Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 10 Bertemu Lagi


__ADS_3

Bella menepikan motornya di halaman parkir belakang Gedung ABC Company. Halaman parkir yang sama dengan tempat David memarkirkan kendaraannya.


“Akhirnya sampai juga,” ucap Dilla sambil memegangi dadanya yang masih bergemuruh.


“Kamu kenapa?” tanya Bella diiringi tawa melihat wajah pucat temannya itu.


“Masih tanya kenapa lagi? Kamu tahu gak sih, Bel... Gara-gara kamu bawa motornya terlalu cepat jantung ini tuh rasanya benar-benar akan keluar dari tempatnya,” ucap Dilla.


“ Ha ha ha ha.. Berati seru dong kalau bikin jantung keluar. Gak beda kayak naik rollercoaster gratis,” ucap Bella yang masih terkekeh.


“Ini lebih menegangkan daripada naik rollercoaster, Bella,” sahut Dilla sewot.


“Tenang Dil, nanti kamu juga akan terbiasa. Malah mungkin kamu bisa ketagihan naik motor aku,” ucap Bella.


“Apa iya gitu?” tanya Dilla tak percaya.


“Iya, percaya sama aku,” jawab Bella mantap.


“Lalu kita ke mana sekarang?” tanya Dilla setelah melihat ke sekeliling yang tampak sepi.


“Sebentar, aku telepon Mba Maya dulu karena tadi dia bilang akan menunggu kita di sini,” ucap Bella yang langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel miliknya.


Bella menekan tombol di ponselnya untuk menelepon Maya.

__ADS_1


“Halo, Mba Maya, ini aku,” ucap Bella saat seseorang yang diteleponnya sudah mengangkat panggilan telepon darinya.


“Oh ya, Bel, maaf. Sepertinya aku tidak bisa turun ke bawah sekarang karena perusahaan sedang kedatangan Bos Besar dan mereka melarang kami meninggalkan ruangan sebelum jam pulang,” sahut Maya.


“Kok bisa seperti itu?” tanya Bella heran karena tidak biasanya ABC Company memiliki peraturan karyawan seperti itu mengingat Bella juga sempat bekerja di tempat tersebut.


“Iya, itu karena ada yang melaporkan bahwa setiap jam istirahat para karyawan di tempat ini sering meninggalkan gedung dan tidak tepat waktu saat kembali. Padahal, perusahaan sengaja menyediakan kantin agar para karyawan dapat makan di kantin itu dan tidak seenaknya saja keluar dari perusahaan,” jelas Maya.


“Oh, seperti itu.. Kalau begitu aku bawakan ke atas aja ya, Mba?” tawar Bella.


“Iya, Bel, tolong kamu bawakan saja ke atas,” pinta Maya.


“Oke, Mba, Otw...,” sahut Bella.


Kali ini ponsel yang seharunya ia simpan ke dalam kantongnya justru tidak masuk ke kantongnya, melainkan ponsel itu terjatuh ke tanah. Hal itu sama sekali tidak disadari oleh Bella.


Bella malah terus saja melenggangkan kakinya ke tempat tujuan diikuti oleh Dilla. Langkah kaki itu sempat terhenti, saat Bella melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir di dekat tempat Bella memarkirkan motornya. Hal tersebut tak lepas dari perhatian Dilla.


“Kamu kenapa Bella?” tanya Dilla saat Bella tak berhenti menatap mobil sedan hitam yang terparkir di dekatnya.


“Aku seperti mengenali mobil ini,” jawab Bella yang masih berusaha mengingat kapan terakhir kali ia melihat mobil itu.


“Yang benar, Bella. Jangan bilang kalau mobil ini adalah mobil milik calon suamimu David Erlangga,” goda Dilla.

__ADS_1


“Iya, bisa jadi. Mungkin ia tahu kalau calon istrinya akan kemari, makanya dengan susah payah dari Kota J ia datang kemari,” ucap Bella yang seolah-olah jawaban itu adalah kebenaran, membuat kedua gadis itu saling pandang dan tertawa bersamaan.


Bella.. Bella kamu sepertinya benar-benar terobsesi dengan David ya.. Andai keluarga itu mau mengakui keberadaanku. Aku akan meminta David untuk menikah denganmu. (ucap Dilla dalam hatinya)


***


Semua staf karyawan dikumpulkan di depan kantor direksi. Beberapa pertanyaan muncul dibenak mereka masing-masing.


“Mulai hari ini, jika ada di antara kalian yang menggunakan waktu istirahat melebihi batas waktu yang ditentukan, meskipun itu hanya 1 menit. Silakan buat surat angkat kaki dari sini! Karena saya tidak membutuhkan karyawan yang tidak disiplin dalam menjalankan tugas,” ucap David dingin.


“Ba-baik, Pak,” jawab para karyawan.


“Satu lagi, Pak Bobi. Siapa pun yang bertanggung jawab atas masalah makanan di kantin, minta orang itu untuk segera membuat surat pengunduran diri,” ucap David yang kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan bersama dengan Sekretaris Lim.


“Ya Tuhan, ternyata benar rumor yang mengatakan kalau Pak David itu orangnya sangat tegas dan dingin,” bisik beberapa karyawan tak lama setelah David dan Sekretaris Lim meninggalkan ruangan itu.


“Ingat, tidak boleh ada yang terlambat satu menit pun,” timpal yang lainnya menegaskan kembali ucapan David.


***


Bersambung


Kasih dukungan author ya.. tinggalkan jejak dengan like, vote, dan jadikan favorit.

__ADS_1


Baca juga cerita "Mungkinkah Kembali" karya author sudah tamat lho...


__ADS_2