
"Kalau gak bisa dan gak paham prosedur tanya admin, jangan Nyamber orang lain hanya untuk kesenangan mu saja." sindir Abel lalu beranjak dari meja yang ia duduki, mood nya seketika anjlok begitu saja.
Tak banyak bicara Bagas pun mengikuti kepergian sang tunangan tanpa sepatah katapun. Marahnya Abel bisa ngefek juga padanya, apalagi ada kaitannya dengan Sisil.
"Enak yahh selama setahun ketemu terus sama si burung kakaktua itu." celetuk Abel, nahh kan benar Abel ngambek pasti berimbas padanya.
"Aku juga bakal cuci mata puasss liat bule disana." lanjut Abel, BG hanya geleng-geleng namun dia merasa terhibur melihat wajah Abel yang terlihat sangat lucu saat ngambek seperti ini.
"Katanya suka pribumi."
"Bodokkkkh."
Tak ingin kehilangan jejak sang tunangan, BG pun melingkar kan tangannya dipinggang ramping Abel. Meskipun banyak mahasiswi yang memiliki body aduhai seperti Sisil dan banyak lagi namun tak membuat BG melirik sedikit pun.
"Lagian, mana mau aku sama yang diskonan." celetuk BG, Abel menoleh kearah sang tunangan.
"Maksud nya."
"Dengar yah baby, kalau bisa dapat yang masih segel an kenapa harus nyari yang udah dijajahin kebanyak orang, kan dapat bekas jadinya." jawab BG namun, tak membuat Abel paham.
"Apanyaa."
"Yaa itunya sayank."
"Hahhhhh." Abel telmi mode on, wajar saja Abel selama ini menghindari pembahasan yang vulgar-vulgar meskipun selama mereka menjadi pasangan sentuhan dan kecupan ringan menjadi bumbu penghangat hubungan mereka.
Akhirnya BG pun mengatakan pada Abel Aat mereka sudah berada di mobil, meskipun dia pria normal yang memiliki hasrat namun, BG tak pernah melihat perempuan yang memiliki body goals.
"Badannya, semua yang ada pada mereka udah jamahan orang banyak baby, aku maunya cuma kamu yang jelas-jelas masih ORI."
"Hoalahh."
Cupp..
BG pun mendaratkan kecupan di pipi merona Abel, ingin nya di bibir mungil gadis kesayangan nya namun BG masih memiliki kewarasan untuk tak berbuat lebih ditempat terbuka.
"Kali aja tergoda sama yang body nya aduhai timbang yang rata gini, kan kata banyak orang nih yah lelaki itu dari mata turun ke hati, dari hati turun ke body." ucap Abel merendah, membuat BG semakin tertawa terbahak tentunya hanya dalam bathinnya, takut Abel semakin ngambek.
Gemas karena Abel terus nyerocos saja akhirnya BG memilih mengangkat, menggendongnya bridal style agar cepat sampai ke mobil jika berjalan sambil mengomel alhasil akan lama berjalan.
"Ahhhhkk, Bagass ihh dilihatin tau nggak."
__ADS_1
"Biarin sapa suruh ngomel Mulu."
bughhh bughhhh
"Turunin ihhh." teriak Abel tak cukup mengomel dia bahkan memukuli lengan BG.
"Lohhh kenapa ini Gas." sela seseorang yang baru saja turun dari kendaraan sudah mendapati BG dan Abel seperti itu.
"Ehh om Saga, nih Abel lagiiiii... Ehh gak enak badan, iyaa pusing katanya." bohong BG, membuat Abel kicep setelah mendengar suara Sagara menyapa mereka.
"Oalahh, apa sudah tidak ada kuliah." tanya Sagara percaya begitu saja dengan keponakan nya itu.
"Sudah om kan cuma ambil pengantar KKN." jawab BG singkat, Sagara mengangguk lalu mereka berpamitan untuk pulang dan Sagara lanjut menuju kantornya.
Selama dalam perjalanan mood Abel masih buruk, terlihat dari wajahnya yang muram dan bibirnya tertekuk bahkan enggan berbicara.
"Kamu mau kemana ayukk aku anterin."
"Hmmm."
"Baby, aku ada salah."
Abel menoleh ke arah sang tunangan saat pertanyaan itu keluar dari bibirnya.
"Trus, kok marah sama aku."
"Entahhh."
"Astaggaaa emang burung beo Sisil nihh yang bikin rusuh dunia persilatan." Sindir BG, lalu dia menekan pods di telinganya menghubungi seseorang.
"Hallo, Ngga Loe dimana."
"Di kampus, udah mau balik sih kenapa."
"Tolong Loe mampir kantor bentar bilang HRD kalau ada surat dari Sisil, abaikan."
"Okee cuma itu aja."
"Iyaaa, si nyonya ngambek gak habis-habis dari pada lanjut mending enggak deh." Kata BG lalu mematikan sambungan telponnya dengan sang Aspri. Abel menoleh memandangi sang tunangan, BG pun balik memandangnya tahu apa yang ada dipikiran Abel.
"Kenapa harus ditolak, aku gak minta begitu yah."
__ADS_1
"Lohh, aku hanya usaha buat kamu percaya kalau aku gak akan biarin hama sekecil apapun masuk ke hubungan kita." jawab BG tak luput dari pandangan sang gadis, Abel kicep tak membalas ucapan sang Bagaskara.
Setelah mengabari Angga, nyatanya BG membawa Abel ke mall tujuannya hanya satu Timezone agar mood Abel bisa normal lagi setelah melepas penatnya.
Beruntung Angga memahami permintaan dari sang bos muda, sehingga ia pun tak banyak komentar. Kehidupan nya sudah banyak makan asam garam ditambah keseharian mereka selalu bersama Angga terlalu paham dengan watak masing-masing sahabatnya.
Sementara itu diperusahaan BG Angga sudah menginfokan pada HRD perihal perintah dari BG untuk menolak pengantar dari Sisil. Perempuan yang selalu membuat rusuh hati seorang Arabella, bukan karena takut BG terpikat hanya saja terkadang mulutnya yang tak bisa dikondisikan membuat Abel muak.
"Makasih yah mas Anton." ucap Angga sopan kepada HRD karena usia mereka terpaut jauh hampir sepuluh tahun.
"Sama-sama mas Angga, lagian perintah bos Bagas mah mutlak, adalagi yang bisa dibantu."
"Nggak mas cukup gitu aja, tapi saran nih tuh cewek agak nyebelin mas siapin aja kalimat-kalimat mematikan bila perlu." jawab Angga, pegawai HRD pun paham alasan sang bos muda menolak temannya masuk magang dikantor ternyata karena sifat temannya yang tak bisa ditolerir.
"Aman mas Angga."
Angga pun meninggalkan ruang HRD gegas menuju ruangannya yang bersebelahan dengan ruang BG, hanya sekedar mengecek berkas kerja hari ini setelahnya dia akan menghubungi BG.
Kembali pada Abel dan BG di Timezone yang nampak Abel sudah mulai lepas dari belenggu badmood nya.
"Habis ini mau mampir kemana."
"Kemana aja yang penting HEPI." jawab Abel, membuat BG tersenyum smirk dibalik nya.
"Ke apartemen yah."
"Hahhh."
"Kangen pengen peluk."
Bughhh...
"Macem-macem aja, enggak." sahut Abel sambil memukul pelan lengan BG.
"Ya ampun hari ini kamu bar-bar banget sih baby."
"Tauuuuk."
"Yaudah yuk mampir ke kafe Riki, jajan es krim."
"Uhhhh Let's go." jawab Abel cepat dan bersemangat, membuat BG geleng-geleng melihat tingkah sang Arabella.
__ADS_1