirinya ada.


"Dihh dikira aku invisible disini." monolog abel.


"Astaggaaa." gumam Abel sembari mengelus perut nya yang sudah nampak membuncit.


"Kenapa sayang."


"Kalian ini meskipun saudara tapi kalian bukan mahram." ucap Abel tegas, bahkan dibelakang Airin dan Dekka terkikik karena Abel langsung meng ulti bibit pelakor.


BG refleks melepaskan pegangan Aira dilengannya yang bergelayut padanya.


"Jaga sikapmu." ucap BG sembari menjaga jarak dari Aira.


"Lohh kenapa kita kan saudara. Lagian kakak ini kenapa sewot kalau aku deketan sama mas Bagas." jawab Aira centil.


"Kenapa jadi pacar sihh." ucap BG dalam hati terkejut karena istrinya nge gas.


"Honey, tunggu dulu. Aira kamu gak bisa nginap disini karena kamar tamu udah terisi teman-teman kakak, dan kenalkan ini istri kakak dan besok acara syukuran kehamilan istri mas, ingat kamu jaga sikap karena disini banyak tamu mas." ucap BG sedikit meninggi ia tak ingin membuat Abel banyak berfikir keras lagi tentang masalah perempuan.


"Huffft." desis Abel yang merasa jengah ingin segera pergi dari situ.


"Ayok sayang kayaknya debay nya capek nih bikin maminya bad mood." ucap BG lalu menggandeng sang istri membawanya kembali pada sang sahabat.


"Ceilehhh ada aja ulat bulu." celetuk Cindy, membuat Airin dan Dekka terkekeh. Karena mereka tau cerita tentang Nadia dan problematika Abel dikantor BG beberapa saat yang lalu.


"Honey mau apa hemm, kamu nggak pengen apa gitu." tawar BG berusaha menyenangkan Abel namun Abel menggeleng keras.


Sore hari nya mama Mia akhirnya sampai juga dirumah, Abel yang sedang membereskan souvenir untuk acara pun segera menyambut kedatangan sang mertua.


"Sayang, Jang capek-capek yah." ucap mama Mia melihat betapa gesitnya Abel tak berkurang sedikit pun dalam menyiapkan acaranya besok.


"Enggak kok ma, ini aku cuma mantai aja daritadi."


"Iya kok Tan, Abel mah dikit-dikit laper dia mana bisa bantu laperan soalnya." sela Dekka yang dipercaya menjadi EO untuk acara pengajian Abel.


*


Keesokan harinya

__ADS_1


Acara pengajian empat bulan kandungan Abel pun dimulai, Abel yang menggunakan kerudung pasmina dijepit cantik dengan tanpa mengurangi kecantikannya.


Acara pengajian dimulai dari subuh oleh ibu-ibu pengajian setempat lalu diteruskan dengan membaca surat Maryam dan surat Yusuf diacara puncaknya.


Acara tetap dilangsungkan secara tertutup dan safety karena keberadaan ayah Abel, namun tak mengurangi kekhidmatan prosesinya.


"Tante Mia."


"Lohh Airaa, sama siapa." sahut mama Mia langsung membalas pelukan dari keponakannya.


"Sama mama, papa tuh masih didepan sama om Herman."


"ohhh."


"Tante, masak Aira tuh kemarin sama mbaknya ini gak boleh deket-deket sama mas Bagas, kan kita sodaraan yah Tan." ucap Aira melebih-lebihkan kata sambil menunjuk Abel disebelah mama Mia.


"Masak gitu, gak apa sayang kan Aira masih saudara kalau manjaan sama Bagas biarin ajah, sudah biasa dia." Ucap mama Mia membela Aira.


Deg..


Dada Abel berdesir, kenapa mama Mia membiarkan gadis itu menempeli suaminya apa mama Mia tak tau jika gadis itu sepertinya suka dengan putranya.


Abel tak menyahut dia tersenyum lalu berpamitan ke kamar.


"Aiiii, temenin ke kamar."


Airin terhenyak saat mendengar suara Abel sedikit mendayu-dayu, tanpa banyak tanya Airin mengikuti langkah Abel ke kamarnya.


"Aiiii, hikss."


"Bell Loe kenapa, hahh."


"Gapapa cum-maa peng-enn nangis aj-jah." jawab Abel terbata, Airin mendekat melihat bahu Abel yang semakin bergetar. Ia tahu jika sahabat kecilnya ini sedang tak baik saja bathin nya.


"Cerita yahh."


"Hiksss, Sssshhhh." belum juga selesai bersuara tiba-tiba Abel berdesis, mengeluh dan memegangi perutnya.


"Bell Loe kenapa, apanya yang sakit." ucap Airin panik, takut kenapa-kenapa pada Abel Airin pun berfikiran untuk segera memanggil BG agar dibawa ke RS.


"Jang panggil BG, kita diam-diam aja please." ucap Abel lemah, dan Airin pun langsung nggeh jika Abel sedang ngambek pada BG.


Setelah nya Airin memanggil Angga meminta bantuan untuk membawa Abel diam-diam ke RS tanpa memberi tahu BG dan keluarga agar tak membuat kepanikan berlebih.


"Mbak Nin gue bawa Abel ke RS, dia tiba-tiba kesakitan perutnya, dan maaf sebelumnya Abel gak mau Bagas tahu dulu." Jelas Airin, menghubungi Nina secara silent.


"Apaa.. Oke mbak menyusul titip dulu yah."


"Bell Loe kuat yah, rileks, tarik nafas dalam demi dedek nya yahh." ucap Airin menyemangati Abel, dia tahu Abel sangat tertekan saat ini entah permasalahan nya apa.

__ADS_1


__ADS_2