Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 42 Perempuan Matre


__ADS_3

Mereka bertujuh terus menikmati makanan mereka dengan lahap tanpa ada satu pun yang berbicara. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Nenek David yang ia letakkan di sampingnya. Nenek David tak segera mengangkat ponsel itu. Ia hanya melirik ke arah Bibi Mun yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Sebagai mana kebiasaan yang ia dan beberapa pelayan lakukan saat majikan mereka sedang menikmati makanannya.


Bibi Mun yang paham dengan isyarat dari lirikan Nenek David itu segera mengangkat telepon milik nyonya besarnya.


“Halo,” suara Bibi Mun tegas saat menerima panggilan telepon itu.


“Halo juga, ini Nenek bukan ya?” tanya si penelepon dengan nada lembut dan manja, sepertinya si penelepon adalah seorang wanita.


“Bukan Nona, saya Mun. Nyonya besar sekarang sedang menikmati makan siangnya,” jawab Bibi Mun.


“Oh, maaf Bibi Mun.. Ica tidak tahu kalau Nenek sedang makan. Kalau begitu nanti sampaikan saja pada Nenek kalau Ica menelepon. Kemungkinan satu jam lagi Ica akan menelepon kembali karena Ica tidak mau mengganggu Nenek yang sedang makan, terima kasih Bibi Mun, " ucap wanita itu.


"Sama-sama Nona Clarissa, nanti akan saya sampaikan,” jawab Bibi Mun sebelum keduanya menutup telepon mereka masing-masing.


Saat Bibi Mun mengangkat telepon dan memulai pembicaraannya, beberapa orang yang ada di ruang makan itu sudah dapat menerka siapa orang yang menelepon Nenek David tadi tanpa Bibi Mun memberitahu mereka.


“Apakah tadi yang menelepon itu Clarissa?” tanya Nenek David setelah selesai makan.


“Benar, Nyonya. Itu tadi telepon dari Nona Clarissa,” jawab Bibi Mun.


“Apa saja yang ia katakan?” tanya Nenek David kembali.


“Nona bilang bahwa satu jam lagi, Nona akan menelepon Nyonya kembali karena Nona Clarissa tidak ingin mengganggu Nyonya yang sedang makan, ” jawab Bibi Mun.


“Baiklah, kalau begitu jika Clarissa menelepon kembali segera sampaikan kepadaku,” ucap Nenek David.


“Baik, Nyonya akan saya sampaikan,” jawab Bibi Mun dengan sedikit membungkukkan badannya.


Mau apa Clarissa menelepon Nenek? Apa dia sudah mendengar berita itu? Cepat sekali (batin David).


Kira-kira apa yang ingin dibicarakan Clarissa dengan Mama? Apa ini akan mempengaruhi hubungan David dengan tunangannya? (batin Diana).


Clarissa? Siapa lagi wanita itu? Apa jangan-jangan wanita itu yang jadi alasan bajingan itu memintaku menjadi tunangan pura-pura nya? Kalau benar pasti wanita itu sangat jelek makanya bajingan itu mau memberikan bayaran yang cukup lumayan kepadaku, hehehe... (batin Bella)


“Sayang, kamu sudah selesai makannya?” tanya David pada Bella, namun Bella yang masih sibuk dengan pikirannya itu sama sekali tak menyadari panggilan David sampai Dilla yang ada di sebelah kanannya menyenggol lengan Bella.

__ADS_1


“Bella, David bertanya kepadamu apa kamu sudah selesai makannya?” bisik Dilla.


“Apa? Jadi, panggilan 'sayang' tadi itu untukku?” tanya Bella lirih, namun masih bisa didengar oleh David.


Gadis bodoh, memang siapa di sini yang pantas aku panggil sayang jika bukan kamu yang saat ini jadi tunangan ku ? (ucap David kesal dalam hatinya).


“Iya, Bella, kan kamu tunangannya, tentu panggilan sayang itu buat kamu,” jawab Dilla yang terlihat sedikit takut melihat ekspresi kesal David.


“Oh, iya, sayang. Aku baru saja selesai, terima kasih makanannya enak sekali,” ucap Bella cepat.


“Baguslah, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang,” ucap David.


“Oh, tidak perlu aku pulang dengan Tuan Tampan ini saja,” tolak Bella cepat.


“Tuan Tampan?” tanya Diana bingung.


“Oh, maksudku itu laki-laki yang berada di samping David, Tante. Maaf, aku belum tahu namanya,” ucap Bella membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut, bahkan Lim sampai tersedak dibuatnya.


Astaga, Nona ini bisa-bisanya dia tidak mengenali namaku. Dan apa tadi? Dia memanggilku Tuan Tampan? Aduh, Nona, kamu ingin membuat aku bermasalah dengan bos tampan yang sedikit rese itu (batin Lim sambil melirik ke arah David)


Dasar gadis tengik! Bisa-bisanya dia mengatakan tampan pada Lim. Di depan keluargaku lagi (umpat David dalam hatinya).


Diana sama sekali tidak mempermasalahkan panggilan Bella pada Lim. Ia justru berpikir kalau Bella adalah gadis polos yang suka bicara ceplas- ceplos. Karakternya sedikit mirip dengan almarhumah ibunda David, Dania, yang juga merupakan sahabat Diana sejak kecil.


“Maaf, Nona, saya lupa kalau selama ini saya belum memperkenalkan diri saya. Kalau begitu kenalkan nama saya..,” ucap Lim sambil mengulurkan tangannya, namun terpotong oleh David.


“Tidak perlu, SUDAH BASI. Kau tidak dengar tadi Tante Diana sudah memperkenalkan namamu,” ucap David yang langsung menurunkan lengan Lim.


Hehe, si Bos ini. Terlihat sekali dia cemburu kepadaku. (batin Lim).


“Kalau begitu saya pamit pulang dulu Tante, Nenek, Paman,” ucap Bella sopan.


Tumben gadis bar-bar itu bisa bersikap sopan (batin David)


“Kalau begitu hati-hati di jalan,” ucap Tante Diana.


“Iya, Tante terima kasih,” jawab Bella.

__ADS_1


“Saya pulang juga, terima kasih atas makan siangnya,” ucap Dilla.


“Iya, kamu juga hati-hati. Nanti sering-seringlah main bersama Bella kemari,” ucap Diana ramah.


Ternyata istri ayah itu selain memiliki wajah yang cantik, dia juga wanita yang sangat baik. Pantas saja ayah sama sekali tidak mengingat almarhumah ibu. Mungkin sekarang mereka sudah bahagia. (batin Dilla senang sekaligus sedih).


Bella dan Dilla meraih punggung tangan Paman Handika, Tante Diana, dan Nenek David sebelum berpamitan pulang. Paman Handika dan Tante Diana menyambut uluran tangan mereka dengan senang hati hingga Bella dan Dilla bisa mencium punggung tangan keduanya. Sementara Nenek David, malah pergi begitu saja dan mengabaikan uluran tangan Bella dan Dilla.


Uh, Dasar Nenek Tua! Sifatmu itu walau sudah tua masih saja seperti itu. Pantas saja kalau kau sampai tega memisahkan anakmu dengan keluarganya sendiri. Bahkan, ia sekarang tidak mengenali anaknya yang sekarang sedang berada di hadapannya. (batin Bella).


Bella benar-benar kesal melihat sikap Nenek David, namun itu semua ditahannya demi Dilla yang saat itu menggenggam erat tangan Bella karena sadar akan kemarahan sahabatnya itu.


“Bella, aku akan tetap mengantar kalian karena ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap David lirih.


“Oke, tak masalah. Aku juga ingin meminta bayaran yang telah kau janjikan,” sahut Bella pelan.


Dasar perempuan matre (umpat David dalam hati)


Setelah berpamitan, David bersih keras memutuskan untuk tetap mengantar Bella dan Dilla pulang. Dengan alasan karena ia sudah berjanji pada Nenek Bella bahwa cucunya akan ia antar kembali sampai ke rumahnya dengan selamat.


***


Bersambung


Apa David kira-kira benar-benar akan membayar Bella? Kira-kira apa bayaran yang David berikan ya..? 🤭


Nantikan kisah selanjutnya di episode berikutnya.


Jangan lupa berikan like dan vote kalian pada karya ini ya..🤗🤗


Dan jadikan pula karya ini sebagai favorit kalian dengan menekan tanda love..


Terima kasih...


🥰🥰🥰


Salam sayang dari

__ADS_1


Bella dan David


💐💐💐💐


__ADS_2