Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Expart MPAA 1


__ADS_3

Ujian Negara tinggal menghitung hari, jam dan bahkan menit. Bukan Abel yang gelisah karena siap bertempur dengan soal-soal, namun dia jauh lebih gelisah karena semakin mendekati kepergian Airin.


Berhari-hari dia duduk diam termenung hanya memikirkan saat-saat Airin akan berangkat ke luar negeri. Dari tiga negara Airin nyatanya memilih Australia untuk melanjutkan pendidikan.


Bahkan sang bunda telah meyakinkan hati Abel agar mengikhlaskan kepergian Airin. Sebenarnya sang bunda tak tau jika Airin sengaja pergi jauh untuk menghempas masa lalu. Namun bibir Abel seolah kelu untuk mengatakan pada sang bunda.p


Tiga hari menjelang ujian Abel dan BG sepakat untuk tidak menghabiskan waktu bersama. Yang mereka lakukan cukup dengan Video call untuk melepas kerinduan.


Acara perpisahan akan dilaksanakan akhir minggu setelah UN selesai, mengingat jika Airin setelahnya akan berangkat ke Australia. Rencana Abel dkk membuat video perpisahan pun telah Devan dan Gama kemas sedemikian rupa. Yang tadinya berencana membuat 100 nyatanya membeludak hingga hampir 300 karena kebocoran hasil rapat.


"Baby kangen banget lohh."


"Iyaa sayang, aku juga kangen."


"Apaa, coba bilang lagi."


"Apaaa..?" tanya Abel pada BG karena tak paham, karena jarang-jarang Abel mengatakan sayang pada sang Bagaskara.


"Kalimat yang kamu katakan tadi baby."


"Hemmmb yang mana my fiance."


"Yang sebelum kamu bilang kangen juga." jawab BG, membuat Abel mengernyit mengingat ucapannya.


"Hembb, sayangkuh my Bagaskara." ucap Abel sambil tersenyum manis, membuat sang tunangan tersenyum menang.


"It's just enough." tanya Abel.


"Nope, I'm still want to meet you baby."


"Sabarlahh."


"Hemmmb."


Entah butuh berapa lama mereka habis kan untuk saling melepas rindu lewat telpon. Abel sangat bersiap diri menghadapi ujian nasional, pun dia terapkan pada sang tunangan.


UN hari pertama, hari kedua dan hari ketiga pun telah mereka lalui. Abel nampak lega, sekaligus deg-degan dibuatnya.


Bukan tak yakin dia tak lulus melainkan berapa nilai yang diperoleh. Selama tiga tahun duduk di bangku SMA Abel tak pernah sekalipun ragu dengan hasil kerjanya. Tidak dengan kali ini.


"Huahhhh, akhirnya usai sudah."


"Iyaa tapi kita belum bisa santee juga."


"Hahh yang penting otak kagak ngebul lagi dahh mikir ujian."


"Lahh begok, kalau loe gak lulus gimana."


"Yaahh gampang tinggal ujian ulang, napa repot."


"Kagak gitu juga prinsipnya keles."


"Huuuuhh dasar Maimunah."


Sahutan dari para murid setelah ujian berakhir pun terdengar, Abel hanya tersenyum menanggapinya. Setelah lulus tak akan pernah bisa dia dengar yang seperti ini.


"Loe jadinya ambil apa Bell."


"Hemmmb HI."


"Abel the best dahh."


"Loe gimana Nya, tanya Abel doang loe apa jadi kuliah paket KUA." celetuk Fransiska.

__ADS_1


"Hahhh." sahut Nia tak paham, sedangkan yang lainnya sudah tergelak menahan senyum.


"Si begokk, katanya loe mau ngegeber nama di KUA sama Devan." jawab Fransiska.


Bughh..


Nia memukulkan tasnya yang ringan ke punggung Fransiska.


"Sembarangan aja kalau ngomong gue masih mo nikmatin masa muda."


"Yaa kagak usah gebuk juga kalik. Gue kira loe siap melayani tuan Devan."


"Haduhhh kumat vulgarnya si Siska ini mahh."


"Cabutt dah otak gue peng waras."


"Ahhh aku gak mau dengarr." teriak Abel sambil menutup telinga.


"Yeeee kalian ini dah pada gede juga."


Obrolan mereka berlanjut kala bertemu dengan para lelaki. BG yang mendapati Abel berlari kecil kearahnya pun tersenyum.


"Jang lari-lari an baby."


"Iyaa."


"Gak nyangka yahh udah mau lulus kita."


Mendengar ucapan Kevin BG mengernyit.


"Emang yakin lulus loe."


"60% lahh, hehehhe."


"Gak ngaruh juga kan mo dapat nilai berapa yang penting mah lulus." sahut Riki.


"Loe beneran gak lanjut kuliah Dev." tanya Dekka.


"Ogahhh, mo lunasin hutang-hutang dulu gua mahh. Sekarang fokus kerja gue, gak kuliah mah kagak napa dah."


"Loe kursus kek si Wira aja cuma setahun ini." sela BG.


"Entaran deh gue mikirin itu. Sekarang mahh gue mo mikir daftar KUA." jawab Devan, mendengar ucapan Devan seketika Abel dan Airin melotot.


"Lahh kenapa loe nyambung sama otak Siska Van." sahut Airin.


"Apaan."


"Iyaa si Siska tadi nanyain Nia jadi daftar KUA, hahhaha."


"Siska maa meenn. Sehati kitaa." ucap Devan adu Toss dengan Fransiska.


"Urusin utang dulu loe, jang mikirin beranak pinak dulu." sela Nia.


"Sambil nyelam minum air Yang."


Abel yang hanya mendengarkan justru dia yang merasa malu. Dan itupun tak luput dari penglihatan BG.


"Kelean udah pada dewasa, jang kek anak kecil yang gak tau begituan."


"Hahahahahh."


"Pffffffftt."

__ADS_1


"Ohhh god tenggelam kan aja Devan hamba ikhlas." gumam Airin.


"Kalian kagak ada sopan- sopannya, Bos BG yang udah tunangan aja kagak umbar- umbar kek gitu."


"Kagak baik loe ngelangkahin boss."


"Taukk nihh si Nia sama Devan."


"Hooo.. maaf kan hamba bos." ucap Devan sambil menangkupkan kedua tangannya, Abel dan BG hanya menggelengkan kepalanya.


"Hurrrrraaaa."


Dua minggu kemudian pengumuman hasil kelulusan Ujian akan dilakukan dengan zoom, karena para siswa akan menerima berita kelulusan dari rumah.


Dimulai dari kelas Dua belas IPA1 lulus seratus persen mereka sontak bersorak- sorai bahkan Abel tengah meneteskan air mata bahagia nya. Terharu dengan teriakan- teriakan dari teman-temannya.


Lanjut IPA2 hingga IPA4 kelas BG pun lulus seratus persen.


Dari hasil Ujian SMA TUNAS KELAPA lulus seratus persen tak ada yang tertinggal. Dan nilai hasil ujian akan ditempel esok harinya.


"Baby, nanti anak-anak mau perayaan kelulusan di cafe." ucap BG setelah pengumuman kelulusan segera menghubungi sang tunangan.


"Hemm boleh jam berapa."


"Aku jemput jam enam sore yah."


"Okehh."


"Dandan yang cantik yahh." goda BG


"Heummmb, emang kemarin- kemarin enggak cantik."


"Cantik lah masa enggak."


Dan pesta perayaan itu pun berlangsung cukup hangat bagi Abel dan BG and the ghenk. Acara dadakan namun berkesan, mereka saling berpelukan menyalurkan kebahagiaannya.


"Ehh besok janji pantengin Papan pengumuman bareng yakk." celetuk Devan.


"Iyaa jang ada yang ngeduluin okee."


"Kita samaan gitu yahh."


"Okeyy." sahut kompak yang lainnya.


"Pasti Abel mahh no satu."


"Lahh sudah pasti, IQ tertinggi."


"Enggak diragukan lagi itu mahh."


Sedangkan Abel yang dibahas hanya menghendikan bahu tak tahu. Mendapat nilai tertinggi syukur tidak pun dia tetap bersyukur.


"Hemmb, guys aku gak menuntut dalam kehidupan. Entah itu beruntung atau tidak, bahagia atau tidak, susah senang ayo kita jalani dengan senang hati. Makanya aku gak berharap dapet nilai tertinggi, lebih tepatnya dapat alhamdulilah, enggak juga enggak apa-apa. Sejatinya semua kita patut syukuri. Emmmmb sama halnya dengan kita masih bisa bernafas sampai detik ini, apa kita enggak ucap rasa syukur kita pada Tuhan." ucap Abel, semuanya menyimak.


"Gue justru bersyukur bisa ketemu sama loe Bell. Hidup gue jadi enggak monoton." sahut Fransiska diangguki oleh yang lainnya.


"Aku lebih beruntung banget bisa terus dampingan sama Abel sampai tua." sela BG.


"Itu mahh loe nya aja yang maksa." sahut Airin membuat mereka tergelak.


"Kalau enggak maksa entar keduluan, ngenes gue. Hehehhe." jawab BG.


"Makasihh yahh atas kebersamaan kita selama ini, kita ada moment itu tentu sudah digariskan sama Tuhan, benar kan." ucap Abel.

__ADS_1


*


c> Bersambung


__ADS_2