Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Terasa Panjang


__ADS_3

Menatap matahari yang mulai terbenam, menggantikan putihnya gumpalan awan menjadi senja. Abel masih menikmati pergantian waktu, yang mungkin saja dia akan mulai mencintai senja saat ini.


Duduk diatas bebatuan alam sambil menatap gemuruh ombak pantai. Disinilah Abel menghabiskan waktunya untuk menatap dunia beberapa hari ini. Alvin dan Nina memandangnya dari jauh, namun mereka tetap waspada. Alvin yang mendapat pesan dari teman BG dan Abel sebenarnya tak tega melihat mereka berdua. Namun yang bisa dia lakukan cukup pantau dan tak perlu bertindak, biarlah waktu yang menjawabnya.


Berhari-hari Abel habiskan waktu hanya duduk dan menatap alam, jika ditanya apa yang sedang dia pikirkan tentu saja tak ada yang bisa menjawab.


"Bell balik yuk dah malam." ucap Alvin menghentikan lamunan Abel.


"Iya mas." jawab Abel lalu beranjak dari tempatnya.


Sebenarnya Abel belum tahu jika BG melakukan hal yang tak seharusnya karena takut jika Kayla berbuat jahat padanya. Semua dilakukan BG sebatas melindungi Abel dari gangguannya.


Hari terakhir masa cutinya dihabiskan dipinggir pantai, namun seolah hatinya masih belum bisa berkompromi dengan pikirannya.


"Bell mau makan dulu apa gimana." tanya Nina.


"Mbak Nina beli buat mbak sama mas aja, aku kangen sama masakan mbok Yem." jawab Abel, Nina pun paham. Alvin melanjutkan perjalanan ketika telah membelikan makan malam untuk istrinya.


"Kamu masih marah sama Bagas Dek." tanya Nina disela perjalanan mereka.


"Dikit mbak, Abel udah coba ikhlas tapi belum bisa."


Nina menyodorkan ponsel milik Alvin yang mendapatkan pesan dari Sahabat BG.


Tak banyak respon dari Abel, ternyata pemikirannya cukup tepat. Dimana Kayla memang tak wajar jika dibandingkan dengan sifat remaja umumnya.


"Abel harus gimana mbak, mas."


"Ikuti kata hatimu dek." jawab Nina.


"Bukan Abel takut ngadepin manusia seperti dia, tapi Abel rasa gak akan ada habisnya aja." jelas Abel.


"Kalian butuh komunikasi Bell, enggak bisa kalau saling memecah begini." jawab Nina.


"Selesaikan bukan menghindari." potong Alvin, yang walaupun tengah fokus menyetir namun masih menyimak perbincangan kedua perempuan itu.


Abel sebenarnya paham dengan ucapan Alvin, namun berhadapan dengan Bagas cukup membuatnya tak punya nyali.


"Dengan begini kamu justru membuat Bagas semakin dekat dengan dia." sahut Nina, Abel menoleh memandang perempuan yang sudah dia anggap kakak baginya.


"Hemmmb."


Dua jam perjalanan sepertinya akan terasa lebih lambat, Abel memilih memejamkan matanya guna mengusir penat.


Sementara itu dirumah Abel tepatnya dikamar Abel yang sudah lama dihuni lelaki galau yang ditinggalkan oleh pemiliknya, terjadi pertumpahan celotehan tak bermutu dari BG dan sahabatnya.


"Buruan mandi Gas sapa tau Abel pulang."


"Lemes gue."


"Ya lemes gak makan."


"Bopong aja yuk habis ini makan si mbok masak banyak."


Tak perlu mendebat mereka pun segera membawa BG ke kamar mandi, memandikannya seperti sebelumnya bak bayi besar.


"Lagian pake mogok makan segala."


"Ini sihh kalau gue bilang si Abel mending cari yang lain dehh."


"Enak aja." jawab BG.


"Ahhh bocahh diem dulu jang banyak gerak." teriak Kevin sambil menghentikan kepala BG yang terus bergerak ketika disiram rambutnya.


"Engapp banshat."


"Loe begok Vin, loe guyur terus kagak kasih diye nafas."


"Biarr aja ribet, salah ndiri pakek mogok."


"Anjir loe pengen mampusin anak orang Vin."


"wkwkwkk kesempatan."


"Habis ini gelut yuk Vin." ucap BG.


"Kek punya tenaga aja pake nantangin."


Sementara itu para cewek-cewek dibawah membantu Art menyiapkan makanan.


"Gue lapor mama loe kalok loe ngeyel." ancam Riki.


"Jangan Rik, entar ngamuk dia." jawab BG yang sudah enggan.


"Makanya gue bilang manut."


"Biar aja dia mampus Rik, entar Abel buat gue." potong Kevin sontak BG pun menegakkan badan.


Membuat semua yang melihatnya tergelak, menahan tawa.


Beruntung mbok Yem membuat kan bubur untuknya agar mudah untuk mencerna, setelah beberapa hari tidak makan.


Kembali ke tempat dimana tiga anak manusia sedang terjebak dalam lautan kendaraan. Perjalanan seharusnya cukup dua jam nyatanya harus berakhir dengan cukup panjang.


"Sini Nina gantiin kalau mas ngantuk." Ucap Nina, karena melihat Alvin menguap sedari tadi. Tak biasanya Alvin mengantuk saat mengemudi, terkecuali dengan kondisi jalanan macet.


"Mas Al kek gak bertenaga deh mbak." sahut Abel.

__ADS_1


"Iyaa, gampang capek katanya."


"Biar tidur dulu." ucap Abel melihat Alvin yang sudah meringkuk dikursi penumpang.


"Mbak juga heran agak aneh orangnya akhir-akhir ini." ucap Nina.


"Anehnya gimana."


"Gampang sakit, trus makannya sekarang justru yang dulunya dia gak suka." jelas Nina, seketika Abel menoleh.


"Mbak udah cek up." tanya Abel.


"Mas mu gak mau."


"Bukan mas Al, tapi mbak."


"Hahhhh."


Belum Abel menjawab mobil mereka harus melaju, perjalanan sampai rumah jika lancar cukup setengah jam.


Beruntung jalanan lancar walau cukup padat karena memasuki weekend. Bahkan Alvin tak bergerak sedikitpun dalam tidurnya.


Setibanya di plataran rumah, Abel terkejut dengan kendaraan yang terparkir disana mobil yang cukup dia kenali. Bahkan sayup-sayup terdengar candaan didalam sana dengan suara-suara yang sering terdengar ditelinga.


"Mbak aku duluan yah." sela Abel, Nina pun mengangguk, belum terlalu malam mereka sampai dirumah.


Ceklekkk.. Abel membuka pintu rumahnya, seketika mereka yang didalam pun menoleh. Sempat terkejut namun segera mereka berhamburan menyerang sang Arabella.


"Abellll.."


"Yaa alloh."


"Alhamdulillah."


Sementara para sahabat BG merasa lega akhirnya yang ditunggu-tunggu telah kembali. Jangan ditanya bagaimana seorang Bagaskara, tentunya dia sangat senang bahkan tak terasa menitikkan air mata kerinduan sekaligus penyesalannya.


"Jang pergi-pergi lagi yahh."


"Kalau kamu pergi aku juga ikut."


"Syukurlah kamu segera kembali."


Ucapan dari sahabatnya itu tak urung membuat Abel berdesir, dia melupakan keberadaan para sahabatnya itu. Terlalu emosi menutup mata hatinya.


"Gihh loe lihat Bagas." bisik Dekka, Abel mengurai pelukannya tanpa bertanya, dia menoleh kearah lelaki yang dimaksudnya.


Tubuhnya nampak sedikit kacau, kurus bahkan tampilannya sedikit semrawut.


"Kenapa jadi begitu." gumam Abel tak menyangka melihat sang tunangan bak bohlam sekarat yang meredup.


"Gak mau makan sama sekolah dia sejak loe pergi." lirih Dekka, Abel pun mendekat pada BG. Sungguh tak terbayangkan jika BG akan sekacau ini tanpanya.


"Baby..."


Abel menangkapnya, mereka berdua terduduk dilantai, karena Abel tak mampu menyeimbangi beban tubuh sang Bagaskara.


"Kenapa gak makan." ucap Abel sambil menangkupkan kedua tangannya dipipi BG.


"Gak selera, tanpamu dunia ku runtuh. Maafkan aku sayang, ampuni aku, a a aku hanya." ucapan BG terpotong kala Abel membungkamnya dengan jari telunjuknya.


"Kita makan yahh."


"Huhuhuhuu."


"Gue yang ngelihat aja tersiksa."


"Hiksss.. hikkss."


"Sampai kapan si kembang kantil enyah." celetuk Devan.


BG pun mengangguk, semua sahabatnya menyaksikan betapa keduanya cukup menyiksa diri satu sama lain. BG dengan rasa bersalahnya, sedang Abel dengan cara menghindarinya justru menjadi bumerang bagi keduanya.


Dengan telaten Abel menyuapi BG yang layu, tak lupa meminta art membuatkan teh hangat untuk BG.


"Harus gimana kita mas, bapak ibu menitipkan nya pada kita." ucap Nina pada Alvin yamg tengah memperhatikan semua didepan mereka.


"Mental illness, mas juga gak paham ngadepinnya."


"ya kalau musuh gitu dipenjara, ini mau nyerang salah ngalah juga salah." sahut Nina.


Mereka berdua menghampiri Abel yang tengah merawat BG. Usianya masih muda, terkadang pria lebih banyak menyakiti diri sendiri jika tak mampu menyelesaikan masalahnya.


"Mas gak tau kalau kamu bakal begini Gas."


"Cemen banget sihh." goda Nina.


"Jadi mantu ayah kamu harus butuh tenaga, mental dan fisik yang kuat." kelakar Alvin sontak semua sahabat BG terkekeh.


"Otak gue buntu mas, gak ada yang bisa dihubungi. Jejak kalian bersih banget." jawab BG sembari menerima suapan demi suapan dari Abel.


"Iyaa dong, kita kan tak terprediksi."


"Iyaaa licin banget kek pantat bayi." celetuk Kevin menanggapi Nina.


"Jadi semuanya sudah terencana." tanya BG.


"Tentu saja." jawab Alvin tegas, sedangkan Abel masih setia memasukkan makanan ke mulut BG.

__ADS_1


"Makanya jangan gampang nyerah." potong Nina, terkadang ada benarnya ucapan Nina melawan salah ngalah juga salah.


"Kalau kalian gak sanggup ngelawan dia bilang, biar mbak hadapi. Justru dengan kamu pergi jiwanya akan bahagia dengan kepergian kamu. Tapi kalau kalian mengalah malah kalian yang akan tersiksa." ucap Nina.


"Bang Adam aja nyerah loh mbak." potong Abel.


"Berarti benar memang dia agak sedikit gangguan." jawab Nina, bahkan Alvin dan yang lainnya menyorot padanya.


"Apa mbak." kompak Dekka dan Metta.


"Gangguan apa kalau enggak mental, sok-sokan merasa benar dan unggul walau banyak yang gak suka sama dia tapi dia masih berdiri tegap. Beda sama BG dan Abel yang justru sudah menyerah sebelum berperang." jelas Nina, Alvin diam-diam tersenyum mendengar penuturan Nina.


"Emang dah kalau mbak Nina udah bicara top."


"Dengerin tuhh."


"Yuukk kita lawan bersama."


"Bila perlu ngaji dulu dah." celetuk Devan.


"Loe kira mau lawan Sethan."


"Yaahh kan dia mahkluk tak kasat mata, tiba-tiba nongol." jawab Devan.


"Lahiyaaa dong."


"Bener juga."


Sedangkan Abel hanya menghela nafas panjang, tak terdengar suaranya sedikitpun membuat mereka yang disana bingung padanya.


"Setelah ini enggak ada physical touching dengan Kayla, atau aku bahkan akan pergi jauh." ucap Abel penuh penekanan, sontak semuanya terkejut dengan ancaman dari seorang Arabella.


"Bukan main dah anak pak jendral."


"Kamu pergi saat itu juga kamu terakhir melihatku didunia ini." jawab BG tak kalah telak.


Semua terdiam, situasi semakin rumit keduanya saling menjatuhkan ancamannya.


"Kamu tahu, bahkan aku enggak pernah menyentuhnya sedikit pun. Jika dia yang dengan sengaja melakukannya apa kamu akan menghukum ku juga." jawab BG.


"Hadehhh."


"Mas ini gimana inihh." senggol Dekka melihat Abel dan BG justru berdebat.


"Biar aja mereka mengeluarkan unek-unek nya."


Sedangkan Nina tetap santai dan yakin ini akan selesai jika mereka saling berbicara.


"Sumpahh demi apapun aku enggak pernah pegang cewek manapun kecuali kamu sama mama. Tapi jika kamu menganggap justru aku yang memulai it's fine." jelas BG.


"Mana Abel yang mbak kenal tegar, mana Abel yang positif thinking. Mana Abel yang selalu pandai menyikapi segala Hal. Dek ini sepele cukup kamu gak meragukan pasanganmu kamu akan nggak sesakit ini." ujar Nina.


Air mata Abel lolos, dari sekian lama dia merenung baru kali ini dia meluapkan emosinya dengan menangis.


"Maaf.. Ma aaaf karena aku terlalu mudah terpancing. Maaf aku udah egois, maaf aku enggak berfikir dulu sebelum bertindak. Terakhir maaf karena aku terlalu menggila karena ulah Kayla. Dia sangat tepat sasaran serangannya, dimana aku udah gak bisa berfikir jernih." jelas Abel sambil berderai air mata.


"Enggak ada habisnya kalau urusan ini."


"Biang keroknya satu, masalah jadi enggak karuan."


Semua yakin Abel terlalu memendam rasanya sendiri. Nina tersenyum akhirnya Abel membuka diri, dari penglihatannya sedari kemarin Abel hanya diam mencari jawaban.


"Kamu cemburu itu wajar."


"Setelah ini kita selesaikan bersama." ucap Alvin penuh dengan keyakinan. Tak lama terdengar ponsel berdering nyaring.


Digeboy-geboy mujair nang ning nong...


"Anjirr bala jaer bunyii."


"Hengpon sapa sikkk."


"Hahahhaha nyori Gess." ucap Riki.


"Gas, mama loe nelpon." lanjutnya, BG terkejut kenapa bisa mamanya menelpon Riki.


"Kenapa bisa telp kamu." ucap BG lalu memandang Abel, seolah dia teringat.


"Aku belum nyalakan hape." ucap Abel, sama halnya dengan BG ia bahkan tak tau nasib hapenya.


"Angkat aja, jangan bilang gue sama Abel tengkar." ucap BG.


Plaakkkkk.. Metta memukul keras BG.


"Lhaa napa Mett."


"Wahh gila Metta."


"Kenapa gue dipukul anjir." spontan BG.


Abel yang gemas BG suka bicara kasar pun mendelik kepada tunangannya itu, membuatnya kicep.


"Loe begok, bilang aja sama mama loe sapa tau bisa bantu masalah kalian ini." jelas Metta.


BG dan lainnya berfikir sejenak mungkin benar Kayla akan habis jika mamanya tahu dia membuat masalah dengan Abel lagi.


"Bener sihh, kan mama loe bilang mantunya Abel, ngapain si Kayla ngebett banget."

__ADS_1


Semua jatuh dalam pemikiran masing-masing, senyum Abel sedikitnya mulai nampak. Tak ada yang melihatnya karena semua sedang sibuk mencerna ucapan Metta.


__ADS_2