
Sudah dua puluh menit berlalu acara dilanjutkan untuk sementara Angga menggantikan Abel karena posisi Abel sangat penting, mau tak mau Angga sebagai wakil ketua OSIS ikut turun tangan.
"We will continue the question and answer program, please cooperate with all of you.
This activity will take place in the one hour and tomorrow the students will return to visit for activities in each class (Kami akan melanjutkan program tanya jawab, mohon kerjasamanya dengan kalian semua. Kegiatan ini akan berlangsung selama satu jam dan besok para mahasiswa akan kembali berkunjung untuk kegiatan di kelas masing- masing)." ucap Angga.
"So how is Arabella, whats happened with her...?" tanya salah satu mahasiswa.
Angga bingung hendak menjawab apa tidak, dia menoleh ke arah Airin guna meminta pertolongan.
"She's good nothing to worry about her." jawab Airin.
"Okeyy, may be are someone wants to ask." tanya Angga membuka sesi tanya jawab.
Setelah ada satu pertanyaan dan langsung terjawab oleh para mahasiswa. Tak lama Abel datang, dengan wajah sepucat tadi. Banyak yang menghela nafas melihat kedatangannya.
"my baby Abel."
"Aduuu du, syukurlah udah mendingan." celetukan dari para teman sekelas Abel.
"Haii, semua maaf yahh telat." ucap Abel menyapa tamu di aula.
"are you good Ara." tanya Tanaka yang diam -diam mengamati Abel.
"Hemm, Sure."
"Kamu kenapa Ara." tanya Tanaka dengan bahasa Indonesia, Abel terkejut dilihat dari wajahnya tak nampak seperti pribumi.
"Kakak bisa bahasa Indonesia."
"Sedikit." jawab Tanaka.
"Let's talk later, we're still here." sela salah satu teman Tanaka.
"So have you okay now?."
"Hehemmb, I'm just so tired and lack of oxygen, after getting oxygenation i'm better (Saya sangat lelah dan kekurangan oksigen, setelah mendapat oksigenasi saya lebih baik)." jelas Abel.
"Tringgg..." nada penghubung ponsel Abel berdering.
"Ya mas Alvin."
"Bapak kirimkan ambulance buat kamu."
"Ahhhkk emang bapakku ini."
"Hembb." gumam Alvin.
Lalu kegiatan mereka berlanjut hingga bel pulang sekolah berbunyi dan diakhiri.
Karena besok pagi para mahasiswa pun akan kembali berkunjung.
Saat berjalan dikoridor Abel sudah melihat Ambulance terparkir di halaman sekolah, bahkan Asisten sang ayah sudah bersama sang ajudan pribadinya.
"Mbak Nina ngapain sihh bikin Hebooh." ucap Abel pada Asisten ayahnya.
"Tugas mbak, yukk nurut." jawab Nina.
"Nihh lihat Saturasinya udah turun lagi, mau ngeyel." sahut Alvin, Abel pun hanya menggelengkan kepala pada kedua anak buah ayahnya yang super protective.
Terparkirnya Ambulance dan beberapa mobil berwarna hijau tua pun membuat heboh satu sekolah, kepala sekolah pun mendatangi Alvin guna memastikan kondisi Abel.
Akhirnya Abel meminta untuk segera pulang agar tak semakin membuat gempar sekolahan.
Beruntung sebelum para murid keluar dari kelas Alvin sudah membawa Abel ke ambulance sehingga tak banyak yang tau jika Abel dibawa Ambulance, bukan berarti tak ada yang tau sama sekali, karena begitu Ambulance keluar suara sirine pun tak ayal menggema.
"Kok kayak ada suara sirine."
"Lhaa iyaa."
"wahh anak pak jendral kayaknya."
__ADS_1
"Lhaa kak Abel dibawa Ambulance lho."
Ributnya para murid heboh, tak tau aja mereka jika semua karena ayah Abel yang super protective kondisi Abel pun tak separah yang mereka kira.
"Gas, Abel dibawa ambulance." ucap Riki pada BG.
"Hahh, yang bener lohh." tanya BG.
"Iyaa nihh rame, anak kelas 10 pada tau pas Ambulance keluar." jawab Riki, BG diam termenung entah apa yang dia pikirkan.
Begitupun dengan Airin dia yang sedang melakukan rapat evaluasi dengan anggotanya sontak terkejut mendapat berita dari salah satu temannya.
Namun saat dia menelphone Alvin dan mengetahui jika Abel hanya butuh perawatan, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Keesokan harinya..
Abel yang baru keluar dari mobilnya, segera diberondong oleh beberapa teman sekelasnya yang kebetulan berpapasan.
"Bell, loe gapapa kan."
"Bell, you Okay."
"Omg baby Abel bikin panik."
"Diihhhh, heboh banget sihh, Abel baik banget udah siap berperang nih." sahut Abel, lalu mereka pun berjalan menuju kelasnya.
Hari ini agendanya adalah tiap mahasiswa akan memasuki per kelas, bukan tanya jawab lagi melainnkan akan mengajarkan beberapa tema.
"Bell, loe dampingi kak Tanaka sama Kak Erick." ucap Airin pada Abel pada briefing.
"kenapa cowok semua." jawab Abel.
"Itu kak Erick dari Belanda Bell, gue gak paham sama bahasa Belanda." jawab Airin.
"Hemmb okay." sahut Abel pasrah.
"Hai Ara, sudah membaik." sapa Tanaka.
"So good kak." jawab Abel.
"Kita akan masuk kekelas berapa kak." tanya Abel pada Tanaka.
"Sebelas IPA 4." jawabnya, sontak Abel membola matanya, namun tak bergeming.
"Ahkk kenapa harus kesitu." ucap Abel dalam hati, bukan tanpa alasan kelas yang dimaksud adalah kelas BG.
Saat memasuki kelas yang dituju, Erick pun segera membuka percakapan. Sementara Abel memilih untuk berjalan dibelakang Tanaka.
"Hai class, good morning. Ki-ta Ber-jum-pa lagi, right." ucap Erick medok berusaha mencoba mengatakan dalam bahasa Indonesia, Tanaka menggelengkan kepalanya sedangkan Abel hanya tersenyum menyahutinya.
"Ahhh Arabella you are so cute." ucapnya lirih, membuat Tanaka mendengkus, sedangkan BG dikursinya sedikit terkejut dengan kedatangan Abel namun tak bisa dipungkiri dia sangat senang bisa bertemu denganya.
"Pagi teman -teman pagi ini kak Tanaka dan kak Erick berkesempatan untuk berbincang dengan kalian, langsung aja yah saya hanya mendampingi disini." sapa Abel lalu menyerahkan pada Tanaka dan Erick.
Setelah sesi perkenalan akhirnya mereka melanjutkan dengan mengajari bahasa dari masing-masing negara, Tanaka Jepang sedang Erick Belanda.
"Ahhh I see you girl. die gisteren vroeg om zoals Ara. te zijn (yang kemarin minta seperti Ara)." ucap Erick sambil menunjuk kearah Melisa.
Melisa yang ditunjuk pun bingung kenapa dia yang dipilih.
"Yes you, ehmm you asked how to wanna be Ara right, so now try to speak in Japanese and Dutch." ulang Erick dalam bahasa Inggris.
"Kamu hanya bikin kalimat lalu aplikasikan ke bahasa jepang dan belanda, gampang kan." ucap Abel santai.
"Gampang pala loe Bell."
"Ya kalok otak Abel gue percaya."
"Cihh yang kemaren pengen setara sama Abel, sekarang kelabakan." celetuk Riki.
"Hey you guys don't be noisy, come on girl there are already a few words I wrote on the board you try to make. (Hei kalian jangan berisik, ayo sudah ada beberapa kata yang saya tulis di papan tulis yang coba Anda buat)." sela Erick, sepertinya dia ada dendam sama Melisa, kenapa dia sangat ingin mengerjai Melisa.
__ADS_1
"I can't sir." jawab Melisa gugup.
"Alaah gitu aja kemarin sombong loe."
"Gayaa aja setinggi langit."
"Ciyeee minder dia."
"Broeder, laten we doorgaan, hij is erg bang. (Saudaraku, sudah cukup, dia sangat ketakutan)." ucap Abel pada Erick karena melihat Melisa sangat tegang.
"Hahahah, okay" jawab Erick, sementara Melisa merasa dirinya sakit hati karena seperti dikerjai pun tak ada yang menyadari jika dia menggertakkan giginya.
"If anyone dares to try to speak Japanese or Dutch then I will give you a gift." kata Tanaka.
Dari tempat duduknya BG terus memandangi Abel, namun Abel seolah selalu menghindari tatapan BG. Tapi senyum Abel tak pernah luntur.
"Kalau gue lihat nihh, kayaknya si Tanaka itu suka sama Abel deh." celetuk Riki lirih ada BG.
"Hemmmb, gue tau." jawab BG.
"Sejak kapan loe pantau."
"Dari kemarin kayaknya."
"Trus loe gimana, saingan loe berat- berat, jangan lupain ajudan pribadi Abel." sahut Riki, BG melotot padanya. Sebenarnya BG pun menyadari semakin dia jauh dari Abel semakin banyak penggemar Abel berkeliaran.
"Gue cari moment pas buat bicara sama dia dulu." jawab BG.
Tak terasa sudah 2 jam Abel dan kedua Mahasiswa asing itu sharing di kelas BG hingga jam istirahat tiba. Kini Abel dan anggota OSIS sedang makan bersama para Mahasiswa asing.
Hari ini terakhir mereka bertamu di sekolah Abel, kemudian mereka akan kembali ke kegiatan mereka lainnya.
Setelah bel pulang berbunyi, Abel dan Airin berjalan bersama menuju gerbang sedangkan dibelakang mereka ada Angga.
Airin pun menunggui Abel yang menanti kedatangan sang Ajudan, karena dia akan pulang bersama Angga.
Dari kejauhan Angga menyadari jika ada motor melaju cepat yang sedang mendekat bahkan arahnya seperti menuju posisi Abel dan Airin.
Sigap Angga menarik Airin kebelakang dan dia memeluk Abel karena jarak terdekat dengan motor itu adalah Abel.
Buggghh braak..
Aaahhhhhhhh..
Airin jatuh terduduk, Angga dan Abel tersungkur di aspal karena saking kerasnya benturan dari motor tadi membuat mereka terpelanting.
Kejadian sangat cepat bahkan Airin hanya menganga melihat Abel dan Angga sudah tergeletak di Aspal.
"Abeeeelll, Anggaa." teriak Airin, kemudian tak lama banyak yang datang menolongnya.
"Ukkhhhh.." keluh Angga merasa punggung dan tangannya sedikit sakit.
"Anggaa, astaga." ucap Abel, dia mencari keberadaan mobilnya tak lama dia melihat mobilnya sudah mendekat.
Alvin yang melihat ada keramaian bahkan sedikit terkejut melihat ada kerumunan, dari siluetnya dia seperti melihat sosok yang dikenali tersungkur di aspal segera dia memanggil bantuan.
Alvin memarkirkan mobil langsung berlari dan mengamankan situasinya.
Tak lama banyak anggota tentara datang mensterilkan keadaan disertai dengan Ambulance dari kesatuan.
Angga dibawa menggunakan tandu, sedangkan Abel di gendong oleh Alvin menuju Ambulance.
Karena kondisi Airin baik tak ada luka hanya sedikit syok dia ikut di mobil bersama Alvin.
"Mereka baik-baik aja kan mas."
"Gak papa kok Ai, berdoa saja."
Para guru tak ada yang mengetahui kejadian ini karena segera ditangani Alvin dan staff dari ayah Abel yang datang dengan sigap.
*
__ADS_1
*
Bersambung