Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Semifinal Lagiiiii


__ADS_3

Pertandingan Rd pertama dimulai, cukup sengit ternyata, dari atas tribun Abel fokus memperhatikan kerja masing-masing pemain dari tim Kelapa. Terlebih sang kapten, Abel pun wajib mengkoreksi tatkala dia missed.


"Yuhuuu, minum dulu lahh bu kapten." celetuk Metta.


"Tarik napas Bell, si kapten masih aman tuh." sahut Airin, Abel menoleh kearah para ciwi-ciwi itu.


"Kalian tau nggak isue yang dipost sama akun fanbase Starlight." ucap Arabella.


"Hahhh emang apaan."


"Iyaah kagak tau gue."


Lalu Abel mengeluarkan ponselnya yang mendapatkan info dari Devan, kemudian dia fokus kembali pada pertandingan.


"Jadi mereka ngepost tentang aku, Devan curiga ini taktik Starlight yang gak bermutu dengan menghancurkan mental BG." lanjut Abel sambil memperhatikan langkah sang tunangan dalam pertandingan tanpa titik celah.


"Sumpahh demi apa lohh ini kenapa sekelas Starlight ada akun gosip." jawab Airin.


"Gilakk banget, sekolah high class menjatuhkan lawan dengan cara ginian."


"Cihhh gak bermutu."


"Mainnya curang ini mahh."


"Truss si BG gimana Bell." tanya Dekka.


"Sebelum main tadi telp, Aku tau dia terpecah pikirannya." jawab Abel.


"Trus kita harus gimana biar Starlight juga kenak mental." tanya Nia.


"Kita harus main cantik ngebalesnya." ucap Abel.


"Lahh gimana tuhh Bell."


"Boleh juga."


"Hemmbb, belum kepikir." sahut Abel.


"Ahhh aku ada ide." celetuk Fransiska lalu membisikan pada Abel.


"Kann mereka penasaran sama elo, mending loe keluar sarang bikin para pemain gaFok aja Bell."


"Maksudnyaaa....." Abel nampak tak paham namun detik berikutnya seolah otak cantiknya bekerja..


"Ahhh I seeess.."


Lalu mereka kompak berdiskusi dalam keheningan.


Mendekati berakhirnya round pertama hasil beda tipis Starlight memimpin unggul 4 point. Round pertama BG tak banyak mencetak point, posisinya terlalu sulit untuk bergerak.


"RKaaaaaa.." panggil Abel pada Riki saat dia berjalan keluar menuju player station, lalu Abel mengkode untuk memanggilkan dang kapten.


"Ready my ladies." kode Abel.


"Readyyyy."


"keluarkan pesonamu Arabella."


"Baby Abel semangat."


"Baby.." panggil BG saat mendekat kearah tribun dimana Abel dkk berada.


Abel berdiri melangkah menuju sang tunangan lalu merentangkan kedua tangannya. BG yang mendapati itu pun refleks meraih tangan Abel lalu menaikan badan Abel melewati pembatas tribun dengan lapangan basket setinggi 50 cm.


BG tahu maksud Abel jika ada something happened yang akan Abel katakan tentang pertandingan.


"Huuaaa baby Abel."


"Ciyeeeeee..."


"Gupraaak-guprakk gedubrakkkk."


Kacau para suporter dari sekolah Abel mendapati kemesraan mereka yang live mereka lihat.


Akhirnya mereka pun mendapat sorotan dari suporter SMA Starlight yang berjumlah 3-5 kali lipat lebih banyak.


"Gilakkk live dari SMA TUNAS KELAPA Cuyyy."


"Bener-bener pasangan serasi."


"Cantik bening betttt dahh."


"Cocok banget sama si kapten basketnya."


"Masuk perangkap kelean." ucap lirih Airin.


Benar saja kedatangan Abel membuat pemain dari Starlight terpesona, bak kedatangan bidadari.


BG menyadari jika Abel mendapat respon dari para pria pun mengeratkan genggamannya.


"Slowdown my captain, this is our trick." ucap Abel lirih namun detik kemudian BG menghentikan langkahnya.


"Our baby. Whose..??"


"Hemmmb, just stay walk we are get attention for they. Aku jelaskan saat bersama team." jawab Abel yang sudah menarik laju BG.


Tak lupa Abel terus menampilkan senyum tipisnya. Mungkin jika BG menyadari tak akan dia biarkan senyum itu tampil dimuka umum seperti ini.


"Hai Boy." sapa Abel.


"So, ada tugas apa nihh hingga baby Abel turun tangan." sahut Devan.


"Serius Bell, penting banget yah." tanya Riki.


"Wahhh..wahh wauuu nona Abel disini."


Sementara itu sang Bagaskara masih memantau percakapan antara Abel dengan para pemainnya. Ada rencana apa yang tengah disusun Abel.


"Soo you guys ready to win today." tanya Abel meyakinkan para pemain basket sekolahnya. BG memperhatikan dalam diam sambil berkacak pinggang.


"Hemmbb coach." panggil Abel pada pak Sam lalu menjelaskan jika dari tribun sangat jelas mereka memblok semua pergerakan.


Sehingga para pemain tidak mampu mencetak point. Abel pun menjelaskan jika mereka menurunkan potensi pemain untuk mencetak point itulah kenapa Starlight bisa unggul sekarang.


"Dilihat dari permainan mereka, nampaknya mereka tak lebih bagus dari SMA kita. karena dari atas nampak banget kecurangannya." jelas Abel, akhirnya pak Sam paham maksud Abel lalu dia membawa papan yang digunakan untuk mengatur strategi pemain.


"Kamu pegang ini, kamu asisteni saya dilapangan. Kamu yang akan menjadi pengatur pemain jadi biar bapak fokus kasih pengarahan." ucap pak Sam.

__ADS_1


"Siappp coach." jawab Abel, lalu dia menoleh kearah para suporter wanita dan mengacungkan 1 jarinya.


"Yeaayyyyy."


"Semangkaaaa baby."


Para suporter dari SMA TUNAS KELAPA pun gemuruh bersorak seolah mereka menginginkan atensi dari para suporter Starlight.


"Baby kamu punya rencana apa." bisik BG, Abel hanya tersenyum semakin membuat BG bingung.


"Alright guys, jadi gini para ladies diatas tribun curiga ada siasat busuk dari tim Starlight dengan memecah fokus kalian." jelas Abel.


"Hahhh gimana tuhh."


"Maksudnya aja Bell, sumpahh ane gak sanggup mikir."


"Ya ampunn kalian kurang cerdas sihh." celetuk Devan, Kevin yang tak terima pun segera mengamit leher Devan.


"Yeee si kutil badak, kek loe cerdas-cerdas banget gilak." ucap Kevin.


"Anjir, bau ketek gilak. Kevin jorokk ihh."


"Kek loe gak bau keringet aja." ucap Kevin.


"Hehhh..hehh ributnya pending dulu begok."


"Duo kampret mahh."


"Ehhh bentarr,." ucap Abel terpotong karena merasa kegerahan dia hendak menguncir rambutnya yang panjang tergerai.


BG yang peka dengan situasi gadisnya, dia mengambil topi yang dipakai Abel lalu meraih papan tulis pemain digunakan untuk mengipasi Abel.


"Mamaci.." ucap Abel yang mendapatkan angin segar sambil menguncir rambutnya.


"Jadi gosip yang mereka keluarkan tentang aku itu mereka duga akal bulus dari Starlight untuk mengganggu mental sekolah kita terutama kapten tim." ucap Abel, BG yang berada dibelakang Abel sontak membelalak.


Sedikit terkejut namun itu semua memang benar sangat berpengaruh padanya.


Bahkan anggota basket pun setuju dengan pendapat itu. Beruntung Devan mengirim pesan pada Abel.


"Akhirnya kami punya ide, bukan aku tentunya. Tapi entah ini berguna apa enggak mohon dukungannya." lanjut Abel lalu menjelaskan pada mereka strategi kedua dari tim Abel.


Abel pun menjelaskan beberapa plan yang mereka susun mencegah jika ada salah satu yang gagal.


"Bell, kek nya udah masuh ranah pribadi loe juga." potong Riki seolah dia tau situasi dan kondisi hati sang kapten yang tengah carut marut.


"Yess i know, then last okey. Jadi tolong bantu merusak fokus mereka z, aku pun juga kerjakan apa yang udah aku sama anak-anak planingin." jawab Abel.


"Planing yang kayak gimana." potong BG.


"Nanti my captain." jawab Abel lirih, sedangkan para pemain basket lainnya sebagian menggaruk kepala, ada yang kebingungan dan ada yang terdiam karena situasi sedang panas mengingat ini solusi yang tidak baik bagi BG.


"Enggak ikutannn." celetuk Devan, Abel pun hanya melirik.


"Hemmb okeyy masuk inti yahh, Sesi pertama di round two, Orlando, Angga, Devan, Riki, Kevin in. Jika regulasi Riki, Gama, perputaran dengan Angga, Orlando. Gesta Wira Deff, Captain in sesi tiga." ucap Abel.


"Tunggu jadi kenapa penembak jitu dirolling Bell sedangkan gue sama Kevin Enggggggakkk.." potong Devan namun kemudian dia tersadar dan segera Abel angguki.


"Yess You and Kevin is the trouble shooting for they Right." lanjut Abel.


"yayayayya... main cantik rupanya."


"Soo kamu mau kami mencetak berapa point." potong Angga.


"Twenty May be, thats became sixty point ." jawab Abel.


Semua tim mengangguk paham, jadi rencana Abel memang membuat drop mental lawan dengan target mencetak three point.


"Okeeyy, lets play the game." ucap Orlando semangat.


"All you guys know what should you do." tanya Abel.


"I do."


"Mee to."


Semua menjawab kecuali sang kapten yang masih bungkam, menanti penjelasan sedetail mungkin planing-planing yang mereka buat. Semuanya kompak menatap sang kapten dan Abel bergantian.


"Masalah rumah tangga."


"Monggo dikelarin dulu."


"Hati-hati yahh Bell, BG kalo ngambek suka nyemilin pager tetangga." ucap Kevin, si Abel hanya geleng-geleng melihat kelakuan sahabat BG itu.


Dan panggilan round ke dua masuk para pemain bersiap, giliran Abel menjelaskan pada sang Bagaskara.


"Babyyyy."


"Yess my captain, don't you worry. Aku gak punya rencana buat ngegodain cowok lain. Tanpa aku goda mereka akan menyorotku dengan sendirinya kan."


"Hemmmpp." gumam BG masih bingung.


"Berita yang mereka buat akan menjadi bumerang mereka sendiri. Mereka kan penasaran nih dengan aku, nahh Siska punya ide gimana kalau tiba-tiba aku muncul dan membuat kehebohan dengan memandu permainan kalian."


"He,hemmm terus."


"Pertama aku udah dapat jadi asisten coach, disini kan aku akan selalu didekat lapangan. Pasti pemain Starlight gak nyangka nemuin aku dilapangan, nahh disitu pasti mereka akan terganggu fokusnya. Trus dengan mereka lengah kalian masuk dengan mencetak point sebanyaknya. Itu lah kenapa aku mau kalian cetak 3 point bukan dua point."


BG mulai paham, setidaknya yang dimaksud bermain cantik oleh Devan adalah bermain strategi dikala fokus lawan sedang terganggu bukan dengan mengumpankan Abel agar menggoda iman para lawan.


"Jadi enggak ada tebar pesona ke cowok lain kan."


"Lahh, emang aku biasa tebar pesona gitu kah my captain." tanya Abel, BG pun menggeleng cepat.


Tanpa mereka sadari sesi satu round kedua sudah berakhir, ada time rest 5 menit. Abel terkejut dikala tahu mereka tertinggal 15 point.


"Tenang aja ini juga strategi kita." ucap Riki.


"Gak mungkin kita main pembalasan disaat aktris kita belum turun lapangan."


"Loe beraksi kita juga main." potong Angga.


Sesi kedua masuk Riki digantikan Gama, mereka terstruktur juga ada tujuan. Gama berhadapan dengan Davio kapten basket lawan. Beberapa dari tim Starlight terkejut dengan keberadaan Abel, mereka seolah menerka-nerka dengan apa yang mereka lihat secara live ini. Abel mengkode 3 jari kearah suporter nya, dan gemuruh pun terjadi.


"Priiiiittt..." wasit meniup peluit dan melemparkan bola keudara dengan sigap Gama meraih bola dan langsung dishooting dari posisi yang cukup jauh dari ring.


Blaaaammmmm...

__ADS_1


Masuk three point shooting yang membagongkan semua orang, BG berdiri bahkan terkejut aksi Gama diluar ekspektasi.


Jangan lupakan para suporter mereka, sudah pasti jejingkrakan.


"Ohhh good Gama i lap yuuuu." Teriak Fransiska frustasi.


"Yuhuuu..."


"Goo..go..guys." ucap Abel memberikan semangat kini giliran Kevin dan Devan yang beraksi tengil. Dengan memblok Davio tanpa cela lalu Kevin mengkode Gama untuk segera merebut karena melihat Davio seolah tengah berfikir untuk mencari cela serangan.


Greppp.. Seeettt..


Gama mengambil dan melangkah lebar dilempar pada Orlando yang bebas, setelah dia mendapat posisi tepat untuk shooting 3 point Orlando melemparnya. Dibawah ring Angga sudah menunggu jaga-jaga jika bola meleset maka kesempatannya untuk menambah point.


"Gam.." teriak Angga mengkode Gama, trick ini dilakukan agar lawan bergegas mendekat kearah Angga sehingga membuat posisi Gama clear.


"Yoooo, Ngga." sahut Gama, namun sekilas bola seperti dilempar kearah Angga namun nyatanya bola dilempar ke ring daaaannnn masuk.


Sepuluh menit berlalu tim BG mampu mengejar bahkan mereka unggul 3 angka, Davio kapten basket Starlight nampak sedikit frustasi mendapati point mereka terkejar.


Saat lead game sesi ke dua sisa 10 menit Riki dan Wira masuk ganti Orlando dan Angga, Pencetak 3 point bertambah itu artinya bukan tanpa alasan mereka akan menambah point.


Abel memberikan kode untuk meregangkan blokade pada Davio, agar Davio mengira jika tim BG lengah dan kesempatan Davio mengejar point.


Setelah mengamati bahkan berdiskusi dengan coach Abel menarik kesimpulan, lalu dia mendekat pada BG karena sebentar lagi sesi dua berakhir tandanya BG masuk.


"Kapten musuh tak pernah kelihatan shooting 3 angka my captain, ini kesempatan kamu untuk menunjukan skill yang kamu punya." bisik Abel, BG mengangguk.


"Woooyyy Abel, BG kerja jang pacaran mulu kelean.." teriak Nia.


"Yeee, queen Arabella mahh bebas." sahut teriakan lainnya, membuat para pemain lawan sontak mengendarkan pandangan kearah Abel.


Abel mengkode suporter?dua tangannya sekaligus pertanda plan mereka dapat. Abel berlari mendekat kearah coach dipinggir lapangan. Dari posisinya sekarang Abel sejajar dengan Davio kapten tim lawan, namun belum benar-benar sampai di dekat pak Sam bola yang akan dilempar ke Davio justru melenceng bahkan mengarah ke arah Abel. Sepertinya sang pelempar bola sedikit terpikat dengan pesona Abel.


Davio mencoba mengejar arah bola diikuti Kevin yang bertugas menjaga Davio.


"baby awassss." teriak BG yang sudah berlari mendekati Abel.


Buggghhh...


"Akhhhh." teriak Abel dia sepontan berbalik badan menghindari jatuhnya bola agar mengenai punggungnya.


Beruntung Davio masih bisa meraih jatuhnya bola namun posisi bola sudah keluar dari garis lapangan. Abel menoleh karena dia tidak merasakan bola basket mengenai badannya.


"Yaa ampppun ganteng juga itu kaptennya."


"Yeee loe mah sama yang cakep-cakep inget."


"Akhhhh iyaa Abelll, you okey."


"Baby."


"Aku gak papa kok." jawab Abel dengan suara lembutnya.


"Thanks Dav." ucap BG pada Davio. Davio mengangguk dan sekilas menatap Abel, bisa saja dia membiarkan bola itu out namun Davio menyadari justru bola itu mengarah pada seseorang.


"Abel tunggu di station aja, bahaya bisa jadi umpan terus nanti kamu." ucap Coach Sam.


Seterpesona itu kahh pemain lawan sehingga gagal fokus banget, bahkan tak melihat arah laju bola.


BG menggandeng Abel dan membawanya ke station, ternyata respon lawan diluar ekspektasi yang bahkan membahayakan Abel.


"Gilakkk reaksinya segitunya mereka."


"Gak kuat mereka kena kilauan berlian nya SMATUKA."


Ucapan Riki dan Gama saat menyaksikan kejadian itu dan sesi kedua berakhir Skor mereka masih unggul karena tim Starlight bahkan tak banyak mencetak point.


"Astagggaaa dragooonn, untung yahh si Davio bisa kejar tuh bola, hosh.. hoss." celetuk Devan sambil menarik nafas.


"Lahhh sampek segitunya yang lempar bola ngeliat Abel, gue gak nyangka anjirrr." sahut Kevin.


"Hemmbb, it's okay itu berarti mereka sudah menyadari keberadaan ku, now lets finish that." jawab Abel.


Sebelum sesi terakhir babak kedua mulai mereka berdiri melingkar menyatukan tangan, Abel memimpin berdoa semoga mereka bisa tampil terbaik dan maksimal.


Di sesi terakhir round kedua BG masuk semakin membuat kacau fokus tim Davio, bahkan Davio sempat berteriak frustasi melihat timnya semakin kacau mainnya. Davio semakin memperketat penjagaan BG, dari 2 orang menjadi tiga termasuk dirinya kini terjun langsung.


BG tersenyum sinis, setelah timnya kocar-kacir kini bahkan Davio kurang akal. BG melihat timnya bahkan bisa bersantai tanpa mengeluarkan tenaga.


"Guys, you just got Fiveteen T.P ayoo dong semangat." teriak Abel dari station meskipun suaranya renyah tak lantang namun masih bisa didengar BG and team.


"Hahh apaan TP."


"Gue gak salah denger kan."


"Ihh gilakk merdu banget suaranya."


Gumaman para pemain dari tim lawan terdengar kesempatan BG kini didepan mata, dengan sekali hentak trik tipuannya BG mengecoh3 orang sekaligus lalu mencari posisi terbaiknya dan dalam gerakan cepat dia mengarahkan bola kedalam ring dari jarak jauh..


Blaaammm.. Blammm..BG menyumbang 3 point lagi dan lagii. Disusul Gama, Riki dan Angga.


Last minute dari tengah lapangan BG mencoba peruntungan dengan melemparkan bola kedalam Ring.


Blaammmm.. 3 point terakhir yang disumbang BG, membuat Davio dan timnya terduduk lemas.


"Yeyyyyy..."


"Horeee." para pemain basket tim BG dan Suporter pun berteriak menggema. Pemain cadangan berlari masuk lapangan berhambur berpelukan. Tak mau kalah Abel pun berlari menuju sang kapten setelah memastikan mereka masuk ke final.


"Come in baby." teriak BG yang sudah merentangkan kedua tangannya bersiap


menanti sang Arabella.


"Hikss..hikksss.." terdengar tangis kecil Abel, menandakan dia begitu terharu atas kemenangan tim basket sekolahnya.


"Hehhhh, napa loe nangis." celetuk Devan, BG melihat kearah gadis yang tengah dalam pelukannya.


"Kenapa nangis Hemm." tanya BG seraya menghapus air mata Abel wajahnya pun sudah berubah menjadi memerah.


"Se-neng, Terrrr haruu.. Huhuhuhhhh." jawab Abel, BG pun menggiringnya keluar dari lapangan.


Davio menghentikan langkah keduanya hendak menyalami BG mengucapkan selamat padanya. Setidaknya dia sudah berusaha bermain terbaik untuk sekolahnya.


"Congrats Gas."


"Hemmmb, Thankss, thanks juga udah nyelametin cewek gue tadi dari bola nyasar." jawab BG yang bahkan tak mau melepas tangannya dari pinggang ramping Abel.

__ADS_1


"It's okeyy." sahut Davio lalu meninggalkan BG dan Abel.


Laga Final akan diselenggarakan di kandang BG melawan SMA Labschool, karena saat semifinal Lapangan Labschool sudah dipergunakan.


__ADS_2