
Pagi harinya Abel berangkat bersama BG, karena Alvin masih belum kembali dari pulkam.
"Assalamualaikum." Sapa BG saat sampai dirumah Abel.
"Masuk Lee." saut bunda, sedangkan Abel masih belum turun dari kamar.
"Sarapan dulu Gas." sahut Ayah yang baru muncul di meja makan.
"Iyaa ayah."
"Abbbb-eeeell, Ehhh bunda kira masih tidur." ucap sang bunda menggoda Abel yang masih sedikit melamun.
"Enggak bun, udah dari subuh Abel gak bisa tidur lagi." jawab Abel yang sepertinya masih belum sadar jika BG sudah berada dirumahnya.
"Buruan Bell, Bagasnya udah nungguin." teriak sang bunda.
"Lahhh kok aku gak tau dia udah datang." gumam Abel.
"Kamunya aja yang sibuk sendiri dikamar." sahut ayah.
Mereka pun melanjutkan sarapan bersama, dan segera Abel berpamitan berangkat sekolah.
Setibanya di halaman sekolah sudah banyak yang datang dan nampaknya sebentar lagi bel masuk akan bunyi.
"Jam pertama kamu olah raga baby." tanya BG.
"Iyaa."
"Kenapa gak ganti sekalian dari rumah."
"Nggak biasa aja." jawab Abel lalu dia keluar dari mobil BG.
"Udah lama kita gak motoran yahh." celetuk Abel.
"Hahhh, kamu pengen naik motor."
"Hemmb, kangen aja jalan-jalan naik motor."
"Iyaa nanti habis pertandingan basket aku ajak jalan-jalan naik motor okey."
"Benerann yahh." jawab Abel semangat.
"As your wishes baby."
Abel tersenyum sumringah, Mood boosters nya hari ini meningkat tajam. Abel melambaikan tangan pada sang tunangan saat sudah sampai di kelasnya.
"See you baby." ucap BG lirih.
Sudah banyak yang mengganti pakaian olah raga, bahkan Airin yang sudah dimejanya pun sudah nampak berganti.
Abel bergegas mengganti baju olah raganya di kamar ganti.
Jadwal olah raga hari ini Abel berbarengan dengan kelas X-1 kelas Steven.
Bippp, ponsel Abel berbunyi pesan dari sang ajudan.
"Yahh mas."
"Mas udah balik Bell, nanti kamu dijemput apa gimana."
"Ehhmmm, mas istirahat aja nanti aku di antar Bagas."
"Okehhh, mas mau nemuin Nina dulu."
"Gak capek mas, istirahat yahh bye."
Abel memutuskan paksa sambungannya dengan Alvin karena kegiatan olah raganya akan dimulai.
"Okeey anak-anak kalian pemanasan dulu lari 3 putaran selanjutnya Angga pimpin peregangan sebelum kegiatan hari ini." ucap pak Sam guru olah raga.
Abel dan kawan-kawan pun sudah memulai lari 3 putaran, diiringi canda tawa dengan lainnya.
"Dev belum ngabarin Bell." tanya Airin sembari berlari kecil.
"Belum Ai."
"Entar habis ini kalau udah santai kita telpon dia."
"Hemmm." sahut Abel.
Setelah berlari 3 putaran Abel beristirahat meluruskan kakinya bersama dengan teman-temannya.
"Ehh bentar ada telpon." potong Abel saat merasakan ponselnya bergetar.
"Hallo Bell."
"Yaa Dev gimana..?"
".............."
"Hahhh, apaaa.. Okeyy deh yang terbaik aja gimana kamu urus adminnya sementara kamu DP berapa gitu nanti aku sama Bagas kesana pulang sekolah yahh, ehhm kamu masih pegang uang kan."
"Ada Bell, kemarin boss BG kasih bonus ngelaksanain perintah nyonya."
"Hemmmb, yaudah titip-titip yahh."
Telpon terputus sementara teman-teman Abel menanti jawaban dari sang Arabella.
"Apa kata Dev Bell." tanya Airin.
__ADS_1
"Jadi Ibu Nay harus Rawat hari ini juga, kondisinya udah melemah."
"Ini kudu patungan lagi."
"Yuk yuk."
"Jangan dulu aku masih pegang uang dari Bagas kok." jawab Abel.
"Ahhh iyaa."
"Kapan loe mintak." tanya Airin.
"Cihh bahkan Abel belum minta udah disodorin Ai." potong Fransiska.
"Iyaa kita-kita ada disana pas BG ngasihnya."
Saking asyiknya ngobrol mereka bahkan tak tau ada bola basket yang mengarah kearah mereka.
Abel yang melihat bola itu hendak mengenai Airin, dia pun segera merengkuh Airin mengumpankan tubuhnya.
Buggghhhh...
"Abel."
"Ahhhhhh."
"Astagaa dragonnn."
"Woeeeyy siapa yang ngelempar ini tadi." sungut Nia yang tak terima adanya bola datang menimpa mereka.
"Bell, ya ampunn gak papa kan." tanya Airin.
"Ehhh gak papa Ai, mending kena aku daripada kena kepalamu." jawab Abel.
"Siyalan banget siapa yang lempar bola. Heyy kimvrit bola siapa ini." sungut Fransiska.
"Ada apa Ai." tanya Angga yang menghampirinya.
"Nihh Abel kena bola padahal kan kita jauh banget dari Ring." jelas Airin.
Angga menoleh kearah ternyata di lapangan basket ada adik kelas mereka yang sedang berlatih basket.
"Permisi pak." ucap Angga sopan pada guru olah raga kelas X.
"Ada apa Angga."
"Ini pak kenapa ada bola nyasar sampai ke tempat kami bahkan mengenai teman saya, jauh loh pak jaraknya. Kalau enggak disengaja ini gak masuk akal sekali."
"Maaf yahh Angga bapak juga tidak tahu, coba nanti bapak tanya anak-anak."
"Baik trima kasih pak."
Guru olah raga kelas X itupun menanyakan pada siswanya namun memang pada dasarnya unsur kesengajaan terjadi tak ada satupun yang mengaku.
"Ini pak Abel kena bola anak kelas X."
Pak Sam mendekat kearah Abel memeriksa keadaannya.
"Ya ampunn sampai merah gini, pasti terasa panas ini, Angga tolong bawakan Es batu buat kompres." titah pak Sam.
"Sampek ketemu pelakunya gak gue kasih ampun." ucap Airin lirih.
"Sudahlahh mungkin emang gak sengaja." sahut Abel.
"Nihh Bell kompres dulu." ucap Angga setelah dia mendapatkan es batu dari kantin.
"Airin bantu Arabella, yang lainnya lanjut kegiatan yahh."
"Baik pakk." sahut kompak teman-teman Abel.
Airin menurunkan Kaos olah raga Abel sedikit kebawah untuk mengompres bekas lemparan bola yang tercetak antara leher dan pundak Abel.
Abel menggelung Rambutnya agar tak basah terkena Es.
Insiden di lapangan olahraga tidak diperpanjang karena Abel mewanti teman-teman agar tak membahas lebih. Abel tahu pasti jika sampai BG mendengar masalah ini akan semakin rumit.
Jam istirahat Abel menggerai rambutnya guna menutupi bekas kemerahan di lehernya. Tahu saja tunangannya itu sangat teliti.
Setelah BG menjemputnya di kelas kini mereka sudah berkumpul dengan para sahabatnya dikantin.
"Nanti pulang ke RS yahh, Ibu Nay jadinya MRS." ucap Abel sambil memakan makanannya.
"Hemmb." sahut BG.
"Ibu Nay sakit Apa emangnya Bell, gue ikut boleh yah." potong Kevin.
"Belum tahu sakit apa, cuma harus dirawat." jawab Abel.
"Bell, kenapa kamu pucet." ucap Dekka yang tak sengaja melihat Abel nampak beda.
"Hahh, gak papa kok." jawab Abel, sang BG terus memperhatikan Abel.
"Kenapaa, mana yang sakit." tanya BG.
"Eng-nggak ko cuma capek kan habis olah raga." jawab Abel.
"Kev, tolong belikan jus jambu Es nya dikit jangan lupa." titah BG pada Kevin.
"Kenapa coba bilang, nggak ada yang disembunyikan dari aku." lanjut BG bertanya pada gadis cantiknya.
__ADS_1
"Iyaa nanti aja." jawab Abel yang tak mungkin menjawab dimuka umum.
Tak lama Kevin datang membawakan pesanan BG untuk Abel.
"Nanti jadinya siapa aja yang mau ikut." tanya Kevin.
"Semuanya aja dehh." sahut Metta.
Dan mereka pun mengganguk setuju setelah pulang sekolah akan menjenguk ibunya Nayla.
Dua jam setengah mereka mengikuti pelajaran akhir, kini waktunya pulang sekolah Abel menunggu BG mendatanginya karena akan menjenguk ke RS bersama-sama.
Setibanya di dalam mobil BG, Abel kira sang Bagaskara sudah lupa dengan pertanyaan di kantin tadi.
"Jadi apa yang sedang kamu rahasiakan dari ku."
"Hahhh."
"Jangan pura-pura lupa baby."
"Hemmm." hela nafas Abel lalu dia menaikan rambutnya menoleh menghadap BG guna menunjukkan bekas ruam kemerahan yang masih tersisa sedikit.
"Kenapa bisa begini." tanya BG sambil menyentuh luka ruam.
"Kenak bola, sebenarnya bukan ke aku, aku menghalangi nya biar gak kenak kepala Airin." jelas Abel, membuat BG mereda.
"Jadi sasaran nya bukan kamu, sudah dikompres kan."
"Hemmb, langsung kok."
"Yasudah." jawab BG singkat.
Setelah melihat teman-teman mereka sudah berkumpul mereka berangkat bersama-sama ke RS. Sahabat Abel dan BG juga beberapa teman sekelas Abel.
Tak lupa mereka membawakan beberapa makanan dan cemilan agar bisa dimakan Nayla sembari menjaga sang Ibu.
"Nay."
"Yaa ampun ibu mertua sakit apa." celetuk Kevin.
"Hehh, gak sopan teriak-teriak." potong Nia.
Sedangkan Kevin yang ditegur hanya menyengir. Devan mendekat kearah Abel guna melaporkan pengeluaran.
Abel dan Airin menyimak semua penjelasan Devan, mereka bertiga keluar dari ruangan tak ingin Nayla mendengarnya.
Setelah itu mereka kembali keruangan rawat ibu Nayla. Abel mendekati sang tunangan yang sudah mencari-cari nya.
"Nay sini deh." panggil Abel lalu menepuk kursi tunggu sebelahnya.
"Kenapa Bell."
"Ehhmm, gini jadi sementara kan Nay gak bisa kerja karena nunggu Ibu. Ehmm pesan bu Silvi kamu fokus jagain ibu dulu masalah biaya nanti kita patungan sama-sama, dan kalau Nay setuju setelah ibu sehat Abel punya ide ini." jelas Abel sambil menyerahkan selembar kertas berisikan brosur tentang Bimbel Nayla.
Abel menunggu respon Nayla, begitu juga dengan mereka yang berada didalam ruangan itu.
Greeppppp... Nayla memeluk Abel, bahkan saking semangatnya membuat Abel terjengkang kebelakang. Beruntung ada BG dibelakangnya yang langsung menangkapnya.
"Huaaaa, makasih yahh Bell, makasih yahh teman-teman semuanya, Nay gak tahu harus bilang gimana. Hikss."
Sementara itu ibu Nayla merasa haru karena anaknya memiliki teman yang sangat baik.
"Jadi Nay mau ngajar bimbel, daripada kerja dicafe Nay jadi gak fokus sama ibu." tanya Abel.
"Mau ya Nay, setidaknya Nay ada waktu buat jagain ibu kan." potong Airin.
"Mau banget Bell, Ai yang penting Nay bisa cari uang dan bisa ada waktu buat ibuku."
"Naakkk, teman-teman Nay ibu terima kasih sekali yahh, sudah merepotkan, ibu harus balas dengan ap-pa, Hikss." sela ibu Nayla yang mulai menitikkan air mata.
"Ibuu, jangan bilang gitu kita semua teman Nay juga keluarga Nay jadi ibu sama Nay jangan pernah merasa sendiri. Daannn ibu harus balas kami dengan ibu terus sehat menjaga Nayla sampai kapan pun." Ucap Abel.
"Ibu boleh peluk."
"Tentu saja boleh." jawab Abel lalu menuju kearah ibu Nayla, disusul Nayla dan Airin ikut berhambur berpelukan tangis ibu Nayla semakin pecah dikalah melihat kami semua yang kompak budidaya lendir di hidung Alias ingusan.
"Huaaaa, Devan mo ikutan Teletubbies." ucap Devan sambil merentangkan tangannya kearah Abel dan Nayla.
Bagaskara yang menyadari itu pun segera menarik kerah baju Devan.
"Eiitsss..eitss." celetuk Devan karena merasa bajunya tertarik.
"Mau ngapain."
"Ehhh enggak boss, nganuu." sahut Devan yang sadar jika BG yang menariknya.
"Ehiyaaa ding disitu ada nyonya,..behhh lakiknya gak bisa kompromi hahhaha."
Sementara itu yang lainnya terkekeh melihat over protective nya seorang Bagaskara yang tak membiarkan tersentuh laki-laki lain.
"Gas, loe masih connect CCTV sekolah kan." ucap Angga pada BG.
Sementara itu Abel yang mendengar perkataan Angga seketika menoleh kearah sang tunangan.
"Hemmm, kenapa." jawab BG, jantung Abel berdebar dikala BG menyauti Angga.
"Ehhh, ada masalah apa emangnya." potong Devan.
Sementara itu BG dan Angga sudah duduk bersama menunggu BG membuka aplikasi koneksi dengan CCTV sekolah.
__ADS_1
"Ehh apaan sih kok jadi serius." tanya Kevin.
Deg..deg.. Detak jantung Abel bergemuruh, bisa gawat kalau BG mengusut masalah ini.