
Sesampainya Bella di rumahnya, ia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya. Ia bahkan tak mempedulikan teriakan neneknya itu. Dilla yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu segera mengikuti Bella ke dalam kamarnya.
Bella berulang kali membersihkan bibirnya itu dengan handuk kecil yang sudah dibasahinya dengan air yang ia simpan di dam baskom.
“Haaaaaa, dasar brengsek!!!” rengek Bella. Dia benar-benar merasa kesal dengan apa yang baru saja dialaminya. Lagi-lagi ia kembali menggosok-gosok bibirnya dengan handuk kecil yang sudah basah itu.
“Sudah, Bella, bibirmu bisa bengkak kalau kamu gosok terus,” ucap Dilla berusaha merebut handuk kecil yang ada di tangan Bella.
“Haaa... Kamu benar Dilla... Ini semua gara-gara laki-laki brengsek, jelek, dan gak tahu diri itu! Berani-beraninya dia mencuri ciuman pertamaku,” maki Bella.
“Iya, berani sekali dia! Mencuri ciuman pertama dari sahabatku! Kalau begitu Bella kamu harus membalasnya! Kamu harus ambil kembali ciuman pertamamu itu,” saran Dilla.
“Iya, kamu benar Dilla. Aku harus membalas laki-laki brengsek itu! Akan kuambil kembali ciuman pertamaku!” ucap Bella menggebu-gebu.
“Eh, tapi tunggu! Apa maksudmu tadi mengambil kembali ciuman pertamaku?”
Pertanyaan Bella malah dijawab tawa renyah oleh Dilla.
“Hahaha...”
“Eh, dasar sahabat kurang ajar! Kamu mempermainkan aku ya?” Bella mulai menyadari bahwa Dilla telah mempermainkannya.
“Hahaha,” lagi-lagi Dilla hanya tertawa mendengar ucapan Bella.
“Sepertinya sahabatku ini suka sekali tertawa ya? Baiklah akan aku buat kamu tertawa terus,” setelah mengucapkan itu Bella langsung menggelitik tubuh Dilla.
__ADS_1
“A-ampun Bella,” teriak Dilla yang berusaha menghindar dari gelitikan Bella.
“Hah, bukannya kamu senang sekali tertawa, hem? Aku hanya membantumu saja,” ujar Bella sambil terus berusaha mengejar Dilla dan menggelitikinya.
“Sudah dong Bella, sudah. Maafkan aku, tadi aku hanya bercanda saja,” pinta Dilla
“Iya, tapi becanda kamu itu tidak lucu tau,” ucap Bella sewot.
“Maaf, ” Dilla berkata lirih.
“Oke, aku maafin kamu. Tapi awas kalau kamu ngomong kaya gitu lagi.. aku gak segan-segan gelitikin kamu sampai mati!” ancam Bella.
“Ya ampun sampai segitunya, Bell! Lagian bukannya dulu kamu suka ya sama David dan kamu sering mengaku kalau kamu itu tunangan dan calon istrinya David. Bahkan, terakhir kamu bilang...,"
“Ih..” Bella langsung membekap mulut Dilla agar tidak meledeknya terus.
“Mesum? Ah... aku jadi ingat kejadian tadi. Gimana rasanya dicium CEO yang ganteng kaya David?” goda Dilla sambil menaik turunkan alisnya.
“Ih.. Dilla.. Kenapa kamu hari ini nyebelin banget sih,” umpat Bella kesal dan langsung memukul Dilla dengan bantal.
“Ma-maaf, tapi aku serius Bell! Aku kaget sama tindakan David yang tiba-tiba nyium kamu. Karena kamu kan tahu kalau David itu CEO tampan, kaya, dan banyak digandrungi para kaum hawa. Lalu tiba-tiba hari ini dia nyium kamu? Padahal aku kira hari ini kamu bakal dicekik dia sampai mati,” ucap Dilla.
“Iya, juga ya? Kenapa si brengsek itu malah nyium aku? Lagi kesurupan kali tuh orang?” gumam Bella.
“Atau jangan-jangan ...” ucap Dilla menggantung.
__ADS_1
“Jangan-jangan apa?” tanya Bella penasaran.
“Dia beneran suka lagi sama kamu,” jawab Dilla.
“Sepertinya kamu salah minum obat, Dill,” sahut Bella.
“Hey, aku serius Bella! Coba deh sekarang kamu pikir, jelas-jelas kamu sudah mempermalukan dia di depan banyak orang. Tapi bukannya marah sama kamu dia malah...” Mendapat pelototan dari Bella, Dilla mengalihkan ucapannya.
“Ah, aku tahu. Jangan-jangan semua ini cuma modus dia aja,” sahut Dilla kemudian.
“Maksud kamu?” tanya Bella.
“Dia sengaja minta kamu untuk mengakui dia sebagai tunanganmu di depan semua orang agar dia bisa mengikat kamu. Dengan begitu, enggak akan ada laki-laki yang berani deketin kamu kan? Karena mereka tahu kalau kamu adalah tunangannya David Erlangga,” jelas Dilla.
Bella mencoba mencerna ucapan Dilla, kemudian ia menatap Dilla lekat dan mengambil handuk kecil basah yang sebelumnya ia pakai untuk menggosok bibirnya itu dan kemudian menempelkannya ke kening Dilla.
“Sepertinya kamu memang perlu dikompres,” ucapnya kemudian.
***
Bersambung
Penasaran dengan cerita selanjutnya? Nantikan kisahnya di episode selanjutnya.
Untuk saat ini jangan lupa beri author dukungan lewat like, vote, dan jadikan favorit ya biar tambah semangat nulisnya
__ADS_1
Terima kasih...❤️❤️❤️