Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~Orientasi Mahasiswa


__ADS_3

Setelah mendapat gelar lulusan terbaik di bangku SMA, Abel dkk telah dinyatakan lulus dengan memperoleh nilai yang cukup baik. Beberapa dari teman Abel dan BG nyatanya tak melanjutkan kejenjang kuliah.


Seperti Devan yang memilih untuk mengais rezeki di Cafe milik BG dan yang lainnya, karena Devan masih memprioritaskan pendidikan adiknya walaupun BG sudah menawarkan membantu biaya kuliah namun Devan menolaknya. Sama halnya dengan Devan Metta juga Nayla memilih untuk tak melanjutkan kuliah. Sedangkan Kevin dan Riki pun memilih jurusan bisnis sama seperti BG, Dekka dan Cindy memilih Manajemen dan komunikasi. Mereka kuliah di Universitas yang sama dengan Abel, yang masih berada dinaungan keluarga BG, dan kebetulan rektor atau kepala universitas masih kerabat dengan papa BG.


Hanya Airin yang tetap pada rencananya mengasingkan diri kuliah di universitas negeri kanguru Australia. Tentu saja masih tak ada satupun yang tahu kabarnya dari seorang Anggada.


Tiga hari yang lalu Abel dkk mengikuti Technical meeting di kampus guna persiapan orientasi di kampus besok. Berbelanja material guna dijadikan untuk atribut ospek, kini mereka tengah duduk memutar saling melengkapi menyusun atribut yang akan digunakan esok hari.


"Bell, coba deh Loe check topi gue miring nggak." ucap Dekka yang menggeser badannya mendekat kearah Abel menunjukan topi berbentuk kerucut ala- ala penyihir.


"Aman kok Dek, coba topinya dipakai semua kita saling periksa kekurangan masing-masing."


"Hahhh.." terdengar helaan nafas BG, dia tahu Abel tak perlu seribet itu mengikuti OSPEK karena sang rektor sudah memberikan catatan khusus untuk BEM agar tak membuat perkara pada BG dkk. Bukan maksud menganak emaskan hanya saja semua dilakukan guna menjauhkan pengurus BEM dari masalah besar.


Rektor Universitas yang merupakan adik kandung dari papa Hermawan atau Om Bagas ditunjuk sang papa agar melanjutkan mengurus yayasan milik keluarga sedangkan papa BG memilih meneruskan di perusahaan.


"Guys dengerin gue dulu, terutama kamu baby. Hemmbbb gue jujur aja sebenernya kebetulan kita semua dapat privilege terutama Abel."


"Hahhh maksudnya."


"Apaan emangnya."


"Kagak ngerti gue."


"Syuut dengerin dulu Loe pada."


"Dengerin Napa Jang disela, lanjut boss."


"Heeehhhh, baby percaya aku yahh ini semua buat kebaikan kamu juga. Jadi selama ospek nanti kita gak bakalan dipersulit, karena kalian tahu sendiri status Abel yang harus kept secrets. Om gue akhirnya mutusin buat jaga keamanan kita dari masa selama Ospek nanti. Intinya kita bakalan di missed dari senioritas, karena gue dapat info bakalan ada peraturan ketat pas OSPEK nanti." jelas BG membuat Abel menarik nafas dalam.


"Why must be Privileged, i think i can handle it." sahut Abel, BG pun tak kalah bingung harus menjelaskan bagaimana karena dia tau se effort apa Abel mengikuti masa orientasi kampus.


"Please, i beg you to follow the rules that have been made. Ini buat keamanan kamu."

__ADS_1


"Iyaaa tapi kan banyak cara buat hadapi ini semua." sela Abel tak mau kalah.


"What way...??."


"Kan bisa aja identitas di sembunyikan tanpa mengurangi rasa keinginan ku untuk ikut Ospek ini my fiance. Please." ucap Abel memelas pada sang BG. Didepan mereka para sahabat hanya menjadi penonton perdebatan berkelas sepasang kekasih itu.


"Kita nontonin aja."


"Hooo,oohh kita mahh ngikut aja."


"Baru kali ini gue liat Abel sama BG debat kek gini."


Bisik-bisik dari Kevin dkk terdengar, tak dipungkiri Abel dan BG pasti masih bisa mendengarnya.


"Bukankah dengan mengistimewakan aku justru malah membuat kesenjangan sosial pada mahasiswa yang lainnya nampak kentara. Keep secret but not to be Privileged." Lanjut Abel yang masih merayu sang tunangan.


"Seharusnya memang aku gak bilang tadi, tapi kalau aku rahasia in nanti kamu ngambek. Percayalah semua sudah diatur Om, anak BEM gak bakalan berani apa-apain kita selama ospek. Dan kita akan tetap ikut tanpa ada yang menyentuh seujung kuku pun. Kamu gak tau sayank rules nya kegiatan mereka seperti apa, kalau nggak dikendalikan bahaya banget buat kamu." jelas BG, Abel terdiam namun masih belum bisa menerima keputusan BG.


"Loe ikutin aja keputusan BG Bell, dari pada Loe kenapa-napa, bahaya juga buat para senior." sela Dekka yang akhirnya menengahi perdebatan Abel dan BG.


"Yaa bahaya dari interogasi nya mas Al yang bakalan mengancam mereka." sahut Kevin.


"Iyaa Bell, kita-kita kan juga terjamin bebas dari tugas ospek yang diluar nalar itu dan bahkan gak masuk akal." potong Cindy, sontak Dekka menyelanya. Bagaimana tidak tugas awal mereka membawa atribut ala penyihir memakai rompi dari gentong air, Bambu sampai penggorengan.


"Yeee itu mahh mau nya elo."


"Hahahhahah." Sedangkan para lelaki merasa terhibur dengan kepolosan Cindy.


Jika dihari pertama mereka ditugaskan memakai atribut ala penyihir, dihari kedua BG sudah menyiapkan atribut khusus agar tak kentara Dimata mahasiswa lainnya.


"Trus yang dihari kedua itu gimana Gas, rencananya." tanya Dekka pada BG, Abel diam hanya menyimak mungkin dia masih butuh menalar semua rencana yang dibuat BG.


"Adaaa, udah gue siapin kita bakal samaan kok."

__ADS_1


"Pake rompi apa." tanya Riki penasaran.


"Disuruhnya tema bambu kan, nanti udah gue siapin pokoknya samaan semuanya." jawab BG sambil melirik Abel yang masih bungkam, Abel pun sama dengannya memandang BG selama menjelaskan semua pertanyaan dari para sahabat.


"Loe Jang diem aja Bell, komen donk." ucap Cindy.


"Aku manut guys."


"Baiklahhh."


"Loe musti jelasin face to face bro." saran Riki pada sang BG, BG pun mengangguk dengan pandangan mata yang tanpa beralih sedikit dari sang Arabella.


"Trus yang buat hari ketiga ini gimana gess."


"Emang apaan temanya."


"Penjurusan masing-masing prodi."


"Yang kayak gimana itu."


"Gas ada bocoran gak." ucap Dekka karena BG masih sibuk memandang Abelnya.


"Fokus ini dulu dong, woeyy."


"Yaa simbolis masing-masing penjurusan apa. Kalau E.B kan bisa aja perkantoran, kalau Fikom pakek aja gagang telp." jelas BG.


"Perkantoran trus Loe bikin gedung pencakar langit gitu Gas." tanya Cindy santai, sontak membuat BG menoleh padanya bahkan yang lainnya pun terkekeh dengan kepolosan Cindy yang mengarah ke gejean.


"Loe tuh bego apa oon sihh cin, astaggaaa."


"Yaa ampun cewek gueee."


"Huaahahhahhah."

__ADS_1


Setelah membereskan semua pekerjaan yang membuat atribut untuk ospek esok hari BG mengajak Abel menuju gazebo belakang guna meng clear kan suasana hati Abel. Meskipun Abel nampak menerima semua yang sudah diputuskan oleh BG nyatanya Abel masih bungkam dan belum ada keceriaan sedikitpun diwajah cantiknya. BG paham betul apa yang sedang dipikirkan Abel kini.


__ADS_2