
Sampai Kamu Lancang masuk ke kehidupanku dengan Gaya Curang mu..
Aku pastikan kamu bahkan tak akan sempat tersenyum hari ini.
Arabella
*
*
Love Monday..
Pagi hari Abel sudah bersiap berangkat karena hari ini upacara bendera. Tak perlu lagi mendengar suara merdu dari bunda nya karena suara tangisan Arkana lebih Toa dari sang bunda untuknya bangun pagi.
"Pagi ayah bunda."
"Pagi sayang." jawab Ayah.
"Semuanya sudah disiapkan gak ada berkas ketinggal kan." tanya Bunda.
"Sudah mammiii." jawab Abel.
"Hati-hati yah nduk, pastikan Alvin terlihat. Ohh ayah lupa sekarang sudah balik lagi bodyguard nya." ucap Ayah ambigu.
"Hahhhh." sahut Abel dan bunda kompak.
"Ahahhahahah, anak sama emak kompak." kata ayah sambil tertawa.
"Ohhh mulai yahh, liat nanti yahh." jawab bunda tersenyum smirk.
"Ahh bunda gak asyik main ancam Bell." celetuk ayah.
"Boddohhhh rasain, wleee." sahut Abel, ayah pun hanya menggelengkan kepala melihat kedua wanita tersayangnya.
"Kan Abel udah baikan sama Bagas jadi bodyguard kamu kan nambah sekarang, bentar lagi udah jadi tunangannya jadi tugas Bagas juga harus dan wajib menjaga abel." Ucap ayah, sontak membuat Abel merasakan panas di pipinya.
"Owalahhh." jawab bunda.
Dan keluarga pak Raharjo melanjutkan sarapan pagi, kemudian Abel berangkat beriringan dengan mobil sang ayah agar cepat sampai karena mengikuti patwal.
Sesampainya di sekolah Alvin mengikuti Abel menuju kelasnya, sekaligus untuk membeberkan berkas yang akan Abel paparkan hari ini.
"Selamat pagi anak-anak tak terasa kita berkumpul lagi di pagi ini karena kegiatan rutin upacara bendera. Baiklah bapak tidak akan lama-lama berpidato karena pagi ini ada yang berkepentingan ijin untuk menyampaikan sesuatu. Baiklah silahkan ananda Arabella." ucap kepala sekolah mempersilahkan Abel.
BG tak terkejut dengan keberadaan Abel didepan mimbar Upacara.
Abel sekilas melihat BG dan tersenyum tipis, tak lupa mencari keberadaan sang ajudan.
"Selamat pagi Bapak ibu guru dan teman-teman semuanya, maaf telah mengganggu saya minta waktu sebentar tak lebih dari 20 menit.
Jadi ada maksud saya disini untuk menyampaikan sedikit berkaitan dengan insiden kecelakaan saya kemarin."
Sejenak Abel menarik nafas karena terdengar riuh bisik-bisik dari para siswa.
"Jadi berdasarkan penyelidikan dari petugas, sudah tertangkap pelakunya dan setelah dikembangkan ada yang menggerakkannya, istilah kasarnya dalang dari kejadian itu.
Dan ini semua murni bukan karena efek saya siapa, dan tak ada kaitannya dengan ayah saya dan untuk yang tersebut jika tak ingin dijemput oleh petugas mohon datangi Guru BK namun jika tak ada inisiatif baik di depan sudah ada petugas bersiap menjemput.
Saya tidak sekedar menggertak, disini bahkan sudah ada surat penangkapan." ucap Abel sambil mengacungkan amplop ditangannya.
"Sungguh cerdas gertakannya."
"Gak main-main ini mah."
__ADS_1
"Woeeyyy siapa pelakunya maju aja."
"Bikin malu aja, banyak duit nyogok buat nyelakain anak orang."
"Tau, mana bening banget yang mau dijahatin."
"Gores dikit siap gue bikin jadi samsak."
Terdengar sautan-sautan dan kebanyakan dari kaum adam tentunya, membuat telinga BG panas.
"Jika saja saya yang terluka tak apa, ini enggak karena mengakibatkan teman saya luka, jadi saya serius akan mengusut, dan sekali lagi saya masih bisa toleran jika kamu yang saya maksud berniat menemui pihak sekolah untuk meringankan hukuman." ucapan Abel terpotong, terlihat dia mengeluarkan selembar berkas.
"Saya bacakan pasal-pasal yang menjerat agar kamu bisa berfikir ulang." lanjut Abel lalu dia membacakan berkas itu.
Siapa pun akan bergetar mendengarnya, ternyata niatan licik berbuah petaka untuk pelaku.
"Karena waktunya sudah hampir dua pulu menit saya berbicara, saya akhiri dan saya perjelas batas anda menemui pihak BK sebelum jam istirahat lebih dari itu maka mas Alvin akan membawa pihak penyidik dan saya pastikan anda akan mendekam dijeruji besi, terima kasih."
Setelah menyampaikan informasi dan peringatan Abel menghadap kepala sekolah guna berdiskusi langkah selanjutnya.
"Bapak Apresiasi langkahmu nak, jika memang dia tak mengaku berarti dia tak mau inisiatif baik kamu.
Kamu bijak seperti ayahmu, bapak terkesan sekali, meskipun sudah disakiti tapi kamu masih berbaik hati." ucap kepala sekolah, Abel tersenyum.
"Abel juga tidak mau berlarut pak, tapi dia membahayakan, dia mampu melukai seseorang, jadi Abel minta ini internal saja saya takut dia melukai yang lain." jawab Abel, bapak kepala sekolah mengangguk.
Sementara itu dua orang gadis sedang gelisah di toilet.
"Haduuuh gimana ini Jen, gue harus apa."
"Yahh, gak tau lahh elo yang berbuat yahh pikirin aja akibatnya." ucap Jeny.
"Ihh kok loe gitu sihh."
"Yah mau gimana lagi kemarin gue bilangin jangan nekat, Batuu kan. Sekarang sorry to say gue gak mau ikut campur, sekarang kalo loe mau denger saran gue, loe datang ke BK biar ringan hukumannya, kalau enggak biar elo dijemput paksa polisi biar masuk penjara sekalian." jawab Jeny tegas lalu meninggalkan temannya sendiri di toilet.
Sementara itu Abel kini sudah masuk kedalam kelas, masih belum ada informasi jika dalang kecelakaan Abel belum juga menampakkan wajahnya, dan pihak BK pun mengkonfirmasi jika belum nampak batang hidungnya.
"Mas Nyalakan sirine, biar heboh sekalian." ucap Abel pada interkom dengan sang ajudan.
"Idemu gila, tapi mas suka."
Bipp...
Wiiiiiiuu..wiiiiiiuuuuu.wiiiuuuu..
"Hahhh demi apa udah dijemput nohh pelakunya."
"Aduhhh ya ampunn."
"Seketika masa depan suram."
"Ahhh tidak-tidak aku gak mau dipenjara." ucap gadis yang tengah bersembunyi lalu dia berlari menuju ruang BK.
Sementara itu ditempatnya Abel mendapatkan informasi jika sasaran sudah lari terbirit-birit pun mengabarkan pada Alvin jika umpan sudah masuk.
"Gotchaa." ucap Abel
"Good." jawab Alvin.
Sebenarnya bukan Abel tak mampu menangkapnya, namun Abel hanya sedikit bermain peran seenggaknya biar jera.
"Kenak mental nggak tuh." ucap Airin
__ADS_1
"Hemmm, of course."
*
*
Dilain tempat guru BK yang tengah kedatangan Tamu yang sudah ditunggunya pun segera memanggil kepala sekolah dan juga ajudan Abel, karena jam pelajaran berlangsung mau tak mau Alvin turun tangan.
"Jadi apa motif kamu sebenarnya, sehingga kamu jahat sekali pada temanmu." tanya guru BK menginterogasinya.
"Mohon kooperatif ananda Melisa." sahut kepala sekolah.
"Saya akan mendatangkan tim interogasi dari kantor saja bapak kepala." ucap Alvin mengintimidasi lawannya, melihat Melisa hanya diam tak mau berbicara.
Pelaku atau otak dari penyerangan dengan modus menabrak dengan target Arabella adalah Melisa Dina ketua Cheers SMA TUNAS KELAPA yang notabene siswa disekolah itu sendiri.
Sementara itu Melisa yang terlihat hanya menangis dalam diam pun, hanya pasrah saat melihat kedatangan tim penyelidik.
Kini jam istirahat sudah berbunyi, BG sudah menghampiri Abel dikelas dengan makan dan minuman yang sudah ia siapkan untuk Abel.
"Gimana hasilnya." tanya BG.
"Dia belum ngaku, dari tadi diem bae."
"Emangnya, nungguin apa mending langsung bawa ajah." sahut BG.
"Ehhhm gak bisa untuk close Cases harus diketahui dulu motifnya baru bisa dijatuhkan hukuman." jelas Abel.
"emangnya apa hukumannya."
"Ehhhhmmmm." gumam Abel.
"Kamu di drop out dari sekolah atas tindakan kriminal yang sudah kamu lakukan.
Maaf bapak tidak bisa meringankan karena kedepannya bapak tidak ingin membahayakan siswa siswi bapak." Ucap kepala sekolah tegas menjatuhkan vonis kepada Melisa.
"Ibu akan mendatangkan orang tuamu hari ini karena besok surat DO kamu sudah berlaku." ucap guru BK, Alvin dan pihak penyelidik memberikan salinan berkas tuntutan yang diajukan oleh ayah Abel.
"Bell." panggil Alvin saat datang ke kelas Abel.
"Lohh mas sini gabung " ucap BG basa basi.
"Iyaa makasih, udah kelar yah mas mau ke kantor dulu laporan."
"Hemm okay."
"Yuk Gas." sapa Alvin yang sudah mulai akrab dengan BG.
"Take care mas." sahut BG.
"Hemmm, Ada apa-apa telp yah Bell."
"Siapp 86." jawab Abel.
"Hemmmm, Akhirnyaaaaa." lanjut Abel.
"Ehhhmm, Bell kita kan udah baikan nihh." ucap BG pelan.
"Heeumm kenapa."
"Trus sama sahabat kamu gimana." jawab BG sambil menunggu respon Abel yang nampak mematung.
"Entahlahhh Abel belum ada waktu nemuin."
__ADS_1
"Tapi udah gak marah kan." tanya BG lagi, melihat keterdiaman Abel BG was-was.
"Hemmmm."