Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Ekstra Part Az dan Dara Bagian 1


__ADS_3

Halo, semua pembaca setiaku? Bagaimana masih ingat tidak dengan alur cerita David dan Bella? Mudah-mudahan masih ingat ya.. jika sudah lupa baca ulang ceritanya (hehehe..).


Sekarang author akan melanjutkan tulisan ini sesuai dengan permintaan kalian yang pernah author sanggupi. Semoga kalian tetap suka dengan tulisan dalam cerita ini yang akan dimulai dengan kisah Dokter Azril dan Dara. Selamat membaca.


***


Dokter Azril, Lusia, Dokter Damar, dan Dokter Aria kini tengah berada di Bandara XX. Mereka di sana bermaksud untuk mengantar kepergian Dokter Azril dan Lusia yang akan berangkat ke Negara R.


Kepergian Az ke negara R kali ini tidak seperti biasanya karena kemungkinan Az akan cukup lama meninggalkan tanah kelahiran sang ibu. Dirinya dan putri angkat, Lusia, bermaksud menetap di negara tersebut sesuai kesepakatannya dengan Dara beberapa waktu yang lalu.


“Az, aku pasti akan merindukanmu,” ucap Ar sambil memeluk tubuh kakak laki-lakinya itu.


“Aku juga. Kau jaga Ayah dengan baik ya,”


“Tentu, kau juga jaga dirimu dan Lusia di sana,”


“Baik, kabari aku juga jika kau sudah memastikan tanggal pernikahanmu dengan Dilla,”


“Siap, jangan lupa nanti bawakan juga aku kakak ipar yang cantik ya,”


“Eleh, apa kakakmu yang seperti es balok itu bisa memenuhi keinginanmu. Aku menyangsikan itu,” sahut Damar.


“Kakek, kau tidak boleh bicara seperti itu pada Ayahku yang tampan ini. Akan aku buktikan satu atau dua bulan lagi Ayahku pasti akan memberikan kabar gembira untuk kalian,” ucap Lusia yang membuat tiga lelaki dewasa di hadapannya itu menatapnya penuh makna.


“Cia, apa kau mengetahui sesuatu? Kenapa kau bisa begitu yakin jika ayahmu itu akan memberikan kabar gembira kepada kami?” tanya Ar penasaran.


“Jika Paman ingin mengetahui sesuatu sini aku bisikin,” pinta Lusia yang membuat Ar memposisikan dirinya sejajar dengan Lusia.


“Ayolah, Cia.. jangan mengada-ngada dan membuat harapan-harapan palsu pada Paman dan Kakekmu ini,”


“No, Ayah. Cia tidak sedang bikin Paman dan Kakek, P-H-P,”


“Ayolah, Cia.. Apa yang kau ketahui? Paman ingin mendengarkannya,” desak sambil Ar mendekatkan telinganya ke mulut Lusia karena ia sungguh tidak sabar ingin mengetahui apa maksud dari pembicaraan keponakannya tadi.


“Hey, kenapa kau hanya ingin memberi tahu Pamanmu saja. Apa Kakek tidak ingin kau beri tahu juga?” ucap Damar pura-pura cemburu.


“Tidak karena mulut kakek ember,” jawaban Lusia sontak membuat Az dan Ar tertawa.


“Astaga... Dari mana cucuku yang cantik ini bisa bicara seperti itu,” keluh Damar.


Lusia pun membisikkan sesuatu ke telinga Ar dan itu membuat Ar tersenyum.


“Ayolah, Ar.. kau tidak perlu mendengarkan kata-kata keponakanmu ini,” ucap Az yang sebenarnya penasaran dengan apa yang dibisikan putrinya itu pada sang adik.


“Baiklah, Paman harap Paman bisa segera mendengar kabar baiknya,” ucap Ar sambil tersenyum.


“Ar, keponakanmu itu bicara apa?” bisik sang Ayah.


“Tenanglah Ayah, akan kuberi tahukan semuanya di rumah nanti,” jawab Ar.


“Ah, kalian ini senang sekali bicara rahasia-rahasian. Sudahlah, aku mau ke toilet dulu sebelum pesawatnya benar-benar berangkat,” ucap Az meninggalkan ketiganya.


***


Az berjalan menuju toilet dan tiba-tiba saja...


Bugh

__ADS_1


Seseorang terpeleset di dekatnya dan menubruk badan Az hingga membuat keduanya terjatuh bersamaan. Posisi Az saat ini berada di bawah, sementara orang itu berada di atasnya dengan posisi badan membelakanginya. Az yang mencoba untuk bangkit reflek memegang bagian kenyal milik orang yang menindihnya.


“Aww,” tangannya dipelintir oleh orang itu.


“Kau gila,” umpatnya.


Rupanya orang itu adalah Dara.


“Salahmu sendiri Az. Kenapa kau tidak sopan memegang milikku?”


“Hey, aku tak sengaja. Kau menindihku dan aku hanya mencoba untuk bangkit dan tanpa sengaja kepegang milikmu,”


“Alah alasan, kau pasti sengajakan?” tuduh Dara.


“Sudahlah, terserah. Aku sudah tidak tahan,” sahut Az yang terburu-buru meninggalkan Dara.


“Hey, kau mau ke mana?”


“Kenapa kau mau ikut denganku? Atau kau mau balas dendam dan memegang milikku juga, hah?” ucapnya sambil menyunggingkan senyum sinisnya.


“Cih, dasar dokter mesum. Siapa yang mau memegang milikmu? Menjijikan,” umpatnya berjalan meninggalkan Az.


“Heran, kenapa aku sering sekali bertemu dengan laki-laki itu? Atau dia sengaja membuntutiku?” gerutu Dara.


“Siapa yang membuntuti Tante?” tanya Cia saat melihat Dara melintasinya.


“Eh, Cia, kau di sini juga?” Dara terkejut melihat Cia ada di Bandara bersaman Ar dan Damar.


“Cia, ini Tantemu yang bernama Dara itu?” tanya Ar.


“Iya, Paman Ar. Cantik kan?” tanya Lusia.


“Hey, Ar, ingat aku sudah melamar Dilla pada Han untukmu. Kau jangan mengkhianatinya dengan menggoda wanita lain,” bisik Damar.


“Ayah bicara apa sih? Aku tidak berniat seperti itu apalagi kepada calon kakak iparku,” bisik Ar kembali.


“Hah, kakak ipar jadi dia..,”


“Huss,” Ar memberi kode pada Ayahnya untuk diam.


“Halo, saya Ayah Ar dan Az. Sepertinya kita baru bertemu?”


“Tidak juga, Paman. Sebenarnya di pesta Pak Handika, kita pernah bertemu,” jawab Dara.


“Oh, maaf, aku kurang memperhatikannya,” ucap Damar.


“Tidak apa-apa, aku memang bukan siapa-siapa,” sahut Dara santai.


“Oh ya, Cia, apa kau di sini akan kembali ke Negara R juga?” tanya Dara kepada keponakannya itu.


“Iya, Tante. Aku juga ingin bertemu dan mengenal ibu kandungku,”


“Syukurlah. Ibumu pasti senang bisa bertemu denganmu,”


“Apa ibuku akan mengenaliku?”


“Tentu karena wajahmu mirip dengan mendiang ayahmu,” jawab Dara sambil mengelus pipi Lusia.

__ADS_1


“Cia, untuk apa wanita ini di sini?” tanya Az yang baru kembali dari toilet.


Ia nampak tidak suka dengan kehadiran Dara di tengah-tengah keluarganya.


“Memangnya kenapa kalau aku di sini? Memangnya tidak boleh ya.. seorang Tante menyapa keponakannya, hah?” jawab Dara yang nampak tak suka dengan pertanyaan Az.


“Heh,” respon Az dingin menanggapi ucapan Dara barusan.


“Hey, mana yang kau bilang calon kakak ipar? Lihatlah es balok itu begitu dingin pada wanita itu,” bisik Damar ke telinga Ar.


“Tenanglah Ayah, ini yang disebut benci jadi cinta,” ucap Ar pelan.


Benci jadi cinta bagaimana? Apa dia yakin kalau es balok ini benar-benar bisa mencair dan memberikan seorang menantu untukku ?(batin Damar).


“Panggilan kepada seluruh penumpang yang akan berangkat ke Negara R untuk segera bersiap karena pesawat akan segera diberangkatkan,”


“Baik, Ayah, pesawat akan segera berangkat. Aku dan Cia pamit dulu,” ucap Az setelah mendengar panggilan tersebut.


“Pamit dulu Kakek, Paman, aku pasti akan merindukan kalian,”


“Baiklah, hati-hati, Nak! Jangan lupa berdoa,”


“Tentu Ayah,”


“Kabari kami jika sudah sampai,” sahut Ar.


“Baiklah,”


Az dan Lusia berjalan meninggalkan Damar dan Ar dengan membawa kopernya diikuti oleh Dara.


“Hey, kenapa kau senang sekali membuntutiku?” ucap Az tanpa menoleh pada Dara.


Dara celingak-celinguk, pura-pura tak mengerti.


“Kau berbicara padaku?”


“Ck, tenang saja. Aku tidak akan membawa lari keponakanmu dan aku pasti akan menepati janjiku,”


“Dua bulan baru menepati janji. Laki-laki macam apa itu?” tanya Dara yang tak disahuti oleh Az.


“Cia, Ayah harap nanti kalau kau sudah besar. Kau tidak seperti Tantemu itu,”


“Memang kenapa dengan Tante Dara?” tanya Lusia tak mengerti.


“Menyebalkan,” jawab Az.


Mendengar ucapan Azril benar-benar membuat Dara naik darah. Rasanya saat ini ia ingin membanting kopernya ke arah Azril.


Dasar mulut harimau... Kalau bukan kau yang membesarkan Lusia. Aku tidak akan sudi memintamu pindah ke Negara R (batin Dara geram).


***


Bersambung


Masih penasaran dengan bagaimana kelanjutan hubungan Azril dan Dara selanjutnya?


Akan kah Dara menjadi ipar Ar dan apa sebenarnya yang akan direncanakan Lusia?

__ADS_1


Temukan jawabannya di kelanjutan kisahnya ya... Jangan lupa berikan lika dan vote kalian untuk karya ini dan jadikan karya ini sebagai karya favorit kalian.


Terima kasih


__ADS_2