Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Final Leg 2


__ADS_3

Jika mulutmu sulit Meminta maaf, Maka biarlah aku yang dengan senang hati memaafkan.


Arabella


Cheerleader masih unjuk bakat, Abel memberikan kode waktu 3 menit lagi. Dia pun sudah meminum obat pereda nyeri. Aksi anggota cheers ditutup dengan lagu Sunday Best.


"Everyone falls down sometimes


But you just gotta know it’ll all be fine


It’s ok, uh-huh, uh


It’s okay, it’s okay"


Abel bersenandung melanjutkan lirik lagu yang berhenti.


"Alright, you guys are still excited not to watch the next game."


Ucap Abel menggema.


"What... Abel didn't hear it...??" Lanjutnya, lalu terdengar gemuruh para penonton.


"Hemmm.. Okay, let's watch the second round of the inter-class basketball final. Enjoy for watching."


Teriak Abel lalu game babak kedua pun dimulai, dan Abel sudah berada di tribun khususnya.


"Bell, pesan dari bos suruh minum banyak, kamu kelihatan pucet lohh." celetuk Wira.


"Hahhh, kapan dia bilang."


"Barusan ngechat nihh." sahut Kevin sambil nunjukin pesan di ponselnya.


"Udah minum nihh, udah habis." jawab Abel.


"Dahh habis gue ambilin." jawab Kevin lalu melenggang ke arah kantin membelikan minum Abel.


Pertandingan cukup seru, tim Gama mampu mengejar point. Sementara unggul 2 point, karena BG dan Riki dijaga ketat oleh temannya.


Abel terkekeh geli melihat BG sedikit kesal, karena pergerakannya sempit. BG melihat kearahnya, Abel pun tersenyum dan mengepalkan tangannya diudara memberikan semangat.


Sang Bagaskara mengangguk dan seketika dia berubah menjadi gesit. Mengecoh semua yang mengawalnya, karena tak bisa mendekat karah ring dia pun melakukan shoot jarak jauh dengan target 3 point. Hingga waktu berakhir mereka melakukan tembakan 3 point dan mampu mengejar ketertinggalan. Skor akhir dibalik BG mengejar dan menyumbangkan 12 point dengan 3 point tanpa jeda.


Damage senyum Abel membangkitkan kerja otaknya.


Dapat Abel lihat Gama menghampiri BG mengucapkan selamat padanya, mereka bermain sportif tanpa rasa dendam.


"Congratulations for the Winner basketball competition.


Hahhh.. Alright next langsung aja kita penyerahan pialanya, dimohon kepada Ketua OSIS dan Bapak Kepala sekolah untuk menyerahkan piala kepada juara 1 dan juara 2." Ucap Abel, dan Acara simbolis penyerahan piala pun berlangsung.


Airin mendekat kearah Abel karena selanjutnya meminta waktu untuk kepala sekolah.


"Bell." panggil Airin lalu menarik tangan Abel.


"Lhaa kok tanganmu panas Bell." lanjut Airin.


"Ehh, hahh gak papa kok udah minum obat juga." jawab Abel, Airin menyentuh dahinya benar saja, suhu tubuh Abel naik.


"Yaudah kalau udah minum obat, Istirahat aja gih, udah selesai ini gue ambil alih." sahut Airin lalu meminta microphone yang dibawa Abel.


Abel memang merasa sedikit pening, semenjak lengannya mendadak sakit secara tiba-tiba.


Terlihat Kevin membawakannya Jus Alpukat yang terlihat menggiurkan.


"Nihh, es nya dikit kok, lahh tuhh bibir tambah pucet Bell, yakin loe gak papa." tanya Kevin, Abel hanya mengangguk.


Wira curiga dia kenapa-napa.


"Serius Bell." tanya Wira.


"Hemm, sedikit pusing ajah kok." jawab Abel lalu menikmati jusnya.


Kevin dan Wira tak bertanya lagi, dia lebih memilih Lapor pada BG.


"Bell kenapa."


Abel menoleh kearah sumber suara, Bagas sudah berada disampingnya dengan tubuh yang masih berpeluh.


"Pusing." jawab Abel lirih.


Ternyata dibalik senyuman nya adalah kamuflase, dia tetap ceria namun pada kenyataannya dia sedang menahan sakit.

__ADS_1


BG menyentuh dahi dan leher Abel, mendapati suhu tubuhnya yang sedikit hangat.


"Aku ganti baju dulu yah, tunggu sini, Kev jagain." ucap BG lalu dia berlari tergopoh-gopoh.


Sekitar sepuluh menit BG kembali dengan kondisi yang sudah segar.


Digedung indoor basket masih ramai, karena kini kepala sekolah sedang memberikan pidato tentang beberapa kegiatan hingga 3 hari kedepan.


"Ai, Abel demam gue bawa yah." pamit BG pada Airin.


"Lhaa iya tadi gue juga ngerasa gitu Gas, tapi dia bilang udah minum obat."


"Dokter kemarin dah peringatin, kemungkinan infeksi tinggi. Kita gak tau benda tajam seperti apa yang dipake." jelas BG, bahkan anak OSIS pun terkejut.


"Yang mana sih orangnya, astaga gue jabanin juga nih." sahut Airin.


"Gass." teriak Kevin karena ingin memberitahukan sesuatu.


Airin dan Bagas menoleh, melihat Abel sudah dibelakang Wira.


Airin, BG dan beberapa anggota OSIS menghampiri.


"Ada apa." tanya BG pada beberapa cewek yang nampak sepertinya adik kelas mereka.


BG mengenali salah satunya.


"Loe mau nyelakain lagi, sebelum itu benar-benar terjadi gue lenyapkan loe." teriak BG.


"Ini kah orangnya Gas." tanya Airin dan diangguki Bagaskara.


"Demi apa loh ngelukain Abel, dia salah apa hah."


"Eng enggak gi-gi gitu kak."


"Trus apa alesan elo gue tanya." ucap Airin.


"Nayna, nama elo cantik tapi enggak dengan kepribadian elo." lanjut Airin.


"Maaf kak."


"Ngapain minta maaf ke gue, loe salahnya sama siapa." sahut Airin lantang, Angga yang disampingnya memegang bahu Airin agar dia tidak terlalu Emosi.


"Sekarang benda apa yang lo gunain buat ngelukain Abel." tanya Airin.


Nayna mengeluarkan sebuat benda dari tasnya dengan tangan gemetar, semua yang melihatnya bergidik ngeri. Bagaimana tidak sebuah cutter kecil yang biasanya digunakan untuk menajamkan pensil dengan beberapa noda karat di sudut pisau cutter.


"Loe gilak." celetuk Kevin sarkas.


"Trus apa alesan loe ngelukain Abel dengan benda jahanham ini." Teriak Devan.


"Kalau elo laki udah gue libas." lanjutnya berapi-api.


"I-itu karena aku cemburu dengan kak Abel."


"Cemburuuu, loe suka Bagas." potong Airin.


"Be-bukan kak. Hemm Aku suka Steven. Tapi Steve lebih menggilai kak Abel. Dia bahkan gak pernah noleh ke aku sama sekali."


"Gosh."


"Damn it."


"Aku maafkan kamu." ucap Abel kepada Nayna.


"Aku pusing." lanjut Abel bisik kepada BG. Bahkan Abel sudah hampir lunglai.


BG pun menggendongnya, dan membawanya keluar dari sana. Diikuti oleh Dekka dan para sahabat BG.


"Selesaikan Ai." kata BG sebelum meninggalkan tempat.


"Loe ngelukain Abel, loe gak lihat bahkan Abel gak milih Steve. Jadi disini siapa yang salah hah. Dia sudah punya pilihan sendiri, gue Ulangi Abel bahkan punya pacar." jelas Airin.


"Loe bahkan belum sempat minta maaf, tapi dengan kemurahan hati Abel dia maafin elo." lanjut Angga.


"Aku minta maaf kak please jangan dilaporkan ke BK." Nayna memelas, disana masih ada beberapa anggota OSIS yang memang sudah banyak mengenal Abel.


"Gilak aja loe nyelakain anak orang tapi gak diapa-apain."


"Kemarin aja semangat jahatin anak orang."


"Hemm sekarang Melass."

__ADS_1


"Trus gimana ini Ai." tanya Devan, karena melihat pidato kepala sekolah hampir selesai.


"Gue tetep ajukan skorsing tapi gak akan gue bongkar apa kesalahan loe." jawab Airin.


"Ma-makasih kak."


"Tugas loe hanya menjadi pribadi yang baik, kalau elo gak dapat cowok yang loe suka jangan nyerah dan jangan nyalahin orang lain, loe sadar diri dulu apa yang menjadi kesalahan loe." Jelas Airin lalu meninggalkan Nayna bersama teman-temannya.


"Masih kecil jugak jahat." gumam Airin, Angga mendengarnya, tersenyum kecil.


Sementara itu ditempat Abel dan BG, Abel masih dalam gendongan Bagas menuju mobil BG.


"Loe balik aja guys, kalau mau liat Abel pulang sekolah aja." pesan BG pada Dekka, Kevin dll.


BG menidurkan Abel dibangku penumpang sebelahnya, mengatur kursi sedikit kebelakang agar posisi Abel nyaman.


"Udah siap jadi lakinya bener nih." celetuk Kevin, Riki dan yang lainnya terkekeh.


"Nyaman nggak." tanya BG pada Abel, dia pun mengangguk dalam kondisi mata memejam menahan pusing.


BG melepaskan alat komunikasi yang menempel ditelinga Abel, lalu memutari mobil menuju kemudinya. Sebelumnya dia berpamitan pada para sahabatnya.


Dijalan menuju rumah Abel, BG menghubungi Alvin mengabari jika Abel demam, dan sedang pulang.


Karena Alvin sedang mengawal ayah Abel, dia tak bisa langsung mengatasinya.


Ayah sudah memanggil dokter Adam, agar diperiksa dirumah.


"Lohh kenapa lagi ini Abelnya Bagas." ucap bunda melihat kedatangan BG bersama Abel.


"Demam bun, nanti ada dr.Adam kesini." jawab BG.


"Bawa ke kamarnya aja nak." sahut bunda, BG mengangguk paham.


"Baby, masih pusing banget. Tadi katanya udah minum obat." tanya BG setelah merebahkan tubuh Abel ke kasur.


"Iyaa, tadi kerasa sakit cuma minum pereda nyeri."


Jawaban Abel membuat BG menghela nafas, semoga hanya infeksi ringan sehingga tak membuat Abel diperiksa lanjutan.


Setelah dr.Adam memeriksanya, ternyata Abel memerlukan injeksi antibiotik, dokter Adam pun memberikan cairan vitamin ke infusnya.


Beberapa jam dipasang infus, nampak Abel sudah tak sepucat sebelumnya. Karena kondisi Abel yang sakit, Airin terpaksa me reschedule kegiatan yang dihandle Abel.


Dirumah Abel sudah penuh dengan teman-teman dan para sahabatnya, mendadak banyak yang menjenguk BG sudah membawa gadis itu kebawah.


"Boss, traktiran dong kan juara nihh." celetuk Kevin.


"Tunggu didepan tukang Grosfood." jawab BG.


Kevin nggloyor aja kedepan sesuai perintah BG, sedangkan Airin dan beberapa anggota OSIS sedang rapat dadakan dengan Abel mengatur ulang kegiatan.


"Trus gimana besok Ai." tanya BG, karena tak mau Abel terforsir.


"Nahh itu, masalahnya besok itu acara Abel semua gimana dong." jawab Airin lalu mereka pun berdiskusi memecahkan masalah bersama.


"My baby Abel,. God kenapa sampe diinfus." tanya teman Abel yang baru sampe.


"Wooy jangan berisik adek ganteng gue lagi bobok."


"Tau dikira hutan ape teriak-teriak." sahut Devan.


Tak lama Kevin datang membawa beberapa box pizza yang dibeli BG lewat Grosfood.


"Huaaa, makan-makan."


"Barokalloh, makasih loh Gas." ucap Airin.


"Sama-sama, kurang nggak nanti biar dibelikan Kevin cemilan di depan." sahut BG.


"Ini belum habis."


"Dahh makan jangan bocat mulu." sahut Devan.


"Bocat apaan." tanya Airin penasaran.


"Bacot nyonyaa."


"Oalahhh huuuu, dikira apa." jawab Airin sambil memukul pelan lengan Devan.


Abel merasa senang melihat kedatangan teman dan para sahabatnya. Semua nampak membaik dan akrab.

__ADS_1


__ADS_2