
Pagi hari yang cerah, hari pertama Abel masuk sekolah setelah libur semester ganjil. Abel bersama Alvin berangkat pagi, karena hari pertama sekolah identik dengan kemacetan.
"Bell, mas nanti mau pulang sampai besok."
"Wahhh, gercep nih." sahut Abel menggoda Alvin.
"Tsk, mumpung ada waktu Bell."
"Lhaa yahh monggo mas."
"Hemm, nanti Sabtunya mas ada kegiatan sama bapak soalnya." jawab Alvin yang masih dalam kondisi fokus menyetir tanpa menoleh ke arah Abel.
"Emang ayah mau kemana mas." tanya Abel serius.
"Hemmb, ada rencana penggerebekan gabungan sama Polri." jelas Alvin Abel pun tak melanjutkan lagi karena sudah masuk gerbang sekolah dan mengharuskan dia turun.
Dari parkir kendaraan siswa BG yang baru saja tiba melihat keberadaan sang Arabella pun bergegas menghampirinya. Sengaja dia tak menyapa karena berniat menggoda tunangannya itu.
Greppp...
"Ssshh." gumam Abel yang merasa ada yang kurang ajar memeluknya.
"Jangan teriak baby." bisik BG.
"Iiihh, kamu sihh aku kira siapa."
BG terkekeh melihat Abel yang terkejut karenanya.
"Untung aja gak aku gebuk yahh." lanjut Abel.
"Hahahha, kamu mana bisa pukul aku baby, dan jangan coba-coba membuat tubuhmu terluka yahh." sahut BG lalu mencubit gemas pipi Abel yang menggembung karena masih cemberut.
"Hehh, kalian mesra-mesraan jangan dijalan dong bapak-ibu." sahut seseorang dari belakang.
Abel dan BG menoleh mendapati sudah banyak orang dibelakang mereka.
"Lagi kenapa nggak ngelewatin aja." ucap BG lirih.
"Monn maap niih, pak boss. You make jalan kami terhalang nih." jawab Devan.
"Yahhh.. yahh ya, silahkan." ucap BG melipir dibelakang Abel.
"Laahh kenapa Anda masih disini, tadi mau lewat." ucap BG sarkas pada Devan.
"Bapak lupa kalau ane pengawal Bapak." jawab Devan, membuat Abel geleng-geleng dengan kelakuan keduanya.
"Hemm, sudahlahh mengcapek ngomong sama kamu."
"Jangan capek dong boss, entar ane siapa yang gaji."
"Heyy..heyy masih mau ribut disini masalah penggajian." potong Airin dari belakang yang barusan sampai bersama Angga.
Abel menarik tangan BG agar menghentikan ocehannya menimpali Devan.
Sebentar lagi masuk dan upacara bendera, para siswa pun sudah beberapa yang berada di lapangan upacara. BG menaruh tas dikelasnya dan kembali lagi ke kelas Abel, guna menuju ke lapangan upacara bersama.
"Dahh sana ke barisan kelas." ucap Abel pada BG yang masih nampak menempel padanya.
"Kamu usir aku honey."
Abel menghela nafas, merasakan si Bagaskara yang ingin selalu menempel padanya.
"Kan mau upacara, nanti kalau udah kelar kesini lagi okehh.." ucap Abel sabar.
"Tenang ada Eikee bos." sahut Devan.
"Jagain jang sampe lecet." tegas BG mewanti Devan.
"Aelaahhh si bos, mang si Abel mau ngapain takut lecet."
Bg tak bergeming tak menjawab ucapan Devan, lalu dia kembali ke barisan kelasnya.
20 menit upacara dimulai, nampak beberapa murid-murid gelisah karena mataharinya terlalu terik.
"Duuh masih lama yah." ucap Nayla lirih namun Abel yang berada disebelahnya masih mendengar.
__ADS_1
"Kenapa Nay,. Ehh kamu kok pucet." tanya Abel pada Nayla, namun setelahnya Abel menyadari jika Nayla sedang tak baik.
"Pusssing Bell." jawab Nayla kemudian dia Ambruk kesebelah Abel. Abel yang tak siap menangkap tubuh Nayla pun ikut Ambruk.
"Aahhhkkk, aduuhh." teriak Abel sepontan, membuat suasana yang tadinya hening mendadak gemuruh.
"Abel, Nay."
"Ehhh ehh tolong guys."
"Dev, Gama tolong elaaa." teriak Fransiska.
"Ehh ada apaan tuh IPA 1."
"Ehh PMR mana sih."
Gama meraih tubuh Nayla, karena menimpa Abel yang sepertinya menahan beban tubuh Nay. Devan membantu Abel berdiri, sedangkan teman-teman perempuan mengibas- ngibas baju dan rok Abel yang kotor terkena debu karena Abel terjatuh tersungkur ke Lapangan.
"Aduhh ini siku sama lengan lo kegores Bell, bajunya kotor juga." ucap Nia teman sekelas Abel. Barisan XI IPA 1 sudah tak berbentuk akibat kehebohan tadi, ada yang berkesempatan untuk melipir dan istirahat.
Namun barisan terdepan mereka tetap pada posisi agar tak membuat upacara terganggu, Angga yang menjadi ketua kelas menoleh sebentar lalu fokus kembali kedepan.
Nayla sudah dibopong Gama, Abel dibawa ke UKS bersama Fransiska dan Nia. Devan ke koprasi guna membeli pakaian baru Abel.
Mereka bekerja tanpa perlu koordinasi namun sudah gerak cepat. Setibanya di UKS mereka pun segera ditangani petugas PMR, Gama kembali ke barisan upacara.
Sedangkan Nia ke kantin membelikan Roti dan minuman untuk Nayla yang sepertinya belum sarapan.
Airin dari tempat ia berjaga karena dia ketua OSIS tidak masuk kedalam barisan kelasnya pun tahu ada kehebohan di kelas IPA1.
"Gas, Abel di UKS." ucap Gama saat melihat BG mencari-cari Abel.
"Lahh kenapa bukannya tadi baik-baik aja." tanya BG, bahkan Dekka yang didekat BG dan Riki pun ikut panik.
"Ketimpa Nayla yang pingsan."
"Trus kenapa Abel juga ikut dibawa ke UKS." sela Dekka.
"Gak tau ceritanya gue, tau-tau tuh anak roboh ditindih Nayla lahh Abel tangannya luka kenak pavingan." jelas Gama, Dekka dan yang lainnya menghela nafas lega.
BG melirik kearah sahabatnya itu, meskipun hampir tak terdengar BG masih dapat jelas suara Riki.
"Gak hanya bogem, gue mampusin." balas BG.
"Sereeem amat."
"Belum loe mampusin juga udah ditembak duluan sama ajudannya." sahut Dekka.
Mereka bertiga berjalan menuju UKS, namun ditengah mereka bertemu Devan yang menenteng kresek.
"Boss, ehh duhh udah kelar upacaranya."
"Udahh loe ngapain." tanya Dekka.
"Ni beliin Abel seragam, bajunya kotor. Ehh sorry yah boss bu boss jadi luka, diluar skenario soalnya.. hehehh."
BG tak menyahut dia memilih untuk melanjutkan berjalan menemui pujaan hatinya.
"Yahh, yahh marah nih si boss." ucap Devan.
"Rasain loe, dipotong dah uang jajan loe." sungut Riki.
Setibanya di UKS BG melihat Abel sedang diobati, dari raut wajahnya nampak menahan perih.
"Bell." panggil BG, Abel pun menoleh lalu tersenyum menampakkan jika ia tak kenapa-kenapa.
"Loe gak papa kan Bell." tanya Dekka, Devan meletakkan seragam baru untuk Abel didekatnya.
"Sana ganti dulu abis ini." ucap Devan.
"Aku gak papa cuma lecet dikit kok, makasih yah Dev." jawab Abel menampakkan telapak tangan lengan dan sikunya yang sudah dioles obat.
"Trus ini nia belum bangun gimana." tanya Devan.
"Dia kecapekan dan belum sarapan kayaknya." sahut Nia yang baru masuk dan membawa kantung kresek.
__ADS_1
"Maksud loe apa." tanya Devan. Abel, BG dan lainnya menunggu jawaban dari Nia teman sebangku Nayla.
"Hemm, gimana yahh gue ngomongnya." ucap Nia ragu.
"Ada apa Nia, bilang sama aku mungkin Abel bisa bantu." potong Abel.
"Jadii, ayah ibu Nay pisah trus ayahnya pergi gak tau kemana. Ibunya sakit-sakitan jadi Nay kerja di cafe dekat rumahnya." jelas Nia.
"Sejak kapan, kenapa kamu atau Nay gak minta bantuan kita sihh." sela Devan.
"Trus gimana dong, Nay gak mau ada yang tau, ehhmm udah hampir sebulan ini." jawab Nia.
Abel menoleh kearah tunangan nya. BG yang sudah hampir tau sifat Abel hanya mengangguk meyakinkan gadisnya itu.
"Nanti kita gali lagi, kalian kembalilah ke kelas biar Abel yang nungguin Nay." ucap Arabella meyakinkan temannya, siapa yang menolak perintah anak bapak Raharjo jika dalam keadaan seperti ini.
"Ketemu nanti yahh sayang." pamit BG sambil mengusap pucuk kepala Abel.
Semuanya kembali ke kelas masing-masing menyisakan Abel, Nayla dan petugas PMR. Abel sudah berganti seragam yang dibelikan Devan.
Tak lama Nayla mengerjapkan matanya, mendapati seorang Arabella menungguinya.
"Bell..eummphh."
"Nay, udah bangun. Pusing yahh nihh makan dulu." ucap Abel sambil menyodorkan Roti yang dibeli Nia.
"Makasih yah Bell." jawab Nayla, lalu memakan roti dan meminum obat yang sudah di siapkan petugas PMR tadi.
"Nay, Abel dengar dikit cerita Nay. Coba Abel pengen dengar dari bibir Nay langsung please."
"Eeeehmmmmph.." gumam Nayna bergetar menahan tangis.
Mengalirlah cerita Nayla seperti yang Nia ceritakan setengahnya, Ibunya sakit karena menahan beban pikiran apalagi sang ayah yang pergi entah kemana.
"gue benci ayah Bell, gue benci bahkan dia gak peduli sama gue. Gue harus bertahan hidup demi ibu gue." ucap Nayla sambil menangis tersedu, Abel merengkuhnya.
Selama ini Nayla cukup pandai menutupi masalahnya dengan alibi tak ingin bergabung kumpul dengan yang lain karena ia memilih bekerja.
"Sekarang Abel tau sama kondisi Nay, Abel gak mungkin biarkan Nay berjuang sendiri, yakinlah Abel sama yang lainnya masih teman Nay jadi kita akan berjuang bersama membantu Nay." ucap Abel.
"Gue gak mau nyusahin kalian, please gue bisa cari uang sendiri." jawab Nayla kaku.
"Trus nungguin sampai Nay punya uang berapa sampai ibu Nay bisa berobat, gaji Nay berapa apa bisa untuk bertahan hidup. Bukan Abel merendahkan Nay, tapi kasih kesempatan Abel dan teman-teman buat bantu Nay, bantu semua bagu yang butuh bantuan." ucap tegas Abel penuh penekanan.
Nayla menerima semua yang dikatakan Abel, dia tahu betul niat Abel selalu ingin menolong sesamanya.
"Abel belikan makan buat Nay sebentar yah." lanjutnya.
"Ehh nggak usah Bell ini aja cukup."
"Kalau Nay mau terus bekerja Nay harus makan cukup, kamu harus punya tenaga." ucap Abel, Nayla pun pasrah mengangguki segala perkataan yang keluar dari mulut Abel.
Abel keluar dari UKS menuju kantin untuk membeli makanan untuk Nayla, setibanya dikantin dia bertemu dengan beberapa anggota OSIS yang sedang razia siswa yang hendak membolos. Bahkan sudah ada Pak Rudi guru BK.
"Ini Arabella kenapa masih dikantin, lohh lohh ini kok perbanan. Apa tadi yang katanya pingsan kamu." cecar Pak Rudi.
"Satu-satu dong bapak Abelnya kan gak bisa jawab." sahut anak OSIS.
"Abel belikan makan Nayla yang pingsan belum sarapan pak, terus ini luka karena jatuh, dan yang pingsan bukan Abel tapi teman Abel." jawab Abel tanpa jeda.
"Astagaaa. Yasudah lanjutkan dan setelah itu kembali ke kelas yahh." jawab pak Rudi.
"Siapp komandan."
"Hemm, kamu ini.."
Pak Rudi dan Anggota OSIS berlalu meninggalkan Abel di kantin, sementara itu Abel berbagi pesan pada Airin untuk berbicara dengan semua teman sekelasnya, ada hal penting yang menyangkut masalah Nayla.
Kira-kira apa yang Abel dan Airin lakukan untuk Nayla, Entahlahhh.
*
*
To be continued
__ADS_1