Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Lost....


__ADS_3

Hari ini BG sudah masuk ke sekolah setibanya disekolah BG berhenti di halaman sekolah menunggu kedatangan Abel. Saat didepan lorong sekolah matanya menyorot sebuah mobil yang nampak tak asing baginya, sedang berhenti didepan sekolah.


"Kek kenal mobilnya, kenapa malah berhenti disitu gak langsung parkir." gumam BG, tak lama muncul mobil yang tengah ia nantikan muncul masuk ke halaman sekolah.


BG mendekat kearah mobil Abel, keluarlah sosok yang menjadi tunangannya sudah setahun ini. Senyum cantiknya menyapa pertama kali pada sang Bagaskara.


"Makasih mas." sapa BG sambil melambai pada Alvin, ajudan Abel yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Dan yah setelah Abel meminta Nina untuk memeriksa kan dirinya karena keanehan yang terjadi pada sosok ajudannya itu. Beberapa hari kemudian Nina ke dokter dan dari hasil pemeriksaan memang Nina tengah berbadan dua.


"Baby, ayah masih bolak balik Jakarta." tanya BG


"Masih, mungkin minggu depan mulai stay dan pulang 2 minggu sekali." jawab Abel.


"Memangnya udah selesai Rumdisnya di rehab."


"Heummbb, udah kok hampir 90%." jawab sang Arabella mereka pun bergegas masuk kedalam kelas. Setelah mengantarkan Abel BG pun langsung menuju kelasnya.


"Morning all."


"Guten morgen my baby."


"Tumben Ai udah datang." tanya Abel yang melihat Airin sudah duduk manis di bangku sebelahnya.


"Ahiyaa sayangkuh, gue naik motor soalnya entar mau keperpusda." jawab Airin, Abel mengernyit heran.


"Lahh tumben kagak dianter Angga." sela Nia.


"Enggak, dia lagi repot kayaknya."


"Lahh masaakk."


"Gak tau susah dihubungi, jadi gue pikir mungkin dia sibuk."


"Ohhh."


"Enggak lagi marahan kan."


Sementara itu sang Arabella hanya menyaksikan obrolan ketiga temannya itu.


"Lahh ngapa marahan, enggak lah." jawab Airin, semua kompak mengangguk.


"Lahh ini mau masuk belum pada datang." tanya Nia, namun tak lama Devan menyembulkan kepalanya.


"Molningg anak- anak kuhh sekalian."


Tak lama disusul bel berbunyi dan datang guru mapel jam pertama.


"Van, Angga belum datang." ucap Nia.


"Van.. Van Van. gak sopan banget sama ayang."


"Dihh alayy begok." sahut Fransiska.


"Sirikkk bae jin tomang."


"Sobat loe mane." sela Nia.


"Kagak tau beb, gak chatingan gue. Tanya ndoro Airin noh." jawab Devan.


"Lahh kita kira loe tau." sahut Airin, Devan langsung menggeleng cepat.


Enggak biasa- biasanya Angga bolos, tidak masuk tanpa keterangan.

__ADS_1


"Pagi anak-anak, buka bukunya 15 menit kita kuis yah." ucap guru.


"Lahh kok dadakan."


"Yahh ibu mahh kagak bilang- bilang kemarin."


"Iyaa nihh, kan belum siap."


"Ckkk, otak kalian cerdas-cerdas masih gerutu aja kalau kuis." sahut Devan.


"Ckkk gaya lo paijo."


"Syuut udah berisiknya cepat manfaatin 15 menitnya." potong guru.


"Tapi bu kan ada yang gak masuk hari ini."


"Lohh siapa, ibu lihat komplit kok." jawab bu guru.


"Yahhh, ibu amnesia."


"Si Angga gak masuk tidak ada keterangan ibuuuu." jawab Devan, sedangkan Abel dan Airin masih diam.


"Lohh, kalian belum tahu." tanya bu guru.


"Belum tempe lahh bu."


"Yang ada tempe bu bukan tahu."


"emang tahu apa bu."


"Ohhh, per hari ini Anggada pindah sekolah."


Degg....


"Kenapa dia gak bilang Bell." ucap Airin lirih.


"Nanti kita cari tahu yah." jawab Abel menenangkan, bahkan Devan pun tak mampu berkata-kata.


Selama pelajaran berlangsung semua murid didalam kelas tak ada yang bersuara. Seolah ikut berduka mengerti perasaan Airin yang hampa.


Bahkan ketika mapel pertama berakhir Airin tak kuasa menahan air matanya. Abel hanya mampu menghiburnya, pun tak mampu berkata-kata.


Devan dan yang lain sudah berusaha mencoba menghubungi ponsel Angga namun nihil.


"Kenapa dia pergi Bell, hikss.. hiks. Ke kenapa dia gak kasih tau akuuui.. Huhuhuhhh." sendu Airin dipelukan Abel.


"Sabar yahh Ai, jika memang kalian berjodoh Tuhan akan mempertemukan. Bahkan mungkin mempersatukan kalian. Ehhhmm aku gak tau mau ngomong apa. Tapii aku juga sedih kehilangan salah satu teman terbaik." ucap Abel sambil mengusap pelan punggung Airin.


"Hikkss.. Hikss. Kenapa dia tega sama aku."


"Sabar yah Rin, kita disini ada sama loe."


Hingga kedatangan BG menginterupsi keheningan dan ketegangan didalam kelas dua belas IPA1.


"Baby, aku telp gak diangkat sayang."


BG memperhatikan sekelilingnya nampak diam dengan wajah yang tak bisa ditebak. Abel hanya diam terus memandang sang tunangan dengan wajah sendunya.


"Van.." tanya BG pada Devan kala dia melihat Abel masih memeluk Airin.


"Haaaahhh... Angga pindah." jawab Devan.


"Kenapa tiba-tiba."

__ADS_1


"Gak ada yang tau bahkan Airin." jawab Devan, BG pun diam memandang Abel yang masih menenangkan Airin.


"Tapi aku datang tadi kek liat mobilnya depan sekolah." ucap BG, banyak diantaranya memandang BG, Abel mengkode untuk membelikan makanan pada sang tunangan.


"Kita udah kalah." gumam Airin.


"Kenapa bisa bilang gitu."


"Dia udah nyerah bahkan sebelum berjuang, hikss. hiks. Memang kita gak bisa sejalan, sudah jelas beda. Aku yang gak sssadar diri. Huhuhuhh." tangis Airin semakin menyayat.


"Sssudahh yah Ai, aku juga sedih. Aku gak mau lihat kamu kayak gini, hiksss. Kita harus tetap melanjutkan hidup kita, ayoo aku akan bantu kamu, melawan takdir memang tak mudah, tapi aku percaya Tuhan mempunyai rencana indah dibalik semua ini." ucap Abel meyakinkan Airin, menghapus lelehan air matanya.


Tak lama BG kembali bersama Devan membawakan beberapa makanan untuk Abel dan Airin. Melihat Abelnya berderai air mata, membuat BG menghela nafas panjang.


Kepindahan Angga tanpa kabar membuat banyak orang syok, terlebih Airin sangat kehilangan.


Beberapa hari berlalu, bahkan kesedihan masih terasa. Meskipun Abel tahu sahabatnya belum ada hubungan kepastian dengan Angga, namun Abel yakin jika Airin sudah terlalu nyaman dan perasaan pun sudah terlalu jauh. Meskipun jalan mereka sulit sudah banyak moment yang mereka berdua lalui bersama.


Kini Abel tengah bersama BG diperusahaan milik Hermawan corp. Beberapa minggu lagi mereka akan mengikuti ujian akhir sebelum menjalani Try out, BG hanya bekerja sepulang sekolah.


"Bentar yahh dikit lagi." ucap BG yang masih sibuk membolak-balikan map dimeja kerja.


"Iyaa gapapa kok."


Lama dalam keheningan membuat Abel sudah jatuh terlelap di sofa tamu. BG yang lama tak mendengar suara Abel menoleh mendapati Arabellanya telah tertidur lelap. BG bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar cepat selesai.


Setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaannya dan selesai BG meregangkan ototnya.


Krekkkk..


"Uhhh,." BG bangkit mendekati Abel.


"Sayang, yuk aku udah selesai." ucap BG.


"Hemmmb." Abel mengerjap mengumpulkan nyawanya yang masih sedikit terlelap.


"Bentar aku cuci muka dulu." jawab Abel lalu menuju toilet diruangan BG, setelahnya mereka berdua meninggalkan kantor papa Hermawan.


"Gimana Airin, belum ada kabar dari Angga." tanya BG saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Belum, entah Angga kayak hilang ditelan bumi."


"Emangnya mereka sebelumnya bertengkar apa gimana baby." tanya BG.


"Enggak kok, makanya Airin juga kaget tau-tau Angga pergi tanpa pamit. Dia seolah menyerah dengan hubungannya." jawab Abel.


"Hemmm."


Abel menoleh menatap lekat sang tunangan yang sedang fokus menyetir.


"Kamu jangan pernah coba tiba-tiba ngilang yah." ucap Abel, membuat BG menoleh seketika.


BG menghentikan mobilnya ditujuan mereka saat ini, Danau tempat healing mereka sebelumnya.


"Enggak ada alasan aku untuk pergi baby, even kamu sendiri yang minta aku akan tetap bertahan. Esok dan seterusnya ayo kita jalani kehidupan ini bersama-sama. Hadapi masalah bersama." ucap BG lalu merengkuh tubuh mungil Abel menyaksikan sunset dari dalam mobil.


"Maaf yahh, aku sempat ninggalin kamu. Kemarin-kemarin. Sekarang aku jadi tau gimana arti kehilangan, disaat orang yang kita sayang tak ada kabar." sahut Abel.


"Kita gak akan tau makna kehidupan itu kalau kita gak pernah jalani, untungnya aku langsung ngiket kamu biar kamu gak bisa jauh dari aku."


"Hemmmb, dasar pemaksa."


"Biarin kamu juga mau, wleeee."

__ADS_1


Abel mengeratkan dekapan sang Bagaskara, mencari sudut kenyamanan hingga sang fajar tergantikan senja.


__ADS_2