
Setelah seminggu ini Bagaskara putra dari bapak Hermawan sibuk dengan perbasketan, kini masa liburan telah tiba. Sekolah memberikan Dispensasi berupa meliburkan para pemain karena sudah bekerja keras 6 hari kebelakang.
Seperti janjinya BG akan membawa Abel berlibur dikala mereka mampu menjadi juara, Abel menentukan Bali tempat yang memiliki keindahan bak surga dunia.
"Jadi siapa aja yang ikut baby." tanya BG.
"Hemmm, enggak banyak soalnya Metta, Dekka, Ai juga masih sekolah, anak cowok gimana."
"Hanya Orlando, Gama yang gak bisa yang lainnya bisa hanya saja Riki dan Angga masih ragu."
"Hemmm i know." ucap Abel.
"Gimana kalau berangkat setelah pulang sekolah aja." lanjut Abel setelah berfikir cukup lama.
BG berfikir sejenak karena mereka pergi menggunakan pesawat pribadi milik papanya.
"Halo pa."
"Ya, kenapa."
"Kalau, aku berangkatnya sorean bisakah."
"coba telp kapten Rifky."
"Okee baiklah."
Atas saran dari sang papa BG pun terlihat menelpon kapten pilot pesawat pribadi milik keluarga Hermawan.
BG kini tengah bersama Abel dirumah Abel, semua barang milik BG sudah dikemasi dan menanti para sahabatnya datang.
"Cuma sehari aja kan Bell."
"Iyaa bun."
"Berapa anak."
"Lahh ini, tadi Ai baru ngabarin dia ada urusan disekolah trus yang gak dapet dispen kan masih sekolah juga." jelas Abel.
"Kenapa harus jauh ke Bali tohh Bell." tanya Bunda saat Abel tengah mengemasi pakaiannya.
"Soalnya disana kita bisa nginap di resort papa, pesawatnya juga milik keluarga Bagas Bun."
"Iyaa bunda tau."
"Bunda pengen ikut yahh."
"Ahh kamu canda, kalau bunda ikut ayahmu piyee."
"Nanti kita liburan lagi sama keluarga yah Bun." potong BG yang baru masuk ke kamar Abel.
"Gimana." tanya Abel.
"Kata kapten Rifky, berangkatnya ngikut kita. Jadi sekarang kabarin anak-anak disekolah biar ijin ke ortunya. Masalah baju bisa beli disana kan banyak yang jual." papar BG, Abel melihat ke sang bunda.
"Lagian kan cuma sehari Bell, gak papa beli disana yang penting ijin keluarganya dulu."
Abel mengangguk lalu mencoba menghubungi Dekka, hanya Dekka yang memiliki kepekaan dan ketelitian dalam penyampaian pesan.
"Hai Dekk, aku jadi berangkat agak sorean kamu bisa kan kalau berangkat sore."
"Hahh, gilak loe kan gue belum packing."
"Aku belikan kalian baju sepasang nanti, habis ini aku mau kepasar okeh. Kamu dan yang lain buruan ijin ke mamaknya masing-masing."
"Boleh juga sihh, tapi semua kita tinggal berangkat kan, pesawat gak ikut bayar kan hehehheh."
"Hemmmm, tinggal duduk sama selonjoran aja kelean." potong BG yang mengambil ponsel Abel.
"Huaaaa, siapp capt. Ehhh jang lupa kabarin Riki yahh boss."
"Hemmmb." sahut BG.
Tak lama berselang Abel pun menghubungi Airin, mungkin ia tengah rapat bersama OSIS.
Setelah semua orang terkondisikan dan siapa-siapa yang akan ikut kini Abel dan BG akan pergi berbelanja mencari kebutuhan mereka selama berlibur, tentu saja termasuk baju untuk sahabatnya.
Enam cowok, lima cewek dipastikan pergi ke pulau dewata Bali, mereka akan berkumpul dirumah Abel guna berangkat bersama. Bahkan Abel pun sudah mengemas pakaian Airin sebelum dia pergi berbelanja.
"Hati-hati selama liburan yahh." ucap Bunda.
"Iyaaa bun."
"Pasti bun."
"Salam ke ayah yaa bun." ucap BG, bunda Abel mengangguk tak lupa menebar senyum. Senyuman yang diturunkan kewajah rupawan Abel.
"Jangan macem-macem yah Gas, mas pantau dari sini." sela Alvin.
"Yaelaaa mas ngikut aja deh kalau nggak percaya sama gue elo." sahut BG.
"Ogaah mas mau malmingan juga."
"Beneran nihh mas, sayang banget gak bisa naik private jet." celetuk Kevin.
Alvin yang mendengar kicauan Kevin pun menjewer telinga remaja somplak itu.
"Ishhhh auuuhh sakit mas ya ampun."
"Bandel, pake pamer naik private jet segala, huuu dasar udik." jawab Alvin tak mau kalah.
"Iyaaa ini tangannya lepasin dulu, panas nih telinga gue."
"Hahhahahh syukurin."
"Mampuss, kalau sama mas Alvin langsung eksekusi kan loe wkwkwk." ucap Devan.
"Sudah-sudah ini nunggu siapa." lerai bunda.
"Anak bunda yang cantik dkk belom turun nohh." sahut Devan.
"Hahhh,. Abeeeeeel." teriak Bunda.
__ADS_1
"Iyaa bun, ya ampuun kenapa teriak-teriak sihh." sahut Abel sambil menuruni anak tangga.
"Suka-suka bunda, kamu dikamar ngapain aja ini udah ditungguin temannya juga."
"Nihh, mereka bingung mau pilih baju."
"Udah semua kan, nanti mampir rumah Airin dulu kita sekalian berangkat." sahut BG mereka semua mengangguk lalu bergantian pamitan kepada bunda Abel.
Menggunakan 2 mobil milik Angga dan BG untuk bersebelas menuju bandara. Hingga saat ini kejelasan hubungan Angga dan Airin belum ada titik jelas. Angga mengklaim Airin, namun mereka tidak berstatus pacaran. Airin pernah bercerita pada Abel keluarganya bisa murka jika mengetahui dia dekat dengan Angga, terlebih sang kakak Azzam.
Dua puluh lima menit perjalanan menuju Bandara, BG sudah menginfokan pada kapten pilot dan Abk pesawat pribadi sang papa. Semua Abk notabene masih ada kerabat Hermawan itu menandakan mereka masih ada hubungan keluarga.
"Hai nona cantik, salam kenal, Rifky saya pilot pesawat." ucap kapten Rifky.
"Salam kenal kakak." jawab Abel.
"Lahiyaaa pantesan aja mintak diiket yahh bang, modelannya kek gini." ucap pramugari yang bernama Ana.
"Kenapa emangnya mbak." tanya BG sedangkan Abel dan teman-teman nya disana pun bertanya-tanya.
"Bapak loe cerita, loe minta ngiket anak orang, takut kalau keduluan orang, kalau mas tau juga udah gue gebet." jelas Rifky.
"Sebelum loe rebut Abel, gue pastikan tuh kepala geser." jawab BG.
"Hahhahahah, sama kek bapaknya An."
"Btw baby ini mas Rifky, mbak Ana dan Abk lainnya masih ada kerabat sama papa." jelas BG.
"Iyaa soalnya bapak Hermawan enggak mau kehidupannya dimasuki oleh orang asing." lanjut Rifky, Abel pun mengangguk paham.
Pesawat pun take off lima belas menit kemudian, BG membawa Abel dan cewek-cewek keruangan yang bisa digunakan untuk selonjoran, karena terdapat beberapa tempat tidur sedangkan yang cowok bergabung dilambung pesawat. Jarak Surabaya Bali hanya memakan waktu 45 menit.
"Ya ampun si Metta mabok tuh anak."
"Kan loe tau si Metta tuhh pelorr."
"Dahh biarin aja, kalau entar muntah-muntah malah bikin ribet."
Setengah perjalanan benar saja, Metta mulai bergejolak, dalam matanya yang terpejam bulir keringat mulai muncul.
"Bell, si Metta tuhh. Coba loe tanyakan pramugari sapa tau ada obat-obatan." ucap Airin.
Abel berdiri mencari sang tunangan, guna memberitahukan kejadian pada Metta.
"Looohh baby, kenapa kesini." tanya BG yang melihat Abel keluar dari kamar pribadi dipesawat.
"Metta mabuk, ada obat-obatan nggak."
"Ciiih si Metta udik, Ndesooo."
"Hahhaha, kek naik bemo aja tuhh die mabuk segala."
"Hemmm, dasar kalian ini." gumam Abel.
"Aku tanyakan mbak Ana." ucap BG lalu meninggalkan sang tunangan, Abel pun menduduki kursi milik BG.
Hanya bersisa Devan, Kevin dan Angga yang terjaga yang lainnya tertidur.
"Bell, Metta muntah gimana nihh." teriak Cindy keluar dari kamar.
Suara Cindy nyatanya membangunkan yang lainnya.
"Baby, cuma ada herbal masuk angin, tapi 10 menit lagi mau landing kok."
"Iyaa gak papa, mungkin tadi dia gak makan makanya masuk angin." jawab Abel.
"Yaudah keluar bandara kita makan dulu, soalanya dari bandara ke resort setengah jam perjalanan." jelas BG.
"Kenapa." tanya Angga yang terjaga.
"Metta muntah." jawab Kevin.
"Lahh bukannya tadi cuma masuk angin."
"Barusan Cindy keluar bilang gitu." jawab Devan.
"Mlendung kalik."
"Loe kira Metta apaan." ucap Kevin sambul menjitak mulut Wira.
"Sekalinya ngomong tajem loe Wir, teman laknat emang loe hahahah."
BG beranjak menuju kamar dimana para cewek berada sebagai penanggung jawab dia harus memastikan semua temannya dalam kondisi baik.
"Baby." panggil BG.
Sementara didalam kamar para perempuan tengah menangani Metta yang terus memuntahkan cairan kehijauan, bahkan Cindy tengah menggosok punggung Metta dengan logam.
"Bentar, masih kerikan nihh." jawab Abel sambil mengeluarkan kepalanya dari pintu.
"Sini ahh entar kejepit kepalanya." Ucap BG menarik keluar Abel.
"Magh nya kambuh, muntah cairan asam lambung, udah aku kasih Roti susu kok." jelas Abel.
BG membawanya ke tempat duduknya, mendudukan Abel dipangkuannya karena kursinya dipakai Riki tidur otomatis berkurang.
"Gimana Metta Bell."
"Udah mendingan lagi dikerikin anak-anak, dari pagi belum makan jadi asam lambungnya naik." jelas Abel.
"Kamu udah makan kan sebelum berangkat." tanya BG, tangannya sudah melingkar diperut Abel.
"Ihhh, tangannya lohh."
"kenapa sih, gini bentar baby."
"Yaa ampunn malah mesra-mesraan."
"Bodohhhk." gumam BG namun masih bisa Abel dengar.
"Aku udah makan kok, bunda juga gak mau sampe aku mabuk udara." jelas Abel sambil berupaya meregangkan tangan BG dari perutnya, namun semakin ia coba melepaskan justru semakin erat tangan BG memeluknya.
__ADS_1
"Maaf yahh." ucap Abel pada teman-temannya karena kelakuan BG.
"Gak papa Bell, daripada entar si BG meluk orang lain tambah repot."
Pilot pesawat memberitahukan bahwa pesawat akan segera landing, BG dan yang lainnya bersiap tak lupa mengemas barangnya untuk turun dari pesawat.
"Hoaaammmms."
Kreeekkk..kreekk
Terdengar peregangan para lelaki setelah tertidur.
"Sayang bentaran, aku mau bilangin anak-anak nih." ucap Abel yang ingin melepaskan belitan sang Bagaskara.
"Dev, panggilin anak ciwi-ciwi gihh." titah BG yang tak mau lepaskan Abel, Devan beranjak menuju kamar pribadi.
"Ini kenapa udah pangku-pangkuan dahh." tanya Riki.
"Sadar diri loe." sahut BG.
"Tuuh kursi penuh sama badan loe kimprit."
"Ehehehhh, maaf."
Semua sedang berkemas pesawat sudah terparkir dilandasan pacu bandara Ngurah Rai Denpasar Bali.
"Woeeey udah liburan belom."
"Healing kita Healings."
"Dasar kampungan." dengus Metta.
Teriak Devan dan Kevin ketika mereka keluar dari pesawat jet milik BG, BG menggenggam erat Abel seolah takut tertinggal.
Metta nampak sudah membaik setelah perutnya diisi oleh makanan, sejak saat itu BG memastikan perut teman-temannya tak boleh ada yang kosong terlebih Abel.
Setibanya di resort milik keluarga Hermawan, semuanya dibuat takjub karena tak jauh dari resort nampak jelas hamparan lautan terpampang nyata.
"Huaaaa pantai."
"Let's go to the beach." ucap Abel yang sudah bersiap berlari namun dengan gerak cepat BG menarik badan sang Arabella.
"Sorean dikit Baby, kamu barusan makan nanti perutnya gak nyaman."
"Iyaa beres-beres dulu kopernya." sahut Dekka.
"Aku gak turun dulu yahh masih ngantuk." ucap Metta yang memang masih nampak pucat.
"Resortnya ada 5 kamar, yang cewek jadi satu aja diatas kamar yang paling besar doble king bed, udah aku tambahin 1 bed lagi biar nyaman." jelas BG.
"Makasih yahh boss."
"Siapp."
"Mantull dahh boss ekee."
Setelah membereskan barang-barang, BG menghubungi pihak tour untuk menanyakan rencana keesokan hari karena waktunya terbatas maka tempat yang mereka kunjungi pun tak jauh dari resort.
"Jadi besok kita start pukul 7 langsung ke Tanah lot, Bedugul, Sangeh, tempat perbelanjaan. Maksimal jam 16 WITA sudah kembali ke resort." jelas pihak Tour.
"Okehh Bli, karena kita kembali pukul Delapan jadi cukup untuk istirahat." jawab BG, lalu pihak tour berpamitan, BG mengetuk pintu kamar Abel mengajaknya bermain dipantai.
"Baby ayuuk katanya mau kepantai."
Namun saat mendapati Abel memakai baju sedikit minim membuat BG mengetatkan rahangnya.
"Astagaaa, ini bajunya Arkana kamu pakai."
"Hahh kok Arkana sihh, baju aku."
"Ganti sayank, aku gak mau yahh kamu pamer paha kek gini astaga, disini bukan private beach." ucap BG.
"Tapi kan ini gak terlalu pendek my prince."
"Ganti sayang cepet jangan buang waktu."
"Iyaaa."
Akhirnya Abel mengganti celana pendeknya dengan legging dibawah lutut, walaupun dibawah lutut BG pun merasa tak rela karena banyak wisatawan dipantai itu.
"Sudah yahh boss si Abelnya di kurung di kamar aja biar gak diliatin cowok lain."
"Yeee babang bucin."
Abel tak ingin liburan nya terganggu karena ribut dengan BG, melilitkan kain selendang di pinggangnya agar menyamarkan celana legging yang melekat di kakinya.
Airin dan Angga sudah keluar, begitu pula Riki dan Dekka. Metta dikamar sedangkan Devan dan Kevin memilih tetap di resort.
"Sudah kan gak marah lagi." ucap Abel sambil menangkupkan tangannya kewajah BG.
"Begini lebih baik."
"Okeee noted, next liburan enggak pakai yang minim-minim deh." jawab Abel lalu berjalan bersama menuju pantai. BG menggandeng posesif sang tunangan.
Mereka segera bergabung bersama Airin dan lainnya yang sedang menceburkan diri ke pantai yang tak begitu ramai karena lingkungan pantai hanya untuk beberapa resort di sekitarnya.
Nampak raut bahagia Abel saat berlarian dan bermain air bersama Airin dan kedua sahabatnya, sedangkan para lelaki hanya memandang dari pinggiran pantai.
"Segini aja udah bikin mereka bahagia." gumam Angga.
"Abel justru lebih simpel, dia diajak kedanau udah happy." sahut BG, sedangkan Riki dan Wira sibuk dengan mengabadikan keempat gadis cantik itu atas permintaan mereka.
"Thanks yahh udah ajak kita."
"Tanpa kalian gak mungkin gue bisa kesini sama Abel."
Tak lupa mereka mengambil foto bersama pasangan masing-masing, nampak Abel dan BG berpose dengan BG menggendong Abel dipunggungnya berlatar sunset. Bahkan BG setia menggendong Abel hingga ke resort karena tak ingin Abel kelelahan setelah bermain air pantai.
"Happy baby."
"Luar biasa happy banget, makasih yah." jawab Abel.
__ADS_1
Cupp.. Abel mencium pipi BG singkat.
"Everything for you my baby." sahut BG sumringah, Abel pun nampak nyaman dipunggung BG.