Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Tak Baik


__ADS_3

Tiga Hari setelah kejadian Abel dan Angga mengalami kecelakaan, tabrak lari tepatnya, Dua hari yang lalu Abel sudah pulang dari rumah sakit dan kini dia sudah masuk sekolah.


Meskipun hanya mengalami luka ringan Ayah Abel tak mau lengah, mau tidak mau Abel tetap melakukan segala pemeriksaan.


Alvin pun kini ditugaskan untuk memperketat penjagaan Alhasil membuat Alvin bertambah jam kerjanya.


"Mas, kamu gak mau ijin pulang dulu." tanya Abel pada Alvin saat diperjalanan ke sekolah.


"Kenapa tanya gitu."


"Ehh, ya enggak secara mas Alvin belum ada libur, apa gak kangen sama ortu mas."


"Udah tugas aku Bell, resiko abdi negara." jawab Alvin tanpa menoleh ke arah Abel karena fokus menyetir.


"Mas Alvin kan bisa ijin Ayah, nanti kan bisa gantian sama temen mas."


"Enggak, kamu baru sembuh juga nanti ada waktu."


"Iyaa, sudah kalau kangen ortu or pacar mas nanti aku bantu ijin ke ayah." sahut Abel, seketika Alvin menoleh saat dia membahas masalah pacar.


Abel yang melihat ada raut keterkejutan ada Alvin pun mengernyit namun tak berani bertanya.


"Mas Alvin kenapa, kok jadi penisirin yah." ucap Abel dalam hati.


Tak lama mobil Abel masuk ke area sekolah.


Saat hendak turun dari mobil, sekilas Abel melihat BG di ujung koridor. Abel menunggu sampai BG masuk barulah dia turun dari mobil.


Sepertinya Drama menghindari BG masih terus berlanjut.


Menginjakan kaki masuk ke dalam kelas, seketika kelas Abel hening namun tak lama terjadi lengkingan dari para teman sekelas Abel.


"Aaaaaahhhhh."


"Maaa Baby Arabella."


"Cayangkuhh Abel sudah sehat."


"Ya ampun ya ampun kalian inihh, otaknya cerdas-cerdas tapi kok Toa semua yahh." Celetuk Devan.


"Huuuuaa Baby Abel kesayangan." lanjut Devan lalu berhambur ke arah Abel.


Sorak sorai dari kelas Abel menarik perhatian dari semua yang berlalu lalang disekitar kelasnya.


Berita Abel dan Angga kecelakaan memang sempat menjadi topik hangat karena keesokan harinya pihak sekolah didatangi penyidik dari kesatuan Ayah Abel.


Hingga kini masih diselidiki motif penyerangan apa ada sangkut pautnya dengan kedudukan sang ayah atau ada yang sakit hati dengan salah satunya.


Setelah mengikuti pelajaran, Abel dan kawan-kawan pergi ke kantin.


"Bell, nanti jadi kan." tanya Airin pada Abel saat menunggu pesanan datang, Abel pun mengangguk tak ingin disahuti beberapa temannya.


"Biiiipppp." terdengar suara notif panggilan dari earphone Abel.


"Yaa, mas."


".............."


"Hemmm, Okay."


Bipp, tut tuttt....


"Siapa." tanya Airin


"Ajudan ganteng." lanjutnya.


"Hemm, cuma ngabarin nanti agak telat jemput, nganter bunda kontrol dulu." jawab Abel.


"Ohhh." sahut Airin.


Setelah pesanan mereka datang Abel dan Airin membawa ke dalam kelas, karena sesuai perintah sang ayah Abel tak boleh ada ditengah keramaian menghindari kejadian yang tidak-tidak.


"Kakk Abel." sapa salah satu adik kelas Abel.


"Hai.."


"Udah baikan, kakak gak kenapa kan." tanya Steven, fans fanatik Abel.


"Udah kok, makasih yahh udah perhatian."


"Iyaa kak."


Setelahnya Abel pamit pada Steven menuju kelasnya.


"Gilak tuh si Stev nyamperin gue dong Bell, nanyain elo." celetuk Airin.


"Hemmmm." gumam Abel karena tahu maksud dari Airin.


Airin paham Abel tak berniat membahas Steven pun hanya menggelengkan kepala. Kisah cintanya masih rumit, Abel kini disibukkan dengan kejaran dari adik kelas dan fans beratnya.


Lalu kemana batang hidung sang BG yang sudah tega mencampakkan Abel, meskipun kini kisah mereka masih belum jelas.


Tiga jam pelajaran menguras fikiran, kini Abel dan Airin sedang menunggu Alvin menjemput.


Kedua gadis itu berjalan menuju gerbang sekolah karena Alvin sudah otw menjemput.


Sekolah sudah sedikit sepi dan lengang, sebagian ada yang masih Ekstra, sebelumnya Abel sempat melihat BG sedang berlatih dengan para sahabatnya.


Meskipun bagi Abel hubungannya sudah tak ada namun dia tak menampik masih menyimpan rasa pada sang kapten.


"Lahh tuh mas Alvin masuk." ucap Airin.


"Ini gak perlu bawa- bawa gitu Ai." tanya Abel.


"Enggak usah ntar malah dimarahin sama mama Angga." sahutnya.


Mobil yang dikendarai Alvin sudah terparkir di halaman, Abel pun meraih knop pintu penumpang depan.

__ADS_1


Gagal, karena tepat menyentuh knop pintu mobil disaat itu juga Abel merasakan tubuhnya tertarik.


"Ahhhhkkk." teriak Abel spontan terkejut karena ada yang menarik tangannya dengan kasar.


"Siyalan kamu, cewek cabe-cabean berani- beraninya godain pacar gue." teriak orang itu.


"Ka-kamu siapa, pacar yang mana maksudmu." jawab Abel tersengal.


"Masih bisa jawab Hahhhh."


"Abeelll." teriak Alvin saat menyadari Abel yang sedang bersitegang dengan seseorang.


Terlambat Alvin dan Airin yang keluar dari mobil.


Plaaaakk...


Duuughh..


"Awssssshh." rintih Abel saat merasakan kepalanya terbentur body mobil karena saking kerasnya orang itu menamparnya hingga terpelanting.


"Ahhh, Abel." ucap Airin.


"Kamu, beraninya menampar dan melukai dia." ucap Alvin sedikit berteriak.


"Apa..memangnya kenapa. Itu akibatnya jika dia berani mengambil milikku.


"Kau bahkan tidak tau siapa dia. Akhhhh kerjamu hanya mengacau." ucap Alvin geram.


"Alfa. Mohon bantuan. Nano mendapat serangan, bawa ambulans dan bawa Denjaka." lanjut Alvin memanggil bantuan.


"Beta terima ganti."


"Penyusup tertangkap, bantuan segera ganti." jelas Alvin.


"Ai, bawa masuk Abel tunggu ambulans datang." ucap Alvin lalu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya diletakkan di dahi Abel yang sedikit tergores.


Jangan tanya sosok penyerang itu, dia bahkan sudah paham situasi mulai mencengangkan. Setidaknya dia sudah paham jika dia salah sasaran.


"Apa tujuanmu."


"Emmm ma.. ma-maafkan aku gak sengaja."


"Gak sengaja maksud loe." bentak Alvin.


"Ini semua karena gara- gara kamu gak peduli sama aku, aku khilaf kamu tega selingkuh sama dia."


"Hana apa yang kamu pikirkan. Berhenti kekanakan."


"Harusnya aku yang bilang kapan kamu memikirkan aku." jawab Hana, dia adalah pacar dari Alvin.


"Sudah aku katakan konsekuensi abdi negara berat, bahkan sudah sering aku peringatkan." jelas Alvin.


"Kamu alasan aja, bilang kerja nyatanya jemput cabe-cabean."


"Kamu lupa sekarang masih jam kerjaku, dimana letak alasanku. DIMANA. Lebih baik hubungan kita sampai disini kamu gak siap dengan segala konsekuensi dari pekerjaanku. Asal kamu tahu, Aku seorang ajudan putri dari Jendral Raharjo atasanku. dan Selamat kamu berhasil mencelakainya aku bahkan gak bisa menolongmu." ucap Alvin penuh penekanan.


Tak lama terdengar sirine, berasal dari ambulans dan pasukan Denjaka tim khusus selidik yang dipanggil Alvin.


Alvin membopong Abel menuju Ambulans, meminta Airin menemani Abel dalam Ambulans. Sedangkan Tim selidik segera menggiring Hana untuk dimintai keterangan.


"Hana, kenapa bisa begini." tanya Dimas yang notabene sahabat Alvin dikesatuannya sekaligus penanggung jawab Denjaka.


"Aku gak sengaja, aku khilaf."


"Hemmm, sudahlah mari ikut kami. Sesuai prosedur kamu akan kami selidiki dan dimintai penjelasan." ucap Dimas.


Hana pasrah bahkan tak henti menangis dalam diam.


Kejadian sungguh cepat dan ditangani kilat oleh tim Alvin, semua itu agar tak mengundang heboh.


"Shiiiit, Hana gue harus apa." umpat Alvin didalam mobil mengikuti arah Ambulans membawa Abel.


Nampak jelas kemerahan tercetak di pipi mulus Abel, dan sedikit luka memar di dahinya.


"Sudah yahh Bell, jangan berfikir negatif dulu. Biarkan tim mas Alvin yang mengatasi." ucap Airin menghibur Abel.


"Aku hanya bingung Ai, kenapa sampai begini sihh, padahal aku gak pernah nyakitin orang. Hikss BG ninggalin aku, trus aku membahayakan Angga, bahkan sekaraaang, hu hu huuu." Jawab Abel, tangisannya terdengar sangat pilu.


"Iyaa, sabar yah, semua itu pasti ada pembalasannya, tuh si embaknya udah ketangkep." jawab Airin, Abel mengangguk dan tangisannya mulai mereda.


Setelah mendapat perawatan Abel baik, hanya sedikit syok namun kondisi hatinya sudah mereda dikala Alvin mengatakan jika itu kesalahannya yang membuat pacarnya, yang sekarang sudah menjadi mantan.


"Jadi semuanya hanya salah paham" ucap Abel.


"Kasihannn mana masih muda."


"Hushhh Ai kalau ngomong, dia kan perempuan juga."


"Yaa tapi terlalu bar bar, gak liat tuh dia hajar anak bos pacarnya, kamu jadi korban kan." jawab Airin.


Abel tak menanggapi ocehan sahabatnya itu, setelah ditangani oleh tim medis ayahnya kini Abel sedang menuju ruang rawat Angga sesuai rencana.


"Kamu udah ngabarin Angga kan Ai."


"Udah kok, bahkan gue cerita insiden elo diserang macan betina." sahut Airin.


"Kamu ni."


Airin hanya cekikikan melihat Abel kesal padanya.


"Permisiii."


cekleeek....


"Huaaa dua gadis cantik rupanya." sahut Amel mami Angga.


"Siang tante maaf baru kesini, dan ini Abel gak bawa apa-apa."

__ADS_1


"Aduhh gak apa atuh sayang, lahh ini jidat cantiknya kok plesteran." tanya mami Amel.


"Insiden Tan, habisnya bodyguard Abel masih betah tiduran." potong Airin karena dia tahu Abel seolah tak ingin mengingat kejadian itu.


"Hari ini pulang kok." kata Angga singkat.


"Seriously." tanya Airin dan Angga pun mengangguk.


Angga mengalami luka lecet dan lebam-lebam disekujur tubuhnya, namun tulang tempurung lututnya mengalami dislokasi karena salah tumpuan jatuh ketika menahan tubuh Abel.


"Maafin Abel yah Tan anaknya jadi sakit gini."


"Justru itu mami bangga sama dia berkorban menyelamatkan seseorang, tandanya dia menghargai arti kehidupan, dia gentle dan peduli sesamanya." jawab mami Amel, ketiga remaja itu mendengarnya.


Angga terlahir anak tunggal dengan latar belakang kedua orang tua yang beda agama. Sang Mami muslim, itulah kenapa Angga merasa nyaman dengan gadis berjilbab seperti Airin.


Namun bisa dipastikan jika keluarga Airin akan menentang jika Airin memilih pasangan yang tak seiman.


Sorenya Abel dan Airin membantu Mami Amel membereskan barang bawaan Angga.


Abel mengabari sang ayah jika Angga sudah boleh pulang dan dia ijin untuk mengantarkannya.


Ayah Abel sempat mengunjungi Angga saat setelah mereka kecelakaan mau bagaimanapun juga Angga sudah menyelamatkan putrinya.


Papi Angga yang seorang pengusaha pun mengapresiasi kebaikan ayah Abel. Tulus mendatangi orang tua Angga yang berjasa untuk anaknya.


Perihal penyelidikan Ayah Abel tak ingin lengah sedikitpun, dia kerahkan pasukan terbaiknya untuk mengatasi kasus ini.


Keesokan harinya.


Dengan menggunakan kruk, Angga dibantu Abel dan Airin menuju kelasnya. Bahkan Airin sudah menunggu dipintu gerbang sebelum Abel dan Angga datang.


Saat memasuki koridor terdengar bisik-bisik dari para siswa.


"Ehh katanya kak Abel kemaren diserang lagi lohh."


"Emang yahh anak jendral jadi sorotan banget."


"Kasihan kan jadinya kak Angga juga kenak imbas."


Deg.. dadah Abel terasa ngilu dibuatnya, kepalanya mendidih saat ayahnya dihubung- hubungkan dengan kejadian kemarin- kemarin.


"Segitunya kalian membicarakan berita yang gak bermutu sekali." Teriak Airin pada mereka.


"Sudah Ai biar aja, nanti akan ada waktunya." lerai Abel.


Mereka pun melenggang dan memasuki kelasnya karena bel masuk akan segera berbunyi.


"Mas, gimana penyelidikan." ucap Abel terhubung pada sambungan telp dengan Alvin.


"Sedikit lagi Bell, kenapa ada yang iseng."


"Hummm." gumam Abel, namun tak terasa air matanya meleleh.


"Nakal banget sihhh, hiks." ucap lirih Abel sambil mengusap air matanya karena merasa tak tahan untuk tak menangis.


"Lahhh, kamu kenapa Bell." tanya Devan yang tak sengaja melihat Abel menangis.


Sedangkan Airin yang masih membantu Angga ketempat duduknya menoleh.


"Dev, nyingkir." teriak Airin menggema, dia tahu kondisi hati Abel sedang tak baik.


Abel bukan tipe cengeng, namun segala sesuatu jika dihubung- hubungkan dengan keluarganya membuat Abel sedikit sensitif.


Bahkan masalahnya dengan BG pun Abel cukup tegar menyikapinya.


Hingga selesai jam pelajaran Abel memilih tak kekantin rasanya dia masih enggan mendengar ocehan dari murid lain.


"Dev mintol belikan kasihan tuh si Abel." ucap Airin, Devan mengangguk lalu pergi ke kantin.


Beberapa bulan tinggal sekelas membuat mereka dekat dan sedikit tahu karakter masing-masing.


"Masalah mantan mas Alvin gimana Bell." tanya Airin.


"Nggak tau masih diurus juga, tapi kata mas Alvin ayah hanya memperingatkan."


"Hahhh demi apa dilepas." sahut Airin.


"Hm, cuma wajib lapor 3 bulan."


"Syukurin, seenggaknya biar kenak mental sering ketemu sama petugas biar gak sembarangan main hajar anak orang."


"Kok jadi kamu yang kesel sihh Ai." celetuk Angga.


"Iyaa dong loe gak tau aja tuh muka nenek lampir hampir sama kayak kelakuan Melisa, sama-sama gak tau malu juga."


"Aiiii, sudah lahh yang penting aku gak berbuat jahat ke orang."


"Hemmm."


Abel memang tak pernah melakukan kesalahan, dia terlalu baik sehingga sering disakiti yang bahkan bukan kesalahannya.


Berita Abel seolah tak ada hentinya selalu menjadi trending di mading sekolah.


Abel memilih diam tak menggubrisnya sedikitpun.


Pulang sekolah Abel bergegas menuju mobilnya yang sudah terparkir dihalaman sekolah, Airin sedang mengantar Angga.


"Bell,." ucap seseorang yang sudah menarik tangan Abel. Merasa ada yang mencegahnya Abel menoleh.


"minta waktunya sebentar dong, please." lanjut orang itu.


Abel menoleh ke arah Alvin.


"Selesaikan dulu, mas tunggu di warung depan." ucap Alvin lirih.


Abel pasrah, terlanjur terciduk.

__ADS_1


__ADS_2