Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~Apes nya Angga


__ADS_3

Tak Segampang itu ku mencari penggantimu


Tak Segampang itu ku menemukan


Sosok seperti dirimu cinta.


Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu


Mengapa kau memilih untuk berpisah


Anggada


Sungguh Angga tidak pernah menduga hari ini akan berakhir seperti ini. Namun dia masih mengingat betul kata Kevin tadi.


"Yok, tunjukin ke bokap Loe hidup gak melulu tentang aduhainya goyangan sekertaris."


Meskipun dia jadi babak belur, tak apa lah asalkan dia sudah bisa kembali berkumpul dengan circle nya yang hangat.


Semenjak mereka berada di apartemen BG Kevin sudah menginfokan pada Devan jika kini mereka sedang bersama dengan angga. Sontak Devan pun sudah tak sabar ingin menuju titik lokasi mereka saat ini.


"Trus gimana skenario selanjutnya gas." tanya Riki pada BG.


"Jujur Ngga gue bingung mo bantu Loe kek gimana, masalah Airin gue 100% gak bisa bantu. Tapi masalah tempat tinggal dan kerjaan itu gampang." ucap BG sejenak menghela nafas.


"Loe tempatin unit depan gue, itu unit milik pribadi nanti gue bilang sama kantor buat Loe karena ini memang apartemen khusus karyawan kantor gue." lanjut BG.


"Trus nyokap Loe gimana kondisinya Angga." tanya Dekka.


"Psikiater nya bilang belum 70% masih butuh perawatan, tapi udah bisa gue tinggal sih alasan lanjutin sekolah." jawab Angga.


"Trus Loe masih punya uang berapa." tanya Kevin to the points, membuat BG berdecak.


"Loe tuhh sukur nyeplos aja Vin."


"Lahh Napa, kita udah saling kenal juga."


"Gue masih ada uang sisa jual mobil, paling cukup buat biaya rawat nyokap. Btw motor gue gimana donk." jawab Angga lalu sejenak dia ingat motornya.


"Gampang besok bisa Loe ambil."


"Sekarang Loe istirahat, pasti badan Loe sakit semua tuh." celetuk BG nampak sedari tadi Angga meringis.


"Sorry Yo Ngga."


"Sorry Bro."


Permintaan maaf dari BG dkk bukan lah hal yang perlu difikirkan Angga saat ini, menurut nya justru bersama sahabat kini ia merasa jauh lebih tenang. Tak ada lagi rasa ingin menyerah dalam hidupnya, seolah mereka menjadi support sistem selain sang mama.

__ADS_1


"Mau disuruh kerja apa dia Gas." tanya Riki, mereka masih melanjutkan pembicaraannya tentang Angga membiarkan Angga memejam mata sejenak.


"Gue tau dia butuh uang cukup banyak, gue coba tanya dikantor aja." jawab BG Riki dan Kevin mengangguk, obrolan mereka terhenti kala bel pintu apartemen berbunyi.


Tinooong....


Kevin beranjak membukakan pintu nya, sementara BG sedang sibuk mengurus email dari laptopnya.


Kevin sudah menebak pasti Devan atau yang lainnya yang tengah datang setelah dia bc di chatting tadi.


Ceklekkk... Begitu membuka pintu ternyata benar Devan disana dan dibelakangnya nampak Nia daaaannnnn...


Sruuutt Dugghhh...


Seorang gadis tengah menyerobot masuk dengan terburu dan mencari sosok Angga, agaknya dia sudah penasaran atau bahkan sudah tak tahan menunggu.


"Minggirrrr." teriak Fransiska, menggeser badan Kevin dari pintu.


Baghhhh bugghhhh bogghhhh...


Dengan semangat 45 Fransiska memukuli Angga yang tengah tertidur di sofa, sontak membuat Riki dan BG berlarian.


"Badjingan ini kenapa Loe ada disiniiii." ucap Fransiska tanpa ampun.


"Sh!tsss."


"Woeeyyy, Sis."


Teriakan dari yang lainnya tak mampu menghentikan Siska begitu saja.


"Mana pawangnya Van." tanya Riki pada Devan, tentu saja Gama yang dimaksud.


"Ohhh Good minggir kalian." teriak Fransiska nyalang, bahkan Nia pun mengikutinya dengan mencubiti badan Angga.


"Berhenti Sis."


"Awhhh,.. awhhh."


"Siskaaaaaa." teriak Abel menggelegar begitu terbangun karena mendengar suara gaduh dan berisik dari kamar.


"Huuuuhhh huhhh emosi gue."


"Minggirrr kalian gue belum puaaas." Teriak Siska enggan berhenti meskipun Abel sudah melerai, Devan sudah mengamankan Nia, namun Kevin dan Riki tak mampu meredam ke bar-bar an Fransiska. Akhirnya dengan terpaksa BG menarik Angga dan membopong nya menjauh dari amukan para betina.


Abel dan Dekka bertugas menghalangi Fransiska, karena sedari tadi mereka seolah kalah tenaga, Fransiska didudukan di sofa berjauhan dengan Angga.


"Gue kata juga apa." ucap Devan tiba-tiba, membuat yang lain bingung.

__ADS_1


"Apaan."


"Yasalammmm.. Hahhh hahhh." gumam Devan terengah engah.


"Tadi tuh si Kevin ngabarin nah pas banget gue di rumah Nia, ehh pas nya mau kesini Nia bilang Siska mau ikut. Waduhhh bisa perang kalau Siska ikut, gue bilang gitu ke Nia. Ehhh Nia tetep maksa. Bisa apa gue. Hahhh." jelas Devan.


"Loe kalau tau ceritanya bakalan nyesel dehh sis." celetuk Dekka.


"Kenapa harus marah-marah dulu." ucap Abel lembut pada Fransiska.


"Yahh gemes aja sama tuh bocah."


"Kalau gemes bisa kan nyubit aja gitu." sahut Abel.


"Lahhh gimana sihh."


"Hahhhh."


Celetuk yang lain mendengar ucapan Abel.


"Tadi si Nia udah bagian nyubit."


"Astaggaaa."


Hingga saat ini Angga masih belum mengeluarkan suara, akhirnya Dekka pun menjelaskan pada Devan, Nia dan Fransiska.


Tanpa ada yang dikurangi dan dilebihkan ceritanya.


"Hikss.. Hiksss.. maafin gue ya Ngga."


"Sorry Ngga gue gak tau kalauu..." ucap Fransiska terpotong.


Semuanya paham, memang dari awal mereka terbawa emosi sebelum tahu kebenaran nya.


"Eloo sihhh."


"Makanya Loe gak liat apa si Angga udah bonyok kek gitu."


"Habis dia sama para lelaki."


"Hemmmb,.. udah pada maem belum." ucap Abel menengahi suasana canggung diantara Fransiska dan Angga.


"Trus ini gimana si Angga Bell, kasihan apa perlu bawa ke dokter."


"Nggak usah guys." ucap Angga, Abel tampak menahan sedihnya, namun tetap ia tak bisa berbuat apa-apa. Janji tetap lah janji, nanti akan dia kasih kabar pada sahabat nya Airin dan semua keputusan tetap Airin yang bisa menentukan.


"Tinggal siapa lagi yang belum datang, konfirmasi dulu takut datang-datang gebukin orang." celetuk Dekka, membuat para lelaki terkekeh.

__ADS_1


"Wira sama Metta lagi dikafe, pas rame gak bisa ditinggal." jawab Kevin.


"Kita samperin aja sekalian jelasin biar gak ada lagi kejadian kayak gini ini." ucap BG tegas, mau tak mau mereka mengikuti perintah dari sang Bagaskara.


__ADS_2