
Beberapa bulan berlalu Rutinitas Abel dan yang lainnya semakin bertambah. Abel, Dekka dan Cindy sedang sibuk-sibuknya dengan tugas makalah. Sedangkan para lelaki mereka hampir tak ada tugas karena jurusan bisnis sudah dipastikan mahasiswa yang telah memiliki jalan menjadi pengusaha. Bahkan yang tengah membagi waktu antara bekerja sambil kuliah seperti BG, pihak dosen pun mengurangi jam kuliah dengan membuat paper atau laporan kegiatan selama tidak datang ke kampus.
Angga sudah mulai mengisi waktunya dengan kerja dan kerja, menjadi Aspri seorang Bagaskara dan freelance di kafe naungan Kevin. Pernah sekali waktu sang mama sedang tantrum mencari keberadaan nya, sehingga membuat Abel membantu membujuk mama Angga agar memperbolehkan dia kuliah dan kerja.
Flashback On
Saking sibuknya Angga bekerja dia sampai lupa mengabari tantenya, beruntung sang Tante bisa memahami.
Namun tidak dengan sang mama, mama Angga tengah dilanda rindu berat padanya namun hanya dipendam. Seperti bom waktu, tiba-tiba mama Angga histeris menangis tiada henti. Akhirnya Tante Angga pun menghubungi Angga berharap mamanya segera pulih.
"Angga mama mu tantrum."
"Apa sudah dibawa ke psikiatri nya Tante."
"Gimana caranya mamamu mengurung diri, sudah dibujuk bulek dan yang lainnya."
Tanpa pikir panjang Angga pun memutuskan untuk pulang kerumah tantenya. Karena saat Tante Angga menghubungi nya mereka sedang berkumpul, jadilah Abel dkk pergi bersama mengunjungi mama Angga.
"Nanti aku bantu bujuk mama mu Angga." ucap Abel menenang kan Angga.
Setibanya dirumah sang Tante benar saja semua saudara mama nya telah berkumpul.
Melihat Angga datang dengan beberapa temannya membuat Tante Angga merasa lega sekaligus yakin Angga akan bangkit dari keterpurukannya.
"Mamaaa, ini Angga ma. Coba mama lihat Angga bawa siapa." ucap Angga diluar pintu kamar sang mama, semenjak masuk kerumah Tante nya, terdengar jelas suara tangisan dari sang mama.
Cekleekk..
"Alhamdulillah."
"Akhirnyaaa."
Seruan dari Tante dan saudara Angga menggema.
"Angga." ucap mama Angga lirih, wajahnya nampak sayu dan jangan lupakan lingkaran hitam dibawah mata menghiasi karena berhari-hari beliau menangisi anak semata wayangnya.
"Aku pulang ma." ucap Angga sembari merengkuh tubuh ringkih sang mama.
*"Kenapa tinggalin mama nak, mama kangen hikss.. hikss.. mama ta takut kamu pergi ninggalin ma..." *
*"Syuuutttt." Angga menyela ucapan mama nya yang mulai melantur. *
__ADS_1
"Mama gak boleh bilang aneh-aneh. Tuhh Angga ajak teman-teman Angga." lanjutnya sambil menunjuk Abel dkk.
"Tante.. masih ingat sama Abel." ucap Abel, melihat mama Angga seolah membuka memory nya.
*"Sini yuk ngobrolnya diruang tamu." sela Tante Angga karena melihat mereka bergerumbul di depan kamar. *
Abel menuntun mama Angga tak lupa sambil mengusap pelan tangan mama Angga, menyalurkan kehangatan.
*"saya Abel, teman Angga yang pas mau ditabrak motor diselamatin sama anak mama. Ingat...??" *
"Airin." gumam lirih mama Angga.
"Iyaa benar teman Airin juga." jawab Abel semangat mendengar respon dari mama Angga, bahkan BG dan lainnya senyum melihatnya.
*"Airinnya mana." *
"Airin kuliah di Australia Tante, hebat kan teman Abel." lanjut Abel, mama Angga mengangguk, Abel pelan- pelan meraih simpati mama Angga agar teralihkan.
*"Wahh kenapa jauh sekali sayang." *
*"Ehmmm, Kebetulan dapat beasiswa, Ohiyaa Angga juga sudah kuliah bareng-bareng kita lohh Tan, Tante senang kan kalau Angga kuliah." *
"Ehhm Tante,.." lanjut Abel yang hendak memberitahu aktivitas Angga selama ini.
"iyaa anak cantik."
"Apa Tante marah kalau Angga jarang pulang, karena.." Abel menjeda ucapannya, seolah tak tega memberitahu kan nya.
Abel tersenyum pada mama Angga yang nampak antusias menunggu cerita Abel.
*"Karena, Angga bantuin Bagas dikantor nya Tante. Yahh lumayan buat sewa kos sama kuliah. Apa boleh Tante." *
Cukup lama mama Angga berfikir, dan seperti mencari kebohongan Dimata Abel.
"Benar itu Angga." tanya mama Angga, lalu Angga mengangguk.
*"Pergilah nak kejar cita-cita mu, mama akan selalu menunggumu sampai kamu sukses, sampai kamu bisa berdiri dikaki kamu sendiri." *
"Huaaaa, makasih Tante." ucap Abel lalu berhambur memeluk mama Angga, seolah lega mengungkapkan rasa yang rumit.
"Apa mama mau ikut Angga tinggal di kosan, biar bisa ketemu Angga terus." sela Angga, mama Angga tersenyum lembut lalu mengusap kepala Angga.
__ADS_1
*"Mama sama Tante aja, tapi janji kamu kalau libur panjang pulang kesini." *
*Angga mengangguk, semua yang berada di dalam ruangan ini merasa haru biru, mereka harus pelan-pelan dalam menyikapi masalah hati. *
Flashback off
Semenjak hari itu mama Angga bahkan sudah tak pernah lagi tantrum, Angga pun menjadi lebih giat lagi menjalani hidupnya.
Hari ini ada jadwal meeting di jam makan siang, Angga sebagai asisten pribadi seorang Bagaskara sudah bersiap mengisi materi kerja sama.
"Selamat siang Tuan Sandi, saya asisten pribadi Tuan muda Bagaskara mohon menunggu beliau sedang ke toilet." ucap Angga menyambut calon rekan kerjanya.
"Ohiyaaa it's okey.. Tunggu saya kok nggak asing dengan anda. Maaf dengan siapa yah."
"Ohh saya Anggada tuan, apa anda pernah bertemu dengan saya. Mohon maaf bila saya kurang memperhatikan."
"Ohh tidak ini kali pertama kita bertemu, namun wajah kamu kayak saya pernah bertemu."
"Baiklah tuan Sandi."
"Ngomong- ngomong sepertinya anda masih muda." tanya tuan Sandi.
"Benar tuan, saya masih kuliah ditempat tuan muda Bagas juga."
"Wahhh saya sedang berhadapan dengan para pemuda luar biasa rupanya, saya senang sekali."
"Selamat siang pak Sandi mohon maaf saya baru datang, mohon maklum saya dari kampus sehingga perlu membersihkan diri untuk bertemu pak Sandi."
"Ahh tidak masalah nak, Kalian berdua sungguh hebat. Kuliah sambil bekerja."
"Ahhahahahh benar pak Sandi, semua karena tuntutan." jawab BG sekenanya, mereka lalu diskusi membahas kerja samanya sambil makan siang. Pertemuan yang santai namun sarat akan dolar.
"Masih muda, tampan pekerja keras pula sungguh hebat sekali orang tua kalian nak." kelakar pak Sandi, mendadak membuat dada Angga bergemuruh, dia tersenyum kecut. Orang tua yang bagaimana yang dimaksud pak Sandi bahkan papanya saja sudah tak memperdulikan dirinya.
"Baiklah semoga kerjasama kita berjalan lancar mas Bagas, mas Angga. Apa kamu putranya pak Leo Sanders." tanya pak Sandi membuat Angga bungkam, namun dia mengangguk pelan.
"Wahhh hebat sekali kamu bisa berdiri sendiri tanpa bantuan papa mu. Lanjutkan usahamu nak, semangat papamu kolega saya tapi saya kagum sama kamu." ujar pak Sandi, Angga merasa tersanjung dengan ucapannya. Benar dengan bekerja tanpa bantuan papanya nyatanya Angga bisa berdiri tegap.
"Saya bukan papa om, saya bisa hidup tanpa dirinya." ucap Angga sebelum benar-benar meninggalkan tempat meeting mereka.
"You did great job bro." sela BG menyemangati Angga.
__ADS_1