
Supir membawa Bella, Nenek, dan Bibi Mun ke pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota tersebut. Bella takjub memandang mall yang tampak megah di hadapannya itu.
Wah, besar sekali mall ini. Barang-barang yang dijualnya pasti bermerk semua. Tapi, untuk apa Nenek Tua ini mengajakku kemari (batin Bella).
Bella masih bertanya-tanya tentang alasan kenapa neneknya David mengajaknya ke mall.
Tidak mungkin kan dia ingin membelikan baju untukku. Jangan mimpi deh kamu, Bel! (batin Bella)
Sepanjang memasuki mall tersebut, tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara.
Mereka semua bisu apa? Haruskah aku memulainya lebih dulu (batin Bella)
“Nek, kau mau beli apa ke mall ini?” tanya Bella, namun Nenek David sama sekali tak menghiraukannya. Ia terus berjalan melewati satu persatu toko yang ada di mall tersebut.
“Nek, apakah kita tidak melihat barang yang ada dalam toko-toko itu dulu?”
“Maaf, Nona Bella. Nyonya hanya membeli dan memilih barang di toko yang sudah terbiasa menjadi langganannya Nyonya. Tentunya toko ternama dan berkualitas karena hanya toko itulah yang dapat menjamin kualitas barang yang dijajakannya,” jawab Bibi Mun.
Cih, kenapa aku jadi tersinggung mendengar ucapannya. Atau memang dia sengaja ingin menyindirku. Dia ingin mengatakan kalau gadis yang akan ia pilih hanya dari keluarga yang memang sudah dikenalnya yang memiliki status dan kedudukan. Begitu kan? (batin Bella)
Meski tidak suka Bella masih berusaha bersabar, ia ingin melihat apa yang sebenarnya ingin dilakukan Nenek David kepadanya.
“Masuklah,” perintah Bibi Mun saat menemukan sebuah lift yang akan membawa mereka ke lantai atas gedung tersebut.
“Kenapa harus pakai lift? Eskalator kan juga bisa,” keluh Bella karena sesungguhnya ia tidak terlalu suka masuk ke dalam benda itu.
“Kau tidak lihat penampilanmu?” tanya Nenek David sinis memandang Bella dari atas hingga bawah.
Bella saat ini hanya memakai kaos berwarna putih lengkap dengan celana jeans dan sepasang sandal jepit.
“Apa Nona tidak bisa melihat tulisan itu?” tunjuk Bibi Mun ke arah sebuah plang yang ada dalam eskalator yang bertuliskan “Dilarang memakai sandal jepit”
“Cih, siapa orang bodoh yang memasang peraturan seperti itu,” gumam Bella.
“Nona, cepatlah!” seru Bibi Mun.
“Iya,” jawab Bella.
Mendengar perintah Bibi Mun, Bella akhirnya mengalah dan ikut masuk ke dalam lift tersebut.
Tak berapa lama mereka pun sampai di lantai yang mereka tuju.
Sesuai dugaan Bella, inilah rencana sebenarnya dari sang nenek mertua. Ia sengaja diajak ke mall itu hanya untuk dijadikan pelayan yang membawakan seluruh barang belanjaan neneknya David serta menunjukkan penghinaan kepadanya dengan menggunakan mulut tajam orang lain.
Mungkin, Neneknya David berpikir bahwa Bella akan merasa sakit hati karena diperlakukan sebagai seorang pelayan. Seperti saat ini, dengan kurang ajarnya seorang penjaga toko menghina Bella.
“Maaf, pelayan seperti Anda tidak diperkenankan masuk ke dalam toko ini. Silakan tunggu majikan Anda di luar saja,” ucap salah satu penjaga toko butik yang ada di mall tersebut.
“Hey, Nona, mana ada pelayan yang berpenampilan seperti saya, mata kamu buta ya?”
“Tentu saja, saya tidak buta. Karena dilihat dari sisi mana pun kamu tidak layak menjadi tamu kami, palingan juga kamu hanya seorang pelayan,” jawab penjaga toko itu ketus. Namun, Bella tidak kehabisan akal, ia tidak rela jauh-jauh ke mall hanya untuk dijadikan jongos oleh nenek mertuanya. Apalagi melihat nenek mertuanya tersenyum senang karena merasa berhasil mengerjai Bella.
“Dengar ya, aku mungkin bukan seorang nyonya atau pun nona muda, tapi aku ini seorang bodyguard. Kau tahu apa itu tugas seorang bodyguard? Mengawal tuannya di mana pun mereka berada? Jadi karena Nyonya besar sekarang sudah ada di dalam. Maka, aku harus ke dalam juga, jangan sampai ada bahaya di sisinya karena membiarkannya terlalu lama di dalam sana. Atau kau mau mall ini ditutup oleh keluarga Erlangga kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di mall ini,” ancam Bella yang membuat penjaga toko itu ketakutan dan akhirnya mengizinkan Bella untuk masuk.
Tentu saja momen langka ini tidak disia-siakan olehnya. Bella pun ikut mengambil semua pakaian cantik yang ada di mall itu, lalu memasukannya ke keranjang neneknya David.
“Hey, siapa yang mengizinkanmu memilih baju-baju yang ada di dalam mall ini?” tanya Nenek David dengan nada ketus.
“Nenek, tadi aku sudah menelepon David, dia bilang aku boleh memilih seluruh baju yang ada di toko ini, bahkan jika aku ingin memborong dan membeli toko ini, David pun mengizinkannya,” jawab Bella berbohong karena sebenarnya Bella tak menelepon David.
Sial, ternyata gadis ini pintar juga. Dia sudah menelepon David rupanya (ucap Nenek David dalam hatinya)
“Nenek, kenapa bengong? Nenek sudah tidak ingin memilih baju-baju lagi? Aku masih sanggup kok membawa semuanya untuk Nenek. Asalkan semua yang Nenek beli aku juga membelinya,” ucap Bella memperlihatkan senyum manisnya.
__ADS_1
Cih, mana sudi aku menghabiskan uangku hanya untuk membelikan gadis gembel ini barang-barang sesuka hatinya (umpat Nenek David)
“Mun, ayo kita pulang! Aku sudah lelah,” ucapnya.
“Baik, Nyonya,” sahut Bibi Mun yang mengikuti langkah majikannya keluar dari toko butik itu setelah membayar seluruh pakaian yang dibelinya.
“Bibi Mun, tunggu!” panggil Bella.
“Sebagai calon menantu yang baik, aku dengan senang hati akan membawakan seluruh barang belanjaan calon nenek mertuaku. Tapi, sebagai pelayan yang baik, tentunya Bibi Mun bisakan membawakan seluruh barang belanjaanku,” ucap Bella yang membuat Bibi Mun dan Nenek David yang mendengarnya terlonjak kaget.
Karena baru kali ini ada orang yang berani memerintah pelayan berwajah dingin itu, selain neneknya David itu sendiri tentunya. Selama ini di keluarga David, tidak ada satu orang pun yang berani memerintahnya, termasuk David.
“Baik, Nona,” jawab Bibi Mun menerima sebagian barang yang dibawa Bella.
Nenek David semakin kesal saat melihat pelayan kepercayaannya itu juga dibuat tunduk oleh Bella. Ia pun memilih berjalan cepat untuk meninggalkan mall itu.
Rencana apalagi yang harus aku lakukan untuk menyingkirkan gadis gembel ini dari keluargaku. Tidak mungkinkan kalau aku harus pasrah dan menerimanya sebagai menantuku (batin Nenek David saat berada di dalam lift).
Setelah keluar dari lift, Nenek David mempercepat langkahnya. Disusul oleh asisten pribadinya, Bibi Mun, yang mencoba mengimbangi langkah majikannya itu.
“Wah, hebat juga tuh neneknya David. Sudah tua seperti itu langkahnya masih cepat juga. Eh, tunggu! Jangan-jangan dia ingin meninggalkanku sendirian di sini. Bisa gawat kalau seperti itu aku kan tidak membawa uang sepeser pun. Masa aku harus jalan kaki ke rumah,” gumam Bella yang setengah berlari mengejar neneknya David. Namun, baru saja keluar dari mall tiba-tiba...
“Arrgh, sial! Kenapa sendal jepit ini pakai putus sih?” keluh Bella, lalu melempar sendal jepit itu ke sembarang arah.
Plak
“Awww, siapa yang melempar sandal butut seperti ini sih? Hemm, bau lagi sepertinya sandal ini belum pernah dicuci selama satu abad,” keluh laki-laki itu yang tak lain adalah Steven.
Sandal Bella itu rupanya terlempar tepat mengenai wajah Steven yang kebetulan baru saja sampai di mall tersebut. Steven datang ke mall untuk berjumpa dengan Lolita.
“Duh, Bella, kenapa kamu begitu bodoh ngapain juga kamu pakai satu sandal. Lebih baik buang saja dua-duanya,” ucap Bella sambil kembali melempar sandal itu ke arah yang sama.
Plak
Ia pun mencari ke sekeliling untuk melihat orang bodoh mana yang telah berani dua kali melempari wajah tampannya dengan sandal yang kotor dan begitu bau itu. Saat sedang mencari si pelaku, ia melihat seorang wanita dengan rambut di kuncir ke belakang tampak berjalan tanpa alas kaki.
“Nah, itu dia rupanya,” Melihat Bella yang sedang berjalan membelakanginya.
“Ternyata seorang wanita toh. Maaf gadis, jika biasanya aku, Steven yang tampan dan baik hati, bersikap ramah pada seorang wanita. Kali ini karena kau sudah berani melempar wajah tampanku dengan sandal bututmu itu, maka aku harus memberikanmu sedikit pelajaran,” ucap Steven geram, lalu menyusul Bella yang berjalan menjauhinya.
Steven yang tidak ingin tertinggal oleh Bella, setengah berlari mengejarnya. Lalu begitu ia sudah berada di dekat Bella, ia pun bergegas menarik tangan Bella dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arahnya.
Kejadian yang sangat tiba-tiba itu tentu mengejutkan Bella, sehingga Bella yang memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, reflek menarik balik tangan Steven dan menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
“Aww, dasar gadis gila! Kau sudah melemparku dengan sandal bututmu itu dan sekarang membantingku ke tanah,” gumam Steven yang kesakitan karena tubuhnya dilempar Bella.
“Oh, maaf Tuan. Aku pikir kau orang jahat! Aku tidak tahu kalau lemparan sandalku tadi mengenaimu,” ucap Bella sambil mengulurkan tangannya hendak membantu Steven bangun.
Steven menerima bantuan Bella, ia bangun dari tempatnya terjatuh. Lalu berdiri menghadap Bella dan betapa terkejutnya Steven saat menyadari kalau wanita yang hendak ia lempar kembali dengan sandal butut itu memiliki wajah yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
“Ya Tuhan, ada bidadari cantik dari mana ini,” gumam Steven.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” tanya Bella.
“Aku..,” Belum sempat Steven menjawab, perhatian mereka teralihkan saat mendengar jeritan dari seorang wanita tua yang tak jauh dari tempat mereka berada.
“Tolong!!!” teriak wanita itu.
“Itu kan suara.. Ya Tuhan.. Nenek! Tuan, maaf aku harus segera pergi!” Bella berlari begitu cepat meninggalkan Steven. Ia nampak panik saat mendengar jeritan dari wanita tua yang sebelumnya berangkat bersamanya.
“Tidak, aku tidak boleh membiarkan sesuatu terjadi pada Neneknya David,” gumam Bella sambil terus berlari tanpa mempedulikan kakinya yang terbakar karena jalanan aspal yang panas, sementara dirinya tak mengenakan alas kaki.
Steven yang juga ikut merasa khawatir mengikuti ke mana Bella berlari. Hingga langkah Bella terhenti saat melihat wajah Nenek David yang sudah pucat.
__ADS_1
“Bella, tolong mereka mengambil tas berhargaku,” tunjuk Nenek David pada beberapa preman yang saat ini sedang berkelahi dengan anak buah yang diminta David mengawasi Bella dan Neneknya.
Rupanya para preman itu begitu kuat, anak buah yang dikirim David satu per satu berjatuhan dan itu memberikan mereka kesempatan untuk melarikan diri dan membawa tas Nenek David. Namun, Bella tak membiarkan hal itu terjadi. Ia menghadang langkah para preman yang hendak melarikan diri.
Perkelahian tak seimbang itu pun terjadi, meski begitu Bella cukup mahir mengatasinya. Apalagi saat menerima bantuan dari Steven yang sudah berhasil mengejar Bella dan mendapatinya sedang berkelahi dengan beberapa preman itu.
Bugh, Bugh, Bugh
Saat para preman mulai terdesak dan Bella sudah berhasil meraih tas nenek David yang sebelumnya telah berhasil mereka rebut, salah seorang preman bergigi ompong menghadang Nenek David dengan sebilah pisau.
“Berhenti! Atau wanita tua ini akan mati!” ancam laki-laki bergigi ompong itu.
“Hey, dasar ompong! Beraninya kau menyandera wanita tua,” bentak Bella.
“Bella, Steven, tolong!” teriak Nenek ketakutan.
“Nenek Kanaya?” ucap Steven yang baru menyadari jika wanita tua yang ditolong gadis itu tidak lain adalah nenek kanaya, nenek dari sahabat kecilnya.
“Sudah, diam! Sekarang berikan tas itu! Atau kalian akan melihat leher wanita tua ini kutebas dengan pisau belatiku,” ancam pria itu.
Bella pun mendekat dan mencoba memberikan tas yang diminta perampok itu. Sambil diam-diam mengeluarkan pena listrik yang tadi sempat dibawanya.
Setelah berhasil mendekat, Bella dengan cepat mengarahkan pena listrik itu ke tangan sang preman dan itu membuat pisau serta preman yang menodong neneknya David itu jatuh tersungkur karena sengatan listrik yang cukup mengejutkan hingga bisa membuat orang yang terkenanya jatuh pingsan, tapi rupanya tidak cukup sampai disitu.
Salah satu preman lain, yang memiliki codet di wajah kanannya, kembali bangkit dan hendak melukai nenek David. Namun, dengan cepat Bella menghadang pisau tersebut dengan tangannya hingga membuat tangannya terluka.
Steven yang menyaksikan itu segera menendang perut preman itu hingga jatuh tersungkur.
“Bella, kau tidak apa-apa?” tanya Nenek David yang melihat darah yang mengalir deras dari tangan Bella.
“Aku, aku tidak apa-apa, Nek,” ucap Bella menahan sakit di bagian lengannya.
“Nek, sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit. Sebelum ia kehilangan banyak darah,”
“Kau benar, Steven. Bantu aku!” pinta Nenek David.
Steven kemudian membantu nenek David membopong Bella yang terlihat lemas masuk ke dalam mobil. Kemudian, membangunkan Bibi Mun dan sopir yang sempat pingsan karena terkena pukulan para preman itu.
“Pak Sopir, kau bawalah mobilku! Biar aku yang mengantar mereka!” ujar Steven, lalu memberikan kunci mobil yang ia simpan di saku celananya.
"Baik, Tuan, " jawab sang sopir meraih kunci mobil Steven.
“Oh ya, bangunkan juga anak buah tak berguna itu!” seru Steven sebelum melajukan mobil yang sebelumnya dikemudikan oleh sang supir.
Bella jatuh pingsan dalam pelukan Nenek David saat dirinya merasakan kepala yang sudah berkunang-
kunang karena banyaknya darah yang mengalir.
“Bella, bertahanlah!” ucap Nenek David yang tanpa sadar menitikkan air matanya untuk Bella.
Oh, Tuhan, apakah aku sudah salah menilai gadis ini (batin Nenek David).
***
Bersambung
Apakah setelah kejadian ini penilaian neneknya David terhadap Bella berubah?
Akankah Bella dan David mendapat restu dari sang Nenek?
Jangan lupa ya untuk selalu memberi like di setiap episode, vote jika tidak memberatkan, dan komentarnya ya.. dan jangan lupa jadikan karya ini favoritmu dengan menekan tanda love.
Terima kasih 💐💐💐
__ADS_1