Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~ MABA (2)


__ADS_3

Spinn Off Masih Di putih Abu-abu yahh Guys..


Tap 👍 like ❤️ love 🎁 Gift dan jangan lupa ⌨️ Komennya Ditunggu.


Day One OSPEK


Setelah berkumpul dengan para sahabat dan tentu sang Bagaskara Abel kini tengah duduk menanti denting jam berkumpul pertanda Ospek tiba. Meskipun Atribut yang telah mereka gunakan belum seutuhnya dipakai namun Abel dkk sudah membawa tanpa ada yang tertinggal.


"Kok aku deg-degan." celetuk Cindy.


"Wajar sihh, kita belum tahu Medan perang." sahut Dekka.


"Santai ajah, yang penting kita gak bikin masalah tetap ikutin perintah." jawab Riki, BG memandang Abel yang sepertinya sudah menerima keadaan yang ada.


"Kamu gimana baby." tanyanya, Abel tersenyum dan menggeleng.


"Lahh apa tuh kamsudnya."


"Geje Loe Bel."


Abel tak menjawab hanya tersenyum lalu meraih tangan sang BG dan menggenggamnya seolah memberikan jawaban tanpa sepatah katapun.


"Intinya aku padamu ini mah Gas." celetuk Kevin, mereka sudah bersahabat lama sudah paham sifat masing-masing.


Dentuman megaphone berbunyi pertanda aba-aba dari senior mereka untuk segera berkumpul.


Duttttthhhh... duthhhhhh..


"Mohon para Maba berkumpul di lapangan, dan gunakan atribut hari pertama yang sudah dibuat."


Abel dkk pun segera berjalan menuju tempat berkumpul sembari memakai atribut Ospek mereka.


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Innahuu min Sulaimaana wa innahuu bismil laahir Rahmaanir Rahiim." gumam Cindy namun masih bisa didengar Abel dkk.


"Husshhh doa Loe salah." potong Dekka.


"Cin, cin dikira mau ngadepin anjing dan sebangsanya apa." sahut Kevin, Abel dan BG hanya mengulum senyum tak ingin membuat semakin ribut.


"Heehh nyoriii, kan biar jinak takut mereka bringas kek yang Loe sebut."


"Bener juga apa yang Loe bilang, tapi kalau Sampek mereka denger ajian Loe berabe begokk." jawab Kevin cukup mengena.


"Susshhh Dah pada diem Napa."


Ditengah lapangan sudah berkumpul para Mahasiswa baru dan juga telah nampak berjejer para senior mereka. Nampak berbeda dengan jas almamater melekat ditubuh para senior.


"Selamat datang adik-adik Maba dikampus kita tercinta untuk mengikuti kegiatan ospek hari ini. Saya selaku panitia menyambut selamat datang dan selamat mengikuti kegiatan kita selama tiga hari kedepan. Langsung saja sebelum kegiatan dimulai akan kita umumkan daftar kelompok kalian. Silahkan panitia." Ucap salah satu panitia Ospek.


"masing-masing Kelompok 7 orang dan diacak rata dari seluruh prodi. Untuk yang dipanggil silahkan maju dan menuju meja stempel sebelah kanan kalian untuk mendapatkan tanda dari panitia." lanjut panitia yang lain membuat BG berdebar tak tenang, takut dia terpisah dengan Arabella nya. Abel yang tahu dengan kegelisahan BG pun berbisik lirih.


"stay calm my prince."

__ADS_1


"Kelompok 1, Ihsan, Kevin, Cindy, Lia, Bagaskara, Toriq, Meisya. Merapat sebelah kanan setelah distempel." Tak ada nama Abel disebut kelompok BG, membuatnya seketika lemas. Sama halnya dengan Abel dan Dekka mereka merasa cemas takut lebih terpisah lagi dengan satu sama lainnya. Abel menggenggam tangan Dekka gemetar.


"Gue takut Bell."


"Tenang lah Dek, aku juga takut sebenarnya." jawab Abel lirih, Riki pun paham dengan kedua gadis itu. Setidaknya ada dia dan kedua gadis didepannya disisa nama orang yang mendapatkan golden ticket dari om Bagas.


"Semoga kita sekelompok gess." sahut Riki lirih, Abel dan Dekka mengamininya.


"Kelompok 2 Riki, Leon, Agung, Sasti, Dania, Dekka." disaat panitia menyebut Riki dan dekka di kelompok 2 BG dan yang lainnya was-was takut mereka berdua bahkan tak sekelompok dengan Abel. Jika itu terjadi maka siapa yang akan menjaga Abel, bahkan nama kelompok belum genap disebut mereka cemas bukan main.


"Yaa tuhann."


"Ya allohhh."


"Semogaa- semogaaaa."


"Sampek Abel dipisah gue hancurin meja mereka." gumam BG, Kevin tau kecemasan sahabatnya itu.


"Cool down bro."


"Arabella, silahkan berjejer disebelah kelompok satu." lanjut panitia, membuat BG dan yang lain menghela nafas lega.


"Hahhhh."


"Yesssshh."


"Akhirnyaaaa."


"Kenapa harus gak sekelompok sihh."


"Gue tahu maksud Loe bro, mungkin panitia udah ngatur semuanya."


"kita ikutin aja dulu Gas." ucapan Kevin dan Riki terdengar jelas oleh Maba lainnya, mereka belum saling mengenal karena memang belum ada timing untuk saling berkenalan saat ini.


Maba sekelompok BG dan Riki pasti sudah menerka jika mereka mungkin satu sekolah sebelumnya. Belum tahu saja jika BG dkk merupakan anak emas sang rektor.


Setelah panitia menyebutkan seluruh kelompok Maba peserta ospek, mereka diberikan waktu untuk berdiskusi menentukan ketua kelompoknya sambil mengenal satu sama lainnya.


"Loe ja Vin ketunya."


"Ogahhh."


"Bagas aja." BG tak menyahut dia memilih diam dan menyorot mata tajam kearah yang menyebut namanya seolah menolak usulan menjadikannya ketua kelompok.


"Antara Toriq dan Ihsan aja please, soalnya gue dan BG kudu kerja entar habis kuliah gess, takut gak konsen kalau ada tugas." jelas Kevin menengahi agar tak membuat kelompoknya semakin bikin ruwet pikiran BG dengan alasan yang logis. Sementara itu dikelompok Abel, Riki, Dekka dan Abel seolah menjadi anak pendiam tak menunjukan jati dirinya secara mencolok.


"Antara Riki dan Leon yah." ucap Agung salah satu diantara laki-laki dikelompok Abel.


"Leon aja." sahut Riki dan dua orang perempuan bersamaan.


"Nahh fiks Leon aja, oke bro." Leon yang disebut namanya tak menjawab hanya bergumam, agaknya dia sebelas dua belas dengan BG yang berkarakter dingin tak tersentuh. Abel dan Dekka hanya diam tanpa ada jejak suara selama berdiskusi. Abel yang terus ditatap sang BG tau jika kini sang tunangan tengah dilanda panik, cemas dan khawatir berlebihan padanya pun memandang BG meyakinkan jika dirinya akan baik-baik saja.


Disatu sisi Abel, BG dkk mendapat stempel khusus berwarna merah pertanda jika mereka mendapat privilege dari rektor sesuai dengan urgent memo yang diberikan pada Ketua BEM. Membedakan dengan Maba yang lainnya yang mendapat stempel berwarna biru.

__ADS_1


"Okee sudah dapat siapa ketua kelompoknya lapor ke pendamping masing-masing kelompok, dan kita akan lanjut pada kegiatan berikutnya yah." potong panitia meredam keriuhan para Maba yang sedang berdiskusi.


"Sebelumnya saya sebutkan peraturan utama yang harus kalian taati selama ospek berlangsung sampai kalian disahkan menjadi mahasiswa di universitas Erlangga esok setelah ospek berakhir." lanjut panitia lainnya, setelah peraturan disebutkan panitia yang lainnya menjelaskan pasal Maba.


"Pasal Maba 1. Senior selalu benar 2. Maba selalu salah 3. Jika senior salah ingat pasal 1. Demikian peraturan dan pasal Maba tolong dimengerti dan ditaati selama ospek berlangsung mengerti."


"Mengertiiiiii."


"mengerti kak."


"Huuuf sama juga boong." gumam Cindy seolah paham dengan maksud dari pasal Maba.


"Iyaaa sihh."


Setelah pengarahan berakhir semua Maba digiring ke aula guna melanjutkan kegiatan selanjutnya. Dua jam mereka mengikuti kegiatan pengenalan dan acara awal di aula kini BG, Kevin dan Cindy menunggu Abel, Dekka, Riki berkumpul karena kini mereka dijam istirahat sebelum mengikuti kegiatan selanjutnya.


Penampilan Abel memakai atribut ospek dengan rambut dikuncir sejumlah tanggal ulang tahun untuk perempuan. Memakai pita berwarna merah putih diikat dirambut menjuntai sepanjang 30 cm seolah seperti arena perlombaan 17 Agustus jika jumlah kunciran banyak, beruntung Abel berulang tahun tanggal 4 sehingga tak banyak kunciran dirambutnya. Tak hanya rambut dikuncir, mereka menggunakan topi penyihir beserta eye shadow berwarna gelap bak penyihir, tak mengurangi kadar kecantikan sang Arabella.


Atribut tak karuan bukan dialami para Maba perempuan, para lelaki pun sama menggunakan eyeshadow hitam lengkap dengan sapu terbang yang dibawa kemana-mana.


"God, rempong banget bawaan gue astagaa."


"Menii riweuuuhh."


"Huuuhh rempong kali hari ini."


"Ribet beeett dahh."


Dan banyak lagi kicau dari para Maba yang berkelu kesah hari ini, dengan banyaknya atribut yang dipakai dan dibawanya. Setelah menikmati makan siang dan menghabiskan waktu istirahat Abel dkk kembali menuju ke aula segera sebelum waktu habis. Mengingat sebelumnya diberitahukan jika akan ada pemeriksaan atribut hari pertama sebelum kegiatan berikut nya dimulai. Mulai dari ukur panjang pita, jumlah kuncir, sampai pengecekan atribut lainnya.


"Atribut okee, tapi Ini kenapa eyeshadow warna biru, seharusnya kan hitam." ucap salah satu panitia kepada Abel, Abel santai menyikapi seniornya yang sedikit membentak. Tidak dengan BG, setelah melewati pemeriksaan dan lolos dari para seniornya dia tetap memantau Abel yang kini tengah dibentak salah satu senior perempuan.


"Maaf kak, tapi disebutkan warna gelap tidak spesifik hitam." Jawab Abel santai, BG sama sekali tak terima saat ini Abel mendapatkan perlakuan dari senior itu.


"Loe kan harusnya mikir, pernah lihat gambar penyihir kan." ucap perempuan masih dengan nada tinggi, ada panitia lainnya memperingatkan untuknya berhenti namun tak digubris.


"Warna apa penyihir biasanya hahh."


"Udah deh Nes lihat stempel." lerai salah satu panitia, perempuan yang bernama Agnes itu melirik ke papan biodata Abel yang berada di dadanya, namun tak membuatnya berhenti disitu.


"Kasih gue alasan yang bisa buat Loe bisa lolos hari ini." lanjut Agnes, Abel bahkan tak grogi sedikitpun, tidak dengan BG yang sudah mengepalkan tangannya sedari tadi. "Lolos hari ini tidak dengan besok cewek sok kecakepan." lanjut Agnes dalam hati.


"Maaf kak saya tidak pernah memakai make up, jadi tidak pernah punya alat make up. Ini pun meminjam make up milik asisten rumah tangga." jawab Abel santai.


"Cihhh, kasian minjem punya pembantu katanya. Emang gue bisa Loe bodohin. Toko make up banyak say kenapa Loe gak beli aja hahhh."


"Ada apa ini."


o.


o.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2