
Spinn Off Masih Di putih Abu-abu yahh Guys..
Tap 👍 like ❤️ love 🎁 Gift dan jangan lupa ⌨️ Komennya Ditunggu selalu.
o~
o~
Ruang BEM Universitas Erlangga
Bima adalah Mahasiswa yang menjabat sebagai Ketua BEM tahun ini. Mahasiswa tergolong berprestasi dan memiliki segudang aktivitas.
Pada saat Rapat TM dengan anggotanya, Bima sudah menyampaikan pesan yang dia sebut red note karena merupakan sebuah perintah mutlak dari sang Rektor pemimpin tertinggi sekaligus pemilik Universitas.
"Jadi guys gue sekalian mau sampein pesan dari rektor yang bahkan mengarah ke perintah."
"Apaan."
"Tumben banget rektor turun gunung."
"Iyaa gak biasa-biasa nya."
"Dengerin dulu Bima ngomong guys."
"Haaaahhhh."
"Bisa gue lanjut."
"Lanjutttt."
"jadi bisa gue bilang ini wajib kalian hindari jangan sampai bikin kesalahan. Gue kasih ini lambang RED karena warning banget yahh buat nasib kita selanjutnya." jelas Bima singkat, namun dari sekian anggota BEM tak ada yang paham sedikitpun.
"Kayaknya baru sekarang deh Bim ada gini-gini."
"Emangnya apaan perintah nya Bim."
"Jelasin sejelas-jelasnya deh, jadi kepo gue."
"Oke-oke jadi gini udah gue print out isi perintah nya, ntar Loe baca sendiri dan pahami gue juga gak bisa bilangin kalian harus gimana yang intinya..." papar Bima sambil menunjukkan paper copyan lalu sejenak Bima menghela nafas.
__ADS_1
"Dari sekian banyaknya Maba kita yang jumlah nya sekitar 300 lebih ada 6 Maba yang wajib kita jaga. Dalam artian Loe Loe pada jangan bikin masalah sama 6 orang ini, dan 6 orang spesial ini gue bilang yah, gue kasih kode red note. Kenapa, yahh biar kalian bisa bedain mana yang maba prioritas mana yang bukan, gimana setuju nggak kalian." jelas Bima lalu dia memastikan Anggotanya paham dengan ucapannya tadi.
"Gue agak bingung sihh, apa intinya kita jangan Sampek nge gembleng 6 bocah ini kan." tanya salah satu dari mereka, dan Bima pun mengangguk.
"Emang apa sih masalah nya."
"Gue gak tau pokoknya Jang pada bikin rusuh kalau kalian masih mau lanjut kuliah." jawab Bima sekenanya.
"Apa ada yang anak nya rektor yahh."
"Kalau gak gitu masih kerabatnya kali."
"Atau nggak anak pejabat."
"Sudah yahh, makanya gue bilang apa pahami sendiri karena gue gak ngatur kalian juga, pokoknya disini udah gue kasih tau Loe pada yah, nah kalau kalian pada pengen coba-coba cari masalah silahkan kalau gue mau cari aman."
"Ya jangan gitu juga Bim."
"Apaan."
"Yahh Loe kudu tegas, kalau ini memang wajib dihindari Loe kudu keluarin SK BEM dong biar kita-kita juga gak Meleng nantinya."
"Okeeey, gini deh entar gue Reyhan sama Merry bakal berunding dulu, ada hasil gue bikin Per BEM darurat yah gimana." Ucap Bima lalu mengajak wakil dan sekertaris nya.
"Nahh gituu aja."
"Sekalian nih pengen tau gue maba nya yang mana."
"Okeeh deh Bim."
"Yahh setuju."
"Gue juga gak tau mukanya kek gimana, rektor cuma ngasih nama aja. Dan nama-nama orang spesial ini nanti juga bakal gue share yahh."
Sementara itu ada beberapa anggota Bima hanya diam, salah satunya seorang gadis yang merasa penasaran dengan para Maba spesial.
"Siapa sih orang istimewa nya rektor, sehebat apa mereka dan kek gimana rupanya." gumamnya dalam hati.
Meskipun rasa penasaran meliputi para senior Abel dikampus, kini mereka ber enam bahkan tengah bersantai menyiapkan peralatan untuk berperang esok hari. Bahkan Abel sudah tak rewel lagi dengan statusnya nanti saat ospek.
__ADS_1
Tak tau saja para senior mereka bersiap untuk menelan hidup-hidup para Maba yang tidak patuh akan perintah disaat mengikuti masa orientasi. Senioritas pastilah terjadi bahkan hampir diseluruh universitas, hanya saja yang membedakan mana universitas yang memang benar memberlakukan gemblengan atau tidak.
Keesokan harinya
Status Abel yang telah menjadi Mahasiswi baru yang tengah mengikuti masa orientasi hari ini akan dia rasakan seperti apa itu masa-masa Ospek. Walaupun sudah tak seantusias seperti kemarin -kemarin Abel tetap senang hari ini telah tiba.
Setelah bersiap pagi ini Abel berangkat bersama sang ajudan yang telah tinggal menemaninya semenjak ayah bunda pindah ke Jakarta. Sudah terhitung dua bulan lamanya sang ayah menetap di Jakarta dan Abel tinggal bersama Alvin dan Nina dirumah.
"Nanti mas tinggal dulu yah Bel, anterin mbak mu ke kantor dulu." ucap Alvin saat diperjalanan menuju kampus.
"Mas balik kalau Abel udah pulang juga gak apa-apa."
"Ini hari pertama takut masih ada yang coba cari masalah." jawab Alvin, Nina hanya mendengar obrolan mereka tanpa menoleh kearah sang suami.
"Gak akan mas bukan kah sudah ada privilege dari rektor."
"Memo itu ada bahkan bisa dilanggar oleh mereka yang ingin melewati batas." jawab Alvin tegas setidaknya Abel harus paham dengan ucapan Alvin.
"Bukan kah dari dulu-dulu tanpa kamu mendapat perlindungan pun kamu mendapat perundungan dek. Apalagi dengan tanpa perlindungan seperti saat ini. Setidaknya coba hargai usaha Om Bagas untuk menjaga kalian dari jauh." sela Nina.
"Iyaa mbak Abel paham kok, cuma Abel juga gak jamin bakalan ada senior yang gak cari perkara sama Abel apalagi ditambah ada privilege kayak gini."
"Mbak tahu maksud kamu, tapi percaya saja perintah rektor tak terbantahkan jadi hanya senior kamu yang tahu kalian mendapat perlindungan tidak dengan mahasiswa baru yang lain." jelas Nina, Abel mengangguk.
"Apa perlu mas kasih tahu kamu apa bentuk isi program mereka." potong Alvin, Nina menoleh ke arah sang suami.
"Memangnya apa mas." Nina yang menjawab seolah dia belum tahu maksud Alvin, padahal dia lah yang telah menyelidiki para senior Abel dengan segala rencana dan bentuk senioritas nya seperti yang terjadi di tahun -tahun sebelumnya.
"Terjadi senioritas diluar batas peraturan kampus seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan bahkan dua tahun lalu ospek dihentikan dihari ketiga karena ada protes dari keluarga Mahasiswa baru."
"Abel pasti paham maksud mas Al dan mbak Nina kan. Senioritas sering terjadi, tapi banyak diantara mereka yang melakukan kegiatan senioritas diluar batas Abel paham." sambung Nina, Abel pasrah hatinya sudah terbuka, setidaknya dia baru mengingat semua yang dikatakan Alvin dan Nina memang sering terjadi.
"Abel paham mbak, even mereka tak mau bikin masalah dengan kami setidaknya Abel menjauhkan mereka dari investigasi mas Al dan tim jika coba-coba buat masalah."
"Good girl, sepertinya Bagas kurang memberikan info padamu dek, makanya kamu nggak terima dengan hadiah dari om nya."
"Begitulah Bagas mbak."
Abel lega setidaknya dia sudah dapat petuah dari Alvin dan Nina bisa membuka hatinya. Memang BG lah yang tidak mau buka-bukaan atau menjelaskan secara gamblang pada sang tunangan yang membuat hatinya galau.
__ADS_1
Abel melangkahkan kaki jenjangnya dengan tegap dan ringan diantara lalu lalang para mahasiswa baru, menanti sang tunangan dan para sahabatnya.